Menelusuri Jejak Walisongo (1)

Beberapa temanku sms/imel, kesimpulannya seperti ini, “kapan catatan ekspedisi walisongo yang aku ikuti sejak 25-31 Mei 2009 bisa dibaca?” Aku jelaskan pada mereka, catatan tersebut masih dalam fase drafting. Amat belum layak dipublish. Ada 1-2 orang yang protes. Mereka bilang, “masa sih gak layak publish.“  Tak kujelaskan secara rinci mengapa aku begitu lama menuliskannya. Tapi beberapa teman yang membaca puisi yang kuposting kemarin, bisa memahaminya.

Alhamdulillah, beberapa temanku merasa terhibur setelah aku meminta mereka melihat blog temanku, Pengelana Semesta, yang juga bareng denganku dalam ekspedisi itu. Catatan Perjalanan PS adalah jawaban atas kepenasaran mereka.

Lalu bagaimana dengan progresku? Hingga hari ini masih belum tuntas. Ketika PS sudah menulis sampai Muria, aku baru selesai menulis tentang perhentian kami di Cirebon. Ketika PS menuntaskan hingga ke Ampel-Surabaya, aku baru berhasil menulis tentang Demak.

Tapi sebelum berangkat ekspedisi, pada 25 Mei 2009 lalu aku sempat menuliskan catatan awal Perjalanan Tim kami di facebook. Bolehlah dibaca-baca sekedar informasi, kenapa, untuk apa kami melakukan ekspedisi dan siapa saja yang ikutan. Selamat membaca!

(more…)

Menyikapi Perbedaan

orchestra

Berbeda itu bukan sikap yang mesti dihindari. Sebab kita tak mungkin bisa menghindarkan diri dari perbedaan. Perbedaan adalah suatu kondisi yang tak harus diseragamkan. Perbedaan tercipta karena hidup adalah harmoni.

Tuhan menciptakan alam raya dengan segala keunikan perbedaan. Ia bahkan menciptakan keanekaragaman dalam satu jenis penciptaan. Banyak spesies katak. Banyak spesies burung, tanaman, bahkan ras manusia. Dia menciptakan perbedaan agar ciptaan dapat saling mengenal dan membentuk harmoni.

Perbedaan akan menjadi kearifan jika tak disikapi sebagai pertentangan dan cercaan. Sebab sikap bertentangan dan cercaan dapat memancing pertikaian. Banyak contoh yang bisa kita hikmahi dalam soal ini. Kubu Sriwedari FC menilai wasit sudah bekerja dengan baik. Namun kubu Persikapur merasa wasit mengentit keadilan bagi mereka. Perbedaan sikap dalam menilai wasit ini bisa saja mengundang pertikaian jika para tokoh dari kedua kubu kurang arif dalam menyikapinya. Biasanya pertikaian terjadi pada level bawah, grassroot: supporter. Dalam konteks politik, pertikaian dapat terjadi di kalangan pendukung, yaitu rakyat kecil yang sebenarnya ikut-ikutan mendukung calonnya hanya sekedar untuk mendapat duapuluhribuan saja. Kenyataan seperti ini memang mengenaskan.

Ada juga orang yang menyikapi sikap berbeda sebagai simbol perlawanan. Biasanya, yang merasa berbeda itu merasa dirinya berani beroposisi. Namun ada juga orang yang mengambil posisi berbeda agar bisa dianggap sebagai pembela kekuasaan, sebagai pahlawan, dan memihak status quo. Ini dua sikap yang kurang arif dalam sebuah perbedaan.

Sikap saling menentang dan menantang ini mudah sekali memicu pertengkaran. Walaupun pertengkaran itu hanya terjadi di meja makan ataupun di meja diskusi. Tetap saja hanya akan menciptakan efek kelelahan. Lelah hati, lelah pikiran. Kelelahan dapat memicu kekecewaan. Kekecewaan adalah medan magnet bagi kedengkian.

Ketika aku ditanya oleh seorang teman, siapa yang aku dukung ketika ada dua pihak di antara teman-temanku yang berbeda sikap. Aku nyatakan, kedua pihak punya alasan atas sikapnya masing-masing. Namun bukan berarti aku harus memilih satu di antara dua kutub tersebut. Karena jikalau aku memilih, pasti temanku yang tak kupilih akan kecewa. Aku lebih cenderung mengajak kedua kutub untuk bisa memahami esensi dari perbedaan tersebut.

