Kisah dari Penjara
Malam dengan langit hitam pekat. Hujan makin deras.
Rintik hujan bertubi-tubi pada atap seng, menimbulkan suara bising. Terutama bagi tiga lelaki muda yang meringkuk di dalam ruang tahanan berukuran 2×3 meter. Angin berembus dari luar, memasuki jeruji besi yang terkunci dengan gerendel baja seukuran kepalan tangan. Ketiga lelaki muda duduk memeluk lipatan kakinya hingga menempel pada badan mereka. Masing-masing bersandar di tepian kamar. Kadang-kadang menutup telinga dengan kedua dengkulnya, atau pun dengan salah satu bahu dan tangannya. Dengan cara seperti itu mereka melawan dingin dan bising.
Salah satu dari ketiga lelaki muda itu bergeser mendekati kawannya. Ia menarik pundak kawannya dan mendekatkan mulutnya pada telinga kawan yang didekatinya itu.
“Tadi siang aku dapat informasi dari pemain biola”. Bisiknya.
“Dari anak-anak band yang ngamen siang tadi?” balas Bilawa dengan suara parau.
“Ya. Beberapa dari mereka adalah kawan-kawanku. Terutama yang main biola.”
“Ah, memang mereka bisa dipercaya, Bas?” tanya Bilawa kepada Basuki yang mendekatkan telinganya agar jelas mendengar suara Bilawa.
“Aku percaya seratus persen sama kawanku. Ia memang hanya pemain biola. Hidupnya lebih banyak untuk bermain musik, band. Tetapi bukan berarti ia tak cinta tanah air. Justru kehadiran mereka buat menghibur kita dan semua tawanan di sini.”
“Ah, bukankah mereka diundang oleh bocah-bocah bule itu!” Tegas Bilawa, menyebut tentara Belanda dengan bocah bule, karena anggota Divisi 7 December yang dibentuk Kolonial Belanda untuk memburu laskar-laskar pejuang RI dan TNI, rata-rata anak muda yang tak bisa berkelit dari wajib militer di negerinya.
“Hush… Ati-ati bicara! Kalau mereka dengar, berabe kita! Mereka, anak-anak band itu, berusaha negosiasi untuk bisa menyemangati kita yang ditawan di sini! Kamu saksikan sendiri, mereka menyanyikan lagu-lagu kita!” Basuki mewanti-wanti.
Yang dimaksud Basuki adalah sekelompok anak band yang mengunjungi dan menghibur kawan-kawan seperjuangan kemerdekaan Indonesia yang di penjara oleh Belanda. Mereka menyanyikan lagu-lagu perjuangan, yang di antaranya adalah “Dari Barat Sampai ke Timur”, “Hallo-hallo Bandung”.
Memang saat acara hiburan tersebut, serdadu Belanda dari “7 december Divisie KL” yang berjaga di penjara itu, ikut mendengar dan menikmati hiburan bersama.
“Tentara Belanda yang bertugas di penjara ini rupanya anak-anak muda yang kena wajib militer. Secara politik mereka buta dan telah dihasut oleh pemerintahnya sendiri, agar mau berangkat ke “onze Indië“, ke Hindia Belanda, untuk menghancurkan negara kita, untuk memulihkan kembali kekuasaan kolonial, dengan agresi militer.” Basuki menjelaskan apa yang ia ketahui dari kawannya.
“Apa yang dibilang kawanmu?” Ingin tahu juga rupanya Bilawa.
Belum sempat menjawab, tiba-tiba seorang serdadu Belanda bergegas dan membuka pintu sel. Dua orang serdadu Belanda lainnya, menyeret seorang lelaki dengan cara menjambak rambutnya. Di depan pintu yang terbuka, lelaki itu ditendang dan terjerembab tepat di depan Basuki dan Bilawa. Sambil berteriak memaki, serdadu Belanda itu membanting pintu dan mengunci kembali gerendelnya.
Basuki dan Bilawa bergerak cepat memeriksa keadaan lelaki yang baru saja mendapatkan siksaan. Matanya memar akibat pukulan benda tumpul. Bibirnya yang jontor, meneteskan darah yang tak terlihat merah karena ruang tanpa cahaya, hanya mengandalkan bias dari lampu petromak di ujung lapangan di luar sana.
“Pak Husni?!” Bilawa menegaskan kalau ia mengenal siapa lelaki yang baru saja masuk ke selnya.
