Ngelayap ke Palembang
Dibandingkan dengan 4 reportaseku lainnya tentang SEA Games 2011 di Kompasiana dan blogdetik, tulisan ini lebih bersifat catatan perjalanan saja. Aku akan menceritakan bagaimana bisa sampai ke Jakabaring dan meliput perhelatan olah raga yang menjadi kebanggaan tersendiri buat Indonesia, khususnya Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan. Lebih spesifik lagi, Palembang. Boleh saja tulisan ini disebut sebagai catatan perjalanan. Bagi blogger keturunan betawi, lebih suka bilang ‘ngelayap’.
Aku dan lima teman lainnya tergabung dalam kelompok blogger yang diundang oleh Gubernur Sumatera Selatan, H. Alex Noerdin untuk melihat penyelenggaraan SEA Games di Palembang. Bolehlah kelompok ini dinamakan tim “Blogger for SEAGPalembang”. Ya, tidak banyak, hanya 4 cowok yang berpenampilan seadanya, dan 2 cewek yang jarang dandan. Ya itulah aku, @harrismaul, @bramadity, @josep_xavier, @lucianancy, dan @wulan_muh.
Koq bisa sih kami diundang? Siapalah kami ini. Terkenal juga nggak. Seleb blog juga bukan. Yang jelas, ya kami ini cuma dipandang sebagai blogger yang konsisten dalam jalurnya. Aku sendiri sempat berpikir, gimana ya nanti kalau tulisanku berisi protes terhadap penyelenggara, terutama Pemerintah. Karena aku terbiasa blak-blakan saja dalam ngeblog. Yang kuanggap kurang menyenangkan, ya kutulis juga.
“Justru mereka sudah membedah blogmu.” Ungkap Harris. “Jadi sepertinya mereka nggak masalah tuh sama kang MT.” Imbuhnya.
“Oh begitu. Mereka baca nggak ya tulisanku tentang SBY, Perumka, Anggota Dewan, yang rata-rata nggak enak dibaca oleh para petinggi negara yang gak punya muka?”
“May be yes, may be no! Hahaha…”
“Ya, aku akan tulis apa adanya. Kan kita bukan ‘blogger amplop’, hahaa…” Jawabku, saat kami berdua duduk berdampingan di DAMRI dari Bogor menuju Bandara Soekarno-Hatta. Halah! Beduaan sama Harris
![]()
Di Soeta (Bandara Soekarno Hatta) kami bertemu Wulan dan Ucy yang sudah menunggu di warung makan cepat saji bergaya Amerika. (Eh, jadi inget Freeport deh gue). Beberapa menit setelah kami berempat saling mengenal, datanglah Josep dengan Tas Ransel yang dicintainya sejak SMP. Yang kutulis barusan sebenarnya WARNING buat blogger perempuan. Bayangkan! Sama tas aja dia bisa jatuh cinta!
Tapi ini gak bener koq. Yang bener, dia itu kalo udah jatuh cinta, kayaknya setia, deh!
“Tinggal mbak Tika ya yang belum datang?” Tanyaku kepada yang lainnya.
“Oh iya, mbak Tika batal. Tapi kang Harris sudah dapat penggantinya. Siapa namanya, kang?” Jawab Wulan sekaligus menanyakan penggantinya.
“Bram. Twitternya @bramadity. Dia temanku di ACI (Aku Cinta Indonesia) detikcom.” Jawab Harris.
“Cowok?” akupun mengerutkan dahi. “Trus gimana dengan tiketnya? Kan atas nama Tika, cewek?”
“Ya, resiko. Biar nanti diurus saat boarding. Kalau memang dipermasalahkan…. hihihi…” Jawab Ucy dengan senyum kelincinya.
“Pake Wig aja!” Usul gokil dari Josep, sesaat setelah Bram tiba.
“Jadi gue harus tetap berangkat dengan tiket bernama Tika?” Bram minta penegasan.
“Ya, mau gimana lagi? Yuk, jalan!” Wulan beranjak duluan, menganggap penegasan Bram bukan sebagai suatu keberatan tetapi mungkin, kebanggaan malah. :p
Semua mengikuti langkah Wulan, sambil cekikikan memperhatikan Bram yang rupanya cuek aja. Mungkin ia sudah terbiasa berada dalam situasi yang kontradiktif. Bahkan terbiasa nyantai saat terjebak dalam situasi destruktif dan nggak kondusif. Jadi cengar-cengir aja.

