Anakku Bingung
Siang itu aku menjemput anakku pulang sekolah. Biasanya ia selalu ada di balik pagar SD saat aku memarkikan si Tunggir, motor andalan. Lima menit kemudian, ia datang dari arah tempat tukang jajanan mangkal. Raut wajahnya tampak bingung. Ada apa dengan anak lelakiku yang masih kelas 1 SD ini?
Kutanyalah ia, “Kamu habis jajan di sana, tadi?”
“Tadi aku ke koperasi sekolah, tapi tutup. Terus aku ke bawah, tapi nggak jadi jajan.” Jawabnya murung.
“Lho, kenapa?” Tanyaku sambil menekan tombol start si Tunggir dan meminta Raztan naik di depanku.
“Bingung, Yah.” Jawabnya sambil nyemplak si Tunggir.

raztan lintang wairagya
Kulanjutkan perbincangan dengannya sambil mengendarai si Tunggir, santai. Rupanya kebingungan anakku dipengaruhi oleh tayangan televisi yang sering kami tonton bersama pada sore hari di akhir pekan. Acara Reportase Investigasi dari TransTV membuka wawasan pemirsa tentang makanan keluarga maupun jajanan anak-anak yang mengandung boraks, formalin, rhodamin, bahkan lilin.
Sebenarnya bukan hanya anakku. Aku sendiri jadi takut jajan sembarangan setelah menonton acara yang diputar setiap sabtu-minggu sore itu. Bukan cuma takut, tapi trenyuh dan bingung. Pernah pada satu episode, diangkat tentang beras yang memakai bahan pemutih berbahaya. Beras, gitu loh! Parah banget, kan!
Memilih tempat belanja pun jadi harus teliti. Bahkan di tempat belanja besar seperti Carrefour, Gelael, dan Pasar tradisional, BPOM banyak menemukan makanan dan minuman mengandung boraks, formalin, dan rhodamin. Payah banget, kan? Lalu bagaimana kita bisa belanja dengan aman?

“Tadi pagi temanku beli gulali. Aku bilangin kalau itu bahaya. Tapi dia bilang enak.” Cerita Raztan saat kami sampai di depan rumah.
“Memang sih, tidak semua penjual Gulali berlaku curang, Tan. Tapi menurut ayah, sikap kehati-hatianmu itu bagus. Kamu hebat!” pujiku.
“Kemarin di koperasi sekolah, aku lihat ada permen yang ada hadiahnya. Itu kan sama seperti di Reportase Investigasi. Duh, aku jadi bingung kalau mau jajan.” Keluhnya.
“Ya, lebih baik uangnya dikumpulkan. Nanti kita beli bahan makanan sendiri. Kita masak bareng-bareng. Kan lebih seru. Ya nggak?” Bujukku.
“Oke!” Jawabnya kembali ceria, “Bikinin aku omelet telur yang kering di luar tapi mencair di dalam, Ya! Kayak di acara 26 hour/days”
Halah, request!
Tentang boraks dan formalin, sila baca di sini.























anaknya cerdas bang..
tapi mmg acara spt it bagus untk mmbuat kita waspada trhdp anak, alangkah baiknya, anaknya di bawain bekal.
Aku smpe kuliah juga trkdg suka bwa bekal kok :p
[Reply]
MT Reply:
January 4th, 2012 at 14:07
nah, itu tuh, bekal. aku jarang sekali membawanya saat kecil dulu
[Reply]
cerdas…
[Reply]
MT Reply:
January 4th, 2012 at 14:07
cermat
[Reply]
didikan bapanya ini mah…
[Reply]
MT Reply:
January 4th, 2012 at 14:07
hehehe didikan TV ;P
[Reply]
ontohod Reply:
January 4th, 2012 at 14:29
Bapanya yang suka nonton tipi
[Reply]
MT Reply:
January 4th, 2012 at 15:30
hehehee karena itu, jangan asal membenci TV, tonton saja yg bermanfaat
Kasihan benar anakmu kang
[Reply]
MT Reply:
January 4th, 2012 at 14:07
kasihanilah bapaknya! hahaha
[Reply]
anak kecil bisa bersikap seperti itu ya, keren, biasanya sih kebanyakan anak kecil, kalau sedang pengen ya pengen saja
[Reply]
MT Reply:
January 4th, 2012 at 14:06
mungkin itulah pengaruh positif nonton TV ya
[Reply]
cerdas, bisa pilih2 makanan
[Reply]
MT Reply:
January 4th, 2012 at 14:06
ya, biasa diajarkan untuk selektif. terima kasih
[Reply]