Tiba di Puncak
Kebahagiaan menguasai hatiku. Akhirnya, malam ketujuh ini kami sampai di puncak yang menjadi tujuan perjalanan kami. Aku membayangkan kembali pengalaman yang kualami sejak malam pertama hingga malam ini. Terbersit kepuasan karena berhasil menyelesaikan rintangan demi rintangan. Mungkin, inilah yang dinamakan kebahagiaan saat mencapai keberhasilan.
Sebuah batu besar beralaskan angin dan beratap pepohonan yang rindang menjadi akhir perjalanan kami. Aku duduk dalam kebahagian, mengucap syukur atas keselamatan yang Tuhan berkatkan. Sang Guru berwudhu pada pancuran mata air di sebuah dinding cadas di sisi kanan pasujudan. Aku mengikuti apa yang ia lakukan.
Di atas batu besar luas dan memanjang. Sebelum memulai shalat malam, ia menyampaikan pesan, “Alhamdulillah, kita telah sampai di puncak ketinggian. Tapi ini bukanlah tujuan. Ini baru permulaan…”
Aku terperangah. Kebodohan begitu lekat dengan kepongahan. Kepuasan begitu dekat dengan kesombongan.





















setuju….
[Reply]
ini postingan lama ya kang
[Reply]
kapan-kapan ke puncak, ajak-ajak dong…
[Reply]
hanya pada kedalaman hatilah sehingga kepuasan tak lagi mendekat pada kesombongan, tetapi kepuasan akan mengalir pada cinta terhadap jiwa yang berbeda
[Reply]