Takut Jarum Suntik

Siapakah di antara teman-teman yang waktu SD dulu pernah kabur dari sekolah lantaran ada dokter yang datang untuk imunisasi? Ceritain dong! Seru tuh.

Itu status yang pernah kubuat di facebook, kemarin. Status yang dipicu oleh informasi dari anakku saat pulang sekolah, “Besok ada dokter datang ke sekolah, Yah. Semua murid harus disuntik.”

jarum suntik | foto : tribun news

jarum suntik | foto : tribun news

Sudah kuperkirakan, status ringan seperti itu pasti memancing komentar dari teman-teman. Ya, kurasa pengalaman menghindari dokter yang datang ke sekolah banyak dialami teman-teman. Ada teman yang kabur dadakan karena tak tahu informasi sebelumnya tentang kedatangan dokter. Ada juga yang sengaja nggak masuk sekolah lantaran sudah tahu informasinya. Bahkan ada juga pengalaman gokil macam temanku si Black. Ia kabur dan nggak masuk sekolah hingga 1 bulan.

komentar soal takut jarum | from status facebook MT

Akupun mengalaminya ketika SD dulu. Tetapi sayangnya kepergianku itu memicu tertawaan teman-teman sekelas pada esok harinya. Kenapa? Nah saatnya aku bercerita tentang masa kecilku.

Tiba-tiba saja temanku, Wahyu dan Eri memberitahukan hari ini akan ada penyuntikan dari dokter.

“Gue liat sendiri tadi, ada dokter di kantor Kepala Sekolah.” Wahyu menyampaikan apa yang dilihatnya.

“Iya, gue juga liat. Yuk, mending kita kabur aja!” Ajak Eri.

“Lewat mana? Kalo dari depan, pasti ketauan sama guru.” Aku setuju tapi bingung mencari jalan keluar.

“Kita lewat belakang kelas aja. Lompat pager!” Usul Wahyu.

“Berarti harus nyebrangin Kali, dong?” Tanyaku.

“Mau lewat mana lagi? Ayo kabur!” Eri bergegas mengambil tas. Aku dan Wahyu mengikuti langkahnya.

Kami bertiga sudah sampai di area belakang kelas. Berhadapan dengan pagar kawat dan pohon akasia. Di sebelah pagar, Kali Malaka yang tak begitu deras airnya akan menjadi perlintasan. Wahyu dan Eri memanjat pohon Akasia sampai melewati ketinggian pagar. Lalu mereka lompat ke pinggir kali. Aku mengikuti contoh yang mereka lakukan. Tapi sayang sekali, karena aku takut ketinggian, sampai di atas pohon aku grogi. Akhirnya, proses turunnya aku ke kali harus beresiko terkena besetan kawat yang memenuhi bagian atas pagar. Luka di tanganku terasa perih.

Kami menyebrangi Kali dengan melompat dari bebatuan yang ada di Kali tersebut. Hingga akhirnya kami naik ke daratan Jl. Wijaya Kusuma, dan ngumpet di rumahnya Wahyu hingga bosan dan pulang ke rumah.

“Selamet!” pikirku, meskipun teman sekelasku yang namanya Selamet nggak ikutan kabur.

Esok harinya, saat tiba di kelas, Aku, Wahyu, dan Eri disetrap oleh Bu Zanibar, Wali Kelas kami. Ia menginterogasi alasan kami kabur dari sekolah. Akupun menceritakan apa yang kami takutkan.

“Saya takut disuntik, bu.” Jawabku. Begitupun Eri dan Wahyu, satu alasan.

“Apa? Siapa yang mau menyuntik kalian?” suara Bu Zanibar saat marah selalu menakutkan.

“eh, kata Wahyu kemarin ada dokter ke sini, bu.” jawabku sambil memandang Wahyu dan Eri.

“Dasar badung!” Jeweran bu Zanibar pun harus kami terima. “Dokter mana yang kemarin ke sekolah, heh?!”