di Bantara Soeta | foto: MT

PP kami mbonceng Garuda Indonesia | Foto: MT

Josep terlelap setelah dibacakan dongeng pengantar terbang oleh Wulan | Foto: MT

Tiba di Bandara Badaruddin II, sudah ada tim penyambut. Wew… GR | Foto: MT

Inilah salah satu tugas blogger | Foto: Minta tolong sama CS Bandara :)
Sampai di Palembang, kami langsung diajak naik ke mobil jemputan yang dibawa oleh “Kau Tau Siapa?”. Kami melintasi jalan tertimpa gerimis di Palembang. Tak terlalu padat. Hingga berhenti di depan Warung Mie Celor untuk sarapan pagi dengan makanan khas Palembang itu. Melihat tampilannya, aku sebenarnya kurang tertarik untuk makan Mie Celor. Bayangkan aja. Di Soeta makan, di Pesawat makan. Kenyanglah. Tapi karena belum pernah, ya, icip-icip aja deh setengah piring
Di Warung Mie Celor datang seorang jurnalis yang ditugaskan menemani perjalanan kami di Palembang. Seorang lelaki yang cukup ganteng kalau dilihat dari kamera. Ia bernama Musa Sanjaya. Selain sebagai jurnalis, ia juga punya PH, Artist Management dengan label FEM di Kemang Jakarta. Jadi yang perlu artis, hubungi aja dia. #iklan

Foto bareng Musa di depan Kedai Mie Celor | Foto: Supir Panitia
Kini saatnya bekerja. Kami meluncur menuju Jakabaring Sport City. Melintasi Jembatan Ampera yang lebih bagus dipandangi ketika malam hari. Karena kalau siang, lampunya pengindahnya dimatikan. Hanya lalu-lalang kendaraan dengan jejeran yang cukup panjang. Yang kayak gini, di Jakarta lebih dahsyat! Siapa dulu dong Gubernurnya, ahli gitu loh!
Rupanya kami harus berhadapan dulu dengan petugas keamanan yang berjejer di gerbang Jakabaring Sport City. Mereka bertugas memeriksa pengunjung Gelora, jangan sampai ada yang membawa Obat Terlarang, Miras, Senjata Tajam, Senjata Api, dan juga Korek Api. What??? Korek Api?

Kalau diperhatikan, sebenarnya ini peraturan bukan buat saya haha | Foto: MT
Ya, rupanya untuk masuk ke Jakabaring, aku harus merelakan rokok dan korek apiku disita sementara. Area Jakabaring seluas 350 Ha itu merupakan area dilarang merokok. Hm.. Gimana mau meliput kalau rokokku disita.
“Rokok itu salah satu senjata blogger perokok!” celetukku sambil berjalan bersama teman-teman menuju BUS BBG.
“Peraturannya begitu, bro!” Hibur Harris sambil cengengesan karena ia berhasil menyelipkan rokoknya entah di bagian tubuhnya yang mana.
“Nanti kalau keluar bisa diambil lagi, koq rokok dan koreknya.” Redam Musa, Jurnalis yang menjadi Guide kami.
“Tenang, gue ada!” Harris menepuk-nepuk kantong celananya yang menyembul sebentuk bungkus rokok.
“Bukannya korek apinya lu kasih Satpam, tadi?” Tanyaku.
“Ooh iya…”
“Ah, mau punya rokok satu truk tronton juga percuma kalo lu kagak punya korek!” Kami pun tertawa semua. Pertanda menerima apa adanya resiko sebuah pekerjaan, termasuk merelakan diri bekerja tanpa menghisap rokok. Resiko.

