Panutan

Kadang mang Papay merenungkan pernyataan para pemikir, aktivis pergerakan, tokoh partai politik tentang perubahan. Sejak Negeri Purbadewa dipimpin oleh Raja Cemanibuana I, kudeta oleh Raja II, estafeta ke Raja III, reformasi ke zaman Raja IV, rekondisi pada masa Raja V, hingga saat ini, Raja VI, adakah perubahan yang berarti yang dapat dirasakan oleh rakyat negeri, terutama bagi kawulo wong cilik? Ia tak pernah mendapatkan jawaban pasti tentang hal ini.

img0123a

Masih ada dalam memorinya tentang bagaimana bergairahnya gerakan cendikiawan pada proses penjatuhan Raja Cemanibuana II. Saat itu kata REFORMASI bagaikan azimat yang dapat menggerakkan semua orang menuju perubahan. Namun hingga saat ini gerakan reformasi dari segala lapisan organisasi dan masyarakat hanyalah sebuah igauan. Para aktivis partai yang sebelumnya paling kencang meneriakkan perubahan – reformasi – pada akhirnya harus terjerumus ke dalam kubangan hitam peta kekuasaan. Mereka yang dulunya sangat anti dengan istilah haram “money politik” pada saatnya mau tak mau ikut bermain dalam politik picik itu. Ini adalah sebuah kenyataan tentang kepribadian elite kerajaan dan elite politik yang disadari atau tidak merupakan panutan bagi masyarakatnya.

Lalu akankah perubahan itu terwujud di Negeri Purbadewa? Sahabat mang Papay – biasa disapa Mang Odon – pernah menyatakan waktu mereka makan siang di warung nasi, “perubahan tak akan terjadi di negeri ini hingga ada satu tokoh yang benar-benar dapat bersikap dan bertindak sebagai panutan”. Panutan dalam konsepnya adalah orang yang capable, jujur, mempunyai integritas dan concern akan nasib bangsa secara keseluruhan, bukan semangat kepartaian, fanatisme keagamaan yang sektarian, apalagi kelicikan untuk memanfaatkan kesempatan ketika sedang berada pada posisi strategis.

“Apa mungkin ada tokoh panutan di negeri ini?” tanya mang Papay sambil menghembuskan asap rokok dari mulutnya yang masih mengkilap karena minyak rendang.

“Kalau bicara mungkin, jawabannya, mungkin saja. Tapi masalahnya bukan itu. Masalah kita adalah adakah tokoh panutan bagi bangsa yang tak berkarakter ini!” sela Parikesit. Parikesit adalah seonggok daging tipis bertulang belakang yang juga teman ngobrol mang Papay.

“Kenapa kamu bilang bangsa ini tak berkarakter?”

“Kamu lihat saja realitas politik di sini. Tokoh-tokoh politik gampang sekali berubah pendirian, berpindah loyalitas, dan yang paling mencolok adalah mereka lupa akan agenda perubahan yang pernah dipromosikan ketika masih belum kebagian jatah kekuasaan. Nih kamu baca koran! Seorang elit politik yang dulunya membela satu partai kini bikin partai baru dan menjelek-jelekkan partainya yang lama”. Parikesit meletakkan koran harian Media Purbadewa yang sudah lecek di hadapan mang Papay.

“Mungkin dia bersikap seperti itu karena memang pimpinan partainya dianggap tak layak menjadi panutan, lalu ia merasa tertantang untuk melanjutkan perjuangan politiknya dan bertindak sebagai panutan bagi para pendukungnya” balas mang Papay sambil membaca headline koran lecek itu.

“Itu bukti bahwa bangsa ini belum punya tokoh panutan yang bisa diterima semua lapisan masyarakat. Tapi apa yang dikatakan Parikesit ada benarnya juga, kalau bangsa ini tidak mempunyai karakter. Tapi menurut kamu, karakter itu seperti apa, Par?” Mang Odon ikut bicara.

“Bangsa yang mempunyai karakter adalah bangsa yang mempunyai semangat juang untuk membela kebenaran!” jawab Parikesit singkat.

“Jawaban kamu masih abstrak! Karena kebenaran itu sendiri mempunyai makna yang berbeda bagi setiap partai” sela mang Papay.