“Yang kemarin bu, bapak-bapak.” jawab Wahyu.

“Oalaaah… yang kemarin itu bukan dokter! Dia itu pengrajin sulam. Nanti siang ia akan mengajarkan semua murid di sekolah ini, bagaimana membuat kerajinan sulam.” jelas bu Zanibar. Kembali jeweran membuat panas telingaku. Eri dan Wahyu sepertinya menerima jeweran yang lebih keras tingkatnya.

Sakit di telinga kuterima. Bukan cuma itu, tertawaan teman-teman menambah penyesalan atas kebodohan kami bertiga. “Fuih!” ternyata yang datang bukan dokter, tapi ahli sulam yang ketika mengajarkan cara menyulam sering mengulang-ulang ucapannya, “rit, notok, rit, notok”

jarum sulam | foto : http://images02.olx.co.id/

jarum sulam | foto : www.images02.olx.co.id/

Seperti inilah hasil kerajinan sulam yang diajarkan di sekolahku waktu lalu :)

hasil sulaman dg jarum sulam | foto : http://images02.olx.co.id

hasil sulaman dg jarum sulam | foto : www.images02.olx.co.id


Jadilah orang pertama yang menyukai tulisan ini
Apakah anda menyukai tulisan ini ?

13 Responses to “Takut Jarum Suntik”

  • dulu suntik untuk anti cacar yang bekasnya di lengan sampai sekarang masih kelihatan dan nggak bakal hilang. kalau dulu di tempatku dirayu dengan diberi susu. ;-)

    [Reply]

    MT (@mataharitimoer) Reply:

    wah enak tuh dapet susu. kalo di SDku dulu wajib ikut cacar kalo nggak disetrap!

    [Reply]

  • saia selalu maju duluan kalo urusan ada info seperti ini, karena selalu mendapat jajanan hiks.. #mureh

    [Reply]

    MT (@mataharitimoer) Reply:

    patut dicontoh tuh

    [Reply]

  • aku salah satu siswa yg gagal di suntik cacar, dulu aku takut lihat jarum suntik dan sampe pingsan, sekarang pun tdk ada bekas cacar di lenganku :D

    [Reply]

    MT (@mataharitimoer) Reply:

    sekarang masih takut jarum suntik, mas?

    [Reply]

    trisnoaji Reply:

    kalo sekarang malah nyuntikin hahaha.. :))

    [Reply]

  • Yang paling saya ingat waktu SD, ketika selesai disuntik, lengan saya masih mengeluarkan banyak darah. Padahl saat itu saya sudah diberi kapas dan cairan pembeku darah. Takut sekali, saya pikir darah itu tidak akan berhenti. hahaha…bahkan sampai sekarang pun saya masih takut disuntuik.hahaha

    [Reply]

    MT (@mataharitimoer) Reply:

    wahahaha…. sama mas. sama, saya juga :D

    [Reply]

  • Pengalaman masa SD aku bikin heboh tentang jarum suntik ini. Sewaktu tim suntik cacar datang ke sekolahku, semua kalang kabut, karena tidak dikasih tau oleh kepsek tentang kedatangan tim suntik cacar itu. Rata-rata anak perempuan menangis takut, tapi juga murid laki-laki ada yang sesenggukan. Pas giliran aku disuntik, aku gak melihat sama sekali ke mantri suntik, tutup mata lalu gigit ujung lidah buat menahan rasa sakit.

    [Reply]

    MT Reply:

    wah berarti benar-benar heboh saat itu :D

    [Reply]

  • Waaa.. saya lupa. cuma ingat nangsi nya doank, trus lari apa nyerah ya waktu itu?????

    [Reply]

  • dulu aku juga takut disuntik, tapi karena keseringan sakit dan kebetulan obatnya selalu disuntikkan, lama-lama jadi biasa….. hehe

    alhamdulillah sekarang udah gak gampang sakit kayak dulu waktu TK

    [Reply]

Trackbacks

  •