Crot: Manovara Jatuh Cinta Lagi

Cerita ini adalah bagian terakhir dari Rantai Cerita bertopik Crot. Yang namanya rantai cerita, atau kalau bahasa kulonnya Chainposting, tentu kurang mantap kalau tidak dibaca dari 5 cerita sebelumnya. Karena itu saya sarankan untuk mengunjungi kelima blog yang tergabung dalam penulisan Crot ini.

  1. Mendadak Crot bisa dibaca di blog WKF.
  2. Kembali Lagi ke Lap Crot ada di blognya polisi nyentrik, Abahzoer.
  3. Perempuan dari Masa Lalu adalah rangkaian ketiga di blog Khrisna Pabichara.
  4. Badai Pasti Berlalu #Crot ditulis oleh Erfano yang selalu seru menjadi guru.
  5. Menuju Pelabuhan Terakhirku, adalah lanjutan Crot oleh Rudigints.

Iraha Manovara, seorang jomblo yang sering banget frustasi tapi tak pernah sekalipun berhasil menjalin cinta, kini sudah delapan belas menit berjalan mondar-mandir di loby Hotel Komala Bangka. Timur Ginting, seorang perantau dari Simalungun yang menjadi tangan kanan pemimpin Orkes Melayu Irama Kota Hujan -Idang Suja’i- beberapa kali mencoba menghubungi orang yang ingin mereka temui di Bangka ini.

“Permisi, pak. Ada yang bisa kami bantu?” tanya seorang petugas Satpam Hotel Komala kepada Manov yang masih saja mondar-mandir.

“Oh, terima kasih. Saya tidak perlu bantuan.” Jawab Manov sambil menyeka ingusnya dengan tissue.

“Tetapi sedari tadi saya lihat sepertinya bapak sedang galau.”

“Kamu ini Satpam atau Dukun?” Manov menatap sang petugas.

“Seragam saya menunjukkan kalau saya ini Anggota Satpam di hotel ini, pak.” Jawab sang petugas, tersenyum menahan kesal.

“Kalau begitu, dari mana kamu bisa menuduh saya sedang galau? Jangan sembarang menuduh! Nanti kuproses kamu.” protes Manov.

“Maaf, pak. Soalnya beberapa menit saya lihat bapak hanya mondar-mandir di sini. Siapa tahu saya bisa membantu.”

“Tepatnya sudah 18 menit lebih 52 detik saya begini!” Manov menunjukkan jam merk Rider yang melibat lengan kanannya kepada sang petugas.

“Baiklah kalau begitu. Maaf, saya sudah mengganggu Bapak. Permisi…” Sang petugas pun mengalah.

Manov mendekati Timur Ginting yang masih saja gagal menghubungi Eka.

“Sudah bisa dihubungi?” Tanya Manov dengan raut wajah di ujung kesabaran.

“Tenang, bro! Aku masih coba. Soalnya sinyal di sini kurang bagus. Tadi sempat diterima, tetapi suaranya putus-putus.” Jawab Timur Ginting dengan tatapan masih ke telepon selularnya.

“Makanya jangan pake operator gituan. Udah saya kasih tau kalau sering blank, masih aja dipake!” Manov ngedumel.

“Ya sudah , kalau begitu aku pinjam hapemu, kan operatornya sama.” pinta Ginting.

“Nih, pake!” Manov menyerahkan dengan tulus dan ikhlas hape terbaru miliknya. Sebuah telepon selular yang bersistem operasi Android.

Timur Ginting langsung menekan angka pada layar hapenya Manov.

“Tuuuut…… Maaf, pulsa anda tidak cukup untuk melakukan panggilan ini. Mohon isi pulsa dulu, atau minta sama mama atau papa kamu yang ada di kantor Polisi!”

“Huh! Percuma juga hape bagus kalo nggak ada fakir pulsa!!! Ginting langsung melempar hape tersebut ke arah Manov.

***

Seorang perempuan manis manja berbadan proporsional datang menghampiri Manov dan Ginting yang sedang duduk malas di sofa loby Hotel Komala. Ia mengenakan seragam bermotif batik, layaknya pramugari sebuah jawatan penerbangan swasta.

“Halo bang Manov, bang Timur Ginting. Maaf ya sudah terlalu lama menunggu Eka.”

“Oh, tak mengapa. Bang Manov ini adalah tipe lelaki yang penyabar, Eka.” si Ginting yang menjawab dengan mengedifikasi sahabatnya, Manov yang langsung menjabat erat tangan Eka, perempuan ke-212 yang ditaksirnya.

“Maafkan aku ya, Bang Manov!” sapa Eka dengan suara selembut bedak talk merk Doris.

