Anak Negara, Saran buat Lagu SBY

Tulisan kali ini merupakan lanjutan yang tak terkait langsung dengan tulisan Profesor Sjafri Mangkuprawira. Disebut lanjutan karena tulisan kami merupakan bagian dari program Rantai Cerita (Chainposting) Blogor (Komunitas Blogger Bogor) dengan topik Bogor. Program ini membagi 2 kelompok dengan masing-masing berjumlah 10 blogger. Sang admin menjerumuskanku dalam kelompok yang menulis sisi hitam Bogor. Pak Profesor sudah memulai lebih cepat dari dugaan (6/12). Sebagai urutan ke-2 dari 10 blogger, kutulislah topik ini.

Teman-teman yang sering melintas di jalan utama Bogor pasti sering bertemu dengan Anjal (Anak Jalanan). Tetapi maaf, aku rasanya tak sampai hati menyebut mereka sebagai anak jalanan. Sebutan seperti itu seperti menegaskan bahwa mereka harus selamanya hidup di jalanan. Makanya aku menulis judul tulisan ini dengan sebutan Anak Negara.

Ya, mereka itu sebenarnya anak-anak terlantar yang mestinya dipelihara oleh negara. Itu tertulis dalam Pasal 34 UUD 1945 “Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara.” Karena seharusnya dipelihara oleh negara, maka kuanggap pantas jika mereka disebut sebagai Anak Negara. Penyebutan sebagai Anak Negara kurasa lebih baik, lebih manusiawi, dan lebih memberikan harapan bahwa mereka akan benar-benar dibina, dididik, dimanusiawikan oleh negara kita.

Penyebutan negara berarti mulai dari Presiden hingga Lurah. Bahkan sepantasnya hingga tingkat Ketua RT (Retweet Rukun Tetangga). Negara seharusnya mempunyai program yang jelas dan manusiawi terhadap anak-anak mereka, anak negara yang saat ini masih terlantar di tikungan, di perempatan jalan, di lampu merah, di emperan toko, di terminal, di Bandara, di stasiun kereta, dan di pemukiman lainnya yang memungkinkan mereka numpang mencari makan.

Di Bogor mudah sekali kita temukan anak negara ini. Cobalah main ke sekitar Tugu Kujang. Mereka pasti sedang ngamen di angkot yang lalu-lalang. Cobalah ke belakang Terminal Baranangsiang ketika pagi sudah terlewatkan. Ada di antara mereka yang baru melangkah untuk berusaha. Sebagian besar baru kucek-kucek mata, menyisir rambut dengan jemarinya, dan numpang cuci muka. Di depan BTM (Bogor Trade Mall) mereka terlihat duduk santai berkelompok dan terpencar. Hampir di setiap persimpangan besar di Kota Bogor dan beberapa titik Kabupaten Bogor, mereka pasti ada.

Apakah anak-anak negara ini harus ditendang dan dikandangkan di rumah-rumah singgah? Apakah mereka harus mendekam di Penjara Anak-Anak? Apakah mereka harus dikeplak bahkan ditendang oleh petugas karena dianggap melanggar Peraturan Daerah No. 8/2009 tentang Ketertiban Umum?

Banyak orang yang memandang anak negara ini sebagai perusak keindahan kota, mengancam keamanan warga, penyebar bau tak sedap, dan ada juga yang memandang mereka sebagai anak punk yang merusak mata (pandangan). Anggapan seperti itu mestinya disikapi dengan bijaksana oleh negara.

Menyikapi biasanya dimulai dengan cara pandang. Jika selama ini kita memandang mereka seperti paragraf sebelumnya, perusak keindahan, dll. Mulailah memandang mereka lebih jauh lagi. Mereka adalah korban kemiskinan yang harus dibantu dan dientaskan. Mereka adalah korban keluarga yang rapuh karena kemelaratan. Mereka adalah korban orang tua yang tak sanggup membiayai pendidikan anaknya sejak dini.

Inilah sisi hitam Bogor (dan mungkin kota lain) yang kulihat, kutulis, dan kuharapkan ada aksi yang lebih manusiawi yang dilakukan oleh Pemerintah Kota/Kabupaten Bogor. Kalau Gubernur Jawa Barat mau menanggapi juga boleh. Kan kamu bagian dari negara juga. Eh, Kalau Susilo Bambang Yudhoyono mau menciptakan lagu baru karena realitas anak-anak negara ini, silakan saja. Kan, kamu Kepala Negara. ;P

SBY Bergitar | sumber: rakyatmerdeka

SBY Bergitar | sumber: cropping dari rakyatmerdeka

Tulisan sejenis ini akan dilanjutkan oleh kang Chandra Iman yang amat mencintai Bogor dengan “I Love Bogor”nya.


3 teman anda menyukai tulisan ini
Apakah anda menyukai tulisan ini ?

13 Responses to “Anak Negara, Saran buat Lagu SBY”

  • Kalo kita anak apa sebutannya?

    [Reply]

    MT Reply:

    kita bukan anak-anak lagi. jadi sebutannya rakyat aja hehe

    [Reply]

  • @ontohod: kita anak bapak ibu kita ;-)
    Dan inilah masalah yg terjadi negara kita dan negara berkembang lainnya. ;’(

    [Reply]

    rudigints Reply:

    tidak harus, jika negara kita mau mandiri dan punya harga diri

    [Reply]

    fachri Reply:

    jangan pakai istilah anak negara karena menurut UU no. 3 tahun 1997 ttg Pengadilan Anak, anak negara anak yg melakukan tindak pidana tidak dijatuhi hukuman tetapi dimasukkan kedalam suatu lembaga untuk dilatih sebelum dikembalikan ke masyarakat/orantuanya

    [Reply]

  • ya sama kok di sini, mereka hanya karena tidak bersekolah, dari orang tua yang tidak mampu membiayai anaknya bersekolah, jalanan jadi tempat pelarian mereka. dan ini tidak baek kalo tidak ditangani dg tepat

    [Reply]

    airyz Reply:

    setuju, harus ada tindak lanjutnya dari pihak terkait.

    [Reply]

  • YAH TANGGUNG JAWAB KITA SEMUA MEMANG.

    DAN TENTANG LAGU PAK SBY? EMANG SELAMA INI ‘ADA’ YANG TAHU LAGUNYA? PADAHAL ALBUM BELIAU SUDAH LEBIH DARI SATU. Hghghghghg :-p

    http://www.writebygn.blogspot.com

    [Reply]

  • emang sebuah realita yang tidak bisa di pungkiri,,masi banyak Anjal di berbagai kota,,yang lebih miris kalo ada penangkapan/sergapan mereka harus berjuang untuk hidup dan harus berjuang juga untuk selamat dari sergapan,,hemmh

    [Reply]

    MT Reply:

    sementara itu para wakil rakyat sibuk memperkaya diri dan melupakan janji-janjinya

    [Reply]

  • presiden sekaligus musisi bapak presiden kita yang satu ini:)

    [Reply]

  • Temanku yg kebetulan orang ‘bule’ pernah bilang gini (waktu ngeliat 1 org pengamen cilik di angkot 03), “Bugi, dia ngapain disini?” Saya jawab,”Dia mau ngamen so nanti kalau dia sudah selesai nyanyi, kamu kasih uang ya.” Komentar selanjutnya,”Wah, luar biasa ya, umur semuda ini sudah bisa mandiri, sudah bisa cari uang sendiri, sementara di negara saya, masih terlalu manja.” [anak jalanan dari sudut pandang yang berbeda ;-)]

    [Reply]

    MT Reply:

    sudut pandang yang menarik!

    [Reply]

Trackbacks

  •