Pangkat Terakhir

sang kopral paling kanan
Ini catatan perjalananku di Bali bersama teman-teman dalam sebuah ekspedisi. Di lampu merah, karena mau belok kanan maka mobil kami mengambil sisi kanan jalur. Tetapi ternyata itu salah. Kami tak tahu kalau jalan itu dipakai 2 jalur. Akhirnya pak Polisi menyempritkan peluitnya. Berhentilah kami di sisi jalan. Ia mengajak temanku, Iqbal yang menyetir, untuk ke pos polisi di ujung tikungan.
“Mang Hanafi! Kan Mamang mantan Polisi, coba dong bantuin Iqbal tuh!” pintaku kepada Mang Hanafi, orang tua yang mendadak memaksa ikut perjalanan kami. Lebih jelas kenapa dia akhirnya ikutan, bisa dibaca di postingan sebelumnya.
“Ya, Mamang turun deh…” Akhirnya ia membuka pintu mobil dan berjalan menuju Pos Polisi.
Petugas Polisi sedang menjelaskan kesalahan temanku, yang salah jalur. Mang Hanafi langsung saja mendekati mereka berdua, lalu menyalami Polisi.
“Maaf, memang kesalahannya apa?” tanya Mang Hanafi, sopan.
“Salah jalur, pak! Itu bahaya. Untung saja dari arah lain tak ada kendaraan yang masuk. Kalau ada, bisa macet atau bahkan bisa saja tabrakan. Itu kan bahaya, bisa menelan korban!” Jawab petugas Polisi.
“Oh, begitu. Di sini Kapolseknya siapa?” Tanya Mang Hanafi.
Petugas Polisi menyebutkan nama atasannya. “Memang kenapa, Pak?” Tanyanya.
“Oh, dia itu teman seangkatan saya. Dulu satu asrama, waktu sama-sama pendidikan…” Selanjutnya obrolan berkutat soal pengalaman mang Hanafi ketika masih satu asrama dengan temannya yang kini menjadi Kapolsek. “Salam ya, sama dia!”
“Oh begitu, pak!” Petugas Polisi itu memperhatikan Mang Hanafi.
“Lha, Mamang ini kan sudah pangsiun, hebat ternyata teman mamang sudah jadi Kapolsek di sini…” Mang Hanafi merendah. Ia memang sudah pensiun. Bukan “pangsiun” seperti yang ia katakan. “Terus bagaimana ini urusannya?” tanya Mang Hanafi lagi.
“Salah, tetap salah pak. Tapi karena ini kesalahan kecil, ya tetap ada hukumannya…” Tegas petugas Polisi.
“Apa hukumannya?” Tanya Mang Hanafi. Sementara itu aku dan Iqbal menunggu nasib saja.
“Hukumannya : Jangan ulangi lagi, ya!” Tegas petugas Polisi sambil tersenyum.
“Oh, begitu. Terima kasih ya!” Mang Hanafi menepuk-tepuk pundak juniornya itu. “Ayo kita berangkat lagi!” Ajak Mang Hanafi kepada kami.
Sebelum berangkat, petugas itu menyampaikan salam perpisahan, “Selamat jalan, ya. Hati-hati! Oh ya, maaf pak! Pangkat terakhir bapak apa ya? Nanti kalau saya ketemu Kapolsek, akan saya sampaikan salam Bapak!” Tanya petugas Polisi itu.
Yang ditanya mesem-mesem menjawab, “Oh, pangkat terakhir saya KOPRAL!”
Petugas itu terkesima. Kamipun mempercepat langkah menuju kendaraan yang siap meluncur ke Tanah Lot, Bali. Di dalam kendaraan, kami ngakak karena ulang sang kopral mentok ini.























polisi yg rendah hati
meski sudah pangsiun
[Reply]
Semoga kharisma sang Kopral terus terpancara…
Hebat juga ya!
[Reply]
ya, semoga ia makin sehat
[Reply]
…ingat mang hanafi…ingat lagu tahun’50an…KOPRAL DJONO yang sampai sekarang tidak naik-naik pangkatnya….
[Reply]
hehehe ya, Prof. saya yakin mang Hanafi masih ingat. lha saya aja masih ingat. kalo gak salah yang nyanyikan Henny Purwonegoro ya, Prof.
Buat yg belum tau, ini lagunya, karya Ismail Marzuki:
KOPRAL JONO
OH OH OH KOPRAL JONO
GADIS MANA YANG
TAK KENAL AKAN DIKAU
OH OH OH KOPRAL JONO
GADIS MANA YANG
TAK RINDU AKAN DIKAU
GAYAMU YANG PERKASA
MIRIP PARA PANGLIMA
RAMAH TAMAH MU
MEMBIKIN GILA HATI WANITA
OH OH OH KOPRAL JONO
KOPRAL JONO
KOPRAL JONO KOPRAL JONO
OH OH OH KOPRAL JONO
DIKAU BUAH TUTUR GADIS DAN REMAJA
OH OH OH KOPRAL JONO
POTRET PENGHIASI DINDING MEREKA
AKSIMU BUNG VERY GOOD
SEPERTI MAS ROBIN HOOD
DENGAN JAMBULMU
MEREKA SEMUA BERTEKUK LUTUT
OH OH OH KOPRAL JONO
KOPRAL JONO
KOPRAL JONO
KOPRAL JONO
[Reply]
Saya sudah berharap terlalu banyak ketika di tengah-tengah artikel….
:D
[Reply]