Setiap orang punya seribu alasan untuk berbeda sikap. Tapi setiap orang sebenarnya juga memiliki jutaan alasan untuk bisa saling mengerti akan perbedaan tersebut. Ketika energi positif menjadi nyawa bagi dua kutub yang berbeda, toleransi dan saling pengertian bisa disepakati. Sikap positif inilah yang mestinya ditiupkan pada jiwa-jiwa yang terlibat dalam suatu perbedaan pendapat dan perbedaan sikap.

Apakah harus selalu ada keseragaman? Protes temanku yang mengajukan dua pilihan. Tidak harus! Jawabku. Sebab keseragaman bukanlah hasil akhir dari sebuah perbedaan. Suatu harmoni tidak mesti seragam. Coba kita saksikan sebuah pertunjukan musik orchestra. Harmoni yang mereka ciptakan, bukanlah hasil keseragaman, tapi hasil dari perbedaan. Perbedaan alat musik, perbedaan suara, perbedaan peran, perbedaan aksi, perbedaan bunyi. Mereka sanggup meng-arrange segala perbedaan menjadi harmonisasi yang indah bagi kehidupan.

Cahaya Kata-kata

mt-rel

Aku sampai pada batas penantian
Sebuah harapan untuk bisa pergi
Mencari jawaban atas keraguan
Yang mengendap terlalu lama
Dalam pikiranku
Dalam hatiku
Dalam hidupku

Kususuri titian demi titian
Menyerap makna di depan pusara
Kuterbang ke masa lalu
Kutengok catatan usang
Aku terserap
Aku melayang
Aku hinggap

Kunyalakan lentera
Dalam kegelapan
Pada labirin kehidupan
Membaca tanda-tanda yang bisa kumakna

Keraguanku mencapai jawaban
Jawaban berselimut tanya
Tanya menjawab tanya
Menuntut keberanian
Menggoreskan kata-kata
Menjadi lukisan
Menjadi kisah
Menjadi cahaya

Walau berat
Tapi inilah jalanku
Walau terhimpit kelaziman
Mesti tetap kumulai

PR DADAKAN

Akhirnya kebagian PR dari julie

Five Things Found In My Bag

Kebetulan hari ini sedang dalam perjalanan, jadi selalu bawa tas ransel yang berisi 1. Laptop tua yang setia setiap saat, 2. Tas Pinggang dengan segala isinya, 2. pulpen, 3. kaos salinan, dan 5. sajadah travel tipis.

Five Things Found In My Purse

1. Kartu ATM, 2. KTP (bogor; jakarta; banten), 3. kartu nama gimme some truth, 4. stnk motor, 5. kartu nama customer/client. (kebetulan hari ini lagi kosong dari lembaran rupiah)

Five Favourite Things In My Room

1. Istri, 2. Bantal, 3. Kasur lipat, 4. Buku pengantar tidur, 5. Tudung penutup mata

Five Things I Always Wanted To Do

1. Jadi suami yang baik bagi istri dan anak, 2. Jadi teman yang baik bagi siapa saja, 3. Ngeblog, 4. Menulis Buku, 5. Beristirahat dengan tenang.

Five Things I Currently Into

Curently or sekarang ini sedang melakukan 5 hal : 1. Pulang, 2. Menavigasi perjalanan di sebelah teman yang nyupir, 3. Bikin PR dari Julie, 4. Menyanyikan lagu-lagu untuk membunuh jenuh di perjalanan, 5. Akhirnya…. Mencari rambu putar balik karena tak memberitahu PS yang nyetir kalau seharusnya tadi belok kanan (nyasar dan disenyumin PS karena navigator sibuk ngetik).

The Person Who Inspired You Now Is

Terlalu banyak karena semua orang yang saya temui adalah inspirator, disederhanakan saja : bang namun dan mpok geboy!

