Anakku Mau Jadi Polisi
Rastan, kini berumur 5 tahun. Ia sudah minta didaftarkan ke TK. Beberapa minggu yang lalu, aku mengantarnya melihat beberapa Taman Kanak-Kanak yang “terjangkau” baik dalam jarak tempuh maupun biaya tempuh. Akhirnya hatinya tertambat pada sebuah TK yang salah satu seragamnya adalah seragam polisi. Hm… Saat lembaga kepolisian sedang dirundung masalah, masih tetap ada mereka yang punya idealisme sebagai polisi. Salah satunya anakku.
“Memang kamu suka dengan polisi?”
“Ya, aku mau jadi polisi, Yah!” Jawabnya tangkas.
“Kenapa?”
“Polisi itu kan jagoan, Yah.”
“Kalau jagoan, berarti ada musuhnya dong. Siapa sih, musuhnya?”
“Banyak, Yah. ada maling…” Lalu Rastan kulihat berpikir, mengingat sesuatu… “Yang di komputer juga, Yah… musuh polisi…”
“Yang mana?”
“Teroris!”
“Teroris?”
“Kan aku sering lihat kakak main game Counter Strike, Yah. Kakak suka jadi polisi juga, musuhnya teroris.” jawabnya sambil tersenyum. Lesung pipitnya membuatku ikut tersenyum.
“Lalu siapa lagi musuh polisi?”
“Yang Ayah sering bilang itu…. kor…. aku lupa, Yah.” Rupanya ia lupa dengan istilah koruptor. Memang ia sering menemani saat aku menonton berita tentang korupsi, KPK, Mafia Kasus, terutama sejak dipublikasikannya rekaman Anggodo dengan para sahabatnya.
“Oh, itu namanya koruptor.” aku mengingatkannya.
Iapun tersenyum, “Iya koruptor. Aku lupa.”
“Kan sekarang sudah ingat. Nanti kalau jadi polisi, kamu harus tangkap koruptor, karena koruptor itu lebih jahat dari teroris.
“Koruptor itu apa sih, Yah?”
“Koruptor itu….” wah aku agak kesulitan menjelaskannya… “Koruptor itu pencuri.” jawabku asal.
“Kan, pencuri itu maling, Yah?” protesnya.
“Ya, kamu benar. Pencuri itu maling, tapi yang dicurinya sedikit. Nah, kalau koruptor, yang dicurinya banyak.”
“Kenapa banyak, yah? Memang dia mau beli pesawat?”
“Ya beli macam-macam. Mereka selalu tidak puas. Padahal mereka sudah kaya raya, tapi tetap ingin mendapatkan yang lebih banyak lagi dengan cara mencuri.”
“Berarti dosanya banyak juga, Yah…”
“Ya, sedikit atau banyak yang dicurinya, tetap dosa. Tapi bisa jadi dosa koruptor lebih banyak.” aku mesem-mesem dibuatnya.
“Kalau koruptor punya rumah nggak, Yah?”
“Punya, rumahnya bagus-bagus.”
“Koq ayah belum punya rumah. Ayah jadi koruptor aja sekarang!” Astaghfirullah, dasar bocah!
“Kenapa?”
“Kan ayah belum punya rumah…” Dia sadar kalo rumahku masih di kontrakan pinggir kali ciliwung.
“Kalau mau punya rumah, tak harus jadi koruptor. Nanti juga ayah punya rumah…” :p
“Kalau Ayah jadi koruptor, kan nanti ayah aku tangkap! hahaha…. kan kita main kayak kemarin, Yah. Aku jadi spiderman, ayah jadi monster…”
“Oh… tak mau ah. Ayah lebih baik jadi monster aja. Tak mau jadi koruptor.” jawabku.
“Monster itu musuhnya Spiderman, Yah… bukan musuh polisi!” protesnya.
“#@$7df8583#@**&$…”
*kalau ia sudah dapat seragam polisinya,
nanti aku update deh fotonya























ayah jadi monster apa?
voldemort kah? ;p
[Reply]
Lucunya komentar yg mau masuk TK.. Hehehe.. *mudah2an di generasi anaknya kang MT, polisi jadi lebih baik lagi*
[Reply]
hahaha makasih julie dan pandu… semoga aja harapan pandu jadi kenyataan
[Reply]
hello -
masak ayah nya disuruh jadi koruptor?
ha ha ha.. namanya juga anak anak ya?
masih lugu…
[Reply]
yeach, begitulah anak-anak, kadang candanya tak bisa kita duga
thanks andry
[Reply]
idealisme anak kecil mah belum bisa diganggu gugat kayanya Pak
seneng deh bacanya!
[Reply]
iya, cha. makasih ya
[Reply]
Ikut terhibur.
[Reply]