Orde Stagnasi
Kembali kulangkahi jalan ini
Masih berdebu, masih kelabu
Lentera padam, nurani kelam
Kampungku masih seperti dulu
Pepohonan penuh dengan coretan tangan
Syair cinta pujangga desa, memohon ampun pada wanita
Sajak-sajak proletar, memaki penguasa dengan kata-kata
Puisi sunyi gadis malam, memabukkan jejaka dalam khayalnya
Tertegun aku membaca semua
Mencoba maknai apa adanya
Ah…, ini hanyalah kata-kata
Yang menguap entah kemana
Penyabiknya saja tak bisa berbuat apa-apa
Untuk memenuhi khayalan semata
Terus kutapaki jalan ini
Kumpulan buruh memeras peluh
Mengubah nasib yang kian keruh
Tak kenal tangis dan mengeluh
Tembok pabrik menjadi kanvas jalanan
Ungkapkan harapan dan kekecewaan
Lukisan nasib kaum pinggiran
Selalu tertipu tak pernah melawan
Aku sampai pada sumur tua
Yang tak pernah disentuh generasi muda
Kumangkukkan telapak tanganku
Meneguk air pelepas dahaga
Dinginnya segarkan kepala
Sejuknya cerahkan karsa
Cihideung Forest, 25 Agustus 2004























stagnan
tanpa perubahan
tanpa perbaikan
stagnan
walau terluka
walau menderita
stagnan
[Reply]
mantap lanjutannya, Depz
[Reply]
orde dimana kita tidak bisa lagi banyak berharap, terlalu lelah kita bersuara, berharap, dan meminta…. yang ada hanya stagnasi…
[Reply]
This article is readable.Isn’t it?
[Reply]