Rumah Sakit Tanpa Empati

Kemarin saya sempat menyinggung tetangga yang miskin harta dan miskin hati. Tapi aku belum mau membahasnya. Kulanjutkan saja dengan perjalananku membawa warga itu ke Rumah Sakit terdekat.

Alhamdulillah, ustadz Ozie dapat pinjaman mobil salah seorang tetangganya. Kamipun memboyong sang pasien ke Rumah Sakit terdekat. Pak RT bilang, mudah-mudahan Rumah Sakit itu bisa menerima Jamkesmas (Jaminan Kesehatan Masyarakat) agar bisa bebas biaya. Karena untuk membiayai secara utuh, kamipun tak punya uang lebih.

Ustadz Ozie sebenarnya tak yakin kalau RS yang ditunjuk pak RT akan mau menerima pasien miskin yang minta gratisan. Ia sudah sering membawa pasien miskin, tapi tak mendapatkan pelayanan yang baik. Tapi aku memintanya agar ikuti saja maunya pak RT. Kamipun tiba di depan Unit Gawat Darurat.

Warga yang sakit itu digotong menuju bangsal. Anaknya yang menemani. Aku dan pak RT menuju ruang pendaftaran.

Kulihat dua orang petugas sedang asyik mendengarkan lagu-lagu dari sebuah handphone sambil bermain game Pool (bilyard). Dengan tampang tak semangat dan pelit senyum, ia melayani, setelah kami panggil tiga kali.

Pak RT menjelaskan bahwa pasien adalah warganya dan meminta agar dirawat dengan biaya dari Jamkesmas (Jaminan Kesehatan Masyarakat) sambil menunjukkan KTP dan Kartu Jamkesmas milik warganya yang sekarat.

“Nggak ada kelas 3, pak! Kelas 2 pun hanya ada 1 kamar, mau?” tanggap sang penunggu ruang pendaftaran.

Aku kesal mendengar jawaban seperti itu. Belum pernah aku mendapatkan pelayanan sehina ini. Di Jakarta, petugas RS yang biasa jadi rujukan keluargaku selalu bersikap ramah. “Memang sehari berapa, sih buat kelas 2?” tanyaku sambil memperhatikan petugas yang satu lagi, yang tetap asyik menyodok bola.

“Rp. 125.000,- Mau?” jawabnya.

“Ya sudah! Urus deh!” jawabku. Walaupun tak punya uang lebih, tapi aku ingin agar yang sekarat ini segera dirawat dengan baik. Masalah biaya, bisa saja patungan.

“Tapi harus deposit 1.5 juta dulu, pak!” kata petugasnya lagi. “Kalau tidak mau, cari Rumah Sakit lain saja!” imbuhnya sambil memberikan daftar nomor telepon RS lain lalu kembali menuju kesibukannya: game!

“Hm…” Aku menghela napas. Pak RT geleng-geleng kepala, kuperhatikan bola matanya mulai berkaca-kaca. Ustadz Ojie kembali ke mobil sambil mengajak, “Sudah, kita pergi saja! Cari Rumah Sakit lain!”

Warga yang napasnya masih tersengal, kaki dan tangan kanannya mati, tangan kirinya bergetar-getar, dan mulutnya ternganga kaku, kembali kami bopong ke mobil. Mencari Rumah Sakit yang masih punya hati untuk melayani manusia. Kedua anaknya terpana, tak bisa bicara melihat nasib ayahnya dalam pangkuan mereka. Sang ayah yang miskin tetap tersengal dan sepertinya ingin bicara, “Kenapa tak ada yang mau merawat saya?


1 teman anda menyukai tulisan ini
Apakah anda menyukai tulisan ini ?

17 Responses to “Rumah Sakit Tanpa Empati”

  • Emang ngeselin yang begitu itu. Dalam kondisi yang tidak persis sama, aku juga belum lama merasakan ketimpangan seperti itu. Mungkin MT dah baca yang ini ya:
    http://awamologi.wordpress.com/2009/01/26/tuhan-galau-kecewa-dan-kelahiran-anak/

    mas Awam, aku udah baca kisahmu. sungguh tragis. tapi akhirnya, pastilah Tuhan menolong kita!