Next Questions:
1. Punya handphone? Punya
2. Merk + tipe handphone? Haier + D1200P
3. Warna/gambar theme yang lagi dipakai sekarang? Default karena gak mikirin begituan
4. Wallpaper? Bunga matahari juga bawaan pabrik
5. Warna casing? Merah berlapis silver
6. Aplikasi/folder yang pertama keliatan begitu tekan tombol ‘menu’? Pesan/SMS
7. Bahasa yang digunakan di handphone? endonesya
8. Kapasitas baterai saat ini? Full karena otomatis charging kalo nempel di lappie
9. Pakai slot memory? Jenis? Hehehe hape murahan gak ada fasilitas begituan J
10. Total kapasitas slot memori? Sisa kapasitas yang belum terpakai saat ini? not available
11. Choice: Banyak terisi untuk apa memorinya? Memori default ya sms doangan
12. Ada fitur koneksi Bluetooth? Hahaha kagak!
13. Nama Bluetooth kamu saat ini? n/a
14. Aplikasi yang paling sering kamu gunakan? wap
15. Sisa pulsamu saat ini? 540
16. Provider seluler yang kamu pake? smart
17. Nomer handphone? Ada koq di blog gw

Next Target

1. Pengelana Semesta
2. Gerhana Jingga
3. Joe Dekade 80
4. Ade Sunandar
5. Awamologi
6. Hilman (masa bodo udah dapet atau belum dari yg lain)
7. Dee
8. Udinkoxx
9. Paijomania
10. Sang Admin kita yang sibuk

Akhirnya…. Beres juga! Kembali ke JALAN!!

Tak Malu Lagi

tak malu lagi (c) MT

tak malu lagi (c) MT

Di Gresik, tepatnya di area parkir Makam Sunan Giri, aku dihadang sekelompok bocah. Mereka meminta recehan. Temanku yang sudah menyiapkan sekantong plastik gopean dan secengan, membagi-bagikan kepada mereka. Bagiku, keberadaan mereka di kompleks pemakaman ini tak terlalu mengganggu. Sambil main mereka bisa kecipratan recehan dari para pengunjung makam yang memang memerlukan keberadaan pengemis sebagai penerima sedekah.

Aku berjalan menaiki tangga sambil jeprat-jepret kegiatan rakyat endonesya di sekitarku. Tapi kurasakan langkahku agak berat. Ternyata, bocah perempuan yang sudah kebagian recehan dari temanku sedang asyik mengutil uang dari tas pinggangku yang memang berposisi di pinggang kananku. hm… kujepret saja bocah itu dengan kameraku. Ia tak takut, malah tersenyum. Bahkan ia minta difoto lagi dengan pose berbeda bersama teman-temannya. hahaha… dasar bocah, sudah tak punya rasa malu rupanya. Andai seorang talent-scout menemukan bocah ini, sepertinya bisa diorbitkan jadi artis cilik. :)

Pertamina Bright Cafe di Alas Roban

ngopi di pbc (c) MT

ngopi di pbc (c) MT

Trip dari Cirebon ke Semarang melintasi Jalur Alas Roban. Nama Alas Roban mengingatkanku pada kisah tentang de Grote Postweg, pembangunan jalan pos Anyer-Panarukan dalam kepemimpinan Gubernur Jenderal Daendels. Menurut beberapa buku sejarah, medan yang berat, memakan korban, rakyat yang dipaksa bekerja membangun jalan tersebut. Ratusan pekerja Rodi yang dibayar hanya beberapa ringgit dan tak sesuai dengan tenaga yang mereka keluarkan, mati di hutan jati ini. Belum lagi kisah petrus (penembak misterius) pada masa Orde baru. Konon banyak korban petrus yang dibuang di hutan ini. Bagi banyak orang yang tahu dan pernah melewati jalur Alas Roban, ada saja kisah-kisah seram yang mereka ceritakan MLM (dari mulut ke mulut). Benar atau tidaknya cerita tersebut, ya.. begitulah, bagiku tak perlu diperbincangkan. Yang jelas, itu kisah lalu, yang amat berbeda dengan jalur baru yang kini kulalui bersama teman-teman.