“Gak papa, Eka. Aku mengerti kesibukanmu. Ayo duduk di sebelah Abang, sini!” balas Manov dengan kehalusan budi pekerti sesuai dengan sila kedua dari Pancasila.

“Bagaimana kabar Bang Idang Suja’i? Sehat? Koq ia tak ikut ke sini?” Tanya Eka kepada Manov. Sementara Timur Ginting mengambil sikap mengerti dan memberikan kesempatan kepada Manov untuk melampiaskan penantiannya terhadap Eka. Timur Ginting kini sibuk Twitteran.

“Bang Idang Suja’i sedang mempersiapkan konser amal bersama musisi dangdut dan Irama Melayu lainnya di Jakarta. Bulan depan mereka konser di Malaysia.” Mulut manov berbicara, matanya tak terpejam menatap wajah Eka.

“Wah, sayang sekali di Malaysia. Coba konser di sini lagi seperti bulan kemarin. Kan enak, aku bisa nonton dan joged gratis. hihihi….” Canda Eka, dengan tawa yang dirasakan Manov laksana gerimis.

“Nanti, deh Abang bilangin ke Bang Idang Suja’i, biar bisa konser di Bangka lagi. Eh, ngomong-ngomong, kamu tahu tidak kedatangan saya ke sini?”

“Emm….” Eka menggelengkan kepalanya dengan senyum tetap terjaga.

“Masa, sih?” Manov kini mulai melirik ke Timur Ginting. Yang dilirik tak sadar karena sedang asyik mention-mentionan dengan kawan se-twitter.

“Sungguh. Aku tak tahu Abang ke sini ada keperluan apa. Ayo dong Abang yang ceritakan. please!” Pinta Eka, genit manja.

“Bang Idang Suja’i pernah menghubungimu sebelum saya dan Timur Ginting ke sini?” Manov mulai gelisah. Keringat mulai membasahi telapak tangannya.

“Pernah. Katanya Bang Manov dan Bang Ginting mau menemui saya di sini. Karena itu saya datang. Meskipun sebenarnya hampir tak bisa berangkat ke sini.” Jawab Eka jujur, berani, dan bersahaja seperti poin yang ada dalam Dasa Darma Pramuka.

“Om Ginting. Piye iki?” Manov pun kehabisan kata. Ia meminta Timur Ginting membantunya.

“Oke. Jadi bagaimana kesepakatan kalian berdua?” Jawab Ginting seraya mendekati Manov dan Eka.

“Kesepakatan? Kami tak membicarakan kesepakatan apapun?” Eka melongo.

“Begini. Kami ke sini menjalankan amanat dari Bang Idang Suja’i. Menurut beliau, lebih baik kalian berdua menikah. Sebab sepertinya kalian berdua sudah saling suka dan saling cocok.” Timur Ginting menjelaskan secara blak-blakan.

“What? Menikah?” Eka terperanjat.

“Ya, menikah!” Manov ingin memanjat perempuan yang terperanjat.

“Benar, menikahlah kalian!” Ginting menegaskan.

“Sepertinya kamu bahagia sekali mengetahui bahwa kedatanganku karena ingin menikahimu, Eka.” tuduh Manov.

“Tunggu dulu. Tidak semudah itu aku menerima ajakan kamu, Bang.” Eka menunduk. Cahaya wajahnya perlahan meredup.

“Kata Bang Idang, kamu siap menikah? Bagaimana ini?” Giliran Ginting yang mengerutkan dahinya.

“Ya. Benar. Selesai konser waktu itu, Bang Idang pernah menanyakan statusku. Aku ceritakan kepadanya kalau aku masih lajang. Tetapi aku sudah dijodohkan oleh seorang Saudagar Bangsawan dari leluhur kami. Ia memintaku untuk menjadi istri mudanya. Ingin sekali aku bisa menolak dan terbebas dari belenggu tradisi seperti itu. Tetapi orang tuaku tak cukup bernyali untuk menolak permintaan Baginda Jibaluka Liku Sriwijaya. Aku ceritakan sejujurnya kepada Bang Idang. Nah, saat itu Abang menawarkan bantuan dengan menghadirkan Bang Manov untuk membawaku ke Bogor. Begitulah…” Eka menatap sendu Manov dan Ginting.

kursi-raja

“Oalaah… Jadi bukannya kamu siap dinikahkan oleh Bang Manov di Bogor?” Ginting merem-melek.

“Tak ada perbincangan ke arah sana, sejauh ini.”

“Tetapi, Eka. Apakah kamu bisa memberikan aku kesempatan untuk membebaskanmu dari Baginda Jibaluka liku Sriwijaya? Aku siap mati demi sebuah asa, hidup bersamamu di Bogor. Apapun syaratnya! Sebagai keturunan dari rakyat Kerajaan Pajajaran, aku siap menghadapi Jibaluka Liku Sriwijaya!” Manov menepuk-nepuk dadanya.

