boleh tersungging, jangan tersinggung

Sebagai guru tidak jarang kita pernah berhadapan dengan situasi dimana para murid berperilaku yang tak menyenangkan. Bahkan ada juga saatnya murid melakukan pembangkangan. Hal itu tergantung dari sejauh mana murid tersebut menyadari nilai moral terhadap perilakunya sendiri dan bagaimana kita mendalami perkembangan psikis, kecerdasan, dan kecenderungan mereka.
Seorang temanku yang berprofesi sebagai guru pernah bercerita tentang perilaku muridnya di sekolah. Ketika sampai di depan kelas, ia mendapatkan muridnya duduk sambil ngemil di depan pintu kelas. Sebagai guru yang berusaha tak gampang marah, ia mengingatkan bahwa jam pelajaran sudah akan dimulai. Tetapi para murid tetap enggan mengubah posisi, malah mereka merespon dengan kata-kata yang membuat gurunya tersungging. Sang guru masih mencoba mengingatkan dengan bahasa yang sehalus mungkin. Namun respon para murid tak lagi membuatnya tersungging, kini malah tersinggung. Guru itupun pergi meninggalkan para murid di depan kelasnya. Ngambek, kata beberapa siswa.
Temanku bertanya kepada temannya sesama guru, apakah ngambek itu salah? Temannya bukan menjawab, malah bertanya, “Kalau kamu nggak ngambek, apa yang kamu lakukan terhadap mereka?” Temanku yang guru itu menjelaskan pikirannya, ia hampir saja memarahi para siswanya. Bahkan – saking emosinya –, ia bilang “bisa saja ada kursi yang terbang!”. Temannya temanku sesama guru tersenyum dan menasehati agar guru harus memahami psikis pelajarnya.
Psikologi pelajar seperti apa sih? Temanku bertanya kepada temannya sesama guru. ia mendapatkan penjelasan bahwa guru di sekolah ini harus bisa mengikuti kemauan siswanya. Alasannya, karena yang membayar gaji mereka adalah orang tua siswa. Terperanjat ia mendengarnya. Jikalau seorang guru merasa eksistensinya sebagai orang yang “dibayar” lalu selalu menuruti kemauan anak dari pembayar, apa bedanya dengan budak? apa bedanya guru dengan – maaf – penjaja seks komersial? Naif dan menyedihkan!
Temanku minta solusi. Kebetulan saya bukan ahli pendidikan, bukan ahli psikologi, bahkan bukan PSK. Jadi saya tak sanggup mengurai jawaban. Itulah saya, tidak semua masalah bisa saya jawab. Hanya satu hal yang saya yakini sejak dulu ketika saya pernah mengajar : murid senang melakukan apa yang saya inginkan ketika mereka merasakan suasana yang membetahkan dan menyenangkan. Tapi itu, dulu…
Jika anda berposisi sebagai guru yang tersinggung dengan muridnya, seperti teman saya itu, apa yang anda lakukan? Jika anda seperti guru “bayaran”, apa justifikasi anda? Jika anda sebagai siswa? Jika anda sebagai diri sendiri dan diundang untuk mengatasi masalah ini?
Keterangan gambar: seorang guru memanggil muridnya yang bangor maju ke depan saat upacara bendera.guru tersebut hanya menjelaskan letak kesalahannya dan bagaimana mestinya sang murid itu bersikap baik. tidak ada hukuman bersifat fisik maupun perasaan yang diterima murid yang memang terkenal bangor tapi cerdas itu.























teringat Ibu yang mengabdi menjadi guru SD..
ah betapa tauladannya beliau…
[Reply]
Iya nih…, sebenernya salah satu kelemahan sistem pendidikan adalah terletak di kualitas para gurunya.
Harusnya ada semacam standard kompetensi yang ketat bagi seorang pengajar. Karena walau bagaimana pun, pengajar itu sangat mempengaruhi keadaan murid yang diajarnya…
[Reply]
guru bukan sekedar memberikan pelajaran tetapi memberi asuhan lalu yang diasuh tidak merasa diajari, murid adalah karunia buat pengajar anda diberi kesempatan memberikan sesuatu yang bernilai pada orag lain….tidak semua mendapat kesempatan itu
[Reply]
Menjadi guru tidak semudah yang dibayangkan orang. Psikologi adalah keterampilan utama seorang guru (atau dosen). Sebenarnya tujuan akhir tugas guru adalah bagaimana transfer ilmu yang dilakukannya mengendap di benak siswa. Bukan dengan kesan galak (sehingga siswa cenderung antipati dan akhirnya secara tidak langsung benci mata pelajarannya) atau terlalu lembek (sehingga siswa cenderung meremehkan) tetapi dengan membangkitkan minat siswa terhadap mata pelajaran tersebut. Kalau minat siswa berhasil ditingkatkan, dari yang tidak tertarik menjadi tertarik, maka 75% fungsi guru sudah dijalankan. Tetapi ini hanya pendapat saya. Saya yakin teman - teman ada pendapat yang lebih baik.
[Reply]
Menjadi guru bukan hal gampang. Smua orang bisa mengajar, tapi tak smua orang mampu mendidik siswa. Skalipun udah berprofesi sbg guru. Mendidik siswa itu susah2 gampang.