“Yang kumaksud dengan kebenaran adalah seperti cita-cita kaum cendikiawan ketika pertama kali memperjuangkan reformasi dulu. Dimana tak ada lagi KKN, monopoli, pemusatan kekuasaan dan kekayaan, dan semua tradisi buruk kekuasaan Raja Cemanibuana”

“Kalau menurutku orang yang berkarakter adalah yang memiliki kekuatan hati untuk tetap berjalan pada aturan dan prinsip hidup yang benar, tidak mengkhianati prinsip tersebut dan berani melawan arus ketika aturan dan prinsip itu diselewengkan.” Mang Papay melipat koran lecek dan mengembalikannya ke muka Parikesit.

“Berarti apa yang saya katakan itu memang benar, bangsa ini tak punya panutan, jadi tak akan pernah berubah!” Mang Odon ngomong lagi.

“Dari tadi yang kamu bicarakan panutan terus! Nggak ada ide lain apa?” Parikesit bosan dengan pernyataan Mang Odon.

“Ada sih….”

“Apa coba?!” Parikesit memaksa.

“Bu Nutan, istrinya Pa’ Nutan…………”

Tjeritera Koeno Negeri Poerbadewa

“Seboeah tjeritera koeno perihal Negeri Poerbadewa, akoe toeliskan oelang dalem edja’an jang disempoernakan, agar soepaja semoea orang ta’ pening membatjanja. Ini baroe sekeloemit. Landjoetannja lain waktoe sadja.”

icon-dsbtGerombolan perompak yang berkuasa itu berpesan kepada seorang pemuda yang hampir mati karena siksaan mereka.

“Kami yakin kamu mengerti harus bilang apa, jika ditanya orang-orang di kampungmu! Kami yakin kamu pintar untuk bersikap, agar kamu tetap aman di kampungmu! Kami mohon maaf atas kekejaman ini, sebab kami tak punya kerjaan lain kecuali melampiaskan frustasi kami terhadap atasan kami yang hanya bisa memberi perintah! Benarkan, kami tak berbuat apa-apa terhadapmu!!!!!!!”

Pesan itu diakhiri dengan tanda seru yang banyak sekali. Mungkin mereka terlalu intimidatif atau memang penulisnya yang tak mengerti tanda baca.

Pemuda itu bukan siapa-siapa. Dia sedang belajar terbang dan terjatuh di lokasi kericuhan. Ketika orang-orang yang ricuh itu kabur, justru ia nyusrug di tempat sialan itu. Dan pada saat yang sangat tidak tepat, dia bangun tepat di tengah-tengah gerombolan perompak yang paling berkuasa di Kampung Ricuh.

Nasib sial. Dia langsung diangkut, ditendang, dikemplang, tanpa ditanya. Padahal di kepalanya sudah ada kalimat-kalimat yang mau dikatakannya tentang keberadaannya di situ. Tapi sebagian besar perompak itu tuli. Mereka terus memaksa pemuda itu bicara jujur, walau pemuda itu sudah mengulang-ulang apa yang dia tahu beratus-ratus kali.

Setelah dapat konfirmasi dari bos besar, kepala perompak itu menyatakan kalau mereka salah tangkap. Tapi mereka tak mau pemuda itu mengetahui kalau mereka melakukan kesalahan yang sering terjadi itu. Merekapun membujuk pemuda sial itu dengan cara mereka.

Ini hanyalah cerita kuno tentang sebuah negeri di mana Penguasa adalah Sang Kebenaran. Dimana rakyat bagai kurcaci dan hewan liar yang bebas diburu, jikalau tak suka, boleh dibuang. Sekalipun rakyat diberi pujian, pasti hanya untuk diracuni dengan impian yang tak berkesudahan.

Ini hanyalah cerita kuno tentang sebuah negeri, Purbadewa namanya. Dipimpin oleh raksasa berjuluk Maharaja Cemanibuana. Menteri keamanan dan ketertibannya adalah Panji Purbasangka.

Ini hanya cerita yang tak perlu dibaca dua kali. Sebab dengan membacanya anda jadi berpikiran yang bukan-bukan tentang kampung anda sendiri.

Akan saya lanjutkan, lain kali.

Rekening Petinggi Negeri

rekening-gendut-petinggi-kerajaan“Parikesit ditangkap!” Mang Odon duduk tergesa-gesa, memberitahu Mang Papay.

“Lha? Siapa yang nangkap? Apa salahnya?” Mang Papay masih santai membaca koran Harian Media Purbadewa.

“Kan dia yang menggambar babi gendut di koran tiga hari yang lalu… Tadi dia sms, katanya dia dipanggil penyidik untuk dimintai keterangan…” Lanjut Mang Odon.

