Kisah dari Penjara

Malam dengan langit hitam pekat. Hujan makin deras.

Rintik hujan bertubi-tubi pada atap seng, menimbulkan suara bising. Terutama bagi tiga lelaki muda yang meringkuk di dalam ruang tahanan berukuran 2×3 meter. Angin berembus dari luar, memasuki jeruji besi yang terkunci dengan gerendel baja seukuran kepalan tangan. Ketiga lelaki muda duduk memeluk lipatan kakinya hingga menempel pada badan mereka. Masing-masing bersandar di tepian kamar. Kadang-kadang menutup telinga dengan kedua dengkulnya, atau pun dengan salah satu bahu dan tangannya. Dengan cara seperti itu mereka melawan dingin dan bising. (more…)

Mau Jadi Presiden ah…

a : penuh!
b : mang napa?
a : sesak!
b : pindah dong
a : bukan solusi!
b : Ambil napas dalam-dalam, buang perlahan-lahan…!
a : Tetap penuh, sesak!
b : Celentang deh, lalu tengkurap!
(more…)

Semangat’45 di Bulan Puasa

Kepala Bang Namun terhuyung sendiri. Saking beratnya kepala itu, iapun jatuh tersungkur di depan kios pangkas rambutnya sendiri. Juki yang kebetulan lewat di depan kios, bergegas membangunkan bang Namun.

“Et dah, kalo tidur mendingan di dalem, bang. Rebahan pake tiker. Lha kalo di bangku kayak gini kan bisa jatoh kaya tadi?!” Saran Juki. (more…)

Selamat Ultah Kedua, BLOGOR

brainstorming

Dari beberapa komunitas blog yang kuikuti, BLOGOR adalah komunitas yang menjadi rumahku. Kusebut demikian karena di Bogorlah aku menetap. Keberadaanku di Bogor, berbarengan dengan perkembangan Blogor. Aku tinggal di Kota Hujan ini sejak 1 Januari 2009. Setahun setengah aku menjadi barudak blogor.

Bagiku blogor adalah komunitas yang lengkap dan melengkapi. Lengkap karena di dalamnya terdiri dari anggota beragam usia. Mulai dari anak sekolah hingga profesor. Mulai dari usia remaja sampai kakek-nenek. Bahkan senyatanya, anak yang masih SD sudah ngeblog di Blogor, seperti anak-anak pak Hartanto Sanjaya. Itu baru dari sisi usia dan pendidikan. Belum lagi dari sisi profesi, amat beragam. Ada motivator, dosen, guru, pengusaha, penulis, sastrawan, netizen, karyawan, manajer, dll. Amat lengkap.

lengkapnya komposisi anggota blogor, insya Allah bisa melengkapi kekurangan yang ada. Apa kekurangan yang ada di blogor? Saatnya kita mengaca diri. Tak ada kado yang bisa kuberikan, kecuali dua status facebook yang kubuat tadi pagi.

  • Saat komunitas dalam kondisi kritis, sebaiknya setiap org menelaah perannya drpd menyepelekan yg lain. ubah kelemahan dg kekuatan bersama. unity is power!
  • Sabar menjalani prosesnya & tanamkan pikiran positif thd lingkungan kerja. Jika berhasil berbuat demikian, masalah apapun yg terjadi dpt kita respon dg lapang dada. Ini memang masalah pikiran & hati. Berprasangka buruk membuat alam yang luas menjadi sempit. Berprasangka baik, membuat diri kita menjadi lebih baik dan ma…salah sebesar gunungpun akan menjadi seringan kapas.

Selamat ulang tahun yang kedua, Blogor, my home!


Indonesia Merdeka

Pada perayaan kemerdekaan tahun 2008 aku dan Gita menyanyikan lagu Indonesia Pusaka karya Almarhum Ismail Marzuki. Seperti tahun lalu, tahun ini, MT masih menyanyikan lagu karangannya berjudul “Indonesia Merdeka”. (ini adalah repost and sticky)


pagi matahari terbit
angin berembus tanpa dingin
kurentangkan bendera merah putih
kuikatkan pada bambu
kupancangkan di depan rumahku
dirgahayu endonesyaku

angin kecil selimuti benderaku
yang tak mau berkibar
apakah yang tlah membuat kau ragu?
berkibarlah benderaku berkibar
walau rakyatmu terkapar
berkibarlah benderaku berkibar
walau anakmu terlantar

Indonesia merdeka
dari kebencian pada sesama
Indonesia merdeka
dari pertikaian antar saudara
Indonesia merdeka
dari birokrasi yang menghisap rakyat sendiri
dari kemiskinan hati para politisi
Indonesia merdeka
dari keyakinan yang membunuh diri sendiri
dari kebodohan tanpa harga diri

berkibarlah bendera merah putih
dirgahayu, Indonesia merdeka

Bantarkemang, 17 Agustus 2009

Menjadi Endonesya

Sejak pagi masih gelap aku berjalan keluar rumah. Terlihat rakyat endonesya dalam berbagai aktifitasnya. Ada anak-anak SMA yang berlari menuju lapangan. Mereka adalah para petugas Upacara Tujuhbelasan. Ada juga anak-anak SD dan TK yang bersiap-siap untuk berbaris. Mereka mau konvoi, berjalan beriringan menuju lapangan kecamatan. Ada juga ibu-ibu berkebaya putih dan syal motif batik, juga dengan tujuan yang sama. Aku melihat semangat mereka untuk mengikuti “Upacara 17-an”.

