Pertukaran Kursi

ini adalah kisah lanjutan dari serial New Kids on the Blog. Setelah liburan, mereka berangkat ke Jogjakarta untuk liburan bareng sahabatnya, Tatox. Pada kisah sebelumnya (yang tidak dipublish) NKotB Gank saling menunggu kelengkapan personilnya di depan Bandara Sukarno-Hatta. Ada sebuah accident, telepon selular O-jack mati setelah kecebur di wastafel saat ia cuci muka. Karena sesuatu dan lain hal, episode tersebut tak saya publish. Jadi langsung meloncat ke episode ini saja.
![]()
“Matikan HP. Kita mau naik ke pesawat sekarang!” Nawi mengingatkan ketiga temannya. Sambil menuju antrian pengecekan tiket menuju koridor pintu masuk pesawat terbang.
“Matiin HP, Jack!” Karim mengulangi pernyataan Nawi sambil berkirim senyum ke Brohim.
“Sekali lagi ngoceh, gue hajar lu!” O-jack masih kesal dan berduka karena telepon genggam warisan ayahnya mati mendadak tercebur di wastafel tadi.
“Hehehe… udah lah, Rim. Lu iseng banget. Itu HP kan bakalan diganti sama Nawi. Lagian emang udah saatnya HP bulukan itu mati. Ya kan, Jack?” Brohim menepuk-nepuk pundak O-Jack.
“Gue nggak ngerti dah. Maksud lu menghibur atau menghina gua…” O-jack berpikir keras mencerna perkataan Brohim.
“Tergantung dari kebersihan hatilu, Jack. Kalo hati lu bersih, pasti omongan gue jadi hiburan buat lu. Ya nggak, Rim…” Brohim mengerdipkan mata kepada Karim yang berdiri di belakangnya.
“Ada juga HP-nya yang bersih karena abis berenang di wastafel. Hehehe…” Aneh, nggak seperti biasanya Karim jadi iseng begini. Apa karena ini pengalaman pertamanya terbang?
“Sekali lagi ngoceh, gue gampar lu ye!” O-Jack benar-benar kesal mendengar ocehan Karim. Untung saja Brohim berada di antara mereka dan memegangi pundak O-jack sambil tetap tersenyum geli karena ocehan Karim.
“Sabar Jack! Orang sabar disayang Tuhan!” Brohim menasehati sahabat di depannya.
“Udah! Berisik lu ah. Nggak sadar diliatin semua orang lu?” Nawi mengingatkan ketiga temannya.
Semua orang yang berada di sebelah antrian terlihat memperhatikan keempat remaja yang berisik. Ada ibu-ibu yang cemberut sambil menenteng tas batik. Ada turis asing yang hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Ada yang senyam-senyum nggak jelas. Ada juga yang nyeletuk, “Baru kali ini di Bandara ada siaran langsung lenong ya…”. Bahkan ada juga yang menyela, “Norak! Kampungan banget sih tuh orang!” tapi tak terdengar oleh O-jack dan teman-temannya.
Selesai memperlihatkan tiket, merekapun menelusuri koridor menuju pesawat. Nawi,
O-Jack, Brohim, dan Karim. Berjalan beriringan.
“Jangan lupa kita berdoa dulu. Ingat doa naik pesawat nggak luh?” Brohim mengingatkan.
“Lha emang ada tuntunan doa naek pesawat?” protes Nawi. Langkahnya terhenti sejenak mengingat-ingat hafalan doa dalam pengajian waktu masih SD di musholla depan rumahnya.
“Ya ada. Kan sama aje kayak doa naek kendaraan.” Jelas Brohim.
“Oh, sama aja. Ya udah. Mending kita doa bareng aja. Lu yang pimpin ya, Bro!” Pinta Nawi.
“Bilang aje lu kagak hafal, Wi!” Karim paling hafal gelagat Nawi kalau tak hafal doa.
“Hehehe… Berdoa, mulai…!” Brohim memberikan intruksi sambil tetap menelusuri koridor.
“Jaaah… lu! Jangan gitu dong. Mustinya lu yang baca dari awal sampe akhir, ntar kita tinggal aminin aja!” Nawi protes.
“Hehehe… jadi lu masih nggak hafal juga pelajaran TK?” Brohim puas jika melihat kelemahan Nawi.
“Gue nggak pernah masuk TK. Jadi nggak belajar doa begituan.” Nawi beralasan.
“Udah! Tinggal berdoa aje pake ribet banget lu bedua! Udah mau sampe pesawat nih… ” O-jack ikut campur. Matanya menatap dua orang pramugari yang tersenyum di ujung pintu. “Ya ampuuun, cakep banget ya!” spontan kalimat pujian keluar dari mulut O-jack.
“Jadi berdoa nggak kita?” Karim mengingatkan sambil mendorong punggung Brohim.
Di depan dua orang pramugari, mereka berhenti melangkah. Semua mengangkat kedua tangannya. Brohim memimpin doa sebelum naik pesawat terbang. Ketiga temannya mengamini di akhir doa. Dua orang pramugari tersenyum memperhatikan keempat makhluk Tuhan yang akrab ini. Setelah mendapatkan sapaan ramah, keempat sahabat itupun mencari tempat duduk sesuai tiketnya.
O-jack mendapat kedudukan paling pinggir sebelah jendela, kursi 17F. Nawi 17E, Brohim 17D. Mereka bertiga sebangku sejajar. Karim duduk di kursi sebrang Brohim, 17C. “Wah, curang lo. Masa gue sendirian? Tuker, Bro!” Protes Karim.
“Ah, enak aje. Rezeki orang beda-beda, Rim. Lu harus bisa menerima rezeki apa adanya. Jangan protes.” Brohim enggan bertukar tempat duduk dengan Karim.
