Ngobrol bareng Mike Orgill
Di Mezzaluna Cafe, Kemang, Senin pertama di bulan ini (5/12) aku diajak ngobrol sama teman-teman para pegiat internet di Indonesia. Kami akan membincangkan “Kebebasan Berekspresi di Indonesia”. Acara santai dan akrab ini difasilitasi oleh ictwatch.com. Apa saja yang kudapat dalam rumpian di sana?
Untuk melanjutkan membaca, kuberi 2 pilihan. Jika mau langsung ke poin utama silakan abaikan tulisan yang kuberi tanda quote atau menjorok ke dalam, atau berada dalam area berarsir. Karena itu adalah area nggak penting bagi mereka yang nggak suka tulisan bertele-tele. Tapi bagi Anda yang lagi nggak punya kesibukan dan terbiasa menikmati kisah yang cukup panjang, silakan baca selengkapnya, setiap paragraf.
ini sekaligus mencontohkan, bahwa dalam menulis, kadang kita asyik menuliskan yang nggak penting-penting banget. hehe…
Dibandingkan dengan undangan lain yang masih menikmati kemacetan lalu lintas Jakarta, aku tiba paling duluan. Maklum, berangkat jam 5 sore dari Bogor, melintasi Tol Jagorawi yang lengang hingga pintu keluar Mampang Prapatan, belok kanan ke arah Kemang, pasrah dalam kenyasaran terbodoh karena nggak tau lokasi yang mau kutuju dimana, akhirnya sampai secara tidak sengaja di Mezzaluna.
Aku bilang Nyasar Terbodoh karena dalam perjalanan mendadak itu aku lupa selupa-lupanya, tempat pertemuan. Mencoba SMS teman-teman, seperti @banyumurti @ajengkol, dan lainnya, tak berbalas. Ah, aku coba buka laptop. Aku ingat, masih ada imel di Outlook.
Treereeeenggg…. Laptop terbuka. Wah, tapi baterai nya sudah low banget. Tampil pesan dari laptopku: “Woi, batre lu udah mau abis. Mending lu pasang chargernya!” Gimana mau masang, orang lagi di mobil. Cuek aja deh.
Kubuka Outlook dan membuka imel yang bisa menjelaskan kemana tujuanku. Tertulis dalam undangan yang dikirim oleh ictwatch: “Mezzaluna, Jl. Kemang Raya 118.” Sip!
“Kita ke Mezzaluna, di Kemang, Lux!” Kataku kepada teman yang rela mengantarku dengan Starlet tuanya.
“Dimana, tuh?” Alux pasti bingung. Lha, dia jarang ke Jakarta. Akupun bingung karena jarang sekali melintasi area Kemang.
“Tenang, kita lihat di google map!” Kubuka browser dan mencari lokasi Mezzaluna Kemang Raya No. 118.
“Nah, ketemu, nih! Nanti kita keluar Pintu Tol Mampang Prapatan, belok ke kanan jalan Ampera Raya, terus…”
“BLEPPP….” Laptopku mati
![]()
Aku tak mau mempengaruhi Alux yang bawa mobil. Kasihan banget dia, sudah nggak tahu jalan, eh tau juga tentang kebingunganku yang merayunya untuk ke Jakarta. Jadi aku langsung berimprovisasi, “Dari Ampera Raya, kita terus aja. Nanti belok kiri!”
“Belok kirinya dimana? Setelah berapa tikungan?” Tanyanya, standar.
“Ya, nantilah gue kasih tau! Sekarang kita siap-siap aja keluar Pintu Tol Mampang Prapatan, lalu ambil kanan arah Ampera!” Aku langsung membuka handphone, mencoba SMS teman-teman. Tapi masih tak berbalas. Wuih, terpaksa kubuka twitter dengan resiko, hapeku hang! Maklum, namanya juga SmaputPhone, dipaksa merambah dunia maya sebentar aja, langsung jetlag :))
Di TL (linimasa/linikala) kulihat celoteh mbak @ajengkol, “Koq MT nggak bisa ditelepon ya?” Ah rupanya mbak Ajeng peduli padaku namun terkena kendala teknis. Ya, teknis pada hapeku sepertinya. Sudah sering koq teman-teman gagal nelpon ke hapeku meskipun hapeku nyala senyala-nyalanya. @banyumurti akhirnya SMS, tapi cuma bilang, “otw”. Yang begini mungkin dosa indirect dari operator telepon. Kubaca detil SMSnya, seharusnya sudah kuterima sejak 15 menit sebelumnya. Kadang jaringan telepon nggak sadar kalau keterlambatan kerjanya bisa membuat konsumen terjebak masalah.
