Anutan dan Kekuasaan
Murid bertanya setelah sang guru menyelesaikan perenungan malam. “kenapa sesama pemeluk anutan tetap berebut kuasa, padahal mereka sama-sama menjadikan anutannya sebagai dasar budi pekerti dan ritual?”
Sang guru menoleh ke arah muridnya. “Konflik kekuasaan itu merupakan tradisi yang tak usang dan tak usai oleh ruang dan waktu.”
“Jika mereka kembali pada dasar moral, mestinya bisa berdamai!”
“Anutan bukanlah jiwa mereka yang dikuasai oleh amarah dan haus kuasa.”
“Tapi mereka selalu menjadikan anutan sebagai simbol kekuasaannya?!”
“Begitulah, anutan memang sering dijadikan jubah kekuasaan. Tapi tak menjadi jiwa…”
Murid merenungkan dialognya dengan Sang Guru. Ia pamit beranjak menikmati purnama sempurna.
“Mereka menyatakan diri sebagai wakil Tuhan di muka bumi!” penuh semangat, sang murid menyampaikan apa yang diketahuinya dari obrolan sesama murid. Biasanya begitu. Saat istirahat, para murid biasa melepas lelah, bersandar di batang sawung, menikmati semilir angin di teduhnya pohon yang rindang, ada juga yang berbaring di depan mushalla. Semuanya dilakukan sambil bercengkrama tentang relitas di luar sana, di pusat kesibukan dunia.
“Para pemangku wilayah menuntut kepatuhan rakyatnya. Mereka mengatasnamakan Tuhan. Mereka memperkenalkan kembali dirinya yang baru, pribadi berderajat lebih tinggi dari rakyat. Merekapun menaklukkan wilayah lain yang belum tunduk pada kekuasaan wakil Tuhan di muka bumi… Mengapa terjadi seperti ini, Guru?” tanya sang murid kepada gurunya.
“Mereka memang dahaga akan kuasa!” Selak seorang murid lainnya.
“Dan menjadikan anutan sebagai alasan untuk melebarkan kekuasaannya!” Sambut yang tak jadi mengantuk.
“Yang menjadi masalah, citra agama menjadi rendah akibat penaklukan yang mereka lakukan. Apakah agama tak melerai antara jiwa dan nafsu?” Kembali sang murid yang pertama bertanya menyampaikan kegelisahannya.
“Sesungguhnya agama itu adalah jiwa. Ketika sampai ke setiap jiwa yang terbuka. Ia adalah pakaian bagi yang benar-benar mengenakannya. Namun kenyataannya, banyak orang yang melapisinya dengan pakaian dirinya yang penuh noda.” Jawab sang guru.
“Kenapa bisa begitu, guru?”
“Akupun bisa begitu. Banyaknya murid, bisa mencipta pakaian kesombongan, bahwa aku adalah guru yang mulia. Banyaknya pengikut, bisa mencipta pakaian kesombongan. Akupun bisa begitu…” urai sang guru.
“Bagaimana agar tidak seperti itu?”
“Lepaskan pakaian kita! Kenakan pakaian yang lahir dari jiwa yang tentram!”
“Bagaimana dengan mereka yang bergumul dengan jubah kekuasaan?”
“Mereka enggan melepaskan pakaian, karena khawatir kedinginan dan dirundung malu. Kedinginan karena pakaian jiwa memang lebih tipis dari sutra. Malu karena tak akan dipandang lebih tinggi derajatnya.” Sang guru menjelaskan.
source : jejakwalisongo by MT





















Kita mesti telanjang dan benar-benar bersih suci lahir dan di dalam batin, tengoklah ke dalam … [pesan rohani dari lagunya Bung Ebiet G Ade] untuk mereka yang enggan melepaskan pakaian duniawinya
Salam bentoelisan
Mas Ben
[Reply]
Caramu menyampaikannya, dahsyat sobat
Mencerahkan
[Reply]
Kita bukan siapa2 dan kita tak punya apa2 pada hakikatnya, mari kita lapangkan hati untuk tidak merasa memiliki apapun didunia ini
[Reply]
waduh, pilihan bahasanya… beyond my imagination Pak
[Reply]
salam kenal
[Reply]
masih di sekret neh kang, ga bisa buka pakaian dulu
[Reply]
buka hatimu….
[Reply]
terkadang jiwa terhimpit dalam gelapnya kekuasaan.
tapi jiwa seperti jiwamu selalu terbuka kepada cinta dan pengharapan
salam
[Reply]
Itu semua terjadi karena akal, hati dan nafsu tidak berada dalam satu jalan. Jalan Illahi.
Wonderful, atas postingnya.
[Reply]