Perkawinan Darah #9
Ini adalah fiksi yang kutulis bersama teman-teman sesama blogger. Kami tergabung dalam proyek penulisan #rantaicerita #PerkawinanDarah. Secara beruntun, cerita ini ditulis oleh @echaimutenan, @ari_dexter, @harrismaul, @juleahardy, @elafiq, @thianongnong, @aniRingo, @IndahJuli, @mataharitimoer dan @wkf2010. Cerita sebelumnya, bisa dilihat di sini. Selamat membaca.
“Mama! Mama!” Teriak Diego menyambut sosok perempuan cantik berdiri di depannya di balik pintu gerbang.
Perempuan cantik itu tersenyum. Diego hanya bisa melihat tak mampu memeluknya, “Mama!”
“Diego, kenapa kamu sayang? Bangunlah!”
Diego membuka matanya. Memutuskan kontak dengan alam mimpi. “Oh, mama! Aku merindumu sepanjang waktu!” gumamnya saat tersadar dan berbaring dalam dekapan hangat Lasmi.
“Kamu bermimpi, sayang?” Tanya Lasmi yang masih membenamkan Diego dalam dekapannya.
“Oh, Lasmi! Kenapa aku ada di sini. Kenapa kita bisa sampai di sini?” Diego tersadar. Ia duduk dan memerhatikan suasana kamar yang asing baginya. Kamar yang baru pertama kali ia masuki. Ia memerhatikan dirinya dan seorang perempuan cantik yang selama ini menguasai alam bawah sadarnya.
“Aku melihatmu mabuk di Kafe Doyong. Kamu terlibat pertengkaran yang dengan pelayan lalu jatuh terjerembab ke lantai. Aku membawamu, merebahkanmu di sini.”
“Oh, Lasmi…” Diego tak bisa berucap banyak. Hatinya mencelos menyaksikan dirinya berdua dengan Lasmi tanpa jarak sehelai rambutpun.
“Diego, maafkan aku yang telah menghanyutkanmu dalam samudra cinta.” Lasmi menunduk menutupi tubuhnya dengan selimut putih yang sebagian menutupi tubuh Diego.
“Oh, Lasmi…”
“Diego…”
***
Tiga bulan purnama Diego dan Ica telah menyatu bersama Lasmi sebagai keluarga.
Kakek Sutiman menuding Diego. “Bertahun-tahun aku mengabdi kepada Kakek hingga Ayahmu. Menjaga amanat mereka untuk melindungimu dari perempuan tak setia seperti ibumu. Tapi akhirnya kamu malah terjerat. Aku gagal!”
“Ibuku sudah mati, Kek. Lasmi bukanlah ibuku!” Diego
“Tapi dia anak darah daging perempuan yang dibenci oleh Tuan Diego. Dia akan menjerumuskanmu dalam penderitaan!”
“Tidak, Kek. Lasmi adalah adikku. Aku tak bisa memungkiri itu.” Tegas Diego.
“Biarlah Kek, Lasmi melengkapi kehidupan kami. Aku sebagai istri Diego tak mempermasalahkannya. Justru kehadiran Lasmi menyenangkanku. Aku punya teman ngobrol saat Diego bekerja.” Ica juga telah menerima kehadiran Lasmi sebagai adik iparnya.
“Tapi dia keturunan perempuan jahat! Pengabdi Setan!” Bentak Kakek Sutiman.
“Siapa yang mengabdi Setan? Lasmi perempuan yang baik. Ia tak punya siapa-siapa lagi. Suaminya kini mendekam di Nusa Kambangan akibat bisnis Narkoba yang dijalaninya. Lasmi hanya punya kami berdua. Jangan ikut campur urusan keluarga kami lagi!” Bantah Ica, yang sejak awal tak menyukai, bahkan cenderung takut jika melihat kelakuan Kakek Sutiman yang sering komat-kamit sendirian di depan rumahnya.
“Hati-hati perempuan bodoh! Kamu akan menyesal dengan apa yang kamu katakan tadi!” Telunjuk Kakek Sutiman mengarah ke wajah Ica. Selepas itu ia pergi sambil mengucap mantra berbahasa Jawa dan membuang ludah di beberapa suduh halaman rumah Diego dan melemparkan beberapa helai daun setanggi di pintu pagar rumah Lasmi yang berada tepat di depannya.
“Dasar orang gila!” Umpat Diego sambil merangkul Ica yang gemetar ketakutan karena dituding oleh Kakek Sutiman.
“Diego, aku takut melihat Kakek itu. Aku takut…” Ica memeluk Diego.
Sementara itu. Lasmi memerhatikan apa yang terjadi di halaman rumah Diego dari jendela rumahnya. Bibirnya tersenyum seperti Monalisa. “hm… Diego… Ica….” gumamnya.
***
Tengah hari di kala hujan. Halilintar menggelegar merobek langit kelam. Diego memarkir mobil dan bergegas lari memasuki rumahnya. Lasmi menelponnya agar segera pulang karena mendapatkan Ica yang menggelepar kesakitan.
“Ica!!!” Diego memeluk tubuh istrinya yang terbujur tanpa nyawa di sofa. Sisa muntahan darah berbusa masih menempel di bibir dan dasternya.
Lasmi membersihkan noda darah di bibir Ica dengan tissue. “Aku baru saja tiba dan melihat ia menggelepar seperti kerasukan setan. Aku takut dan langsung menghubungimu.”
“Oh, Ica. Kenapa jadi begini?!” Diego memeluk dan menciumi tubuh istrinya.
Lasmi menatap sebuah pigura besar yang tergantung di dinding. Wajah perempuan yang mirip dengan wajahnya. Bentuk tulang pipi yang sama, rambut hitam yang serupa. Perempuan dalam pigura itu seolah tersenyum untuk Lasmi.
***
Bagaimana akhir dari cerita ini? Sila baca pamungkasnya di blog WKF.
























Oh Lasmi……no!!!! kenapa kamu melabrak idealisme kamu, apa kata temanmu si Lita nanti
Diego kesenengan tuh ditolong Lasmi sampai berada dikamarnya :))
[Reply]
Yessssssss kembali serem seperti yang aku mauuu
[Reply]
Baiklah kalau itu maumu. Aku akan membuat Lasmi mengalami tragedi di Uluwatu nanti. ;D
[Reply]
shrey Reply:
December 18th, 2011 at 23:20
lanjutannya cepetan dong pak..:)
[Reply]
Keren banget, nggak sangka bisa jadi seperti ini ceritanya.
Bikin lagi yuk
[Reply]