Sales Harus Pandai Memperdaya
Judul di atas adalah kesimpulan saya sendiri setelah menyaksikan aksi sales yang menjajakan produk di Mall. Mereka adalah orang-orang yang gajinya kecil. Bahkan tidak sedikit yang penghasilannya di bawah UMR (Upah Minimum Regional). Untuk mendapatkan penghasilan yang sedikit lebih baik, mereka diajarkan untuk bisa memperdaya calon konsumen agar membeli produk dengan berbagai cara. Salah satunya adalah memperdaya, yang oleh orang awam biasa disebut menipu.

Siang itu di Belanova Sentul, kuperhatikan sales girl mendekati seorang ibu. Ia menyapa ibu tersebut dengan sapaan yang mengejutkan dan bahkan memikat, “Selamat ya, Bu! Ibu mendapatkan hadiah berupa alat pijat elektrik model terbaru dari perusahaan kami”. Sang Ibu terperangah dan memerhatikan alat pijat yang sudah berada dalam genggamannya.
Selanjutnya sales tersebut mengajak “korbannya” menuju counter perusahaannya. Di sana, ia meminta KTP dengan alasan untuk mencatat nama ibu tersebut agar tidak mendapatkan hadiah dobel. Masih dalam keterkejutan, ibu tersebut memberikan KTP-nya dan menandatangani selembar formulir.
“Ibu ini beruntung sekali. Kami akan memeragakan produk-produk terbaik kami. Ini adalah kompor listrik yang sangat aman dan irit. Kami baru menjual produk ini minggu depan. Tapi jika ibu berminat, saat ini harganya cuma 5 juta. Lebih murah dibandingkan minggu depan, lho bu. Bukan cuma itu, bu. Ibu kenal Farah Quin? Bulan depan ia akan mengadakan demo masak di Botani Square dengan menggunakan kompor produk kami ini. Pastinya ibu mau dong bertemu Farah Quin?”
Sang ibu yang kuduga mengenal dan mungkin mengidolakan Farah Quin itu sepertinya mulai tergoda. Ia tak berpikir kalau sales itu sekedar menyebut nama Farah Quin saja. Belum tentu kabar itu benar. “Kapan demo masaknya?” Tanyanya.
“Nah, kalau ibu tertarik, ibu bisa mendapatkan undangan demo masak Farah Quin. Tapi tidak semua orang bisa mendapatkan undangan ini lho, bu. Kami akan mengundinya dulu. Nah, sekarang ibu silakan pilih salah satu dari kartu ini. Siapa tau ibu beruntung mendapatkan undangan.”
Sang ibu pun menarik satu dari beberapa kartu yang dibeberkan sales girl tersebut.
“Yup! Ibu ini hoki banget! Ibu berhasil mendapatkan voucher senilai 1.2 Juta untuk membeli produk kami. Saya pikir tak masalah ibu tak mendapatkan undangan, tetapi ibu dapat ganti yang hebat banget, voucher 1.2 Juta. Susah lho, bu mendapatkan keberuntungan seperti ini. Biasanya orang-orang cuma mendapatkan voucher senilai 700 ribu. Ibu memang beruntung! Selamat ya Bu.”
“Terus gimana caranya saya dapat barang itu? Saya mau buru-buru nih, dek. Anak saya sudah menjemput dan menunggu dari tadi di luar.” Sang ibu sepertinya sudah mulai tak terpikat.
“Sabar dulu, bu. Jarang-jarang lho ada yang dapat keberuntungan seperti ibu. Begini, bu. Ibu bisa mendapatkan hadiah lainnya. Silakan ibu gosok kartu ini. Jika ibu beruntung, ibu bisa dapat hadiah tambahan dari kami.”
Sepertinya ibu itu tak ingin berlama-lama. Ia menuruti bujukan sales untuk menggosok bagian belakang kartu dengan uang logam. Seperti saat kita menggosok kartu voucher telepon.
“Wah, ibu memang sangat beruntung. Selamat, bu! Ibu mendapatkan special bonus berupa 4 produk kami gratis! Silakan ibu pilih!” Sales tersebut mengarahkan tangannya pada beberapa produk yang dipajang di counter.
“Ya, sudah kalau begitu saya ambil sekarang saja. Saya mau buru-buru nih, dek.” Pinta sang ibu.
“Oya, bu. Semua barang ini bisa ibu dapatkan gratis. Ibu hanya perlu membayar pajaknya saja. Murah koq bu. Pajaknya cuma 9 juta lho, bu.” Bujuk sales girl yang lumayan cantik itu.
“Oh, kalau harus bayar pajak, ya percuma saja, dek. Apa lagi sampai 9 juta. Itu sama aja tak mendapatkan gratisan. Sudahlah, dek. saya tak punya waktu melayani omong kosong adek. Maaf, ya. permisi!”
Sales girl itu pun cemberut. Ia gagal memperdaya “korban”. Tetapi lumayan juga sih, paling tidak ia sudah mendapatkan tanda tangan “korbannya” tadi untuk laporan kepada atasannya.
Begitulah. Rupanya sales zaman sekarang harus pandai memperdayai orang. Mereka dikejar target besar oleh perusahaannya. Tetapi sayang sekali, usaha mendapatkan penghasilan lebih harus dilakukan dengan trik marketing yang “menipu” calon pembeli. Aku menduga, sales seperti itu memang dilatih secara khusus oleh manajemen untuk bisa memengaruhi, memikat, menyugesti, untuk memperdayai korban.
What on your mind?
sumber gambar: Kaskus























beuh, jadi teringat saat jadi sales nih
[Reply]
mt Reply:
February 20th, 2012 at 11:54
hwhe saya juga pernah jd sales T-Shirt
[Reply]
aku juga pernah alami hal seperti ini tapi sedikit beda saja motifnya cuma tujuan sama. Sangat mengesalkan
[Reply]
mt Reply:
February 20th, 2012 at 14:57
jadi kapok ya, Bund?
[Reply]
Itu sih justru cara menjual yang salah banget
[Reply]
mt Reply:
February 20th, 2012 at 14:58
benar, justru dg begitu membuat kita waspada dan cenderung menjauh dari sales yg mencoba mendekati kita
[Reply]
Untung mbak Sales di Bellanova tadi gak ngelakuin trik salesnya ke bang MT
Bisa-bisa bukan foto mallnya yg nongol disini
[Reply]
Dulu jg pernah ngalami, dpt undangan dan saya datang hanya ngambil hadiah jam dinding di sebuah mall, setelah itu pulang tanpa beli apa-apa.
[Reply]
dulu aku pernah, di pangrango plaza
[Reply]
Keluarga sy ada yg prnah jd sales…memang intruksi atasannya sperti itu sih
[Reply]
mksd memperdaya itu apa???!!!
[Reply]