Jalur baru Alas Roban masih menyisakan beberapa hutan jati. Pemandangan sekitarpun tetap enak dinikmati. Kulihat sepintas aktifitas masyarakat di pinggir jalan, menggeliatkan perekonomian. Alas Roban berada pada ketinggian 200 M dari permukaan laut. Cukup sejuklah. Alas berarti Hutan, walaupun hutannya kita tak selebat dulu. Sedangkan Roban adalah sebuah dusun yang merupakan bagian dari desa Sengon. Pembangunan jalan baru di Alas Roban, telah membabat sekitar 60 hektar lahan hutan, dari 20.416 hektar yang ada. Semoga tidak semakin banyak hutan yang terbabat karena pembangunan.

Di ujung jalur, kami masuk ke SPBU Pertamina. Bukan sekedar mengisi BBM (Bahan Bakar Minyak), tapi juga Bahan Bakar Manusia. Ada cafe mungil yang cukup apik dan resik di dalam area SPBU itu. Namanya seperti judul postinganku ini. PBC (semoga tak dianggap beriklan. Kalaupun beriklan, Pertamina musti bayar ke dblogger peduli aja :) )

Cafe itu ditunggu oleh tiga orang perempuan muda yang cantik dan ramah. Mereka menyediakan kopi, roti bakar, mie rebus, dan semua yang dipesan oleh teman-temanku. Selain menikmati capucino panas, aku membeli sebuah Sandal Jepit karet. Perjalanan jauh seperti ini amat nikmat jika bersandal jepit, ketimbang sepatu.

Satu jam terasa tak lama. Setelah selesai charging lappie, mandi di toilet yang bersih, kami melanjutkan perjalanan. Oh ya, aku ingat, SLANK juga punya lagu yang berjudul Alas Roban…

Matahari Telah Pergi

Mencoba berdiri tegak
di atas tanah yang retak
mencoba berjalan lurus
di atas tanah yang licin

terlalu lama hilang arah
terlalu lama tak berdaya
terlalu lama terpenjara

melihat diri di kaca
mataku kosong dan hampa
wajahku terasa asing
hidupku terasa kering

aku dilingkari api
sia sia menghindari
aku terbakar,
aku teriak dianggap gila
aku mengaku dianggap dusta

oh, aku letih,
sudah terlalu letih
aku pergi

matahari telah pergi
di saat aku sedang menyanyi
hari hari telah pergi
membawaku ke yang abadi

selamat jalan …

kubakar diriku untukmu
kuserahkan diriku untukmu
kuberikan semua yang kumiliki
terbakar aku terbakar

selamat jalan …

dengar lagunya : sawung_jabo-matahari-telah-pergi

Tolak Uang Gara-Gara “detik.com”

Ini kali kedua aku menjadi tamu di Kantor Balai Pemasyarakatan di sebuah kota (kusensor lokasinya biar gak dipidanakan! :p ). Kedatangan pertama adalah sekedar mengantarkan surat dari Penjara Khusus Narkoba. Surat itu berisi permohonan untuk dibuatkan LITSUS (Penelitian Khusus) seorang narapidana yang mendapatkan jatah Pembebasan Bersyarat.

Pada pertemuan pertama itu, aku diterima oleh petugas yang cukup ramah. Ia menjelaskan langkah demi langkah agar proses pembuatan Litsus selesai dengan cepat. Setelah aku menyatakan paham dengan segala urusan surat menyurat dan penjaminan, kini pembicaraan beralih pada soal Rupiah. Urusan apapun akan menjadi lebih baik, lancar, dan aman, bahkan katanya biar “sama-sama ngerti, sama-sama enak” jika ada sejumlah rupiah yang diberikan dalam amplop tertutup.

Sebenarnya agak kesal juga, karena kupikir di jaman sekarang ini sudah tak akan kutemui lagi semacam kutipan, pungli, atau apalah namanya, dalam urusan Pelayanan Masyarakat. Tapi ternyata aku masih menemukannya di kantor ini. Kutanya blak-blakan, berapa nominal yang harus kuberikan. Katanya, “biasanya sih, orang-orang pada ngasih ….. sampai ….. juta.” Aku bilang padanya kalau tak bawa uang sebesar itu. Akupun menawar, “Saya akan berikan uang itu, nanti saat saya kembali lagi ke sini untuk mengambil dokumen yang sudah selesai anda buat.” Setelah adu argumentasi, iapun menuruti penawaranku.

