dblogger, keluarga yang seru!
“Kebekuan adalah amarah yang meronta-ronta, dekapan hangat bisa mencairkannya” [bang namun saat mabuk]
Sebuah tulisan eyang berjudul memaknai komentar kw, tak diduga menuai perbincangan. awalnya perbincangan masih relevan dengan isi tulisan, yaitu tentang mas kw, eksistensi dblogger, dan rumah sementara dblogger yaitu dblogger.org (beta version).
Satu persatu komentar muncul, terutama paling seru di facebook. makin banyak yang berkomentar, ternyata arahnya makin sulit dikendalikan. Dari yang mencurigai beberapa pihak, terutama pengurus dblogger, sampai menuding nama beberapa orang.
Tadinya aku tak ingin ikut campur dalam perdebatan tak berkualitas tersebut. Aku mencoba berkomentar positif, karena menurutku isi tulisan eyang positif banget. Melihat perkembangan komentar yang mulai penuh curiga dan vonis, aku mencoba mendinginkan suasana dengan berkomentar santai, mulai dari bagaimana memandang kw dan eyang secara positif, ajakan minum kopi hingga karaokean.
Sampai Kamis malam, kupantau perkembangan komentar karena notifikasi facebook memberitahukannya. Aku benar-benar terkejut ketika perbincangan berubah menjadi debat terbuka. Aku berharap pemilik account mencairkan keadaan. Tapi mungkin malam itu Eyang masih memberikan kesempatan agar teman-teman dblogger meluapkan emosinya. Atau bisa jadi Eyang sedang mencari saat yang tepat untuk mencairkan kebekuan hati teman-teman.
Kuingatkan teman-teman dengan satu kata, “sudahlah…!” dan kututup malam itu dengan harapan masing-masing menyadari telah membuka aibnya sendiri, menuding sesama teman yang tanpa disadari menelanjangkan dirinya sendiri.
Sebelum melakukan perjalanan ke Ciputat, Ciawi, dan Lido, Jum’at pagi aku mengecek perkembangan komentar di facebook Eyang, dengan harapan, semua temanku sudah saling mendinginkan hati.
Ternyata harapanku tak kesampaian. Pagi yang sejuk karena rintik gerimis musim hujan, tak sanggup mendinginkan hati mereka. Ataukah hati mereka terlampau dingin hingga membeku? Kubaca lanjutan komentar teman-temanku yang dikuasai amarah.
Kucoba merenungkan. Kemarin aku sudah berusaha melengkapi perdebatan dengan komentar positif kepada semua pihak yang terlibat. Bahkan kuulangi beberapa kali agar teman-temanku juga tertular berkomentar positif. Tapi mungkin mereka tak biasa diingatkan dengan cara yang baik, dengan kalimat positif.
Dalam konteks pendidikan, kadang murid kita bisa dinasehati dengan cara yang baik. Tapi kadang perlu juga kita bicara tegas, menampar kesadarannya, agar sang murid menyadari kepongahannya.
Kucoba tampar kesadaran mereka dengan kalimat negatif. Kupikir, mungkin dengan cara itu teman-temanku yang potensial itu mau kembali ke domain positif :
arahnya jadi negatif gini sih. tak ada satupun yang bisa, sedikiiit saja memandang potensi positif temannya.
apa perlu pengurus yang ada dibubarkan? lalu siapa yang membubarkan? tokh yang saya tau mereka menjadi pengurus bukan karena keinginan sendiri.
saya beberapa kali bertemu Hilman, Eyang, Ella, Julie, Anny, Reza (dobel), Fandhie, Luv, Mou… saya tak melihat mereka sebagai sekelompok gank yang merugikan domain blogdetik…. See More
Jadi, apa perlu kita voting? bubarkan atau dukung? biar cepet selesai deh. yang merasa baik, silakan urus dblogger…
Aku senang komentar itu mendapatkan respons dari Luv. Ia mengingatkan agar aku tak terbawa arus. Sejujurnya, sejak awal aku tak terbawa arus, Luv. Itu cuma pancingan saja agar bisa mendapatkan sedikit kebeningan dalam genangan air yang makin mengeruh.
Aku bersyukur akhirnya mereka yang ditunggu menjelaskan duduk soalnya. Komentar KW dengan mem-paste chattingan dia dengan Hilman sebenarnya menjelaskan segalanya. Dan akhirnya sang Eyangpun menutup dengan pencairan yang bersahaja.
Itulah kita, dblogger… sebuah keluarga yang seru!





















bener-bener seru bos!!!
sip… posting yang menarik…
masalahnya banyak dblogger yang merasa aman berdiri di garis abu-abu, dan merasa sungkan untuk menegur pihak tertentu (yang oleh beberapa pihak dinilai sebagai ’sakit’), dengan alasan pertemanan dan hubungan baik…
seperti komentar fandhie di blog anjari, apa yang terjadi sebenarnya “telah memicu sumbu yang diam2 sudah basah oleh minyak dan siap terbakar”
tak ada asap kalu gak ada api, dan pertengkaran dan kata2 pedas tak akan muncul jika tak ada yang memicu, dan kita semua tahu sumbernya dari mana. namun anehnya beberapa pihak merasa itu sebagai kewajaran…
soal domain dblogger dot org aku pikir sudah selesai. tapi jika sumber masalah tak diselesaikan, maka yang seperti ini akan terus berulang dan berulang… Pada akhirnya nuansa fun yang diinginkan anggota dblogger hanya sebatas harapan. para anggota dblogger akhirnya merasa asing dengan komunitasnya sendiri
capek dehhh
hayah, bang mt emang paling bisa kalo ‘mancing’. tnyt gue yang kena pancingannya..hehehe..(nitip bawain kopi aliong yah bang)
aku mau mengamini apa yg dituliskan kuti…
begitulah… aku pikir mengapa pada akhirnya terjadi ledakan besar, sebetulnya tak mengejutkan. percikan- percikan apinya sudah tampak sejak lama… sumbernyapun sebetulnya terang benderang… tak perlu analisa rumit untuk menemukan akar masalahnya.
