Penjara Jabatan
Seorang temanku mengeluhkan sikap temannya yang kian tak menyenangkan. Dulu temannya itu akrab sekali dengannya. Kalau ada apa-apa pasti ngobrol dengan diselingi canda. Kalau minta tolong, tak menyiratkan ekspresi memaksa. Tapi semua itu berubah setelah temannya mendapatkan jabatan baru dalam sebuah partai yang digelutinya.
Sebutlah namanya Sukardus (biar nggak ada yang mirip). Beberapa jam setelah dilantik menjadi ketua Dewan Pengurus Wilayah partainya, ia langsung berubah sikap terhadap teman-teman sekampungnya. Cara jalannya berubah, tatapannya berubah, cara menjawab sapa temannya pun berubah.
“Aneh, sejak jadi pemimpin, koq Sukardus jadi bersikap formil terus.” Celoteh salah seorang teman Sukardus.
“Itulah, makanya kan udah gue bilangin sama lu. Jabatan itu bisa bikin orang jadi gila. Ya, kayak Sukardus itu!” Balas teman Sukardus yang lain.
“Kemaren, gue diperintah nyebarin brosur yang isinya ucapan selamat atas dilantiknya Sukardus sebagai Ketua DPW Partai Permesta (Penipu Rakyat Semesta). Dia nyuruhnya gak enak banget. Mukanya ditekuk, bibirnya dimemblein, trus tatapannya itu memicing gitu ke gue. Idungnya mekar!”
“Dia juga udah nggak mau lagi jalan bareng saya. Biasanya ngajak pulang bareng terus. Eh sekarang, pas udah punya mobil baru, nggak pernah lagi tuh ngajak bareng.”
“Nah! Itu dia! Baru sehari dia dilantik, eh fasilitas hidupnya langsung berubah. Mobil minta diganti yang baru biar terasa lebih pantas sebagai pimpinan. Minta Ipad, Blackberry, dan macam-macam. Itu ciri-ciri yang tak baik sebagai pemimpin.”
“Belum kerja udah minta fasilitas! Dasar Sukartun gak tau malu!”
“Tapi fasilitas itu buat DPW kan? Bukan buat pribadi dia?”
“ya, seharusnya pemimpin bisa membedakan kepentingan, antara dirinya sendri dengan lembaga/organisasinya.”
“Tapi setiap hari dia aja yang pakai itu fasilitas. Saya yang kerja seruangan nggak dikasih pinjam, sekedar buat lihat-lihat aja.”
“Apa katanya?”
“Dia bilang: Ini fasilitas pimpinan. Pimpinannya saya, jadi cuma saya saja yang boleh pegang.”
Obrolan di atas boleh jadi dialami oleh orang-orang yang merasa kehilangan temannya lantaran sebuah jabatan, baik politik maupun sosial. Yang dulunya akrab, bisa menjadi acuh karena merasa punya posisi yang lebih tinggi. Perubahan sikap tersebut disebabkan oleh ketidaksiapan dirinya untuk memangku jabatan. Hatinya lebih kecil dari pada tanggungjawabnya sebagai pemimpin.
Jabatan memang bisa memenjarakan orang yang bermental kroco. Posisi pemimpin yang semestinya strategis dan berdayajangkau luas, menjadi tak berarti karena sempitnya hati. Orang-orang seperti itu biasanya mudah terpedaya dengan godaan kepemimpinan. Apa saja godaan kepemimpinan?
Godaan kepemimpinan banyak macamnya, seperti korupsi, konspirasi, manipulasi, dan kolusi. Tetapi godaan tersebut justru tak dianggap sebagai godaan oleh orang yang menjabat. Mereka selalu punya alibi untuk membenarkan kesalahan yang dilakukannya. Bagi orang seperti itu, godaan kepemimpinan hanya ada satu: diturunkan dari jabatannya. Mereka akan berusaha mempertahankan diri untuk tak melepas kekuasaannya.
Agar kekhawatiran atas hilangnya jabatan, biasanya sejak awal baru menjabat mereka menggalang kekuatan dari berbagai lini sistem sosial politik di wilayahnya. Semua titik birokrasi akan didesain untuk mempertahankan “dinasti” keluarganya. Bagaimana caranya? Kalau sempat, tanyakan saja kepada mereka yang berkuasa di wilayah Anda masing-masing, atau kepada Sukardus yang terpenjara oleh jabatannya.
























Intinya dari itu sudah bisa ditangkap, banyak pemimpin sekarang memposisikan diri dalam komunikasi dengan orang selain atasan seperti itu. Semua akibat dari kurangnya properties orang yang bersangkutan, bias itu salah satu cara menghindar dari orang yang pertanyaan dan tuntutannya tidak bisa ia penuhi.
[Reply]
Aku juga kayak gitu. Setelah toko aku yang megang, sekarang anak buah papi pada gak mau lagi ngobrol ama aku. Sedih de
[Reply]
korupsi tuh yang utama kalo memimpin
[Reply]
kehilangan rasa dan jiwa persahabatan sangat tidak nyaman. jabatan memang tidak hanya jadi nikmat buat yang nerima tapi juga jadi cobaan bagi mereka. dan sangat sedikit, kata ustadz, yang bisa bersabar dengan cobaan yang mengenakkan
[Reply]
post sangat bagus n top markotop, ini gambaran orang utan zaman akhir yang selalu gila akan jabatan dan tidak ingat bahwa hidup di dunia ini bukan untuk enak enakan tapi di pertanggungjawabkan
[Reply]
Korupsi Harus Di berantas…..
[Reply]