Sementara itu, ada juga rakyat yang tetap nongkrong di warung kopi. Mengisi pagi dengan nasi uduk dan kopi manis.

Nggak ikut rame-rame, kang?” tanyaku
Ngapain? cuma upacara doang!” matanya tetap fokus pada makanannya.
Nggak ikut upacara juga tetep rakyat endonesya!” sambung temannya.
Lombanya ikut, nggak?
Ikut dong, tar siang ada panjat pinang di kecamatan. Kemaren juga ikut voli, tapi kalah.
Ntar seru nih, nonton aja di kecamatan!” ajak yang lainnya kepadaku.
Kalo ikut lomba sih enak, bisa dapat hadiah. Kalo upacara, dapet cape doang!” kata yang masih makan nasi uduk.

Macam-macam memang rakyat kita. Ada yang semangat ikut upacara, ada yang hanya suka ikut lomba saja. Tapi tak apalah, yang penting sama-sama merayakan dirgahayu RI. Ulang tahun negaranya sendiri.

Tapi ada juga temanku yang enggan memasang bendera merah putih di rumahnya. Dia beralasan, tidak bangga menjadi bangsa endonesya. Lagipula, dengan memasang bendera merah putih dianggapnya nasionalis. Ia malu mengaku rakyat endonesya. Ia bahkan mencibirku ketika mendengar ringtone hapeku yang bernada lagu Endonesya Raya. Bahkan pernah juga aku diremehkan karena memasang bendera merah putih di depan rumahku. Temanku ini memang rada fundamentalis. Baginya yang penting adalah kedaulatan Tuhan, bukan manusia. Ia tak akan memasang bendera merah putih. Haram! Andai terpaksa memasangnya karena tuntutan aparat, ia bilang, “kamuflase!”

Ya, begitulah rakyat kita, macam-macam. Cuma aku rada heran saja dengan teman-teman yang seperti itu. Mereka enggan memasang bendera merah putih, tapi semangat sekali memasang bendera ataupun atribut partainya. hm… padahal lebih besar sebuah bangsa ketimbang partai.

Melihat realitas seperti sepagian tadi, aku menyadari betapa panjang perjalanan bangsa ini untuk sekedar menjadi ENDONESYA!

Tak Kulihat Betawi di Jakarta

topeng betawi

topeng betawi

Jakarta adalah wilayah yang sempit dibandingkan kota-kota lain di Indonesia. Luas Sempit wilayahnya hanya 740,28 km2. Namun dibalik kecilnya kota Jakarta, terdapat keragaman budaya.  Kita bisa berkenalan dengan berbagai kebudayaan nusantara maupun dunia di kota ini. Karena itu cukup pantas jika Jakarta dijuluki sebagai Kota Lintas Budaya.

Kebudayaan awal yang berkembang di Jakarta adalah kebudayaan Melayu. Kulturalisasi itu dimulai pada Abad ke-6 Masehi, saat Kerajaan Sriwijaya menyerang pusat kerajaan Tarumanegara di Utara Jakarta. Masyarakat Jakarta saat itu yang lebih dominan berbudaya Sunda mulai mengalami persilangan budaya dengan Melayu.

Pada 1512 Raja Surawisesa (Kerajaan Sunda) mengizinkan Portugis untuk membentuk komunitas di Sunda Kelapa. Sejak itu, perkawinan dengan budaya Portugis dimulai. Keroncong adalah salah satu bentuk kebudayaan Portugis yang menjadi kebudayaan orang Jakarta.

Kebudayaan lain yang juga melintas dalam sejarah Jakarta adalah Gujarat, Malabar (India) Tionghoa, Campa, Persia, Arab, Malaka, Bugis, Bali, Sumbawa, Ambon, Banda, dan kebudayaan Nusantara lainnya. Bahkan pada era kolonialisme Belanda, kebudayaan Eropa turut memperkaya khasanah dan perkawinan budaya Jakarta. Dari persilangan beragam budaya itulah, kebudayaan Jakarta - yang sejak pada tahun 1923 baru dikenal dengan sebutan Betawi setelah M. Husni Thamrin membentuk Perkoempoelan Kaoem Betawi - terbentuk.

Makin berkembang zaman, makin berkembang pulalah kebudayaan Jakarta. Melihat Jakarta sekarang, seperti kita melihat budaya metropolis. Akupun akhirnya merenungkan, seperti apakah sebenarnya jati diri orang Jakarta? Dimanakah bisa kita lihat lagi, kebudayaan Betawi, yang terbentuk dari keragaman persilangan budaya?

Ketika aku ke Jogjakarta, budaya Jawa begitu terlihat di beberapa titik kota. Ketika aku ke Bali, jelas pula kunikmati budayanya. Masyarakat di kota-kota yang kukunjungi, hidup dengan kebudayaannya sehari-hari. Namun “view“seperti itu tak kulihat di Jakarta. Tak kulihat Betawi di Jakarta. Ataukah memang Betawi telah berubah semakin molek dengan beragam kultur yang masuk setiap detik? Atau, Kaoem Betawi terpinggirkan karena tak mendapatkan tempat di hati generasi muda Jakarta?

Kurenungkan hal ini, saat Jakarta berusia 482 tahun. Semoga budaya Betawi tak terhimpit, tergilas, dan terkubur, oleh deru bising ragam budaya metropolitan.