“Oh, sungguh terbuai aku dengan budi baikmu, Bang. Tetapi, mungkinkah itu terjadi? Sungguh, aku tak sudi dinikahi oleh Jibaluka Liku Sriwijaya. Ia sudah terlalu tua untukku. Meskipun kekayaannya berlimpah. Tetapi…”

“Tetapi apa, Eka, duhai belahan jiwaku?” Manov mulai merayu dengan ramuan katanya.

“Tetapi, kamu harus memenuhi syarat yang pernah dititahkan Baginda Jibaluka. Syarat itulah yang sampai kini tak mampu aku ataupun saudaraku penuhi.”

“Apa syaratnya? Aku siap membebaskanmu dengan harta dan nyawa!” Manov mengucap tanya.

“Ah lebay kau, Manov!” Ginting nyeletuk.

“Lebay bagaimana? Aku siap melakukan apa pun demi Eka!” Balas Manov.

“Ya, Lebay level 3! Kalau kamu siap membela dengan nyawa, lalu siapa yang akan menikahi Eka?”

“Eh, iya ya…” Manov nyengir sambil menggaruk-garuk kepalanya. Mungkin tai burung yang crot di parkiran Bandara masih belum benar-benar bersih.

“Lagi pula, syaratnya tak sampai meregang nyawa. Kita hanya diminta menyanyikan 13 Lagu Irama Melayu di depan Baginda Jibaluka Liku Sriwijaya, sebagaimana keluarga perempuan lain yang berhasil, sehingga boleh menolak permintaannya.”

“13 Lagu Melayu?” Manov benar-benar terperanjat. Ia sadar jika harus memanjat derajat dengan menyanyikan lagu melayu yang belum pernah membuatnya terpikat.

“Halah, gampang itu! Kau tinggal belajar sama Bang Idang Suja’i. Saya yakin Abang bisa melatihmu, Manov. Bahkan bila perlu, sekalian kau ikut berlatih, Eka!” Ginting menawarkan jalan keluar. Ia selalu cepat menemukan solusi jika temannya sedang bermasalah. Tetapi hal itu tak berlaku jika ia sendiri yang punya masalah.

Beberapa kata dalam cerita ini telah diralat karena kesalahan ketik, setelah menerima masukan @wkf2010 dan @noubt. Terima kasih.


1 teman anda menyukai tulisan ini
Apakah anda menyukai tulisan ini ?

9 Responses to “Crot: Manovara Jatuh Cinta Lagi”

  • bhihik, lebay ada levelnya?
    kayak kripik aja :lol:

    [Reply]

  • Ternyata manov sudah naksir 212 perempuan ya, Btw, itu foto baginda Jibaluka Liku Sriwijaya? Tampangnya sedih banget.

    [Reply]

    MT Reply:

    ya, sedih banget karena belum dapat bocoran kalau Eka mau belajar nyanyi ke Idang Suja’i pimpinan OM. Irama Kota Hujan :))

    [Reply]

  • wkwkwkwkkwwk
    kayaknya ceritanya masih perlu dilanjutkan lagi he..he…
    keren..keren… Baginda Jibaluka Liku Sriwijaya wkwkwkwkwk kocak kocak,.,..

    [Reply]

  • Ah, selalu salah dalam menuliskan nama. Idang SUJA’I, bukan Idang SUDJA’I. Lihat tulisan pertama di Mendadak Crot. Terus, pertama kali disebut di cerita ini JIBALIKA Liku Sriwijaya, bukan JIBALUKA Liku Sriwijaya.

    Anyway, malang bener nasib Manov. Mestinya ada penulis ke-7 yang meneruskan biar berakhir bahagia. Ah, tapi tak jaminan pulak. ;-) Sip, sip, sip.

    [Reply]

    MT Reply:

    hehe makasih pak guru!
    sekarang sudah diperbaiki tuh. :)
    benar, kita tak bisa menjamin akhir bahagia buat Manov. Karena para penulis sepertinya enggan melihatnya bahagia hahaaha…

    [Reply]

  • erha limanov

    kalau bisa nama tempat “hotel xxx bangka” jangan disebut jelas. harus difiktifkan. karena itu menyangkut perusahaan orang yang dalam hal ini tidak ada kaitannya dengan cerita fiksi ini.

    [Reply]

    MT Reply:

    makasih bang manov.

    [Reply]

  • ma’af telat komen, nih….
    nama hotelnya “hotel komala” hehehee
    siapa yang bisa sebut satu persatu dari 13 Lagu Melayu itu yah?!

    [Reply]

Trackbacks

  •