“Oh… siapa kamu?” yang ditanya mengangkat wajah, memerhatikan wajah Bilawa.
“Aku Bilawa, aku orang Surabaya yang pernah bapak tolong, nginep di rumah bapak!”
“Oh, ya? Aku tak ingat!” jawab lelaki yang masih menahan perih karena luka-lukanya.
“Sudah, tak penting kalian klarifikasi nama. Apa yang bapak bilang sama serdadu biadab itu?” Desak Basuki sambil membantu menekan bibir kawan seperjuangannya dengan gumpalan kain agar menghentikan perdarahan.
“Mereka menanyakan keberadaan Kapten Lukas?” tanya Bilawa.
“Biarkan dia istirahat dulu, kawan!” Satu dari tiga lelaki muda seruang yang sedari awal diam saja, akhirnya ikut bicara.
“Oh ya, kamu benar Kemal. Istirahatlah dulu, pak Husni. Tolong aku membaringkannya di sini! Di atas kardusku.” Bilawa memapah kawannya dan membaringkannya di kardus yang ia punya. Bagi para tawanan Belanda, apapun benda yang ditemukan, akan menjadi barang berharga, yang tidak jarang menjadi rebutan para tawanan jika penemu pertamanya mati. Di dalam penjara, kardus bekas sama nilainya dengan sebuah kasur empuk yang biasa dipakai oleh para petinggi penjajah Belanda, dan akhirnya diikuti juga oleh beberapa petinggi Republik yang kaya raya.
“Basuki, lalu apa yang tadi kawanmu kabarkan?” Bilawa menagih cerita Basuki yang sempat tertunda. Sementara Kemal kembali diam, meringkuk di sebelah lelaki yang dipanggil Husni oleh Bilawa.
“Oh ya. Kabarnya 7 december Divisie terus memburu Kapten Lukas. Banyak anggota laskar diinterogasi dan disiksa demi mengetahui dimana keberadaan Kapten. Kabarnya mereka akan memburu hingga ke Bekasi sampai Kerawang.” Basuki menjawab tak lagi berbisik di telinga Bilawa.
“Hm… semoga saja mereka tak menemukan Kapten!” Bilawa mengepalkan tangan kanannya.
“Hhh… pemimpin kita sembunyi, kitalah yang jadi korban di sini!” Gerutu Kemal yang tetap tidur meringkuk di sebelah lelaki yang baru selesai disiksa oleh serdadu Belanda.
“Apa kamu bilang? Aku jotos kamu!!!” Bilawa naik pitam.
“Tak dengar apa yang aku katakan? Tak perlulah kalau begitu. Tak penting!” Balas Kemal.
“Kamu memang tak penting. Aku juga tak penting. Karena keamanan pemimpin kitalah yang lebih penting dari diri kita sendiri. Tanpa Kapten, bisa apa kita? Siapa yang mengatur strategi perlawanan terhadap penjajah?” Bilawa masih bicara dengan marah.
“Ya sudah, jangan dibahas lagi. Tokh kita sama-sama tak penting…” Jawab Kemal yang matanya sudah terpejam.
“Huh, kalau bukan kawan, aku cekek dia!” maki Bilawa sambil menarik kembali kepalan tangannya setelah ditahan oleh Basuki.
“Sudahlah, kita sedang sama-sama susah. Jangan bikin perkara yang bikin nasib kita tambah susah!” himbau Basuki pelan-pelan.
“Hidup kita memang selalu susah. Cuma para pemimpin saja yang enak. Dulu, sebelum merdeka, orang-orang yang mengatur negeri kita sekarang ini, tau apa tentang mobil baru, naik pesawat terbang. Sekarang? Semua bergaya perlente! Muak aku!” Kemal kembali menggerutu.
“Hati-hati kamu bicara, Kemal! Mau kujotos, heh?!” Bilawa mengancam.
“Mana bisa aku diam?! Sejak balita aku sudah kenyang dengan kesengsaraan! Bapakku mati di depan mataku sendiri. Ibuku diculik Nipon sialan! Aku terbawa warisan perjuangan bapak, sebagai anggota lasykar. Aku ikut kemanapun teman-teman bapakku pergi. Saat Bung Karno memproklamasikan kemerdekaan kita, apa yang berubah dari nasibku, heh?!” Kemal tak bisa dihentikan. Sementara lelaki yang dipanggil Husni, bangkit dari rebahnya, dan menahan dada Bilawa yang bergegas ingin meninju Kemal.