“Oh, itu sih bukan ditangkap, tapi dimintai keterangan… kamu jangan salah ucap! berabe, nanti…”

“Ya, tapi biasanya kan statusnya bisa berubah, dari saksi jadi tersangka.” Mang Odon menyeka keringat di dahinya.

“Jangan khawatir, dia kan cuma menggambar babi gendut, bukan karikatur yang mirip dengan tokoh tertentu.”

“Negeri ini aneh ya. Rajanya sejahtera, petinggi kerajaanpun kaya raya, tapi tak jelas sumbernya dari mana…” Mang Odon menyadarkan badannya ke kursi. Ia mulai rileks. (more…)

Kualitas Perbincangan

Perbincangan sering dilakukan setiap orang. Di dalam perbincangan dibahas berbagai permasalahan, baik yang terjadi pada diri mereka yang terlibat dalam perbincangan, atau pun lingkungan atau bahkan membahas tentang orang yang tidak mereka kenal sekalipun. Perbincangan atau bercengkrama -kalau kata mang Papay- yang sering dilakukan hampir semua orang itu, memiliki kualitasnya masing-masing. Jadi, Ada sebuah perbincangan yang berkualitas dan yang tidak berkualitas sama sekali. (more…)

Restorasi dengan Kebaikan

dsbt-character

Kerajaan Purbadewa mengalami kekacauan. Setelah terjadi musibah beruntun, mulai dari gempa yang memicu tsunami, gempa tanpa tsunami, gunung yang marah dan memuntahkan lahar yang mengubur sebuah pemukiman, banjir di mana-mana, hingga luapan lumpur panas di sebuah wilayah, yang hingga saat ini solusinya tak berujung.

(more…)

Masih Ada Dongeng…

Pagi ini mang Papay bangun tidur lebih awal. Ada peluang bisnis baru yang mau disambarnya. Di kota Raja, negeri Purbadewa sedang terjadi pembangunan besar-besaran yang dimulai dengan penataan kota. Jalan-jalan direhabilitasi kembali, diperbagus dan diperindah. Gedung-gedung makin bersaing ketinggian dan kemolekan. Kini kerajaan Purbadewa ingin mengubah wujudnya dari kerajaan “lugu dan sederhana” menjadi kerajaan “maju”. Entah maju kemana, yang jelas pasti maju ke depan.

Mang Papay memang memiliki naluri bisnis yang kuat. Ia cepat sekali menangkap peluang dalam setiap kurun kemajuan. Dulu waktu negeri Purbadewa sedang dalam masa transisi dari kerajaan tertinggal ke kerajaan maju, dari era agraris ke era industri, mang Papay membangun sebuah pondok di kaki bukit. Tempat itu sangat diminati banyak orang yang mengalami transisi kultural dan pemikiran, untuk bercengkrama tentang segala hal yang terjadi dan mungkin terjadi di seantero negeri. Kini pada masa peralihan dari era industrialisasi ke era informasi, atau dengan istilah trend-nya “globalisasi”, mang papay tidak lagi menunggu pengunjung datang ke pondoknya. Itu tak mungkin terjadi lagi. Ada dua sebab, pertama karena pondok yang dimaksud itu sudah tidak berdiri lagi, alias sudah digusur untuk kepentingan bersama, kepentingan bangsa. Pondok itu sekarang sudah menjadi jalan raya yang menuju ke Kota Raja. Kedua, karena keinginan mang Papay sendiri yang lebih mempertimbangkan kelangsungan hidup. Waktu belum terjadi perubahan kecenderungan zaman ke era globalisasi, ia dan teman-temannya, macam Parikesit dan mang Odon, tak perlu sibuk memikirkan penghasilan hidup. Sebab sawah yang memang sudah sangat mengecil areanya masih bisa diandalkan untuk mendukung kelangsungan hidup, hingga pekerjaan mereka hampir setiap hari hanyalah ngerumpi saja atau bercengkrama sambil menunggu datangnya kiriman uang dari pelanggan yang sudah memborong hasil panen sawahnya. Praktis sekali hidup saat itu.