hanya saja, seringkali memang atas nama solidaritas buta, bukan sumber masalahnya yg diatasi tapi pihak lain yang dituding-tuding dipersalahkan atau selalu diharapkan mengalah atau meng-iya…
dan itu yg membuat sumbu makin terendam minyak, serta api membesar.
itu pula kenapa aku berulang kali mengatakan tentang apakah netralitas bisa diupayakan, terutama di tempat- tempat dimana semua orang seharusnya merasa dimiliki dan memiliki ( misalnya: buletin )
itu yg selama ini tak terjadi… dan mudah- mudahan ke depan bisa diperbaiki oleh kita semua…
solidaritas memang baik, tapi solidaritas buta mengakibatkan pembelaan-tanpa-batas terhadap kelompok atau individu tertentu, dan kita tahu, itu sumbernya terjadi tawuran… faham tak-lagi-penting-apa-isi-atau-kejadiannya-tapi-hanya-kawan-dan-kelompok-yang-sama-yang benar itu tidak sehat.
kalau kita kembalikan pada konsep ‘mendidik’, maka kita bisa analogikan jika seorang anak terus menerus dilindungi serta benar-tidak-benar-dianggap-benar, maka dia tak akan pernah belajar yang mana benar yang memang benar, yang mana yang sebetulnya tidak benar.
akibatnya? ya begitulah, seperti apa yg sudah kita saksikan bersama itu.
sayang memang bahwa kita harus belajar dengan cara sekeras itu, hanya karena kita tak pernah mau mengakui lebih dini tentang adanya masalah, atau sumber masalah tertentu, dan menutup mata tentang perlunya memperbaiki pihak yang konon ’sakit’ itu…
anyway… mudah- mudahan saja pelajaran keras kemarin bisa diambil hikmahnya oleh kita semua saat melangkah ke depan…
d.~
wekekekek.. sayangnya udah telat. aku dan beberapa temen laen udah sepakat utk membentuk komunitas baru. silahkan ambil alih dblogger utk orang2 yang merasa lebih pinter mengurus komunitas
Semoga semuanya berakhir dengan baik bagi semua pihak
wow…bikin komunitas baru ya? hehe sip dah
seperti kata orang, lebih baik terlambat daripada tidak…
aku justru heran kenapa kesadaran untuk bikin komunitas baru itu baru muncul sekarang, bukannya dulu2… hehehe
setiap orang (kita) bisa saja melakukan kesalahan. hebatnya adalah ketika orang tersebut (kita) menyadari kesalahannya. kepongahan adalah ketika kita tak menyadari bahwa kebodohan telah menelanjanginya. kebekuan adalah ketika merasa bahagia (menang) di atas kesedihan saudaranya sendiri.
*begitu kata bang namun yang lagi mabok
yep.. seru juga yah keliatannya kalo melihat posting Mas di atas (saya gak liat debatnya soale).. semoga bagaimanapun juga.. perdebatan seperti ini bisa membawa ke arah yang lebih baik.. bukan kepada kehancuran.. salam ^^
Tak perlu tergesa mengambil kesimpulan. Tak pula perlu membuat cap atau label. Biarkan proses berjalan, dan biarlah waktu yang membuktikan.. Salam,d.~
yang waras ngalah aja
thanks honey atas postingannya
jangan2 hilman bener neh hihihi
masalahnya banyak dblogger yang merasa aman berdiri di garis abu-abu, dan merasa sungkan untuk menegur pihak tertentu (yang oleh beberapa pihak dinilai sebagai ’sakit’), dengan alasan pertemanan dan hubungan baik<—-jujur aku ngerasa bingung dengan pihak mana yg dimaksud. siapa yg aman?
siapa yg sungkan?
menurutku semua orang punya kebebasan dan hak untuk berbicara dan mengeluarkan opininya.
so mengapa harus ada yg (dianggap) sungkan.
ya ampun aku kemana aja yah..
kenapa jadi kek gitu semuanya?
bener kata kak Julie
yg waras ngalah aja lah…hehehe
*pdahal aku gk begitu tau permasalahanya…
haloooowh…
bener-bener kaya di kampung cerewet nich, hihihii..
inilah bumbu komunitas, ngga gini ngga asyikkk..
hmmm bang mt .. bisa aja buat postingan kek gini. Ya gitu deh bang. Kadang gak bisa lah semua dianggap hitam dan putih saja. Pasti ada ruang abu-abu untuk itu.
Di ruang terbuka seperti ini, semua boleh saja mengeluarkan isi hati, sakit hati, atau apalah namanya. tp itu menjadi tidak penting lagi kalau ada unsur menyudutkan seseorang, entah siapa karena aku tidak melihat nama disebutkan disini.
@Lies: mau bikin komunitas baru? wah asik dong … aku tahu kamu bisa bikin apa saja. [boleh gabung nantinya ? hehehehe ... [bukan ttg buaya dan buayawati kan xixixixxi]
@matanaga : setuju , asik juga sih hehehe .. belajar dari mana sisi mana saja.
cases closed!