Murid SD Dijejali Video Asusila via Facebook
Bermula dari curhat orang tua murid sekelas anakku, tentang facebook anaknya yang dijejali video asusila, digaraplah dengan mendadak penyuluhan internet sehat untuk murid kelas 6 Sekolah Dasar. Dibilang mendadak, karena curhatnya baru kuterima Rabu pagi. Langsung kutemui wali kelas dan guru TIK di SD tersebut agar mengambil sikap bijaksana terhadap kasus tersebut. Hasilnya, Kamis pagi kami akan memberikan penyuluhan berinternet dengan sehat dan terjaga.
Karena Rabu siang hingga malam aku masih punya agenda pertemuan dengan rekan Bugi Sumirat untuk membahas konservasi lingkungan, ke BRI untuk menyelesaikan urusan pendanaan kegiatan ICDW, dan malamnya nge-date sama Harris Maulana untuk mempersiapkan video Kebebasan Berekspresi, baru Kamis dini hari aku sempat memodifikasi materi internet sehat dari www.ictwatch.com agar bisa dicerna untuk kalangan SD kelas 6.

Anak-anak SD 06 di Bogor | Foto: Dokumentasi Sekolah
Memang, sebenarnya usia kelas 6 SD belum memenuhi syarat (Usia 13 tahun) untuk fesbukan. Tapi, inilah fakta betapa anak-anak SD sudah banyak yang keranjingan facebook. Seperti yang kudapatkan saat membuka penyuluhan, kutanya, “Siapa yang nggak punya facebook?” Dari 44 anak, hanya 7 anak saja yang angkat tangan. Sisanya, hanyut dalam arus media sosial akibat ketidaktegasan orang tua dalam menyikapi keinginan anaknya untuk fesbukan.
Beberapa orang tua yang ikut hadir secara jujur bicara, dirinya terpaksa punya akun facebook karena anaknya sudah main facebook duluan. Dengan cara itu ia bisa menjadi “friend” anaknya. Terang-terangan maupun tersembunyi. Kebanyakan orang tua malah nggak tahu, makhluk apakah facebook itu. “Kirain model handphone terbaru!” ceplos salah satu dari orang tua yang kujumpai.
Materi internet sehat kali ini memang lebih difokuskan tentang bagaimana berjejaring sosial secara sehat dan terjaga. Kupandu juga agar mereka mengetahui cara untuk menyetel privasi akunnya. Dari 37 anak yang punya akun facebook, hanya satu anak saja yang angkat tangan ketika kutanya, pernahkah membuka “Privacy Setting”. Mengenaskan, memang.
Itulah realitas bahwa anak-anak kita banyak yang ikut-ikut menggunakan teknologi, tanpa mengetahui bagaimana mengelola teknologi yang dipakainya. Banyak anak-anak kita yang tidak lebih cerdas ketimbang smartphone yang ditentengnya kemana-mana.