Kini zaman sudah bergerak. Mang Papay tergusur dari kediamannya. Dengan uang hasil perhitungan penggusuran, ia harus menentukan sumber hidupnya di zaman baru ini. Tapi memang ia tak pernah kehabisan akal. Mang Papay, seperti yang pernah dibilang tadi, pintar membaca gelagat alam, kecenderungan zaman, ia membangun sebuah rumah mungil di pinggir trotoar jalan menuju Kota Raja. Pas sekali di mulut gerbang Kota Raja. Mang Papay tidak cuma membangun rumah mungil. Untuk sumber penghasilannya, ia membuka usaha kecil-kecilan namun bisa mendapatkan omzet besar-besaran. Ayo tebak, apa yang diperbuat mang Papay?

Mang Odon yang dulu hanya merutinkan hari-harinya di pondok mang Papay, kini tidak lagi begitu. Ia termasuk orang yang tak memiliki apa-apa untuk mendongkel beratnya beban kehidupan. Kalau kata tetangga sebelah yang sering menggunjingkan orang lain, mang Odon ini kelewat santai hidupnya. Ia hampir tak pernah memikirkan dari mana ia harus memenuhi tanggung jawab terhadap keluarganya. Ia cukup tenang kalau dirinya sudah mendapatkan makanan dari persediaan makan mang Papay. Mang Odon digunjingkan juga sebagai “benalu”nya mang Papay. Itu katanya sebagian besar masyarakat.

Memang selalu saja ada sebagian orang yang kerjanya merilis bahan gunjingan dalam masyarakat. Mungkin ini alamiah. Kalau tidak ada orang-orang seperti itu, bisa jadi jalannya masyarakat menjadi pincang, sebab tak ada pemicu untuk berpikir jernih, mencari jalan keluar atas segala permasalahan. Dan itu adalah bagian dari dinamika. Padahal apa yang mereka gunjingkan tentang mang Odon tidak salah juga sih. Memang benar mang Odon tidak punya tanggung jawab terhadap kelangsungan hidup keluarganya, sebab mang Odon tidak punya keluarga. Ia hidup sebatang kara di negeri ini. Untung saja ia punya sahabat macam mang Papay, yang selalu memberikan pengertian buat “Lonely Man” macam mang Odon.

Kini mang Odon tidak tinggal di pondok mang Papay lagi. Sekarang ia tinggal di rumah yang mungil, di tepi trotoar jalan raya, …. rumah mang Papay… membantu usaha mang Papay.

Bagaimana kabarnya Parikesit?

Parikesit adalah pemuda yang pernah terdidik. Ia mengabdikan kemampuannya kepada masyarakat. Padahal, dengan selembar ijazah sekolah terakhirnya, bisa saja ia seperti kebanyakan pemuda di negeri Purbadewa ini : bersusah payah mencari kerja atau menahan harapan karena bekerja di sebuah jawatan atau perusahaan yang tidak sesuai dengan pengetahuan yang dibelinya dari sekolah. Memang kenyataan seperti begitulah kira-kira. Lebih banyak orang memasuki dunia kerja yang tak ada korelasinya dengan ilmu pengetahuan yang dikejarnya saat sekolah. Mereka bekerja bukan lagi karena punya kemampuan dalam salah satu bidang, tapi lebih karena tak ada jalan lain untuk bisa bertahan hidup. Parikesit selintas seperti pengangguran. Sama seperti mang Odon,: pandangan masyarakat yang bilang begitu. Padahal Ia adalah pekerja keras dalam bidang pembangunan. Bukan! Parikesit tidak bekerja di Perusahaan Kontraktor atau Developer. Yang ia bangun bukan gedung tapi masyarakat. Ia membangun masyarakat dari pinggir kehidupan. Tidak dari tengah atau pusat kehidupan. Ia hidup dengan bekal kemampuannya membuat tulisan-tulisan yang diterbitkan di media massa negeri Purbadewa. Dari situ ia bisa hidup. Dan dari situ ia membangun masyarakatnya ke masa depan.

Memang setiap orang punya gaya dan cara sendiri dalam mengisi kehidupan. Kekhasan gaya hidup setiap orang, kalau bisa bersinergi dengan kekhasan orang lain, akan menciptakan harmoni. Parikesit, mang Papay, dan mang Odon adalah sekelumit contoh kecil. Ada lagi contoh yang lebih besar. Pada kenyataan hidup ini ada penguasa dan yang dikuasai, ada penindas dan yang tertindas, ada penipu dan yang ditipu, ada yang bodoh dan dibodohi, tapi anehnya, perbedaan yang sangat mencolok mata itu bisa menciptakan harmoni.

“Ah, siapa bilang! Kalau itu sih bukan harmoni. Itu hegemoni!” mang Papay kurang setuju dengan pandangan MT.