[Reply]
Lilis bangga dan happy jadi guru meski bergaji pas2an. Siswa di sma lilis hanya 280 aja itu berarti ada 280 karakter dan sifat siswa. Ada siswa yang baik tapi ada juga yang nakal. Tugas guru ga hanya mentransfer ilmu tapi juga mendidik prilaku berbudaya dan brsikap. Jadi sekali2 hukuman fisik perlu juga diberikan jika ada yg melanggar tata tertib.
[Reply]
Psikologi Pendidikan
[Reply]
aq jg bukan ahli pendidikan sech.. tp seorang guru hrus dituntut untung bs tegas dan mengajar dgn baik kpd murid2nya.. juga sabar.. anak jaman skrg emg beda .. (sotoy nech gw..)
[Reply]
Kalau saya jadi gurunya, saya samperin terus ambil makanannya lalu lanjutkan mengajar. Kalo murid itu tetep macem2… suruh aja tinggal diluar. Jangan mengorbankan murid-murid lain yang ingin belajar cuma gara-gara satu murid saja.
[Reply]
Yg pasti segala sesuatu tidak akan bisa diselesaikan dengan kekerasan.
Kesulitan apapun yg didapat cobalah u/ diselesaikan dgn pemikiran yg baik/matang karna itulah tujuan dan tanggungjawab sebagai seorang guru yaitu merubah yg buruk menjadi baik dan yg baik menjadi berarti.
Menjadi seorang guru jg merupakan suatu pembelajaran bagi diri kita sendiri apapun bentuknya suatu saat pasti akan bisa kita sadari.
Sikap tegas memang sgt diperlukan namun yg paling utama adalah sikap penyayang.
Satu lagi, dalam menyelesaikan masalah jgn selalu menomorsatukan u/ sesuai dgn peraturan sekolah karna tdk semua masalah bisa diselesaikan dgn peraturan jd berfikirlah dan bertindaklah dgn kata hatimu.
[Reply]
Seseorang mau mengikuti saran orang yang ia percayai, ‘bagian dari dirinya’, tidak mengancam dirinya, bahkan memberi manfaat bagi dirinya. Pertanyaannya, apakah kita kalau jadi guru menjadi guru yang mau masuk ke dunia anak2 terlebih dulu ? Menjadi orang yang mereka ‘percayai’ ? …
Dokter menjadi ahli jika berhasil mengatasi pasien dengan penyakit yang berat. Dokter banyak ilmunya dari pengalaman menangani pasien. Orang yang memberi ilmu = guru. Jadi, gurunya dokter adalah pasien. Gurunya penjual adalah pembeli. Gurunya pemimpin adalah anak buah. Gurunya guru, adalah muridnya. Kepada guru kita harus menghormati dan menyayangi. So, mari kita para guru, menghormati dan menyayangi murid-murid kita ……***
[Reply]
hehehehehehehehehhe, asik nih, gurunya ngajar buat apa, cari uang buat keluarga apa, ingin mengamalkan ilmu yg didapat, muridnya belajar untuk apa, sebagai kepatutan karena malu kalo gak sekolah apa ingin pandai end cerdas, kombinasi terburuk mungkin seperti yang pada gambar yang ada
[Reply]
hmm..
mendidik itu ngga mudah ternyata..
[Reply]
Kalo saya guru, akan saya hukum si pencemoh itu….biar jadi contoh bagi teman2nya
[Reply]
Guru yg baek, guru yg bs mengerti muridnya. Muridnya jg jangan sok2an krn bayar
[Reply]
ini persoalan yang tidak dianggap gampang perlua belajar berbagai hal baik itu mengendalikan emosi, mengenali apa yang ada dibenak siswa, ketika tahu kita harus ada dialog dengan siswa kita yang dianggap badung sampai menuju penyadara, dialogpun bukan dengan cara interogasi tapi, dengan penyadaran yang bukan yang ketika penyadaran sampai padanya, siswa seolah tidak dipermalukan di hadapan temanny, tapi ada saja siswa sadar akan hal itu.
kembali pada pembalajaran mengendalikan emosi, mengenali yang ada dibenak siswa ini butuh pengalan jiwa dengan merenung akan kelakuan siswa yang dianggap badung disaat kita menjalankan ritul pada sang pencipta. Artinya kita ini manusia yang semua itu atas karunia Nya serta kekuatan itu pasti akan diberikan apabila kita ketika kita kusu dalam berdialog dengan Nya. saya sendiripu sering menghadapi hal seperti itu, karena saya seorang guru, tapi senyumlah nilai awal kita, selanjutnya kita analisis tuh anak jangan langsung mengecap gak baik pada siswa kita sekalipun dia badung. butuh kesebaran dalam bertindak. Wallah ….
[Reply]
Meski sudah tiga tahun, tulisan ini masih renyah juga.
[Reply]
ha..ha…kalau saya diawal pembelajaran ada aturan yang dibuat dan ditulis konsekuensi jika melanggar. Jadi ketika tak ikut aturan dapat konsekuensi. Sebagai guru saya kudu tegas (tp beda loh sama marah)…tegas saat dia melanggar aturan. Jika begini anak segan untuk melanggar (pengalaman). Nah, setelah belajar saat anak-anak main saya kadang ikutan main juga, becanda dan ngbrol apa yg mereka obrolin. Suasana cair seperti teman. Soal konsekuensi tadi lupa. tapi anak2 jd belajar saya tegas kalau ada aturan yg dilanggar tp setelah itu tidak dibawa sampai besok2.
[Reply]