Banyak warga yang datang ke Gelora Jakabaring. Gratis! | Foto: MT
Sebelum masuk ke Jakabaring Aquatic Stadium, kami berpapasan dengan serombongan anak sekolah. Mereka berkaos Filipina. Ceria banget!
“Eh, itu anak-anak sekolah di Palembang, kan? Koq pake kaos tim negara lain?” Ucy membesarkan bola matanya. Untung ada kacamata yang menahan sehingga bola matanya tak nyeplos keluar.
“Saatnya kita bekerja. Ayo kita wawancarai anak-anak sekolah itu. Kita cari tahu, kenapa mereka sampai seperti itu!” Ajakku kepada teman-teman. Langsung saja kami menyebar. Ada yang mendekati anak-anak SMA berkaos Laos, Filipina, Myanmar, Thailand, Malaysia, Singapura, dan ada juga yang berkaos sekolahnya sendiri, sebuah SMPN di Palembang.

Pelajar yang turut memeriahkan SEAG Palembang | Foto: MT
Selesai wawancara dan wawancanda bersama anak sekolah, kami bergegas memasuki Jakabaring Aquatic Stadium. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Kami terlambat. Di dalam Gelanggang Renang berkelas dunia itu sedang dipersiapkan upacara penyerahan medali.

Situasi Jakabaring Aquatic Stadium | Foto: MT

Atlet Malaysia mau saja kufoto usai menerima Medali Emas dan Perak | Foto: MT
Tapi bagi blogger, tak ada pertandingan yang kami liput pun tak masalah. Tujuan utama kami datang bukanlah untuk meliput, tapi jalan-jalan, ngobrol, makan-makan, dan foto-foto. Ya. Itu sebenarnya tugas utama blogger hehehe… Nah, kalau setelah tugas utama selesai lalu terbit tulisan di blognya, itu mah wajar. Itu reaksi normal seorang blogger!
Sebenarnya masih mau kulanjutkan hingga perjalanan kembali ke Jakarta. Eh, Bogor. Tapi tulisan ini sudah mengandung 3422 kata. kuatir terlalu panjang. Kasihan blogger yang terbiasa membaca postingan 4 paragraf. Takut matanya lelah. Bagaimana kalau aku lanjutkan lagi, nanti?

Polwan juga ikutan nonton. Tapi kenapa yang satu tutup hidung ya?
| Foto: MT

Malamnya kami diajak makan di Riverside Restaurant di tepian Musi | Foto: Kau Tau Siapa?























iiih kereeen. saya juga tadinya dijadwalkan ikutan tuh. cuma tawaran ke Papua keburu datang, akhirnya batal deh ke Palembang dan Bali. wakakakak.
mana tulisan berikutnya nih?!!
[Reply]
MT Reply:
November 27th, 2011 at 20:45
Oh justru aku kepingin banget ke Papua. kalo ada ajakan gratis, ikutin aku ya bro!
[Reply]
MT Reply:
November 27th, 2011 at 20:48
“mana tulisan berikutnya nih?!!”
hehe… buat Indobrad, tulisan seperti ini rupanya masih kurang panjang. Ketahuan kalo gemar membaca.
[Reply]
Dari 3422 kata yang ada, cuma ini yang aku suka: “Kau Tau Siapa?”
salam persahablogan,
[Reply]
MT Reply:
November 28th, 2011 at 01:02
hehe “Kau Tau Siapa?” karena saya lupa namanya dan atau memang tak sempat kenalan
[Reply]
nyatet, hihi.
jadi gitu tugas blogger.
[Reply]
MT Reply:
November 28th, 2011 at 07:48
iyaaaa hahahaa
[Reply]
lengkap reportasenya…
eh mana oleh2nyaaa :p
[Reply]
MT Reply:
November 28th, 2011 at 15:10
hehe soal oleh-oleh ada cerita khusus… nanti ya
[Reply]
berkunjung sob..salam blogger
sukses selalu yah..
salam
[Reply]
wieh keren kang, kapan lagi ya bisa ngeliput moment seageam
eh itu pak polisinya update status kalu tuh. yg mana?. yang cowok di pojok itu..:) *salah fokus
[Reply]
MT Reply:
November 28th, 2011 at 20:14
hehe ya ada yg update status, ada juga yg hihihi… mungkin kentut atau ngupil
[Reply]
Mana reportase kulinernya hahaha.. Benteng Kuto Besak yang beralih jadi markas tentara tuh cocok ditulis
[Reply]