Tak Kulihat Betawi di Jakarta

topeng betawi

topeng betawi

Jakarta adalah wilayah yang sempit dibandingkan kota-kota lain di Indonesia. Luas Sempit wilayahnya hanya 740,28 km2. Namun dibalik kecilnya kota Jakarta, terdapat keragaman budaya.  Kita bisa berkenalan dengan berbagai kebudayaan nusantara maupun dunia di kota ini. Karena itu cukup pantas jika Jakarta dijuluki sebagai Kota Lintas Budaya.

Kebudayaan awal yang berkembang di Jakarta adalah kebudayaan Melayu. Kulturalisasi itu dimulai pada Abad ke-6 Masehi, saat Kerajaan Sriwijaya menyerang pusat kerajaan Tarumanegara di Utara Jakarta. Masyarakat Jakarta saat itu yang lebih dominan berbudaya Sunda mulai mengalami persilangan budaya dengan Melayu.

Pada 1512 Raja Surawisesa (Kerajaan Sunda) mengizinkan Portugis untuk membentuk komunitas di Sunda Kelapa. Sejak itu, perkawinan dengan budaya Portugis dimulai. Keroncong adalah salah satu bentuk kebudayaan Portugis yang menjadi kebudayaan orang Jakarta.

Kebudayaan lain yang juga melintas dalam sejarah Jakarta adalah Gujarat, Malabar (India) Tionghoa, Campa, Persia, Arab, Malaka, Bugis, Bali, Sumbawa, Ambon, Banda, dan kebudayaan Nusantara lainnya. Bahkan pada era kolonialisme Belanda, kebudayaan Eropa turut memperkaya khasanah dan perkawinan budaya Jakarta. Dari persilangan beragam budaya itulah, kebudayaan Jakarta - yang sejak pada tahun 1923 baru dikenal dengan sebutan Betawi setelah M. Husni Thamrin membentuk Perkoempoelan Kaoem Betawi - terbentuk.

Makin berkembang zaman, makin berkembang pulalah kebudayaan Jakarta. Melihat Jakarta sekarang, seperti kita melihat budaya metropolis. Akupun akhirnya merenungkan, seperti apakah sebenarnya jati diri orang Jakarta? Dimanakah bisa kita lihat lagi, kebudayaan Betawi, yang terbentuk dari keragaman persilangan budaya?

Ketika aku ke Jogjakarta, budaya Jawa begitu terlihat di beberapa titik kota. Ketika aku ke Bali, jelas pula kunikmati budayanya. Masyarakat di kota-kota yang kukunjungi, hidup dengan kebudayaannya sehari-hari. Namun “view“seperti itu tak kulihat di Jakarta. Tak kulihat Betawi di Jakarta. Ataukah memang Betawi telah berubah semakin molek dengan beragam kultur yang masuk setiap detik? Atau, Kaoem Betawi terpinggirkan karena tak mendapatkan tempat di hati generasi muda Jakarta?

Kurenungkan hal ini, saat Jakarta berusia 482 tahun. Semoga budaya Betawi tak terhimpit, tergilas, dan terkubur, oleh deru bising ragam budaya metropolitan.

Gula Batu Lebih Nikmat

gula batu (c) MT

gula batu (c) MT

Di Cirebon, tepatnya di warung nasi depan Masjid Sunan Gunung Jati, aku sarapan pagi. Jam 06:06 di mejaku telah tersaji teh manis dengan gula batu. Sebelumnya aku mengira akan mendapatkan teh manis dengan gula pasir biasa, tapi setelah melihat bongkahan kristal di dalam gelas tehku, ternyata gula batulah yang membuat teh itu menjadi lebih nikmat.

Gula batu nge-match dicampur dengan teh kental yang amat terasa pahitnya. Rasa manis yang tidak berlebihan membuat teh panas itu menjadi lebih nikmat. Memang, menurut beberapa orang, gula batu bersifat dingin jika dibandingkan dengan gula pasir. Walaupun sebenarnya gula batu dibuat dari gula pasir yang dimasak, dicairkan, kemudian dikeringkan kembali hingga membentuk bongkahan kristal. Cirebon adalah salah satu daerah penghasil gula batu, selain probolinggo.

