Solidaritas Biker
Pulang siaran Saung Nyerat di radio Sipatahunan kemarin, aku punya pengalaman bermotor yang menarik. Jelang Maghrib, motorku melaju di Jalan Raya Pajajaran. Karena mau melewati Balai Kota Bogor, akupun belok ke kanan melintasi RRI Bogor. Motorku terus meluncur lancar di jalan yang menurun itu hingga melintasi Lapangan Sempur. Namun pas di jalan yang agak menanjak, motorkupun malah makin pelan sendiri dan akhirnya berhenti.
Kontan beberapa pengendara memakiku. Sudah pasti mereka terkejut karena tiba-tiba motorku mati di tanjakan. Padatnya lalulintas di petang temaram itu, membuatku rada panik. Akupun bergegas mendorong motor ke sisi trotoar. Terkejut pula ketika kuperiksa ternyata rantai motorku tak ada. Hilang!
Lha, baru 2 minggu yang lalu aku ke Bengkel mengganti rantai motorku yang lama dengan yang baru. Tapi kini rantai itu lepas. Seorang pengendara motor mendekatiku.
“Kenapa, mas?” sapanya.
“Rantainya hilang, mas.” jawabku sambil nyengir.
“Dimana jatuhnya?” tanyanya.
Akupun mengingat-ingat perjalananku… “Oh mungkin pas di depan RRI tadi. Aku merasakan bunyi “jglek”…. mungkin di situ..”
“Ya sudah, kita turun saja ke Lapangan Sempur. Nanti aku tungguin motornya. Mas cari saja ke depan RRI. Siapa tau memang ada di sana.” ia menawarkan kebaikan.
“Oke. Terima kasih, mas!”
Kami langsung menuju Lapangan Sempur. Setelah motor kuparkir, kutinggalkan “Si Tunggir” (julukan motorku) kepada pengendara motor yang baik hati itu, untuk mencari rantai motorku di lokasi yang kucurigai. Beruntung, ternyata memang benar rantai motorku lepas menjadi dua bagian, tepat di depan pintu masuk RRI. Akupun memungutnya dan kembali menuju Lapangan Sempur.
“Benar, mas. ini dia rantainya.” kataku.
“Wah, benar. Ini rantainya masih mulus. Bisa jadi masalahnya di gear.” terangnya.
“Baiklah mas. Terima kasih banget mau nungguin motor saya.”
“Ah, itu biasa, mas. Saya juga pernah bermasalah waktu bawa motor. Selalu ada aja yang bantuin.”
Aku teringat dengan postingan temanku, Reza tentang motor tuanya. Benar juga yang ia tulis dan yang dikatakan oleh orang yang membantuku tadi. Selalu ada pengendara yang punya solidaritas sesama biker.
“Lalu gimana, mas? Di sini gak ada bengkel yang dekat, loh. Saya sendiri lagi janjian sama temen saya di sini.” Lanjutnya.
“Nggak papa, mas. Aku sudah nelpon teman-temanku. Mereka akan meluncur ke sini. Terima kasih banget, ya mas!”
Sambil menunggu Ozzy dan Izal, kubiarkan “si Tunggir” istirahat di tempat. Aku meneguk segelas soft drink dan jagung bakar rasa keju. Aku baru tau, ternyata Lapangan Sempur jadi tempat nongkrong anak-anak muda pada malam hari. Suasananya asyik juga.























mantap kang MT saya juga pernah merasakan solidaritas sesama biker ketika motor saya bermasalah para biker tak segan2 menolong dan begitu juga sebaliknya
[Reply]
MT Reply:
March 7th, 2011 at 15:13
ya, saya kini merasakannya
[Reply]
inspiratip, energi positif ga pernah bohong
[Reply]
MT Reply:
March 7th, 2011 at 15:18
ketulusan!
[Reply]
Hihihi…bisa samaan gitu kita kang. Satu hal yang paling penting sih, untuk temen-temen…jangan patah semangat dan berpikir sekian banyak orang sudah tidak perdulian lagi dengan sekitar. Mungkin kita keseringan baca berita dan nonton tipi yang isinya mengekspose keegoisan orang-orang. Di luaran sana masih banyak orang yang saling perduli.
[Reply]
MT Reply:
March 7th, 2011 at 15:18
benar, om
[Reply]
makanya si tunggir tuh dirawat bae2, udah mah konci motornya sering ilang,sekarang rantenya ikut ilang juga,tar yg ilang apanya lagi???…hehehe
[Reply]
MT Reply:
March 7th, 2011 at 16:37
rodanya
[Reply]
bener mas…merasa sepenanggungan maslahnya..sama sama capeknya ..hehehe…
[Reply]
You made some good points there. I did a search on the topic and found most people will agree with your blog.
[Reply]