Penggunaan smartphone menyalip desktop | digitalbuzzblog(dot)com
Selain tentang dampak jejaring sosial, aku juga sampaikan tentang beberapa anak yang banyak menghabiskan waktunya di Warnet untuk bermain game. Ketika kutanya soal ini, hanya 4 anak saja yang mengaku tak pernah ke Warnet untuk bermain game. Ya. Semua sudah tahulah, kalau Warung Internet yang digadang-gadang menjadi wahana pencerdasan masyarakat, justru berbalik arah menjadi arena bermain game. Ini salah siapa? Nggak tahulah. Aku tak bisa menyalahkan AWARI, Ketua Lingkungan dimana Warnet bercokol, maupun para pendidik. Pemerintah? Jiaah, buang-buang waktu saja aku meminta perhatian mereka.
Yang paling pantas untuk dilakukan dalam ketidakpedulian pemerintah terhadap dampak Warnet adalah, ketegasan kita sebagai orang tua untuk menjalin kepercayaan terhadap anak. Jangan sampai anak menjadi penipu cilik yang bilangnya ke warnet untuk mencari tugas sekolah, tetapi malah menyelesaikan level game yang tertunda.
Usai penyuluhan Internet Sehat, aku masih berbincang dengan guru TIK. Terutama tentang kondisi Laboratorium Komputer di sekolah tersebut. Di ruang tempat pelaksanaan penyuluhan itu, hanya ada 7 Unit Personal Computer. Kebayang banget, bagaimana gurunya sibuk mengatur antrian ketimbang fokus memberikan pengajaran TIK. Rupanya fakta tersebut memang menjadi keluhan sang guru TIK.
“Di Bogor Timur ini, hanya sekolah-sekolah mahal yang punya lab komputer lengkap, pak.” terang pak Guru. Ia juga membeberkan tentang hambatannya dalam mengajar TIK dengan keterbatasan tersebut. Pak Guru juga menyampaikan gagasan untuk membuat proposal meminta bantuan pemerintah agar setiap sekolah dasar memiliki fasilitas lab komputer yang layak. Bukan cuma layak dipandang mata, tetapi juga layak digunakan.
Pernah sih, ada program bantuan TIK senilai 13 Juta. Tetapi paketnya cuma berisi e-book buku pelajaran saja. Miris banget mendengar ceritanya tentang e-book senilai 13 juta. hehehe…. 13 juta!
Ini memang soal lain. Seperti biasa, aku sering ngelantur kalau menulis. Tetapi lanturanku ini nggak mengada-ada koq. Kita sudah sama-sama paham tentang program bantuan sekolah yang biasanya disunat mulai dari tingkat kementerian hingga dinas pendidikan. Belum lagi disunat broker proyek bantuan. Ini lagu lama! Bukan lagu baru, masih tentang korupsi di berbagai sisi kehidupan. Semoga pak Presiden meluncurkan album terbaru tentang korupsi di dunia pendidikan. Siap, Mas Bey? #eeaaa























ebook 13 juta? jangan-jangan isinya Kho Ping Ho edisi mewah dan komplit nih
[Reply]
MT Reply:
December 22nd, 2011 at 14:08
gue juga mau tuh Kho Ping Ho edisi lux yang kayak di rumah lu! hahaha
[Reply]
Kalo pendidikan moral memang semestinya dari lingkungan keluarga dulu ya kang
[Reply]
MT Reply:
December 22nd, 2011 at 16:37
setuju, mas Trisno. dari situlah di mulai
[Reply]
ikut prihatin nih, apalagi liat foto anak2 SD diatas gregetan liat pose tangannya (F***), sy yakin mereka ga ngerti maknanya.. masalah lab yang kurang lengkap di sekolah mungkin bisa diusahakan kerjasama dengan warnet. e-book yg 13 juta? gede ongkos kirim nya boss..
[Reply]
13 juta???? *kamera zoom in zoom out*
[Reply]
MT Reply:
December 22nd, 2011 at 16:37
wakaakaaaaa masih kecil itu, 13 jeti. ada yg lebih parah koq
[Reply]
Miris saya bacanya, sampe merinding, mmg benar mas, kenyataanya skr anak2 SD udah bnyk yg tau ttg pornografi apalagi anak perkotaan.
[Reply]
yah begitulah negara kita tercinta ini…
[Reply]
gimana kalau di coba masukin ini http://www.raspberrypi.org.
murah meriah teorinya.
cukup buat ngetik, internetan cuma 25USD
[Reply]
korban kemajuan zaman
[Reply]
Tekhnologi yang maju juga pemikiran anak yang tingkat ingin tahunya tinggi perlu penyeimbangan bimbingan dan pengawasan dari orangtua atau keluarga dirumah, dan orangtua harus bekerja keras untuk selalu melihat perkembangan anaknya tanpa mendikte agar tidak jadi penipu cilik seperti yg kang MT paparkan diatas.
Peran terbanyak dalam hal ini adalah orangtua dan keluarga.
[Reply]
Masih SD udah punya fesbuk? Orang tuanyalah yang harus disalahkan.
[Reply]
kita para orang tua harus lebih hati2 dan waspada dlm menjaga anak2…terutama dalam hal memeberi arahan/pengertian….
[Reply]