“Sekarang kita udah di Ampera raya, nih. Terus kemana? Kiri? Kiri yang ini atau yang depan sana nanti?” Tiba-tiba alux bertanya. Pertanyaannya mengejutkanku karena nggak nyangka bisa sampai lebih cepat dari yang kuduga.
“Ng…. terus aja!” jawabku mengandalkan sedikit ingatan yang kulihat sebentar di googlemap.
“Nah, sekarang kemana nih? Belok kiri di sini, atau masih lurus agak ke kanan?” Tanya Alux lagi.
“Mm…. Ke kiri deh sekarang!”
“Bukannya lurus/kanan?”
“Kiri! Nanti kalo kita ketemu Habibie Center, berarti kita berada di jalan yang benar.” Jawabku ngasal.
“Wah, ngaco luh! Jalan yang bener tuh cuman Sirothol Mustaqim!” Maklumlah, alux ini ustadz di Pesantren Daarul Uluum, jadi wajar kalau dia menyalahkan perkataanku yang kurang tepat.”
“Maksud gue, kita benar di jalan Kemang Raya.”
“Tuh, Kemang 88!” Alux menunjuk ke arah kiri jalan.
“Wah, bener tuh! Akhirnya!” Kamipun parkir.
Kami berdua memasuki mall kecil berlantai 3 itu. Menyusuri lantai demi lantai. Tak kami temukan tempat bernama Mezzaluna.
“Memang alamatnya Kemang Raya no. 88?” Tanya Alux.
“eng… Lupa. Tapi kalo nggak salah sih, ada angka 8nya.” Jawabku sambil melangkahi anak tangga dari lantai 2 ke 1.
“Payah lu, ah! Kalo ada angka 8, bisa 108, 118, 188, 818. 811, 801, 81, 80.” jawabnya sambil keluar, duduk di air mancur dan menyulut sebatang rokok.
“Tenang aku lihat imel lagi di Hape.” Kubuka hapeku untuk membuka gmail. Tapi malang nasibku, hapeku mati. Nggak mau nyala lagi akibat lupa nge-cas semalam.
Akupun bertanya ke Satpam Kemang 88, “Mas kalo jl. Kemang Raya no. 188 di sebelah mana, ya?” Tanyaku yang tiba-tiba saja terucap 188.
“Wah, nomor di sini nggak berurutan, mas. Acak-acakan.” Jawab petugas Satpam itu. Jiah, kacau deh. Padahal sudah jelang jam 6 sore. Rasa tak enak karena takut terlambat mulai menjalari perasaaanku.
“Ya sudah, lu tunggu di sini aja, gue tanya sama orang lain di luar atau pinggir jalan sana!” Saranku buat Alux yang masih asyik nglepus. Tapi ia tak mau menunggu di pelataran Satpam Kemang 88. Ia malah mengikutiku mencari alamat.
Kira-kira 20 meter aku berjalan meninggalkan Kemang 88. Ada seorang lelaki berdiri di tepi jalan. Kutanya, “Pak, maaf, numpang nanya. Kalo mau ke Kemang Raya no. 188 dimana ya?”
“Kemang 188? Wah nggak tau tuh. Emang mau kemana sih? Ke tempat apa?”
“Ke….” Agak lupa aku….
“Mezzaluna!” Bantu Alux
“Oh, Mezzaluna. Nah, gini, mas. Tuh, lihat plang di belakang Mas. Baca deh!” Tunjuk lelaki itu ke arah belakangku.
Ku baca plang yang dimaksud. “M e z z a l u n a”…. Kuperhatikan bangunannya, juga ada tulisan “Mezzaluna”.
“Wah, makasih ya pak!” kujabat erat tangannya. Lelaki itu melanjutkan urusannya, nyebrang jalan.
