Restorasi dengan Kebaikan

Kerajaan Purbadewa mengalami kekacauan. Setelah terjadi musibah beruntun, mulai dari gempa yang memicu tsunami, gempa tanpa tsunami, gunung yang marah dan memuntahkan lahar yang mengubur sebuah pemukiman, banjir di mana-mana, hingga luapan lumpur panas di sebuah wilayah, yang hingga saat ini solusinya tak berujung.
Sebelum melanjutkan bacaannya, sekedar informasi, ini adalah repost dari postingan lama saya yang pernah dipublikasikan di jurnal kebudayaan Dialog pada tahun 1997
Selain musibah alam, terjadi juga musibah politik. Kerajaan Purbadewa berkali-kali diguncang kudeta. Dimulai sejak pelengseran Maharaja Cemanibuana II, yang telah berkuasa puluhan tahun. Sejak itu, siapapun pelaku kudeta, siapapun raja yang memerintah kerajaan Purbadewa, sulit bertahan lama. Selalu saja ada intrik, konflik, kilik-kilik, yang memang sudah menjadi tradisi politik turun-temurun di negeri Purbadewa. Namun, dari semua pelaku kudeta, sama-sama tak membawa perubahan mendasar bagi negeri yang bertanah subur dan memiliki kekayaan laut yang luar biasa ini. Misalnya saja, rakyat jelata nasibnya tetap seperti minyak jelantah. Sebutan raja yang memerintah, tetap saja Raja Cemanibuana. Kudeta demi kudeta terjadi… kini Kerajaan Purbadewa dipimpin oleh Maharaja Cemanibuana VII.
Sayangnya, tradisi kudeta tetap tak hilang. Harapan para cendikiawan agar setiap tokoh negeri bersatupadu mengamankan stabilitas politik, tak menjadi nyata. Siapapun yang berhasil menaiki tahta, selalu saja ada pihak-pihak yang berupaya merebutnya. Segala cara mereka lakukan, demi kekuasaan, atas nama rakyat jelata. Namun hebatnya para politisi kerajaan, mereka sepakat untuk tidak menggunakan istilah kudeta. Itu tak mencerminkan keluruhan budaya Purbadewa. Karena itu, mereka lebih suka menggunakan istilah reformasi. Lebih keren didengarnya!
“Gimana negeri ini mau aman, jika para petingginya selalu berebut kekuasaan!” Ceracau mang Odon sambil melempar koran andalannya, Media Purbadewa. Seperti biasa di pagi hari, mang Odong menemani mang Papay dan Parikesit ngeteh atau ngopi, sebelum beraktifitas pada dunianya masing-masing.
“Eleuh-eleuh… Marah sih boleh saja, tapi jangan melempar koran dong, mang!” Mang Papay yang baru saja menyeruput accident coffee (kopi tubruk) terkejut.
“Bosan! Setiap hari koran isinya tentang para petinggi yang berantem terus…” Mang Odon tetap merasa tak bersalah.
“Makanya, kalau emosi sedang tak baik, jangan baca halaman politik. Baca saja berita olahraga! Itu lebih jujur, beritanya.” Saran Mang Papay.
“Aku heran, mereka yang haus kekuasaan itu, apa tak sadar kalau rakyat tak membutuhkan tingkah polah mereka?!” Mulut Mang Odon makin monyong, pertanda ia masih kesal dengan berita yang dibacanya sendiri di pagi hari ini.
“Jika mereka sadar, ya tak mungkin berperilaku seperti itu, mang! Hehehe…” Mang Papay memang lebih santai dalam menyikapi sesuatu.
“itulah! Karena itu aku tak mau lagi ikut-ikutan mendukung partai politik! Semuanya penipu!!!” ucap Mang Odon, sambil mengaduk kembali kopi pagi.
“Ya tak mesti begitu dong, mang. Bagaimanapun, partai politik itu adalah media resmi untuk menyampaikan aspirasi publik. Jika kita sebagai rakyat tak memberikan sedikit saja kesempatan dan kepercayaan kepada mereka, lha siapa yang mau mengurus negeri ini?” bantah mang Papay. Sementara Parikesit belum terpancing bicara. Ia masih asyik menikmati kopi sambil konsentrasi di depan laptopnya.
“Biar saja negeri kita ini kembali ke masa lalu, saat partai-partai masih berbentuk padepokan silat!” lanjut mang Odon.
“Justru itu yang repot, mang. Sekarang bukan zaman pendekar ataupun jawara. Sekarang ini, hanya orang-orang yang memiliki intelektualitas tinggi yang bisa mengelola negeri.” Mang Papay tak mau kalah.
“Ah, saya mah tak melihat mereka itu intelek. Justru perilaku mereka tak ubahnya seperti pendekar dunia hitam. Kriminal! Buktinya mereka senang sekali ribut-ribut di graha parlementaria. Melakukan tawar-menawar kasus, bahkan ikut-ikutan korupsi!” tingkat kemonyongan mulut mang Odon semakin panjang.
