TK ORANG TUA, BUKAN ANAK-ANAK

Akhir pekan ini biasanya aku menuliskan hal-hal yang sepele dan sedikit dibumbui humor. Tapi ketika dashboard sudah siap diketik, koq yang tertulis justru hal lain. Ya, karena aku terbiasa menulis kala online dan spontan. Maka lanjutkan saja, menulis apapun yang melintas di kepala. Bisa jadi tulisan ini nantinya tidak akan sistematis, karena memang ditulis sesuai randomize order in my mind.

Kali ini aku ingin curhat, menumpahkan segala hal yang kualami belakangan hari ini…

why

Kegelisahanku tentang Taman Kanak-Kanan (TK) ataupun Raudhatul Athfal (RA) sudah cukup lama tercekal. Dimulai sejak anakku, Raztan masuk TK/RA di Bogor. Sejak awal sebenarnya aku kurang sreg dengan sekolah tersebut. Melihat kepala sekolahnya saat pertama kali berinteraksi, kurasakan keraguan itu. Namun karena tak ada pilihan lain yang benar-benar berbeda dari sekolah yang jaraknya tak terlalu jauh itu, akhirnya jadilah anakku sekolah di situ.

Bagaimana sebenarnya kredibilitas sekolah itu, baru terlihat setelah 1-2 bulan berjalan. Awalnya, Kepsek bilang tak ada biaya macam-macam selain uang pendaftaran dan uang bulanan, tetapi ternyata itu hanya isapan jempol saja. Banyak sekali pungutan tambahan untuk kegiatan nak-nik-nuk yang faktor edukasinya kunilai hanya sedikit saja dibandingkan hura-hura ataupun jalan-jalan.

Kemiskinan empati kulihat menjadi penyakit parah bagi pengelola sekolah itu. Satu contoh kasus saja, saat ada salah seorang orang tua murid yang tak bisa mengikuti kegiatan “jalan-jalan” (yang biasanya mengajak serta sanak keluarga pemilik sekolah dengan jaminan orang tua murid). karena tak punya uang pegangan untuk jajan anaknya di lokasi piknik nanti, orang tua itupun berencana tak ikut program itu. Tetapi pihak sekolah bukannya berempati, justru malah membuat pengumuman : “YANG TIDAK IKUT, TETAP HARUS MEMBAYAR”

Itu baru soal kegiatan. Belum lagi tentang kurikulum. Yang kutau, TK itu adalah tempat anak-anak bermain dan bersosialisasi. Konsepnya adalah bermain sambil belajar, bukan belajar sambil bermain. Sejak sekolah di TK ini anakku menjadi lebih sibuk dengan buku PR-nya. Nyaris setiap malam ia harus menahan kantuk untuk sesegera mungkin mengerjakan PR Matematika, Membaca, dan Menulis. Aku berpikir, anakku ini masih TK, tetapi sudah mendapatkan beban yang sepertinya belum pantas ia terima. Usia psikologisnya belum memungkinkan untuk menerima beban PR harian. Akhirnya, aku tak memaksakan jika ia tak punya sisa energi untuk mengerjakan PR di malam hari. Kuberikan kesempatan pada siang hari dengan resiko mengorbankan waktunya bermain bersama teman-teman di rumah, atau pagi hari saat jelang berangkat sekolah. Tapi tetap tak ketat. Jika ia tak bisa menyelesaikannya, ya tak apa-apa. Namanya juga masih bocah. Terserah bagaimana penilaian gurunya. Aku tak mau mengikuti beberapa orang tua lain yang kerap mengerjakan PR anaknya demi prestasi anaknya di sekolah.

Terakhir yang baru terjadi kemarin, adalah soal keamanan. Saat melintasi jembatan, anakku didorong oleh teman sekelasnya hingga jatuh ke sungai. Hal ini hampir saja membuatkan lepas kontrol untuk marah. Tapi karena aku sadar, niatku menyekolahkannya adalah untuk sosialisasi, jadi kupikir “dicederai” adalah bagian dari sosialisasi. Itu saja yang kuendapkan di hatiku agar aku tidak kalap saat itu. Yang aku sesalkan adalah, tidak adanya penjelasan dari guru/sekolah, apalagi permintaan maaf dari pihak sekolah maupun orang tua yang anaknya melakukan kenakalan seperti itu. Benar-benar kulihat, empatinya sudah pada mati.