Menurut si mbok warung nasi, gula batu lebih cepat mendinginkan teh manis panas ketimbang gula pasir biasa. Selain itu - masih menurutnya - gula batu lebih bermanfaat buat meringankan panas dalam. Entah benar atau tidak, yang kutahu, banyak tabib/shin she yang menyarankan pasiennya mencampur ramuan obatnya dengan gula batu, bukan gula pasir biasa. Namun tak kutemui penjelasan yang pasti tentang pengaruhnya.

Sebagai penikmat teh manis, aku merasakan kenikmatan yang lebih terasa dalam teh manis bergula batu ini. Menurut temanku, orang Jawa totok terbiasa menyajikan teh manis dengan gula batu. Untuk melihat kualitas gula batu, kita bisa mengangkat potongan gula tersebut dari dalam teh manis panas. Jika warnanya menguning, bisa dipastikan bahwa itu adalah gula batu berkualitas, ketimbang yang berwarna tetap putih.

Morning Dew

alux meresapi progres (c) MT

alux meresapi progres (c) MT

Kerjaan tambahan. Side Job! :) Kemarin siang Alux El Fabi, sang gitaris Fabian Folklore datang ke rumahku. Ia minta dibuatkan “demo” aransemennya. Tanpa bicara harga, aku langsung terima dan menyiapkan komputer buat sound editing, Software Audition 3, Free Sound Recorder, Mic, Headset, dan I/O Wire untuk menyambungkan keyboard dengan PC.

Yang kami opreg adalah lagu lama yang pernah diciptakan Alux dan Coople Ramadhan, berjudul Morning Dew. Lagu ini dibuat khusus pada 1997 sebagai Hymne untuk sebuah pesantren yang telah menyatukan kami. Alux dan PS ingin lagu itu digubah lagi dengan lebih apik dan dimunculkan pada website pesantren.

Dari pukul 11.00 wib hingga 21.00 baru selesai 5 dari 7 track yang ada. Tinggal take vocal dan alunan gitar, yang belum terekam. Lumayanlah. Yang ingin tahu liriknya, baca saja!

When the first morning dew
Drops slowly
We stand together
To begain our actifity
With morning prayer

We live and study
In this boarding school
Searching for knowledge and wisdom
Looking for the truth

Reff:
Sometimes we miss to get home
Sometimes we wish to meet our family
And all of everything that makes us boring

But in each and everyday
we always try to wash all of that
Try to find the blessed way

Oh my boarding school
You always be in my mind
I want to express
My special thanks to you
For all that you have given to me

* lumayan, buat beli beras :p

Negatif-Positif

ngerumpi (c) MT

ngerumpi (c) MT

Dalam suatu komunitas, ada saja orang yang senang menanggapi suatu kejadian dari sisi negatifnya saja. Mungkin dengan begitu, mereka merasa lebih tahu, bahkan dari orang yang mengalami masalahnya sendiri. Hebatnya lagi, pergunjingan negatif, biasanya lebih cepat menyebar ketimbang obrolan positif. Inilah kecenderungan yang terbangun dalam masyarakat kita.

Nyaris setiap hari, kita dihadapkan pada kecenderungan negatif ini. Mulai dari dalam rumah kita sendiri, saat membuka pagi dengan menonton TV (saya tak anti nyetel TV), kebanyakan isinya makian para petarung kekuasaan, infotainment perceraian, perselingkuhan, kriminalitas, bahkan beragam reality show yang makin merombak standar area privasi. Ini hanya sekedar contoh, betapa pergunjingan negatif menjadi “seolah-olah” hal biasa, yang tak disadari membentuk budaya masyarakat kita.

Contoh kasus, ketika ada seorang teman yang tiba-tiba sanggup membeli “ini-itu”, ada saja teman lain yang menggunjing sambil menggerutu, “dari mana dia punya uang sebanyak itu? Jangan-jangan …. dst, dll….” Jarang sekali ada yang merespons dengan positif, “Alhamdulillah, teman kita berhasil membeli apa yang sudah lama dia inginkan.”

Terbiasa berpikir negatif, membuat hidup menjadi gelap dan melelahkan. Terbiasa merespons positif, bikin hidup terasa terang, ringan, dan menyenangkan.

tak apalah…

akhirnya aku merasakan juga tak punya account di facebook.

tak apalah… hadapi dengan senyum.

surat-dari-facebook

Menutup Pagi

aku ingin
menutup pagi
tanpa kicau burung
tanpa matahari
tanpa segarnya udara
tanpa kata-kata