Pada hari yang ditentukan aku datang. Akupun sudah menyiapkan Rupiah dalam sebuah amplop yang tak kubuka perekatnya. Petugas itu mengarahkanku agar memberikan amplop itu kepada atasannya. Begitulah prosedur normalnya. Akupun diantar menemui atasannya. Kumasuki ruangan yang tak lebar, dengan seorang petugas berpakaian seragam dinas. Ia menerimaku dengan hangat.

Setelah berbasa-basi soal urusan yang kulakukan di kantor ini, iapun meminta agar aku memberikan amplop yang sudah kusiapkan. Ia membuka amplop tersebut dan menghitung jumlahnya. Sambil menghitung ia masih mengajakku ngobrol ngalor-ngidul tak berarah. Hingga sebuah pertanyaan ia lontarkan, “Apa pekerjaan kau?

Saya hanya menulis.” jawabku singkat, dengan harapan urusan cepat selesai dan kutinggalkan kantor ini.
Oh, kamu penulis. Nulis dimana? apa yang kamu tulis?” tanyanya sambil menyimpan amplop pemberianku ke laci mejanya.
Saya menulis apa saja yang saya temukan di perjalanan. Saya tulis di blog saya di blogdetik.
Detik? Detik dot com, maksud kau?” ia terperanjat
Blogdetik itu memang punya detik.com, pak. Memang kenapa, pak?” tanyaku lugu.
Oh tidak apa-apa…” Lalu ia menelpon staf yang dari awal melayaniku. “Coba kau datang ke sini! Sekarang juga!
Dalam sekejap staf itu sudah memasuki ruangan yang tidak luas ini. Ia bertanya ada urusan apa lagi dengannya. Sang atasan itu membuka laci, mengambil amplop pemberianku, dan menyerahkannya kepada stafnya sambil bilang, “Ini kamu ambil. Ini rejeki kamu dari Mas MT. Kalau saya sih, tidak biasa menerima pemberian seperti ini. Sudah keluar kamu!” Staf yang tiba-tiba menunjukkan raut wajah yang bego itupun keluar meninggalkan kami.

Baru selangkah aku meninggalkan gerbang kantor itu, tawaku tak tertahan. Geli. Hanya gara-gara menyebut kata detik.com, atasan pelayanan masyarakat itu langsung menolak uang yang biasanya ia terima. hm…. ternyata detik.com ampuh juga! :D

Nyawa Keluarga Bukanlah Harta

puzzle (c) MT

puzzle (c) MT

Seorang Da’i (pengajar agama islam) dari Negara Tetangga se-Asean, datang untuk yang kesekian kalinya ke “rumah” kami. Maaf tak kusebut nama negaranya sebagai upaya melindungi privasi tamu kami. Sejak kedatangannya, ia tiada henti bercengkrama, bertukar pikiran, sharing pengalaman, hingga eksplorasi spiritual.

Selesai berdialog pada malam pertama, ia melanjutkan “pencariannya” dengan berburu buku. 3 juta rupiah ia siapkan untuk mendapatkan buku-buku yang disinggung dalam dialog pada malam sebelumnya. Dengan diantar oleh anggota keluarga kami, sang Da’i menelusuri Jakarta hingga Bandung untuk mendapatkan buku-buku yang kebanyakan sudah tidak dicetak ulang oleh penerbit. Setelah dua hari berturut-turut berjibaku di Jakarta dan Bandung, ia kembali ke “rumah” kami dengan tumpukan buku yang diburunya. Raut bahagia tergores pada wajahnya.

Beberapa malam ia tenggelam dalam lautan kata dari buku-bukunya. Hingga pada malam terakhir ia kembali berdialog dengan kyai. Aku menyediakan laptop dan link website yang mendukung dialog mereka, lalu kutinggalkan mereka berdua bermesraan dalam dialog spiritual. Sang Da’i merasa ringan. Ia merasa mendapatkan apa yang selama ini dicarinya. Apakah yang dicarinya?

Setelah pulang kembali ke negaranya, kami mendiskusikan tentang saudara serumpun kami, sang Da’i. Ternyata tujuan utama kedatanganya ke Bogor adalah untuk menelusuri ajaran tarekat yang berkembang di endonesya. Bertahun-tahun ia menjadi Juru Agama di dua negara tetangga, namun tak merasakan kepuasan bathin. Di negerinya, majelis pengajian melulu diisi dengan kajian fiqih dan perbandingan ritual. Namun kegiatan tersebut tak memberikan kepuasan bagi jiwanya. Ia merasa kering, bagai tak bernyawa. Ia merasakan interaksi yang kaku dan membosankan.

