Pikirkan Resiko Sebelum Complaint

Di sebuah restoran saat aku sarapan pagi. Seorang perempuan marah-marah kepada koki muda lantaran omelet pesanannya belum juga selesai dibuatkan. Ia memesan omelet kepada koki restoran yang sedang menceplok telur ayam untuk pelanggan lain yang lebih dulu memesan. Restoran ini memang menyediakan sebuah stand khusus di pojok ruangan, bagi pelanggan yang ingin sarapan dengan ragam menu telur.

complaint | sumber: socialmediaspinners.com

Aku sendiri sedang menunggu omelet pesananku. Tetapi karena kutahu, koki muda itu masih harus melayani tiga tamu lain yang memesan sebelum aku dan perempuan yang marah-marah itu, aku tetap duduk menunggu sambil terpaksa menyaksikan kemarahan perempuan itu. Sayang sekali pagi yang indah ini dirusak oleh sebuah kemarahan yang meledak-ledak.

Saat manajer restoran datang menghampiri pusat keributan tersebut, perempuan itu makin menjadi-jadi marahnya. Bahkan ia menyarankan kepada sang manajer, agar koki muda yang dianggapnya tak becus itu segera dipecat karena memperlambat jadwal sarapan paginya. Sang manajer mencoba menenangkan pelanggannya sambil tetap bertanya dengan tegas kepada koki mudanya.

Melihat suasana seperti itu, entah kenapa aku spontan berdiri dan mendekati mereka. Aku jelaskan kepada sang manajer, bahwa koki muda itu tidak melakukan kesalahan. Ia telah menjalankan tugasnya dengan baik, yaitu membuatkan pesanan telur dadar, ceplok, dan omelet, sesuai dengan daftar antrian pelanggan lain yang sabar menunggu. Kuberitahu juga bahwa aku dan tiga orang pelanggan lain yang lebih dulu memesan, tetap menunggu dengan tenang sampai sang koki muda menyelesaikan pesanan kami.

Satu dari tiga orang pelanggan yang lebih dahulu memesan dari padaku mengambil pesanannya, lalu menyarankan agar restoran ini menambah stand pelayanan telur, agar tidak terjadi masalah seperti yang terjadi pagi ini.

Kenapa aku melakukan hal yang terkesan sok jadi pahlawan? Maaf, bukan aku mau ikut campur urusan orang lain apalagi dijuluki pahlawan. Spontanitasku sebenarnya dipicu oleh ingatanku akan cerita seorang supir taksi, saat aku menumpang sebuah Taksi di Cilegon. Supir itu menceritakan kisah tragis yang dialami temannya gara-gara complaint (keluhan) seorang pelanggan.

Seorang pelanggan taksi melaporkan keluhannya terhadap seorang supir taksi yang dinilai tak menuruti permintaannya. Tanpa mendapatkan kesempatan membela diri, supir taksi itu lalu dipecat. Masih menurut cerita supir taksi yang kutumpangi, temannya yang sudah dipecat itu menceritakan kenyataan yang ia alami sendiri ketika mengantar pelanggan yang mengeluhkannya itu. Kejadian yang sesungguhnya -menurut versi temannya sang supir-, ia sudah memberitahu kepada pelanggan kalau jalan yang akan dilaluinya itu macet, tetapi sang pelanggan itu tetap memaksa dengan alasan, ia yang membayar maka ia yang menentukan mau lewat mana. Lalu supir itu juga memberitahu kalau jalan selanjutnya yang akan dilalui adalah jalan buntu, tetapi sang pelanggan masih berkeras memaksa dengan alasan yang sama. Saat taksi tersebut terjebak di jalan buntu dan ramai dengan lalu lalang motor, sudah pasti agak sulit dan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk kembali ke jalur yang benar. Rupanya sang pelanggan tak senang dengan suasana itu, lalu memaksakan diri turun dari taksi dengan memberikan ongkos sesuai argo, ditambah dengan makian.

Akibat keluhan pelanggan itu, akhirnya teman sekerjanya itu dipecat. Padahal ia sedang berusaha mengumpulkan uang untuk biaya persalinan istrinya.

Nah, kisah itulah yang membuatku spontan bicara kepada manajer restoran, dengan harapan jangan sampai koki muda itu mengalami nasib yang sama seperti yang diceritakan supir taksi.

Kadang kita memang kecewa bila mendapatkan pelayanan yang kurang baik. Tetapi jika kita menyempatkan waktu untuk merenungkan dahulu situasi, kausalitas, dan resiko yang akan terjadi atas tindakan kita, kupikir itu lebih baik. Apa lagi jika orang yang kita keluhkan sebenarnya bukanlah penyebab dari kekecewaan kita. Kasihan sekali jika orang yang kita keluhkan itu mengalami pemecatan padahal kita sendiri yang melakukan kesalahan.

gambar : complaint | sumber: socialmediaspinners.com


1 teman anda menyukai tulisan ini
Apakah anda menyukai tulisan ini ?

8 Responses to “Pikirkan Resiko Sebelum Complaint”

Trackbacks

  •