“Benar, itu namanya penjajahan yang qualified, hingga masyarakatnya tetap merasa hidup nyaman. Tidak merasa dijajah. Memang tidak semua penjajah meng-eksploatasi masyarakat yang dijajahnya. Ada juga negeri yang maju karena penjajahnya ingin membuat mereka maju.” Mang Odon menyambung sambil menyediakan kopi buat Parikesit yang baru saja mampir ke tempat usahanya mang Papay. Ketahuan deh, kalau mang Papay buka Café.

“Itu artinya penjajah tersebut punya cara yang tepat dengan keinginan masyarakatnya, sehingga penjajahannya dapat bertahan lama. Misalnya kerajaan Inggeris, gaya dan daya jajahnya beda dengan Kerajaan Belanda. Gitu, khan?” masih mang Papay yang menimpali.

“Begitulah kira-kira. Tapi, omong-omong soal penjajahan, tetap saja semua orang tidak ada yang mau dijajah. Setiap orang ingin merdeka. Karena kemerdekaan adalah fitrah manusia. Setiap orang sebenarnya hidup menuju ke kemerdekaan.”

“Setuju, tapi sebenarnya bukan itu masalahnya.” Parikesit mulai bernyawa.

“Lho, gimana bukan itu masalahnya! Setiap orang itu mencari kemerdekaan. Apa kamu rela hidup dijajah orang lain. Atau melakukan sesuatu yang sebenarnya tak ingin kamu lakukan. Itukan terjajah namanya.” Mang Papay paling semangat kalau menimpali omongan Parikesit.

“Tapi kemerdekaan bukan yang dicari orang, Mang….”

“Ah gimana juga kamu ini, Par. Setiap orang dilahirkan dalam kemerdekaan. Sebenarnya waktu setiap bayi yang menangis waktu keluar dari rahim ibunya, bayi itu berteriak “Merdeka!!” begitu!” mang Odon menyelak omongan Parikesit.

“Tahu dari mana kamu mang, kalau bayi itu ngomong “merdeka”? Parikesit heran beneran.

“Bukan ngomong, tapi berteriak!” masih saja salah ungkapan Parikesit menurut mang Odon.

“Ya, berteriak. Tapi kata siapa begitu, apa mamang mengerti bahasa bayi?”

“Ya… bahasa bayi memang tidak pernah bisa dimengerti orang dewasa. Tapi orang tua mengerti apa maunya bayi itu.” Kini nada suara mang Odon melandai.

“Jadi kata orang tua mamang, kalau bayi menangis itu artinya teriak Merdeka?”

“Ya, begitu sih. Kadang-kadang petuah orang tua kan ada baiknya.”

“Ah, kamu ini Don, aku pikir omonganmu itu berdasarkan penelitian ahli kandungan atau siapa gitu, nggak taunya cuma piwulang nenek moyang..” mang Papay merasa kesal dengan mang Odon.

“Itu berarti mang Odon masih terjajah dengan petuah-petuah nenek moyang. Katanya setiap orang menuju kemerdekaan, tapi mamang sendiri masih mempertahankan keterbelengguan dalam bahasa kekuasaan orang tua, he he he..” Parikesit nyengir.

“Ya, sudahlah” lerai mang Papay, “tadi kamu bilang kemerdekaan bukan yang penting dan dicari orang. Maksudnya apa, Par?”

“Begini. Memang benar apa kata mang Odon, bahwa setiap orang ingin merdeka. Tapi tidak sedikit orang yang tidak mengerti untuk apa kemerdekaan itu. Apa yang mereka cari setelah merdeka.”

“hm… terus gimana?”

“Banyak orang-orang yang merdeka secara lahiriah, tapi mereka tak percaya diri hidup di dunia. Mereka tak bisa mengekspresikan kemerdekaannya sendiri. Padahal kemerdekaan itu milik setiap orang. Tidak ada orang yang bisa memberikan kemerdekaan, dan bohong itu. Setiap orang sudah punya kemerdekaan, tapi sayangnya mereka tidak tahu mesti bagaimana hidup dengan kemerdekaan dirinya.”

“Mestinya hidup sesuai dengan bakat dan minatnya!” mang Odon nyeletuk lagi.

“Ya, nyaris seperti itulah, passion. Yang jelas kemerdekaan itu adalah modal utama manusia menuju keberhasilan pencapaian cita-cita, menuju masa depannya.”