“Diam kamu bangsat! Suaramu bikin tambah berisik penjara ini!” Bentak Bilawa.
Hujan semakin deras. Deru bising suara rintikan air di atap seng makin membisingkan telinga. Bahkan para petugas patroli penjara tak bisa mendengar suara mereka yang sedang dilanda frustasi di dalam ruang berjeruji besi.
Lelaki yang dipanggil Husni, mendekati Kemal. Ia menepuk pundak, lalu memijat-mijat tengkuk lelaki muda yang menggerutu itu, “Lanjutkan, silakan muntahkan kemarahanmu di sini. Silakan, jangan hiraukan dia. Biar aku yang akan mendengarkanmu, kawan!” pinta lelaki yang dipanggil Husni.
“Huhuhuuuu…..” Kemal menangis sambil memukul-mukul lantai dengan kepalan tangan kanannya. Hanya menangis, tidak bicara.
“Ayolah, katakan apa yang ingin kamu katakan, kawan!” Lelaki yang dipanggil Husni kembali membujuk. Ia duduk merapat di sebelah Kemal, melingkari punggung Kemal dengan lengannya. Sesekali mengusap-usap lembut kepala Kemal.
Kemal hanya menangis. Hanya menangis, lalu berhenti sebentar, sesenggukan, dan menangis kembali.
“Kawan-kawan, kemarilah!” Lelaki yang dipanggil Husni meminta Basuki dan Bilawa mendekat. Bilawa dan Basukipun bergerak merapat di depan orang yang memanggilnya.
“Kawan. Kekuatan setiap orang tidak sama. Ada yang kuat memangul sekarung beras dan ada yang lebih dari dua karung. Tetapi ada juga yang hanya menggotong sekarung beras berdua. Tetapi, pada intinya, kita semua sama-sama memanggul ataupun menggotong beras.”
“Kamu. Siapa namamu?” Lelaki yang dipanggil Husni kemudian menunjuk dada Bilawa.
“Bilawa, pak Husni!” jawab Bilawa sambil mengangguk-anggukan kepala.
“Bilawa. Apakah kamu juga mengalami penderitaan seperti kawan kita ini?” Lelaki yang dipanggil Husni merangkul pundak Kemal.
Kemal mengangguk-anggukan kepalanya. Basuki memperhatikan wajah ketiga orang di hadapannya bergantian. Alis matanya menekuk. Ia memikirkan apa yang dikatakan oleh lelaki yang dipanggil Husni, memperhatikan anggukan kepala Bilawa, dan memperhatikan Kemal yang masih menunduk sesenggukan.
“Bilawa. Aku mengerti kenapa kamu tak suka mendengar gerutuan kawan kita ini. Karena boleh jadi kamu merasa penderitaanmu lebih berat dari padanya. Aku tahu itu. Ya, ya… Bilawa… aku baru ingat apa yang kamu bilang tadi, kamu pernah nginep di rumahku. Ya, ya Bilawa… saat itu kamu menangis mengerang-erang, sambil menceritakan kisahmu. Kisah kematian ayah, ibu, dan saudara-saudaramu yang dibantai oleh berondongan peluru penjajah. Sejak malam itu, kamu terasa lebih ringankah Bilawa?”
“Ya, pak Husni.” Bilawa mengangguk-anggukan kepalanya.
“Nah, Bilawa. Malam ini kawanmu, ingin melakukan seperti apa yang pernah kamu lakukan di rumahku, di malam yang juga dideru hujan. Bolehkah ia meringankan beban hidupnya di depanmu?”
“Oh… maafkan aku, pak Husni. Aku… aku… tak bisa mendengarkan Kemal memaki para pemimpin kita.” Jawab Bilawa.
“Bolehkah ia meringankan beban penderitaannya di depanmu, Bilawa?” tanya lelaki yang dipanggil Husni, sekali lagi.
“Oh…” Bilawa menunduk terdiam sejenak. Basuki merangkul pundak Bilawa, persis seperti yang dilakukan oleh pak Husni kepada Kemal. Bilawa mendongakkan kepala, memandang Kemal yang masih sesenggukan di depannya. “Kawan, aku tak keberatan. Maafkan aku!”