![]()
“Dasar, luh! Yang lucari ada di depan kita! Udah lu masuk aja! Biar gue yang pindahin mobil dari Kemang 88 ke sini.” Alux langsung bergegas.
Perbincangan dimulai hanya antara aku, alux, @tjatur dari ictwatch, Onno W. Purbo, Mike Orgill dari Google, dan satu temannya asal Hongkong, yang aku lupa namanya. Dia seorang profesor muda, katanya. Kami ngobrol ngalor-ngidul sambil menunggu undangan lain yang belum sampai.
Mike Orgill adalah Country Lead, Public Policy & Government Affairs, Southeast Asia di Google. Ia dan temannya banyak bertanya tentang pekerjaanku, aktifitas blogging, dan kebebasan berekspresi menurutku. Mas Tjatur dan Kang Onno menjadi penerjemah yang baik. Mike sempat berceloteh.
“Nama saya di Indonesia jadi lucu: Orgil, orang gila, hahaha” Ia menertawakan dirinya sendiri. Tapi yang kusalut darinya bukan candanya, tetapi usahanya untuk berbincang dengan bahasa Indonesia sudah sangat bagus. Hampir menyamai pak Phillip dari @atamerica.
Mike agak terkejut juga ketika mengetahui aktifitas utamaku ngeblog. Ya, memang itulah nyatanya. Kubilang padanya, aku tak bekerja fulltime di sebuah lembaga atau perusahaan. Aku lebih terikat dengan pekerjaanku sebagai blogger. Sedangkan pekerjaan lainnya memang bersifat sampingan, alias freelance.
“Cowok Panggilan!” Alux nyeletuk sekaligus menjelaskan tentang banyak dan beragamnya panggilan untukku dari berbagai lembaga pendidikan, perusahaan, maupun restoran.
“Ya, begitulah. Tadi siang aku baru deal dengan sebuah restoran di Bogor yang memintaku menjadi manajer online marketing.” Tambahku.
“Wah, gila juga dia. Ngaku cuma ijazah SMP tapi proyeknya online marketing bro!” sembur Kang Onno.

Mike Orgill from Linkedin
Saat undangan sudah cukup lengkap, obrolan santai sambil makan malam dimulai. Satu persatu Tjatur memperkenalkan para undangan. Selesai itu, ia memberi pengantar tentang tujuan perbincangan ini adalah untuk mengetahui dari beberapa orang tentang kebebasan berekspresi di Indonesia.
Paling tidak, informasi yang dibutuhkan oleh Mike Orgill dan temannya itu bisa mereka dapatkan. Hampir semua undangan berbicara dan menjawab segala hal yang ditanyakan oleh Mike dan temannya. Duh, gue lupa siapa namanya!
Di sela istirahat. Aku nyamperin Mike untuk berkonsultasi tentang masalah yang aku alami tentang layanan google trends. Aku sempat kesulitan menemukan data tentang trend pencarian di Indonesia beberapa bulan ke belakang. Mike langsung menjawab dan melakukan simulasi google trends dengan handphonenya. Cukup jelas arahan Mike buatku.
Tetapi ada satu tambahan yang kudapat dari Mike, yaitu tentang Google Correlate. Sejujurnya, aku baru mengetahui tentang layanan google yang ternyata lebih powerfull dari google trends. Mike pun melakukan simulasi google correlate. Ia ingin memprediksi tentang Flu di Amerika. Dengan Google Correlate, ia bisa mendapatkan data tersebut. Wah, hebat!

capture google correlate by MT
Nah, selain tentang kebebasan berekspresi, nilai tambah yang kudapat dari Mike Orgill, yang juga jebolan Stanford University dan International School of Kuala Lumpur, adalah tentang layanan google correlate. Thank Mike!























jihiahahhaha, sebelum pergi ada baiknya semua gadget di charge dulu nih kayaknya
[Reply]
MT Reply:
December 21st, 2011 at 19:25
yiaaah, itulah pesan moralnya! hehe
[Reply]
sip, dpt ilmu baru hr ini. thx
[Reply]