“Kalau tak ada bukti, jangan asal tuduh, mang!” nasihat mang Papay.
“Bukti? Wah buanyak! Coba kita perhatikan satu persatu kasus yang ada!” ajak mang Odon. “Kasus pembunuhan para mahasiswa dan tokoh HAM, tak pernah terselesaikan. Makelar Peradilan makin merajalela, Kasus Bank Ncek Toelie menjadi komoditas politik. Belum lagi penyingkiran salah beberapa tokoh yang kita kenal berdedikasi terhadap kerajaan… kamu pikir itu bukan bukti kuat untuk menilai mereka kriminal?!”
“Mestinya mang Odon jadi anggota parlemen saja. Bukan jadi pelayan café…” Akhirnya Parikesit ikut nyeletuk.
“Lho, kenapa begitu?” Melongolah mang Odon.
“Mang Odon kan kritis, responsif, dan berani bicara apa adanya. Itu modal dasar jadi anggota parlemen.” Sambung Parikesit. Sedari tadi ia tak terganggu oleh cengkrama kedua sahabatnya yang lebih tua. Ia sibuk di depan komputer jinjingnya. Bukan, bukan sedang menulis reportase, tapi sedang melanjutkan game kesukaannya.
“Ah bisa aja kamu, Par! Aku ini cuma rakyat kecil yang setiap hari kerjanya melayani tamu-tamu café yang kamu punya ini. Mana boleh aku jadi anggota parlemen…” ketegangan mang Odon sedikit mereda.
“Lho, siapapun di negeri ini berhak menjadi apapun, asalkan mengikuti aturan mainnya. Jika mang Odon mau jadi anggota parlemen, ya harus ikut aktif di partai politik. Karena itu adalah cara yang paling lumrah. Benarkan, mang Papay?”
“Ya, hehehe…!” mang Papay tak bisa menahan senyumnya.
“Ah mana bisa?! Aku ini kan tak cukup bijaksana untuk terlibat mengatur negeri…” Mang Odon makin merendah.
“Apakah mereka yang sekarang mengelola negeri, memiliki kebijaksanaan budi pekerti?” Kini giliran Parikesit mempermainkan pikiran mang Odon.
“Eng… a.. ya… lumayanlah…” Sepertinya mang Odon kehabisan kata.
“Ya sudah, nanti biar aku hubungi teman-temanku di Media Purbadewa, agar mulai menampilkan sosok mamang, mem-branding image mamang, agar pada saatnya, mamang sudah cukup populer di mata rakyat. Bagaimana, mang?” Parikesit makin iseng saja mempermainkan sahabat tuanya itu.
“Eng…. eh… begini… Kalau aku pikir-pikir lagi. Sepertinya aku lebih dibutuhkan di sini. Lha, jika aku keluar dari lakon Dongeng Sebelum Bangun Tidur, kasihan MT jika harus mencari pelakon baru. Ah, aku tetap setia saja sama MT.”
“Eleuh…eleuh… Alasanmu itu sok romantis…” Sambut mang Papay, “Menurutku, MT gampang saja mencari penggantimu. Dia kan banyak teman blogger. Tinggal panggil, merekapun siap menggantikan mang Odon.”
“Ah, tidak mau ah. Aku sudah bertahun-tahun di DSBT, sudah kerasan. Biar mereka saja yang jadi anggota parlemen. Ya nggak, Te?” Mang Odon mengerdipkan matanya kepada MT, sang Pendongeng.
“Ya, karena itu, kritis boleh saja, asal jangan mudah menuding orang lain mang. Biarkan saja mereka bekerja di parlemen, di kementrian, dan di manapun sesuai dengan kualitas mereka. Tapi tetap saja kita harus menghargai kehormatan mereka sebagai pengabdi amanat rakyat.” Parikesit menutup laptopnya, siap-siap berangkat kerja.
“Menurutku, saat ini sudah saatnya merestor indonesia. Ide restorasi itu sepertinya menarik” sambut mang Papay.
“Sudah ah, aku mau berangkat kerja dulu…” sahut Parikesit.
“Eh gimana kamu, masih belum selesai nih?!” protes mang Papay.
“Yang jelas begini saja deh, mang. Lebih baik kita semua melakukan kebaikan untuk negeri ini. Karena jika kita ikut-ikutan bikin kacau, nanti bakalan repot sendiri. Andai mang Papay atau mang Odon mewariskan kerajaan, akan mendapatkan sisa kerajaan yang kacau balau. Tak enak kan?” Kata akhir Parikesit sambil ngeloyor pergi.























Ditunggu cerita selanjutnya kang.. Berasa baca novel kalo berkunjung kesini, mantzp..
[Reply]