“Tapi, kemerdekaan itu sama ga sih dengan reformasi?” kali ini mang Papay buka topik baru.

“mau orde lama kek, orde baru, orde reformasi, orde transisi, ataupun orde proyek, itu ga penting! Karena kemerdekaan itu ada pada diri sendiri, bukan pada penguasa orde, gitu kali ya?!” mang Odon menjelaskan dengan keraguan

“Urusan orde jangan dibahas sekarang, nanti kita terlalu merdeka membahasnya!” kopi Parikesit tinggal sedikit.

Bonus Kerugian

“Perusahaan apa yang paling hebat di negeri ini?” Tanya mang Papay mengisi waktu sela saat cafénya mulai sepi hampir tengah malam ini.

Mang Odon yang baru selesai mengepel lantai menjawab, “Perusahaan yang paling hebat di negeri ini adalah perusahaan air. Sebab mereka sangat dibutuhkan manakala air tanah negeri ini makin tercemar polusi.”

“Salah! Memang perusahaan air itu hebat, tapi masih ada yang lebih hebat dari itu.” Mang Papay menghirup accident coffee (kopi tubruk) spesial buatannya sendiri.

“Apa ya…ng… mungkin perusahaan BBM, Tanpa BBM mana mungkin kita bisa menjalani kehidupan. Jadi semua orang pasti butuh BBM kecuali ojeg sepeda dan becak.” Mang Odon menjawab setelah menyimpan peralatan mengepel di belakang café.

“Perusahaan BBM memang hebat, sama seperti vitalnya air, tapi tetap ada yang lebih hebat dari mereka.” Mang Papay tersenyum menanti jawaban sahabatnya yang salah terus.

“Kalau begitu perusahaan apa yang paling hebat… oh ya… tunggu aku ingat, adalagi perusahaan yang hebat…. Pasti listrik! Tanpa listrik, mana mungkin kita bisa beraktifitas?”

“he he … betul sih, tapi kamu tahu nggak mengapa perusahaan listrik itu paling hebat di negeri ini?”

“Wah, mana aku tahu, kan kamu yang bikin pertanyaan, jadi kamu sendiri yang tahu jawabannya. Aku lagi malas mikir nih.” Mang Odon mulai menyandarkan badannya di kursi.

“Perusahaan listrik itu menurut saya paling hebat karena dalam kondisi rugi besar saja, mereka tetap memberikan bonus kepada komisaris dan direksinya… hebat kan?! Rugi saja ngasih bonus, apalagi kalau untung!” jelas mang Papay.

“Iya ya… hebat sekali perusahaan seperti itu, rugi tapi ngasih bonus…! Wah, boleh juga tuh kalau kita melamar di sana!”

“Ngapain kita kerja di sana?! Mending usaha sendiri seperti ini.”

“Wajar dong kalo kita berpikir mencari penghasilan lebih, daripada kita kerja seperti ini, kalau café punya untung, kita tak dapat bonus, apalagi rugi, pasti jatah kita kena sunat!” Mang Odon bicara apa adanya tentang suasana kerjanya. Itulah mang Odon, dia begitu jujur dan berani, walaupun bicara di depan bosnya sendiri, mang Papay.

“Kamu jangan membandingkan usaha kecil ini dengan perusahaan sebesar itu dong. Café kita ini kan penghasilannya tergantung dari tamu yang mampir karena menghindari macet saat pulang kerja, jadi kita tak punya langganan yang benar-benar setia. Jadi wajar saja kalau kita kadang rugi. Kalaupun kita untung, pasti keuntungan itu saya prioritaskan untuk menutupi kerugian-kerugian sebelumnya.” Mang Papay sedikit tersinggung.

“Berarti termasuk menutupi potongan gaji saat usaha kita rugi dong?” mang Odon tersungging.

“Kalau prioritas utama sudah terpenuhi, jangankan mengganti gaji yang terpotong, bahkan saya akan bayar sepuluh kali lipat. Tapi kalau usaha kita ini punya untung besar!” Mang Papay berjanji.

“Tapi aku pikir-pikir, hebat juga perusahaan listrik itu ya? Padahal kerugian mereka hampir 5,9 triliun, tapi mereka bisa ngasih bonus hingga 4,3 miliar… bahkan menurut tukang periksa keuangan, perusahaan itu bakalan memberikan bonus kepada semua karyawannya hingga mencapai 186,25 miliar…. Weleh-weleh…. Hebat sekali!!”[1] mulut mang Odon menganga membaca Koran MediaPurbadewa yang terbit tadi pagi. “Hari gini baru baca Koran pagi!” celetuk saya, MT.

