Rekening Petinggi Negeri
“Parikesit ditangkap!” Mang Odon duduk tergesa-gesa, memberitahu Mang Papay.
“Lha? Siapa yang nangkap? Apa salahnya?” Mang Papay masih santai membaca koran Harian Media Purbadewa.
“Kan dia yang menggambar babi gendut di koran tiga hari yang lalu… Tadi dia sms, katanya dia dipanggil penyidik untuk dimintai keterangan…” Lanjut Mang Odon.
“Oh, itu sih bukan ditangkap, tapi dimintai keterangan… kamu jangan salah ucap! berabe, nanti…”
“Ya, tapi biasanya kan statusnya bisa berubah, dari saksi jadi tersangka.” Mang Odon menyeka keringat di dahinya.
“Jangan khawatir, dia kan cuma menggambar babi gendut, bukan karikatur yang mirip dengan tokoh tertentu.”
“Negeri ini aneh ya. Rajanya sejahtera, petinggi kerajaanpun kaya raya, tapi tak jelas sumbernya dari mana…” Mang Odon menyadarkan badannya ke kursi. Ia mulai rileks.
“Aneh bagaimana? Itu sih biasa, Don. Hampir di setiap kerajaan selalu begitu. Lagi pula, kalau mereka memberitahukan sumber kekayaannya, pasti sudah direkayasa. dipantas-pantaskan agar tidak menimbulkan fitnah finansial.”
“Bagaimana negeri ini mau gemah ripah loh jinawi toto tentrem kertaraharja, kalau orang-orang yang hidup dalam lingkungan kekuasaan tak bisa dipercaya…” Mang Odon makin melantur.
“Kenapa harus pusing, sih. Memang dari dulu, sejak raja-raja yang telah dikudeta hingga raja yang sekarang, memang tak pantas dipercaya. Kenapa harus pusing! Lebih baik kita pikirkan bagaimana hidup kita tidak menyakiti tetangga…”
“Ah, kamu ini sok bijaksana, Pay! Kamu sendiri dulu juga sering mengkritik kerajaan.”
“Itu kan dulu…”
“Ya, setelah kamu diancam, ditangkap, dibui, baru deh kamu kalem.”
“Habis aku sudah merasakan bagaimana pahitnya disiksa oleh mereka yang tidak kita percaya. Jelas-jelas aku menyatakan apa yang kurasakan tentang ketidakadilan, tetapi justru aku terperosok dan terpenjara ketika menuntut keadilan. Yach, sejak itu aku merasa percuma saja kita mewanti-wanti, apalagi mengkritik petinggi negeri ini…” Mang Papay melipat koran langganannya dan meletakkannya di meja.
“Tapi kalau tidak ada orang-orang yang kritis, hidup rakyat akan semakin pahit, Pay!” balas Mang Odon.
“Begini, Don. Menyaksikan para petinggi negeri ini korupsi dan mencipta hegemoni, itu sudah pahit. Nah, ada lagi yang lebih pahit dari itu…”
“Apa tuh?”
“Ketika kita dihukum oleh mereka yang membuat hidup kita pahit!” Tegas Mang Papay
“Ooo… kalau begitu kepada siapa rakyat mengadukan kepahitan hidupnya?”
“Tak ada tempat mengadu lagi, Don. Hampir di setiap kelembagaan, dikuasai oleh setan-setan berpakaian rapi, ganteng, cantik, bahkan berseragam.” Mang Papay geram.
“Lho, bukannya setan itu seram dan bau?”
“Itu setan zaman baheula, Don. Setan zaman sekarang mah lebih modis dan pandai menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Mereka bahkan berani tampil lebih relijius ketimbang kyai di dusun-dusun.”
“Ooh… pantas saja hampir semua kasus-kasus yang kemarin ramai, tak pernah ada yang jelas akhirnya ya? Jangan-jangan pernyataanmu ada benarnya, Pay…” Dahi Mang Odon berkerut, tanda sedang berpikir.
“Pernyataan yang mana?”
“Itu loh, tentang jaringan setan yang sudah menguasai hampir di setiap lembaga di Kerajaan Purbadewa ini. Jadi apapun kasus yang dipublikasikan, akan berakhir damai di rapat gelap para setan.”
“Karena itu, tak usah heran dan merasa aneh dengan perilaku petinggi kerajaan ini, kan?!” Sahut Mang Papay.
“Iya sih, tapi kalau memang benar seperti itu, bagaimana cara mengubahnya ya?”
“Ya, lihat saja. Kan MT pernah bilang waktu dongeng edisi Restorasi dengan Kebaikan. Kerajaan ini memang selalu berada dalam kemelut kekuasaan. Para petinggi kerajaan selalu menjadi ancaman bagi petinggi lainnya. Jikapun mereka terlihat akur, itu hanya strategi untuk membunuh dari belakang. Tunggu saja tanggal mainnya!”
“hm… rumit ya. Kapan negeri ini bisa mencapai impiannya, gemah ripah loh jinawi?”
“Halah, jalani aja hidup kita dengan kebaikan, Pay! Tak usah heran kalo cita-cita yang kamu sebutkan itu tak pernah sampai. apa tadi kamu bilang? Gemah ripah loh koq gitu?… hehehe…” Kalau lagi nyengir, Mang Papay mirip Jose Mourinho
“Halah, MT Lebay!” Celetuk Mang Papay di balik panggung dongeng… gak terima dibilang mirip Mourinho























Gak usah ngarep pemerintah menciptakan negara yang gemah ripah loh jinawi. mending kita sendiri aja menciptakan komunitas seperti yang kita cita-citakan
[Reply]
maari kita berdoa utk kebaikan Indonesia, negara tercinta ini
[Reply]
hubungan harmonis segenap institusi lembaga memang masih dalam lingkaran setan & jaringannya memang luas
siapa penggagas kemelut itu semua?
apa mereka yg buat..
‘dari mereka untuk mereka’..??
kisah menarik, bang?
[Reply]