Salah Persepsi tentang Tata Usaha Sekolah
Waktu aku menjadi Kepala Tata Usaha di sebuah sekolah, di bilangan Bekasi Timur, datanglah seorang pemuda menyampaikan surat lamaran pekerjaan. Ia terlihat begitu kurang percaya diri dengan ijazahnya yang masih di bawah sarjana. Sebenarnya ia ingin menjadi guru, tetapi karena kurang percaya diri dengan ijazahnya, ia memberikan alternatif untuk menjadi stafku.
“Mau melamar jadi guru?” Tanyaku
“Maunya begitu. Tapi kalau tak pantas, jadi staf TU saja juga nggak papa, pak.” Jawabnya santun.
“Kalau begitu, kamu jadi guru saja dulu. Kan kamu pernah mengajar madrasah di kampungmu, dulu.” Saranku.
“Apa pantas, saya jadi guru dengan ijazah begini?” Tanyanya.
“Mulai besok, kamu mengajar di kelas 3 saja. Pegang mata pelajaran yang kamu bisa!” Putusanku kepadanya setelah berkonsultasi dengan kepala sekolah. Iapun terperangah.
Kenapa aku tidak menerimanya menjadi staf Tata Usaha, padahal aku butuh sekali tambahan seorang staf?
Alasan pertama, ia menganggap staf TU adalah pekerjaan yang pantas untuknya, yang baru datang dari kampung. Apalagi ia belum melanjutkan kuliah. Bagiku, itu adalah awal yang kurang baik untuk menjadi stafku. Aku membutuhkan orang yang menganggap pekerjaan yang akan ditanganinya adalah pekerjaan yang tidak sepele, melainkan pekerjaan yang berat dan penuh tantangan.
Alasan kedua adalah, menurut penilaianku, ia mampu menceritakan pengalaman hidupnya dengan lengkap dan dengan bahasa yang mudah dicerna. Anak-anak SD -yang kukelola- membutuhkan guru seperti itu. Guru yang memiliki kemampuan verbal yang baik. Dan ia bisa meningkatkan kemampuannya itu dengan menjadi guru satu mata pelajaran sambil melanjutkan kuliah.
Banyak orang menganggap REMEH bagian ketatausahaan di sekolah. Padahal keberadaannya sangat vital dalam menunjang lancarnya proses belajar mengajar sebuah sekolah. Saking dianggap remeh, TU menjadi pilihan terakhir bagi pelamar kerja yang kurang percaya diri jadi guru di sekolah. Bahkan menurut anggapan beberapa orang, untuk menjadi staf TU tak memerlukan ijazah sarjana, cukup lulusan SLTA saja.
Pandangan keliru seperti itu aku sanggah saat memberikan pelatihan ketatausahaan di sebuah sekolah di Bekasi Timur, pada hari Selasa pekan yang lalu. Sekolah tersebut ingin memberikan peningkatan kemampuan kepada para staf TU agar bisa bekerja sesuai dengan tugas dan fungsi mereka.

Para petinggi di dunia pendidikan, juga biasanya hanya menyelenggarakan program “upgrading” untuk guru dan Kepala Sekolah saja. Tenaga Administrasi Sekolah atau lazim disebut staf Tata Usaha (TU) umumnya luput dari perencanaan peningkatan mutu pendidikan. Padahal mutu pegawai tata usaha sekolah merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi mutu sekolah.
Karena itu, sudah saatnya kita perlu melakukan upaya peningkatan mutu tenaga TU, untuk memahami peranan utama mereka, untuk peningkatan keterampilan sesuai tugas dan fungsi tenaga TU. Selain itu, manajemen sekolah perlu mengimplementasikan sistem informasi yang membantu kelancaran tugas dan fungsi TU, misalnya dengan menggunakan program JIBAS (Jaringan Informasi Bersama Antar Sekolah).
Presentasiku tentang apa yang kutulis ini, sudah kuunggah di slideshare. Silakan membaca dan atau mengunduhnya.























Jadi bangga nih kang, ayah kerja di bagian TU sebuah sekolah di kendal.
Istimewa :))
[Reply]
MT Reply:
October 11th, 2011 at 19:37
ayahmu hebat, pastinya!
[Reply]
kerja sistemis, semua saling mengisi. gak ada single fighter di sekolah
[Reply]
MT Reply:
October 12th, 2011 at 13:02
benar, pak Guru!
jabat erat!
[Reply]