“Yang aku pikirkan, dari mana asal uang bonus itu. Katanya rugi. Kalau rugi, berarti kan modalnya berkurang. Seperti kita, kalau kita rugi, berarti kita kekurangan modal untuk membeli bahan makanan yang mau kita jajakan esok hari.” Mang Papay benar-benar bingung.

“Buat usaha besar seperti itu, rugi bukan berarti ga punya uang. Itulah bedanya orang kaya dengan orang miskin seperti kita ini.”

“Beda bagaimana, Don?”

“Kalau orang kaya bilang tak punya uang, berarti mereka masih punya uang beberapa ratus ribu atau juta di dompet atau di bank. Nah, kalo orang miskin, kalo bilang bokek, berarti sama sekali tak punya uang yang nyelip di dompet apalagi celengan. Buktinya, tamu-tamu kita sendiri, mereka sering ngobrol sama teman-temannya kalau mereka bokek, tapi mereka tetap makan di sini, gonta-ganti HP, mobil, dan traktir cewek-ceweknya.” Mang Odon menguraikan fakta.

“Betul juga kata kamu. Tapi, bagaimanapun aku sama sekali bingung, mereka rugi terus walaupun tarif listrik selalu dinaikkan. Tapi para pengusahanya makin hidup mewah ya? Apakah ini yang dinamakan korupsi?” mang Papay ngelantur.

“Wah, jangan nuduh sembarangan, mang! Apalagi sampai menjurus ke korupsi. Kalau mamang tak punya bukti, nanti dianggap mencemarkan nama baik. Bahaya! Mamang bisa dipenjara.” Parikesit tiba-tiba muncul di belakang mang Papay.

“Dari mana kamu? Datang tak mengucap salam, main komentar saja. Seperti penampakan saja kamu…” mang Papay benar-benar terkejut dengan kehadiran sahabat mudanya itu. Ia lantas menceritakan cengkramanya bersama mang Odon barusan.

“Bagaimana menurut kamu, Par?” Tanya mang Odon setelah mang Papay selesai menceritakan cengkramanya.

“Aku lagi malas mikirin yang begituan, mang. Otakku lelah sekali!”

“Lha, tumben kamu hang? Biasanya kamu paling senang mencengkramakan dinamika negeri ini?” mang Papay bingung melihat Parikesit yang lunglai membaringkan badannya di sofa panjang. “Kenapa kamu, Par? Sakit?” tanyanya lagi sambil beranjak dari duduknya menghampiri Parikesit.

“Aku di PHK. Alasannya, karena perusahaan rugi, maka diputuskan untuk mengurangi jumlah karyawan. Nah, aku adalah salah satu dari karyawan yang mendapat kartu merah.”

“Merana sekali nasibmu, Par” hibur man Odon yang sudah duduk di sebelah Parikesit.

“Nah, ini bukti!” mang Papay semangat menanggapi keluhan Parikesit.

“Bukti apa mang?” Parikesit bingung beneran.

“Kalau perusahaan tempatmu kerja rugi, wajar kalau kamu dipecat, tak mungkin kamu bakal diberikan bonus. Benar kan, Par” mang Papay mendesak jawaban Parikesit.

“Kalau begitu, kamu melamar di perusahaan listrik saja! Saya yakin kamu tak bakal dipecat. Bahkan bisa jadi kamu malah dapat bonus, walaupun perusahaannya rugi.” Mang Odon memberikan saran kepada Parikesit.

“Betul juga, Par. Kalo kamu kerja di pabrik Listrik itu, pasti kamu ga bakalan dapat kartu merah, malah bisa jadi kamu dapat kartu cheque!” sambung mang Papay.

“Kalo tidak terbentur usia, aku pasti kerja di perusahaan listrik itu! Nah, mumpung kamu masih muda, masih enerjik, masih berotak, kamu harus punya pengalaman kerja yang banyak, Par!” mang Odon makin semangat saja.

“Betul juga, Par. Kalo kamu banyak pengalaman, kamu gampang jadi orang penting di negeri purbadewa ini. Lha, dalam beberapa pemilihan pimpinan, entah itu pilpres, pilkada, pilpartai, sampai pilkoplo, yang sering dimenangkan adalah yang punya banyak pengalaman. Kamu harus ambil kesempatan ini! Besok bikin surat lamarannya ya!”