“Kenapa sih, Rim? Dari pada di sini lu deket O-jack, nanti malah berisik lu!” Nawi menyudahi protes Karim.
“Tau lu, bilang aje lu takut sendirian!” O-jack merasa di atas angin. Ia merasa puas melihat Karim yang panik duduk tidak bersama dengan orang yang dikenalnya. O-jack tahu kalau baru kali ini Karim naik pesawat terbang. Kelihatan dari tampang Karim yang pucat. Padahal ia juga baru pertama kali naik pesawat terbang. Tapi karena ia tak mau kelihatan takut, ia berusaha menutupi ketakutannya dengan lebih banyak mengulang doa dalam hati, “Ya Allah, jangan sampe kecelakaan!”
“Sabar, Rim. Penerbangan kita cuma 40 menit. Sebentar doang! Nggak akan berasa lama deh!” Nawi menenangkan sahabatnya.
“Permisi, bisa geser sedikit. Kursi kami 17A dan 17B.” Tiba-tiba seorang cewek cantik menyapa Karim. Seorang lagi menebar senyum manis kepada Karim.
Karim spontan berdiri memberikan jalan agar kedua cewek cantik lagi sopan itu, mendapatkan tempat duduk di sebelahnya. Karim makin pucat. Ia menunduk, meminta sesuatu kepada Brohim, “Bro, tuker, Bro! Kan lu enak bisa kenalan sama dua cewek cakep itu!”
“ng… gimane ye… tunggu, Rim. Gue pikir-pikir dulu… ” Brohim pura-pura jual mahal.
“Please, Bro!” Karim memohon.
“Tuker sama gue aje, Rim! Gue siap nolong lu!” O-jack berubah menjadi serigala berjubah putih.
“Jangan!” Nawi melarang. “Biar Karim yang di situ. Gue kuatir lu ngegangguin itu cewek, Jack!”
“Jaah elu, Wi. Orang mau berbuat baik malah dihalang-halangi…” O-jack kesal.
“Yuk, Jack, tukeran!” Karim mengharapkan O-Jack beranjak. Tapi tangan Nawi menahan O-jack agar tetap duduk.
Seorang pramugari menegur Karim, “Ada yang bisa kami bantu? Coba lihat tiketnya?” Karim memberikan tiketnya kepada Pramugari yang menyapanya dengan sopan. “17C, Silakan duduk di sini… Jangan lupa kenakan safety belt ya…” Seperti korban hipnotis, Karim mengikuti semua perintah pramugari hingga ia duduk tertib dan memasang tali pengikat tubuh.
Brohim dan Nawi cekikikan melihat nasib Karim. Mereka berdua tahu kalau Karim paling grogi berdekatan dengan perempuan cantik. Kehebatannya di kelas, kepintarannya dalam semua pelajaran, melesat sirna jika sudah berada dekat perempuan. Karim langsung menjelma seperti bocah lugu nan idiot.
Sementara O-jack masih menatap Karim dan memberi isyarat pertukaran kursi. Tapi Brohim menghalangi wajah Karim dengan majalah yang terselip di depan kursinya. Nawi pura-pura tidur dengan tangan mengapit tangan O-jack, menghalangi kesempatan O-jack berpindah tempat.
Dari atas langit-langit pesawat, muncul TV ukuran kecil yang menampilkan informasi menikmati penerbangan dengan aman dan nyaman. Pesawat siap tinggal landas menuju Bandara Adi Sucipto, Jogjakarta.
O-jack memejamkan kelopak matanya. Mulutnya komat-kamit. Kedua tangannya memegang erat sandaran lengan kursi. Nyata sekali ketakutan dari geliat tubuh dan raut wajahnya. Brohim memperhatikan dan komentar, “Perasaan tadi kita udah doa bersama. Kenapa O-jack komat-kamit lagi? Baca doa apaan dia?”
“Nggak tau. Paling lagi menghafal nama-nama menteri Kabinet yang baru terpilih…” Nawi menimpali sekenanya. Sementara konsentrasi O-jack tak terganggu oleh ejekan kedua teman di sebelahnya itu.
Beda dengan Karim. Ia terlihat seperti orang tidur pulas. Tapi gemeretak gigi gerahamnya terdengar sampai ke telinga Brohim. “Masih makan permen lu, Rim? Bagi dong!” tegur Brohim sambil nyengir kuda.
Yang ditanya tak menjawab. Menolehpun tidak.























tukeran kursi sama pilot ajah kang
[Reply]
dikemplang sama pramugarinya nanti :p
[Reply]
menunggu novelnya terbit
dan berharap segera bisa membelinya
dahsyat sobat
[Reply]
Oh ya, sekitar 10 hari ke depan bahkan mungkin lebih, ada kemungkinan kegiatan blogwalking saya terhambat atau bahkan mungkin tidak sempat. Tapi insyaallah selama 10 hari ke depan, tiap hari sekitar jam 08.01 WIB ada postingan baru karena saya sudah menyiapkannya dan menggunakan sistem skedul. Semoga sahabat berkenan meramaikannya dengan meyempatkan diri berkunjung ke sana. ngarephehe.com
[Reply]
oke kang achoey, selamat berbahagia dengan istri baru ya
[Reply]
hmm..
ehe hehehe..
[Reply]
Ha, ha, Ngerasa kek O-jack banget
[Reply]
@miftah : andai kamu Karim, apa yg kamu lakukan di sebelah 2 cewek cantik itu? hehehe
[Reply]
Waiting for her novel
[Reply]
terimakasih tas postingnya
semoga sukses selalu..
[Reply]