Kisah Laluku dengan Buku

Bolehlah aku mengatakan, buku begitu berarti buatku. Kisah laluku, tak lepas dari buku, walau kebiasaanku membaca tak sehebat para kutu buku. Aku hanya membaca ketika kumau dan waktuku tak terganggu dengan tanggung jawab lainku.

Waktu aku dalam kisaran usia Sekolah Dasar, komik adalah teman lainku. Jika aku diajak orang tua berkunjung ke rumah kakek, pasti yang kuincar adalah kamar pamanku. Di kamar itu, beragam komik tersedia, mulai komik jenaka hingga komik serius. Kepuasanku dengan komik tercapai ketika bersama adikku sanggup membuka lapak penyewaan komik untuk teman sebaya. Uang hasil sewaan, kubelanjakan untuk memperbarui koleksi. Komik yang paling berkesan buatku adalah Cerita Silat yang pendekarnya dua orang bocah keponakan Jaka Sembung, yaitu Kinong dan Kataran. Komik itu karangan Djair.

Dari komik, aku mulai beranjak ke buku “kaya teks miskin gambar”, seperti legenda-legenda khas nusantara dan cerita/dongeng dari Majalah Anak-Anak. Novel karya Enid Blyton. “Lima Sekawan” sempat menjadi favoritku, walaupun aku tak pernah membelinya. Kebetulan teman-teman SD-ku baik hati meminjamkan koleksinya. Satu-satunya novel/buku cerita yang kumiliki adalah “Emil Und Die Detektive” karangan Erich Kastners. Buku itu “kucuri” dari rumah pamanku yang berkebangsaan Jerman, saat berkunjung ke rumahnya.

Ia hanya tersenyum ketika mengetahui aku mencuri bukunya. Saat itu, bocah SD sepertiku menganggap senyumnya adalah permaafan dan penyerahan bukunya untukku. Tapi setelah remaja, aku geli jika mengingat senyum Mr. Jack ketika kubuka-buka kembali buku tersebut. Aku baru berpikir, mungkin dia tersenyum karena aku amat menyukai buku tersebut walaupun tak mengerti bahasanya. Ya, buku itu asli terbitan sana, berbahasa Jerman.

Saat SMP aku agak kurang membaca buku. Saat itu kondisi keuangan orang tua, tak memungkinkanku memiliki buku, tak terkecuali buku pelajaran. Untung sekolahku (SMPN 213 Malaka) memiliki perpustakaan yang cukup lengkap untuk memenuhi kebutuhan pelajaran dan buku-buku cerita yang tak satupun menjadi favoritku. Yang lebih kusuka saat itu adalah cerita yang menjadi bagian dari Majalah Remaja, seperti HAI. Sejak SMP itulah, aku mengenal perpustakaan dan menjadi rajin ke perpustakaan saat istirahat. Ah, aku agak berbohong!

Sebenarnya yang membuatku rajin ke perpustakaan saat itu bukan karena buku! Tapi karena 2 hal. Pertama adalah, aku tak punya uang untuk jajan. Yang kedua, dan ini yang paling melecut semangatku untuk ke perpustakaan, adalah karena perempuan yang kutaksir, rajin ke perpustakaan. Jadi aku amat bahagia, jika bisa sekedar menatapnya waktu sama-sama duduk di ruang baca. She is my first love! :)

Itulah kisah antara aku dengan buku, sejak kecil hingga ABG. Anda punya cerita spesial tentang buku ketika SD dan SMP? Share dong!


Jadilah orang pertama yang menyukai tulisan ini
Apakah anda menyukai tulisan ini ?

17 Responses to “Kisah Laluku dengan Buku”

  • akumatahari

    dulu gw seneng baca buku lima sekawan, sekarang kok males baca yah …

    [Reply]

  • depz

    wahh sesama penggemar DJair ne
    :)

    gue juga dulu baca komik2 wiro sableng, pendekar rajawali sakti, dewa mabuk dll.
    kalo yg luar pastinya lima sekawan dan trio detektiv.

    -life is beautiful-

    [Reply]

  • nice bro, sayang saya tidak begitu suka baca komik… sukanya hanya baca majalah, koran dan berita2 update aja… dan males sekali membaca, nice ya :)

    [Reply]

  • Wah, sama juga dong. Ogut juga +- 32 tahun yl bacanya komik asli indonesia dan juga kho ping ho, majalah Hai, Bobo, Kuncung, dsb. Tapi sayang sekarang udah pada ga ada tuh komik (maksudnya komik asli Indo). Kalah bersaing dengan komik luar terutama dari Jepang. Pada hal sih menurut saya nilai ceritanya biasa-biasa saja.
    Tapi yg menarik tuh rajin ke perpustakaan. Udang di balik rempeyek. He3x……Salam kenal.

    [Reply]

  • kalo aku tuh sukanya belu buku
    tapi membacanya hanya sepintas lalu
    tapi alhamdulillah, buku yg kubeli bermanfaat
    karena banyak sahabat yg membacanya

    [Reply]

  • ehm…
    sayangnya aku paling males ke perpustakaan waktu sekolah dulu, paling kalo lagi ada tugas ja dan aku jga kurang suka baca tapi sekarang agak mending seh uda lumayan suka baca meskipun nunggu moodnya dateng… Nah sekarang lbih sering baca bllog orang deh, bizzzz ok banget segh…:)

    lam kenal yaaa….
    btw first love yaaa..
    ehmm….begitu indah…:)

    [Reply]

  • Buku adalah jendela dunia dan guru yang the best buatku

    [Reply]

  • widdy

    He…baca comment depz aq jadi inget dulu q juga pernah baca beberapa komik wiro sableng,tapi cuma beberapa aza… selain itu yang q baca komik doraemon ama majalah bo2 hehe… kurang suka membaca yang terlalu serius, paling lihat judulnya doank and baca sepintas lalu.

    [Reply]

  • kisah petruk dan gareng,hehehe
    ama majalah bekas

    [Reply]

  • nuun

    pernah dnger ada buku “derita tiada akhir” ?
    tu buku yg aq suka ampe baca berkali2
    hi..hi..

    [Reply]

  • Aribicara

    Seandainya byk cwo yg mdel jatuh cintanya spti drimu,mgkn akan ada survei yg bunyinya gini, pada anak yg sdg jatuh cinta tgkat minat bacanya meningkat :-D

    Sayang bro,wktu smp antara siswa co dan ce terpisah jadi g punya crta spti dirimu :-D

    [Reply]

  • enid blyton buku2nya aku suka banget, serial lima sekawan udah semua aku baca.
    Si Bapak rajin ke perpus karena ada cewe yg ditaksir, hihihi.. kocak..

    [Reply]

  • Ke Perpust karena naksir cewek? Romantis banget. Kalau aku dulu waktu SD suka baca komik ‘Nina’.

    [Reply]

  • Waktu kecil senang baca saat dewasa nulis novel? ;-) Apa judul novel tentang ‘uang nasgitel’ itu,mas? ~d.

    novelnya berjudul JIHAD TERLARANG. penerbit http://www.kaylapustaka.com

    [Reply]

  • Very nice site!

    [Reply]

  • Julie

    Aq sama ma dep,famous 5 dan trio detektif, tp kalo ke perpustakaan hahaha pasti kt temen2ku hari bakal hujan

    [Reply]

  • hehehehe unik juga kisah first love kang MT

    [Reply]

Trackbacks

  •