Feed on
Posts
Comments

What’s New from Thoughts?

Blog is no longer be a mere trend, but more importantly, that of the self representation. anyone can write their opinions, notes, stories, and any expression, through blogs. As a representation of self, blogs became a media that can be used by everyone. Starting from famous people, such as artists, politicians, musicians, actors, professionals, even unemployment. There was even a company that started the blog as a media campaign.

However, as a blogger of course, we will choose a free blog service. Not only free, but it also has advantages, such as speed, space, and convenience. In addition, companies that provide free blogging will also be a determinant of whether or not someone blogging.

Usually people tend to choose a media company that provides free blog hosting facilities. As it is the belief that with blogging in the corporate media / news is quicker popular.

 free blog hosting powered by thoughts(dot)com. We already know how the thoughts reputation as Internet news portals. Thoughts now provide free blogs to all those with known Wordpress engine with extensive support forum.

If  you want to try, please register. Complete the registration process is quite short and feel the difference. For those of you who already have an account at thoughts, can directly activate this free blog service from your account menu.

Kambing, Bukan Kucing!

kambingkecil

Seperti tahun-tahun sebelumnya, Wak Haji selalu membeli puluhan ekor kambing untuk Hari Raya Qurban di Kampung Kapitkotan. Bang Namun diangkat sebagai panitia. Kemarin dia menemani Wak Haji membeli 30 ekor kambing di Pasar Kambing.

Malam H-1 pesanan 30 ekor kambing itu datang satu truk. Bang Namun dan tetangga kampung menggiring sekawanan kambing itu menuju lapangan Masjid. Di halaman itulah, esok kambing Qurban itu akan disembelih dan didistribusikan untuk seluruh warga kampung.

Ujug-ujug Wak Haji datang dengan tampang tanpa senyum.

“Matirabit! nage-nagenye, Wak Haji lagi kagak enak ati, tuh…” Bang Namun nyeletuk kepada tetangga anggota panitia Qurban.

“Kambing yang gue pesen mane?” Tanya Wak Haji kepada Bang Namun.

“Lha, ini Wak Haji. Kan kemaren kite pesen 30 ekor.” Jawab Bang Namun sambil menangkap salah satu kambing yang nyaris kabur dari kawanannya.

“Mane die?”

“Lha ini semua ada 30, Wak Haji… coba deh itung lagi…”

“Mane orang yang ngirim? Yang jualan Kambing kemaren?” Wak Haji mendamprat Bang Namun

“Wah, udah pulang… Katenye die buru-buru mau ngirim lagi ke kampung laen… “ jawab Bang Namun

“Pegimane sih?”

“Nape Wak Haji?”

“Lha, kan kemaren lu nemenin gue ke Pasar Kambing. Lu kan tau, yang gue beli Kambing, bukan kucing!!!” Wak Haji menampakkan ekspresi marah. Bibirnya komat-kamit entah berkata apa.

“Lha, ini kambing, wak Haji…”

“Mate lu ringsek! Lu kagak inget?! Kemaren kan gue udah milihin 30 kambing yang gede-gede… ini mah apaan? Kecil-kecil begini… nggak sama kayak yang gue pesen?!”

Bang Namun memperhatikan kembali sekawanan kambing itu. Ia baru sadar kalau ternyata ukurannya tidak sesuai dengan yang sudah dipesan dan dibayar kontan oleh Wak Haji kemarin. “Iye… ye… “ bang Namun garuk-garuk kepala, “Wah, pegimane nih?”

“Pegimane? Lha gue kagak mao tau! Pokoknye kambing yang kemaren gue bayar bukan yang enih! Balikin tuh kambing semua! lu samperin lagi tuh tukang kambing penipu. Pegimane mau berkah kalo jualan pake nipu-nipu gitu… Ikut-ikutan orang gedean aje, pake nipu-nipu segale!”

“Pulangin lagi, wak Haji?” Bang Namun bengong. Tetangga yang lain dari awal nggak berani ikut ngomong. Mereka tahu, kalau Wak Haji marah nggak bakalan bisa dilawan.

“Iye, lu samperin lagi tuh tukang tipu. Bilang same die, gue beli kambing, bukan kucing! Kesian rakyat kite mao dikasih tulang doangan! Qurban entuh buat rakyat kite, bukan buat gue! Kalo gue mah kagak doyan kambing! kan Lu tau pade?!!”

cb100

Bang Namun langsung menjalankan titah Wak Haji. Ia langsung ngibrit menuju “Tua Gila”, julukan buat motor warisan andalannya. Ditemani oleh Mas Kasimin, sang marbot Masjid, ke Pasar Kambing… “Matirabit! Tukang kambing ngerjain gue…. kemaren udah milih nyang gede, eh dikirim nyang kecil… ” Bang Namun ngedumel. [MT]

Arus Kali Ciliwung Menderas

ciliwung-251109

Pagi ini - 25 November 2009 - Kali Ciliwung di depan rumahku meluap. Deru suara arusnya lebih tinggi dari biasanya. Hujan semalaman kukira menjadi penyebab meluapnya kali/sungai yang menjadi indikator kewaspadaan Jakarta terhadap banjir.

Rumahku berada setelah bendungan Katulampa, Bogor. Posisinya tepat di pinggir kali. Jadi, kondisi kali hampir setiap hari selalu kuperhatikan. Karena hanya itulah pemandangan terindah ketika aku duduk santai di depan rumah.

Satu hal yang kuperhatikan dari derasnya arus kali adalah, banyak sekali sampah plastik yang hanyut. Ini membuktikan masih banyak manusia yang membuang sampah ke kali. Apakah mereka (warga Bogor) tak sadar, jika ulah semaunya itu dapat menyebabkan kesengsaraan bagi saudara sebangsa di DKI Jakarta?

Jika kita menganggap sampah yang kita buang tak seberapa dibanding arus sungai - misalnya hanya sebungkus sampah plastik berisi sisa makanan busuk atau apapun - cobalah anda bayangkan jika ulah itu kita lakukan berulang kali. Untuk lebih sadar, cobalah sekali-sekali kita buang sampah plastik itu di depan rumah saja. Belum seminggu, pasti kita sudah tersiksa dengan kebusukan yang menyiksa. Karena itu, please orang bogor! Tolong ingatkan saudara-saudara kita agar tidak membuang sampah ke kali. Buang saja sampah anda ke saluran aspirasi rakyat (DPR/MPR) tempat sampah yang ada di sekitar rumah.

Older Posts »