DPR Hanya Merebut Kursi, Bukan Hati.

dpr-molor

Sudah banyak kejadian yang mengungkap ketidakpedulian Wakil Rakyat yang terhormat. Yang paling hangat adalah dugaan Anggota DPR yang baru “nyuekin” Tenaga Kerja Wanita asal Indonesia di Dubai. Belum lagi saat rentetan musibah dialami rakyat Indonesia di Wasior, Merapi, dan Mentawai. Sempat-sempatnya ada anggota Dewan yang terhormat membuat pernyataan yang menyinggung perasaan manusia yang normal. Saat itu ketua DPR Marzuki Alie menyatakan, apabila masyarakat Mentawai takut ombak, seharusnya pindah di daratan saja. Apapun justifikasi yang dinyatakan setelah banyak yang menyayangkan pernyataannya, jelas bahwa anggota DPR kurang memiliki sense of crisis. Belum lagi jika kita mengangat kasus korupsi, proyek-proyek money oriented, praktik politik uang, penitipan isi daftar hadir, molor saat meeting, dana aspirasi, rumah aspirasi, gedung baru, dan becking-beckingan… Terlalu banyak noda yang menyelimuti kisah para Anggota Dewan yang mestinya terhormat itu.

Melihat dari kasus yang ada, timbul pertanyaan, kenapa anggota DPR kita makin sering melakukan sikap maupun tindakan yang justru merusak kehormatannya sendiri?

Banyak tinjauan yang menjawab masalah tersebut. Kita mulai saja dari sisi moralitas. Mungkin saja kebanyakan anggota DPR yang sering melakukan kasus yang mencemarkan nama baik lembaganya itu terjadi karena memang tidak memiliki integritas pribadi yang kukuh. Boleh jadi sebelum menjadi anggota Dewan, mereka adalah orang-orang yang baik. Namun karena pribadinya mudah goyah, maka gampang sekali tercebur dalam situasi negatif yang menjadi atmosfir dominan di lingkungan DPR.

Tinjauan di atas memang tidak berlaku bagi anggota Dewan yang memang “dari sononya” sudah tak baik. Yang saya maksud adalah mereka yang untuk mendapatkan kursi di DPR dengan cara yang tak pantas dianggap baik. Misalnya ketika kampanye menerapkan “money politic”, memanfaatkan relasi dengan elit partai politiknya, berkonsultasi dengan dukun yang mereka labelkan sebagai konsultan spiritual, dan lain-lain. Belum lagi janji-janji muluk yang mereka nyatakan saat kampanye, yang mengelabui rakyat.

Jika kembali kepada niat, benar juga hadits Nabi Muhammad SAW, yang menyatakan “segala kegiatan/aktifitas (amal) itu amat ditentukan oleh niat…” Boleh jadi kebanyakan anggota Dewan maupun pejabat negara, hanya berniat merebut kursi, tetapi tidak merebut hati rakyatnya. Wajar jika mereka hanya mendapatkan kursi dan segala fasilitas yang melingkupinya, tetapi mereka tak akan pernah bisa mendapatkan hati rakyat. Selalu saja ada momentum yang membongkar kebobrokan moral mereka, sehingga rakyat semakin mengenyahkan mereka dari hatinya.


1 teman anda menyukai tulisan ini
Apakah anda menyukai tulisan ini ?

17 Responses to “DPR Hanya Merebut Kursi, Bukan Hati.”

  • wakil kita itu kang, wakil kita, yg memaksa kita mau mengaku mereka wakil kita. ah, wakil kita. nangis darah saya ;-(

    [Reply]

  • harusnya niatnya tulus untuk menyejahterakan rakyat…

    [Reply]

  • gak merasa kalo pernah milih dia

    [Reply]

  • temen saya pernah berceloteh, “ga rela gw!!! tiap tahun ga pernah absen bayar pajak, tapi duit gw buat mereka!!! ga relaaaa!!!”

    [Reply]

  • rakyat

    yang pasti….BUKAN WAKIL RAKYAT !

    [Reply]

  • setuju……………………

    wakil rakyat??? mereka ga pantes disebut wakil rakyat, wong hatinya aj ga merakyat ,
    semogaa masih ada yg peduli sm nasib rakyat, jadi yg asal rebut kursi aj, ga usah dipake lagi :D .

    [Reply]

  • slamet

    waduh klu begini IKAT SAJA NIIH ORG PAKAI DASINYA KE KURSINYA

    [Reply]

  • INDONESIANA

    DPR adalah dunia politik, dunia untuk mendapatkan kekuasaan dan keuntungan kelompok. Ini adalah sesuatu yang lumlah dan jamak dimanapun negara demokrasi. Adalah salah jika kita melihat dunia DPR seperti dunia kampus, pesantren, yang menjunung ti nggi idealisme pensejahtera rakyat. Rakyat adalah senjata politik dalam berargumen. Tidak ada kata tulus ,mensejahterakan rakyat yang ada adalah kepentigan, kepentingan dan kepentingan. Ya memeng itu cara mainnya.
    Satu kebanggaan saya pada DPR sekarang adalah tidak pernah membawa perbedaan kepentingan ke ranah perang saudara, pemberontakan, sabotase dan teror-tros fisik lainnya.
    Biarkan anggota DPR berperang opini dengan lawan2 politiknya dengan mengatas namakan rakyat. Mau opini benar atau salah , yang penting berperanglah dalam gedung parlemen, jangan berperang fisik diluar gedung parlemen. Dan memang untuk itulah mereka dibayar.
    Rakyat semakin cerdas dalam menilai opini-opini yang dilontarkan para politisi.

    [Reply]

  • Pe'es

    Tetaplah menjadi ikan di laut. Tetaplah menjadi bintang di langit…

    [Reply]

  • emang lagu padi ada ikan di lautnye bal?

    [Reply]

  • dibayar mahal untuk tidur.,

    [Reply]

  • towetowet

    sy tdk melihat gambar wakil rakyat difoto atas, yg sy lihat tidak lebih dari babi-babi yang sedang tertidur,. mungkin kebanyakan makan, maklum.. babi kan rakus. ga usah dikoment lah.. wajar itu mah.

    [Reply]

  • sampai kapan akan begini?
    menunggu orang2 baik mjd wakilku.

    [Reply]

  • mantab,

    Nikmati saja gan,…..hasil pilihanmu itu,..
    Kalau dibilang bodoh tidak mau ,….
    Maunya di bodohin,……genrasi apa,…
    kalau udah di bodohin marah,…
    Sekarang pada marah,…..waktu PEMILU dikasih kaos,sembako,duit,dikasih kerudung,senyuman dan janji2.
    pada antri aj di TPS,…..
    Cape ngikutin,……komen yang ga cerdas…gini.

    [Reply]

  • yg teraniaya

    anggota dewan skrg tu perupakan penjhat berdasi yg taunya hanya untk snang2..bila ada kpntingan yg menguntungkan baru ingat ama rakyat.bila ud senang lupa ama rakya..semua anggota dewan anjing……………..yg suka menjilat kotoran..

    [Reply]

  • itu yang ibu2 kayaknya udah pake acara ke salon dulu dah, tapi tetep aja nyampe sono mah tidur2 juga –”

    [Reply]

  • biar g tidur…..matiin aja ac ruangannya…..biar panas sekalian……dianya enak2 tidur trus dapat uang banyak…..sementara diluar rakyatnya panas panasan mencari sesuap nasi………
    mantap postingannya gan…….
    KUNJUNGI JUGA INI YA
    BLOG SAYA

    [Reply]

Trackbacks

  •