Negeri Purbadewa
malam di sini, ciptakan tawa
malam di sana, ciptakan tangis
kembali cerita lama dilantunkan
dalam sebuah nada kuno yang membosankan
kaum oportunis mengumbar rahasia
tenggelamkan wajah tuannya
yang sedang menangisi tahta
lembaran fakta mulai diungkapkan
kemana saja mereka saat masih menjilati pantat tuannya?
Satu persatu mereka maju membawa kebenaran
Pahlawan kesiangan sibuk mencari harapan
Agar mendapatkan perhatian
Di haribaan raja baru yang suka berdendang
Aku muak melihat fenomena ini
Yang selalu saja berulang, kala sang raja baru datang
Raja lama ditinggalkan dan dicampakkan
Padahal setali tiga uang
Cerita hari-hari negeri purbadewa
Dunia penuh syakwasangka
Kekuasaan menjadi terkaman angkara murka
Kaum proletar tak lagi ada yang disapa
Muntah!!!
Muntahan mereka menggenangi kota
Mengalir membusuki jantung desa
puisi lamaku yang terserak Pondok kopi, 24 September 2004
























ya namanya jg oportunis… apapun dilakukan tergantung apa aja yg menguntungkan. eneg sih emang ngeliatnya…
d.~
[Reply]
Sama, Mas. Saja juga muak!
[Reply]
thanks Dee dan Riza
[Reply]
kaum proletar tidak disapa? justru sebaliknya. menurut parikesit, di negeri purbadewa, massa rakyat “disapa” lewat hegemoni. kesadaran massa rakyat terhadap nilai-nilai kemanusiaan yang hakiki, keadilan dan keadaban; kedudukan dan perlakuan sama dalam hukum; etika moral dan kesantunan; perlindungan dan pemberdayaan terhadap rakyat kecil dsb. digiring dan dijungkirkan lewat mekanisme dan praktek2 penyelengaaraan lembaga2 resmi negara juga lewat media massa yang berorientasi semata profit dan mengejar rating. semuanya dikemas dalam bingkai hukum. kalau kata mang papay, “kebudayaan telah mati”. kebudayaan yang tempaannya adalah moral telah berubah menjadi kekerasan dan keserbabisaan yang bersifat amoral. dalam keadaan seperti ini, resepnya cuma satu, “hijrah”.
[Reply]
kalau ada maunya saja kaum proletar akan didekati, setelah tujuannya didapat langsung ditinggalkan begitu saja.
[Reply]