Perjalanan spiritualnya beranjak pada tarikat. Ia menjalani suluk dari sebuah tarekat lama yang cukup populer di dunia. Perjalanan spiritualnya memberikan suasana yang sedikit berubah dalam dirinya. Ia yang merasakan sendiri perubahan tersebut, namun ia masih merasakan ada yang kurang, yang membuatnya belum genap memasuki dunia tasawuf. Iapun memutuskan berkunjung ke “rumah” kami. Niatnya adalah untuk mendalami sebuah tarikat yang populer bahkan kontroversial di endonesya.

Memang ia mendapatkan pengetahuan atas pencariannya. Ia mendapatkan dialog, buku, dan link yang bisa dipercaya kesahihannya. Tapi ternyata yang membuatnya puas bukanlah pencariannya pada jalan suluk, pada tarikat, pada dunia tasawuf. Yang membuatnya damai adalah suasana kekeluargaan yang ia nikmati di “rumah” kami. Ia merasakan kesederhanaan dan kebersamaan di rumah yang kumuh ini. Ia merasa dihargai, bahkan ia merasa sebagai bagian dari anggota keluaga kami. Menetes air mata sang Da’i ketika perempuan tua yang kami hormati di sini, mengelus kepalanya. Satu hal yang tak pernah ia dapatkan dari orang tuanya sendiri…

Keluarga adalah kekuatan yang dapat menyatukan orang-orang yang tak mendapatkan kebahagiaan. Keluarga adalah kekayaan tak terbeli. Kami bersatu di sini, dalam sebuah keluarga yang berbeda darah, beragam DNA. Tapi kami disatukan oleh ketulusan dan kejujuran. Kami adalah orang-orang yang terbuang dari keluarganya. Ada yang terbuang karena tak mau merebutkan warisan, terbuang karena kelalaian, terbuang karena tak pernah ditawari makan, terbuang karena diceraiberaikan oleh perbedaan paham, terbuang oleh apapun yang membuat keluarganya berantakan. Lalu Tuhan menyandarkan kami dalam sebuah keluarga bersahaja namun kaya hati.

Begitulah yang didapatkan oleh sang Da’i. Ia kembali ke negerinya dengan harapannya sendiri, kembali ke sini…

Duniaku Duniamu Duniadia Duniakita

mt @ ampel (c) MT

mt @ ampel (c) MT

Minum saja air yang diberikan-Nya, tanpa meminta air yang kita inginkan. Kitalah yang selalu dahaga, sedang IA selalu memberi sesuai dengan keinginan-Nya, bukan keinginan kita…

Sikap seseorang dibentuk oleh definisinya terhadap dirinya sendiri. Hanyut dalam arus dan pusaran yang berpusat pada dirinya sendiri.

Tak akan ada teman yang berani mengulurkan tangan, jika yang hanyut amat menikmati gelombang yang menggulung jiwanya, jika yang bersedih masih dirasuki kebencian, jika yang menangis enggan membebaskan diri dari penjara dendam.

Kesejatian bukan seperti yang kita impikan. Kesejatian tak bernama. Kesejatian adalah kuasa-Nya. Kesejatian terasa ketika mata terpaut pada gerimis, pada hijaunya bumi, pada serabutan awan, pada kerlipan bintang, pada kepasrahan semesta raya, dan menjadi titik terkecil dalam harmoni kesemestaan.

Banyak orang lalu lalang dalam kehidupan.
Tak satupun terinspirasi oleh persliweran.
Inspirasi diserap, bukan tercurah.
menyerap dari yang terhampar.

Duniaku duniamu dunia dia dunia kita.
Jiwaku jiwamu jiwa dia jiwa kita.
Malamku malammu malam dia malam kita.
Cintaku cintamu cinta dia cinta kita.
Hariku harimu hari dia hari kita.

Catatan ini melengkapi hariku 14 Juni 2009.
*Berkurang satu per satu jatah hidupku…
*Maafkan atas segalaku…

MT @ Bantarkemang di akhir malam