Cogito Ergo Sum 3D

Ini sebuah cerita santai tentang tiga orang karyawan bernama Diding, Dudung, dan Dadang. Bolehlah disebut 3D. Nggak perlu serius-serius amat membaca tulisan lamaku ini. Sekedar bacaan ringan untuk mengisi kepenatan saat Anda terjebak macet atau jenuh di tengah pekerjaan. Cerita ini terinspirasi oleh pernyataan Rene Descartes: “Cogito ergo sum“.

Ungkapan seorang filsuf dari Perancis ini kurang lebih artinya adalah: “aku berpikir maka aku ada”. Maksudnya kalimat ini membuktikan bahwa satu-satunya hal yang pasti di dunia ini adalah keberadaan seseorang sendiri. Keberadaan ini bisa dibuktikan dengan fakta bahwa ia bisa berpikir sendiri.

rene descartes. sumber silakan klik gambarnya - stat.ks.kidsklik

rene descartes. sumber silakan klik gambarnya - stat.ks.kidsklik

Kalau Descates merasa eksistensinya ada ketika berpikir, ada juga orang yang merasa eksistensinya ada kalau, misalnya, memiliki kekuasaan walau kecil. Hal ini pernah terjadi di sebuah perusahaan. Ada seorang yang mendapatkan kepercayaan untuk menjadi penanggungjawab sebuah ruang publik. Dalam ruang publik tersebut, terdapat beberapa buku perpustakaan dan juga perangkat audio visual. Ruang tersebut disediakan oleh manajemen agar seluruh karyawan dapat mengakses fasilitas untuk meningkatkan kualitas pengetahuan dan keterampilan mereka. Satu orang yang menjadi penanggungjawab ruang tersebut tentunya memegang kunci pintu.

Beberapa orang karyawan merasakan. Dulu, waktu penanggungjawab baru itu belum ada, mereka bebas masuk ke ruangan tersebut untuk meng-update pengetahuannya. Mereka bisa memasuki ruangan yang penanggungjawab lamanya selalu siap di tempat. Bahkan ketika hari libur, para karyawan tetap bisa masuk ke ruangan tersebut dengan meminjam kunci ruang. Manajemen tak pernah keberatan dengan karyawan yang memanfaatkan hari liburnya untuk berkunjung bahkan berlama-lama di ruang publik. Karena manajemen yakin, kehadiran karyawan dalam ruangan tersebut justru akan memberikan dampak positif bagi pengembangan SDM perusahaannya.

Kini karyawan yang biasa mengisi hari liburnya dengan berlama-lama menikmati fasilitas upgrade diri itu merasa resah. Mereka sudah tidak dapat lagi berlama-lama memakai fasilitas di ruangan tersebut karena penunggunya barunya memberikan batas waktu pemakaian agar dia bisa melakukan aktifitas lain di luar tanggung jawabnya. Bahkan, untuk mengisi hari libur dengan “ngendon” di ruang tersebut merupakan impian belaka. Sang pemegang kunci yang baru sangat keberatan kalau harus meminjamkan kunci ruang publik tersebut kepada karyawan, kecuali kepada beberapa karyawati yang ramah terhadapnya.

Suatu hari, salah seorang karyawan, sebut saja namanya Dudung, menemui pemegang kunci ruang publik itu. Namun Diding, pemegang kunci itu tidak memberikan kunci yang dimaksud dengan alasan hilang. Hari yang lain, Dadang, temannya Dudung, meminjam kunci pula kepada Diding. Tapi kali ini alasan Diding, kuncinya tertinggal di rumah jadi tak bisa meminjamkan barang yang dimaksud Dadang.

Di kantin, Dadang berdiskusi dengan Dudung tentang misteri kematian teroris yang beroperasi di Indonesia. Mereka saling berdebat antara yakin atau tidak kalau yang mati itu adalah sang teroris. Saat mereka sedang berdebat, lewatlah Layu Azhari, salah seorang karyawati tercantik di perusahaan itu. Perempuan itu menengahi Double “D” agar mencari informasi valid di ruang publik saja.

Langsung saja Dudung, salah seorang dari double “D” itu menceritakan kegagalan demi kegagalannya dalam meminjam kunci. Sebab kesibukan kerjanya tak memungkinkan untuk bisa ke ruang publik pada jam-jam normal seperti beberapa karyawan lainnya. Begitu juga Dadang. Ia menyatakan kalaupun ada di ruang publik, ia merasa tidak nyaman karena Diding sering memintanya cepat-cepat keluar karena ia mau mengunci pintu ini untuk segera pulang. Layu Azhari menyatakan kalau ia dan beberapa temannya selama ini tak pernah sesulit itu untuk meminjam kunci, bahkan pada malam hari. Ia merasa karena ia cantik, jadi Diding selalu bersedia memberikan kunci atau bahkan menemaninya mengakses fasilitas di ruang publik.

Layu Azhari adalah salah satu karyawati yang selalu yakin kalau dirinya cantik. Ia tak malu-malu menyatakan kecantikannya di depan publik. Terutama di ruang publik. Ia berprinsip “Aku cantik maka aku ada”. Lantas Dudung mulai menyatakan prasangkanya tentang Diding di kantin itu. Menurut Dudung, Diding itu adalah tipe orang yang memiliki karakter “Aku pegang kunci, maka aku ada!”. Itu dia buktikan dengan membeberkan sikap Diding yang seolah-olah merasa jadi orang penting saat dicari-cari oleh orang yang mau meminjam kunci ruang publik.

Dudung masih belum puas. Ia bahkan menambahkan episode ceritanya tentang Diding. Kali ini berkisah tentang ketidakadilan sikapnya terhadap karyawan dan karyawati dalam hal meminjamkan kunci.

Episode itu berlanjut dengan penilaian-penilaian negatif Dudung terhadap Diding yang dikemas dalam sebuah cerita yang memikat. Dadang, yang duduk di sebelah Dudung, ikut menambah-nambahkan cerita temannya tentang orang yang sama-sama tak disukainya. Ternyata Dudung ini adalah tipe orang yang memiliki prinsip, “Aku ngegosip maka aku ada”, sedangkan Dadang bertipe, “Aku terprovokasi, maka aku ada”.

Sementara itu ada juga beberapa karyawan yang senang menguping obrolan the Double “D” plus Layu Azhari. Mereka itu mungkin merasa “Aku nguping, maka aku ada”. Tapi ada juga yang masa bodoh dengan apa yang terjadi di kantin hari itu. Ia berprinsip, “Aku cuek, maka aku ada”. Bagaimana dengan Diding, orang yang jadi bahan gosip?

Ternyata Diding sebenarnya ada di ruang itu juga. Beberapa detik sebelum Double “D” itu datang, Diding sedang sibuk mencari kunci ruang publik yang terjatuh. Diding sebenarnya ada di kolong meja, tempat Double “D” plus Layu Azhari diskusi. Ternyata Dudung salah menilai Diding. Diding sebenarnya orang bertipe, “Aku ngumpet, maka aku ada” :)


1 teman anda menyukai tulisan ini
Apakah anda menyukai tulisan ini ?

8 Responses to “Cogito Ergo Sum 3D”

Trackbacks

  •