“Terima kasih, Bilawa.” Balas lelaki yang dipanggil Husni, “Kita semua sama-sama menderita. Meskipun kadar penderitaan kita berbeda-beda, tetapi kita sama-sama menderita. Itu semua lumrah. Bahkan mereka yang di luar sana, rakyat yang tak dipenjara seperti kita, juga merasakan penderitaan atas kehidupan yang serba sulit sebelum merdeka dan setelah merah putih berkibar, setelah Republik ini berdaulat di negerinya sendiri. Mereka tetap kelaparan, tetap kehilangan anggota keluarganya yang telah mati, tetap sulit mencari sisa-sisa makanan di tempat sampah.” Matanya menatap mereka yang menyimak.
Lelaki yang dipanggil Husni masih berbicara, “Penderitaan kita makin bertambah pahit tatkala melihat orang-orang yang dulu berjuang bersama orang tua kita yang telah gugur di medan laga, kini bisa merasakan hidup yang lebih enak dari rakyat yang kelaparan. Bisa memiliki kendaraan yang dibanggakan, berangkat ke luar negeri, dan melengkapi rumahnya dengan harta yang tak mungkin bisa kita beli dengan kemiskinan.”
Bilawa mengangguk-anggukan kepalanya. Yang lainnya masih mendengarkan petuah lelaki yang dipanggil Husni.
“Tetapi, kawan-kawan… di balik penderitaan, kita semua masih punya kesetiaan untuk mempertahankan kemerdekaan dari agresi yang dilancarkan musuh-musuh kita. Kita masih setia meringkuk di ruang menjijikkan ini, karena kesetiaan kita. Rakyat kita di desa-desa, masih setia untuk membantu para pejuang dengan memberikan makanan seadanya. Para pemimpin kitapun masih setia memikirkan upaya diplomatik untuk mempertahankan kedaulatan Republik. Jangan kita lihat dasi dan jas mereka. Tapi lihatlah kesetiaan mereka untuk negeri ini. Nanti, pada saatnya kita akan mendapatkan balasan atas kesetiaan kita masing-masing. Sesuai kadar penderitaan dan kesetiaan kita sendiri-sendiri. Kita yang masih tetap setia, relakanlah kesetiaan yang kita miliki sebagai wujud cinta kepada merah-putih. Meskipun itu harus dibayar dengan penderitaan. Begitupun terhadap mereka yang berkhianat kepada hati nurani rakyat, akan mengalami balasan yang setimpal di dunia dan akhirat. Camkan itu, kawan-kawan muda!” Lelaki yang dipanggil Husni menyudahi nasihatnya pada malam dengan diam.
Ruang sempit dan kotor berubah menjadi hening. Deru bising rintik hujan di atas atap seng tak lagi membisingkan telinga mereka yang terpenjara di bawahnya. Bilawa, Basuki, dan Kemal saling berjabat tangan. Berpeluk erat, karena sebuah kesetiaan dan penderitaan yang sama.
Langit masih hitam. Hujan masih deras.
Bogor, 17 Agustus 2011
Cerpen ini ditulis MT khusus untuk merayakan HUT Kemerdekaan RI























“Tetapi, kawan-kawan… di balik penderitaan, kita semua masih punya kesetiaan untuk mempertahankan kemerdekaan dari agresi yang dilancarkan musuh-musuh kita. Kita masih setia meringkuk di ruang menjijikkan ini, karena kesetiaan kita. Rakyat kita di desa-desa, masih setia untuk membantu para pejuang dengan memberikan makanan seadanya. Para pemimpin kitapun masih setia memikirkan upaya diplomatik untuk mempertahankan kedaulatan Republik. Jangan kita lihat dasi dan jas mereka. Tapi lihatlah kesetiaan mereka untuk negeri ini. Nanti, pada saatnya kita akan mendapatkan balasan atas kesetiaan kita masing-masing. Sesuai kadar penderitaan dan kesetiaan kita sendiri-sendiri. Kita yang masih tetap setia, relakanlah kesetiaan yang kita miliki sebagai wujud cinta kepada merah-putih. Meskipun itu harus dibayar dengan penderitaan. Begitupun terhadap mereka yang berkhianat kepada hati nurani rakyat, akan mengalami balasan yang setimpal di dunia dan akhirat. Camkan itu, kawan-kawan muda!
Bait ini asik sekali
[Reply]
MT Reply:
August 22nd, 2011 at 00:44
terima kasih bang Manov. bait itu dibuat di akhir tenaga
[Reply]
I like your blog, thanks for the info..NICE…. ^_^v….
[Reply]