Saat ini sudah di penghujung tahun ajaran. Sabtu depan anakku akan ikut perpisahan TK. Aku berencana meliburkan anakku selama satu pekan tersisa. Biar ia kembali menjadi anak yang merdeka, tak dihantui PR harian, apalagi ia masih trauma dengan kejadian jatuh ke sungai. Aku akan bicarakan hal ini dengan pemilik sekolah, apapun ultimatum dari sekolah, tak akan kudengar. Pokoknya aku sudah berbulat-tekad untul meliburkannya pada sisa waktu menjelang wisuda.

Ada sedikit rasa sesal jika mengingat sekolah itu, apalagi mengingat ekspresi pemilik sekolah/kepala sekolah yang tak berempati. Entahlah, apakah aku salah dengan konsepku bahwa TK adalah tempat anak-anak bermain sambil belajar, bukan belajar sambil bermain. Kuperhatikan saat setiap hari mengantar-jemput anakku, justru yang sering bermain di TK itu adalah ibu-ibu orang tua murid ketimbang anak-anak mereka yang sedang belajar di kelas. Ibu-ibu itu sibuk ngelantur, haha-hihi, mendiskusikan barang-barang baru yang dimilikinya, bahkan ada juga yang berantem karena salah seorang dari mereka, tak terima kalau perilaku seks suaminya dijadikan bahan diskusi :)

Whats a Kindergarten?


3 teman anda menyukai tulisan ini
Apakah anda menyukai tulisan ini ?

12 Responses to “TK ORANG TUA, BUKAN ANAK-ANAK”

  • Waduh, beban anak2 di TK sudah semakin berat ya? Tapi kalo dipikir-pikir, TK kan tidak masuk wajib belajar pemerintah dan tidak ada keharusan bagi SD utk hanya menerima lulusan TK. Kalau memang bebannya terasa berat, mengeluarkan anak dari TK tidak dosa lo *menurut saya* :D

    [Reply]

  • setuju, tapi ada juga loh SD yg gak memprioritaskan anak2 non-TK. bahkan sebelum masuk SD-pun ada tes baca segala :( *aneh*

    [Reply]

  • tsefull

    walah…masih anak TK saja sudah di bebani begitu berat…..takutnya psikologisnya yang kena,masalahnya anak2 seumuran itu tidak bisa di jejali begitu banyak ilmu,takutnya jadi stress.

    [Reply]

    MT Reply:

    menurut bbrp temanku yg guru SD, biasanya prestasi anak2 yg digenjot spt itu akan melorot saat kelas 2 SD

    [Reply]

  • kalau bisa dibicarakan dengan pihak pengurus sekolah itu lebih baik, berikan masukan apa yang mas inginkan, atau beri tahu bagaimana TK itu seharusnya.. :)

    [Reply]

    MT Reply:

    sudah kang. tapi dianggap kuno aku :D

    [Reply]

  • Orang tua adalah sekola terbaik bagi anaknya. jangan di sesalkan kang, pasti ada jalan terbaik dan ilmu yang bermanfaat bagi anakmu

    [Reply]

    MT Reply:

    makasih ya secom

    [Reply]

  • yuniarinukti

    Setuju Kang MT.. miris sekali klo melihat sekolah-sekolah TK dimana para penunggunya asyik ngobrol sendiri, pamer kekayaan, dadan ala ABG. Apakah mereka tak melihat anaknya di dalam sedang meras otak diusianya yang semestinya untuk bermain dan mengenal dunia sekitar…
    Lalu apakah tak ada solusi lagi selain mengurangi kurikulum yang makin hari semakin sulit, apakah dengan adanya PAUD sehingga kurikulum TK dibikin setingkat SD, bukankah PAUD didirikan agar anak-anak bisa belajar bersosialisasi?

    [Reply]

  • bahkan ada juga yang berantem karena salah seorang dari mereka, tak terima kalau perilaku seks suaminya dijadikan bahan diskusi

    Makanya kalo masalah personal begitu jangan cerita2 ke orang laen..wakkkaakaaa

    [Reply]

  • masa TK kanak-kanak adalah masa bermain. Bahkan SD pun sebenarnya adalah sekolah untuk belajar memulai menulis dan membaca. Tapi Di negeri ini aneh kok
    Syarat masuk SD harus bisa membaca, menulis dan berhitung.

    [Reply]

  • hehe,,, ibu sama anaknya sama2 sekolah, bedany ibu yg menunggu anaknya itu saliang ngerumpi :lol:

    [Reply]

Trackbacks

  •