    [Reply]

  • pertamaxxx

    [Reply]

  • salam kenal
    saatnya rumah sakit itu dilaporkan ke Menkes..

    terima kasih, bos atas dukungannya. saya sudah coba sih forward ke menkes.

    [Reply]

  • aribicara

    TERKUTUK TERKUTUK TERKUTUK TERKUTUK…!! Aku benar2 mengutuk Rumah Sakit ituuu !! Sebut saja rumah sakit apa ?dimana?beri aku alamatnya biar aku btu sebarkn rumah sakit TERKUTUK itu di forum2 kompas detik,atau ak krmkan skalian ke seluruh media. Ak pnh mengurus org miskin yg trkna tumor dan akhrnya menigal gra2 telat playanan. Ak bnr2 mengutuk RS Spti itu!!

    memang terkutuk. dan ternyata banyak juga teman2 yang mengalami kisah yang sama dengan saya ya… thank’s for ur support!

    [Reply]

  • iya mending kamu tulis saja nama RS sakitnya, sebel. apalagi kalo itu RS pemerintah yg notabene milik rakyat dunks! tadi pagi aku juga denger di TV byk rumah sakit umum gak mau terima pasien dg surat miskin.

    kalo dekat rumahku, rumah sakit Adventnya bagus, pelayanannya baik bgt, 3 kali ke UGD, bawa Ufi dan aku sendiri waktu DBD, Uqan waktu ditabrak, gak pernah ditanyain uang, langsung saja dirawat…suster dan dr nya ramah2, cepet sembuh deh disana..mereka juag menyediakan mushalla buat yg muslim, hidup advent!

    saat kabur dari RS itu, ustadz fauzi tanya ke saya, “itu RS punya siapa sih? punya pemerintah atau …?” aku jawab sambil memasang safety belt, “punya bajingan!”

    [Reply]

  • Astaghfirullohal’a dzim,… ternyata ada toh d sisi fakta,ku pikir hanya dlm sinetron saja.semoga saja cepat sadar mereka2,dan Allah kan memberikan balasan yg setimpal kpd mereka2.semoga lekas sembuh y pasiennya.

    [Reply]

  • apapun dilakukan demi uang. orang miskin memang dinomorduakan. nggak salah kalo orang milih masung keluarganya dripada dbw k RSJ

    [Reply]

  • cow431

    kadang hal mencari yang gratis tidak begitu menyenangkan.

    [Reply]

  • mang pada ga punya hati yah…

    pa uang udah membuat semua orang gelap mata sampai” saat” kritis pun masih saja tidak bisa melihat mana yang sedang membutuhkan pertolongan…
    indonesia makin payah negh…. :(

    [Reply]

  • Kejadian seperti itu pernah kualami. Banyak RS telah kehilangan fungsi sosialnya. Mengerikan.

    [Reply]

  • tega banget yak! ngga punya hati banget tuh RS-RS spt itu..

    [Reply]

  • hatinya terbuat dari batu kalii. benar-benar gak punya empati. Kalo itu terjadi sama keluarganya baru tau rasa dia.

    [Reply]

  • selalu begitu, saya sudah mengalami di 3 rumah sakit, menaikan kelas kamar, selalu, mudah2an pemimpin kita berikutnya lebih peduli, amin

    [Reply]

  • ah, ini lagi! hospital tanpa hospitality !

    [Reply]

  • Ergh…
    Sopan sekali tuh rumah sakit…
    Baru membaca tulisan ini saja emosi Put udah mo meledak…!!

    Rumah sakit tanpa service yang baik takkan bertahan lama..I believe it…
    Apatah lagi rumah sakit tanpa rasa kemanusiaan dan hanya berorientasi uang…!!

    [Reply]

  • Update: Kini orang miskin warga kami itu sudah dikubur!

    [Reply]

  • namensko varcevanje investiranje

    [Reply]

Trackbacks

  •