PR Bahasa Sunda
Setiap ada PR Bahasa Sunda, anakku yang kelas 2 dan 4 SD pasti nyerah. Dan selalu saja aku dan istriku ikutan belajar bahasa Sunda. Berempat kami buka-buka kamus bahasa sunda yang kami beli berdasarkan saran guru sekolah. Namun kamus bukanlah solusi yang tepat. Ternyata kamus yang katanya lengkap itu lebih sering tak menemukan kata yang kami cari.
Agak gak enak juga waktu gurunya bilang, saat aku ambil rapot kenaikan yang lalu, “Memang anaknya mau ngomong bahasa inggris pak? Masa nilai bahasa inggrisnya tinggi tapi bahasa sundanya rendah?!” Hm… benar atau tidak apa kata gurunya itu, yo wis… aku nggak mau berdebat.
Aku konsultasi ke tetangga yang sehari-harinya sering kudengar berbahasa Sunda di rumahnya. Lumayan, dari 10 soal, mereka bisa membantu menjawab hanya 2 soal saja. Mereka beralasan, “bahasa Sundanya beda!” Waduh, tambah bingung aku.
Tak kehabisan cara, akupun menulis sms ke beberapa teman. Apa artinya meuli, suhun, dedet, suhan, rarangken, dll… Mereka menjawabnya dengan bahasa indonesia. “Salah, Yah! Isinya bukan bahasa Indonesia, tapi bahasa Sunda juga.” kata anakku. Ternyata perintah gurunya adalah : Eusian ku Bahasa Lemes!
“Alamakjang, bahasa Lemes? Cemana bahasa bisa lemas?” Spontan aku nyeletuk di depan anakku yang menunggu jawaban sambil menggoreskan pensilnya ke kertas gambar. hm… dia malah asyik menggambar wajah orang yang raut mukanya jelek dan terlihat sedang bingung. “Ini gambar ayah, hehehe” duh, dia malah senang ayahnya buntu menjawab. Tapi senang juga digoda oleh anakku yang cantik ini.
Ah, aku kirim sms lagi ke dua temanku. Aku yakin mereka bisa menjawab dengan bahasa lemes. Alhamdulillah, Kang Achoey dan Kang PS, memberikan jawaban yang sama. Selesailah PR-ku, eh PR anakku!
“Ini jawabannya. Tulis ya!” kuberikan sms dari PS dan Achoey.
Anakku tersenyum membaca SMS dari Achoey :
“Meser, Tatih, Geubis. Ayahku pusing, asyik! kata anaknya”
Benar juga isi SMS kang Achoey itu. Bahkan anakku sudah tuntas menggambar wajah ayahnya yang pusing membuka-buka kamus bahasa sunda.
“Selesai, Yah!” Anakku menutup buku tulisnya.
“Ya sudah, simpan di tas, biar besok tak tertinggal.” Saranku.
“Di meja belajar aja, yah. Kan dikumpulkannya bukan besok. Tapi hari Jum’at depan.” Jawabnya enteng.
“Hah????” Ternyata masih seminggu lagi! Hm… dasar bocah! :p





















pertamaxkah aku?
[Reply]
keduaxxxxx .. hahahaa
emang bahasa sunda asli rada susah ya ….
[Reply]
Ha, ha, kita malah justru terbiasa dengan bahasa Inggris y kang
Kalo saya malah lagi SD masih tinggi nilai bahasa Sunda daripada bahasa Indramayu nya, padahal orang Indramayu T.T
[Reply]
keempaaat
kang, ganti ahh themenya beraat *aku udah lupa dengan yang berat2
[Reply]
MT Reply:
March 1st, 2010 at 12:37
aku lagi tunggu theme baru dari blogdetik.
[Reply]
bahasa Sunda = Bahasa Lemes?? wkwkwkw…..
[Reply]