“Tak usah pakai surat lamaran segala, langsung saja kamu temuin orang paling berpengaruh di perusahaan itu, lalu kamu kasih ‘sumbangan sukarela’ yang kamu dapatkan dari pesangonmu. Lalu kamu sampaikan tujuanmu untuk mengabdi di perusahaan itu, pasti kamu bakalan diterima jadi karyawan terbaik.” Mang Odon makin jadi. Orang seperti mang Odon ini harus dicurigai. Ia berpotensi menjadi provokator, penghasut, atau entah apalah istilahnya. Banyak juga orang seperti mang Odon, semangat dalam menganjurkan sesuatu kepada orang lain, yang tidak bisa dilakukannya sendiri.

“Hush! Nulis apa kamu!” mang Odon menoleh ke belakang, matanya menatap saya tajam sekali. Rupanya dia merasa kalau saya mulai sedikit mencemarkan nama baiknya. Saya minta maaf sama mang Odon. Sebagai penulis cerita, memang saya sering khilaf dan terlalu jauh dalam menceritakan para pelakon di serial Dongeng Sebelum Bangun Tidur ini. Repotnya lagi, tidak seperti pada cerita-cerita saya yang lain. Orang-orang yang memerankan lakon DSBT ini semuanya kritis dan tak ada takutnya memprotes, bahkan ngomongin saya. Jadi, saya harus pandai-pandai menjaga emosi dalam menulis cerita yang mereka lakonkan.

Kembali pada jalur cerita ini. Mang Odon dan mang Papay masih duduk dan berdiri di sebelah sahabat mudanya, Parikesit. Tapi anak muda itu pura-pura tertidur di sofa empuk yang biasa dipakai tamu kelas VIP café mang Papay. Dalam hatinya Parikesit ngedumel, “orang lagi malas mikirin begituan, eh, malah dikomporin terus… dasar orang tua!”

Elok, 12 Juni 2005


[1] Headline KORANTEMPO Sabtu, 11 Juni 2005 tentang Dugaan Korupsi di PLN

Lepas Kontrol

“Kadang manusia suka lepas kontrol!” kata mang Odon, sambil menyandarkan tubuhnya ke badan kursi. Di tangan kanannya terlipat sebuah koran harian Media Purbadewa yang baru selesai dilalapnya buat breakfast pagi ini. Begitulah gayanya setiap pagi, sebagai masyarakat informasi, tidak mau ketinggalan kereta… eh berita. Kalau kita tidak menyimak informasi, bagaimana bisa membuat prediksi, begitu katanya.

“Kok, diam saja? Sariawan, ya?” tiba-tiba mang Papay merusak bengongnya mang Odon.

“Sariawan?! Saya kan sedang mikir!”

“Apa yang dipikirkan, mang?”

“Ini lho, aku tadi bilang, manusia suka lepas control. Misalnya saja di koran ini, hampir semua halaman isinya tentang manusia yang lepas kontrol. Ada yang sampai memaki-maki orang di tengah khalayak ramai, ada yang menekan hak asasi orang lain, memperkosa, membunuh, makan bangkai, nyogok, ngancam, dan macam-macamlah!” koran pagi itu lantas dilemparkan ke atas meja.

“Eit! Kok kamu jadi lepas kontrol juga sih?” Raut wajah mang Odon langsung merah padam karena dibuat malu sendiri dengan ucapan mang Papay. “Don, yang namanya mengendalikan diri itu memang sulit. Karena kita hidup di tengah situasi yang senantiasa melonggarkan baut-baut pengendalian kita, sehingga mesin pengendalian diri kita itu ambrol.” Mang Papay melanjutkan dengan bahasa yang dikerenkan, maksudnya biar dibilang mengikuti bahasa pakar, gitu.

“Betul juga, sih apa katamu. Apalagi kalau kita perhatikan orang-orang yang sering main politik-politikan, banyak yang lepas kendali sehingga apa yang dia lakukan secara tak disadarinya menurunkan citra dirinya di mata masyarakat.”

“Sebagian masyarakat, mungkin lebih tepat!” koreksi mang Papay.

“Ya, deh.” Tumben mang Odon tidak seperti biasa, menimpali mang Papay. Apa takut dibilang lepas kendali? Ah sepertinya tidak juga. Tidak juga seperti biasanya. “Tapi coba deh kamu lihat!” tuh benar kan, mulai deh mang Odon melakukan offensive argumentation sambil kembali menggelar halaman satu koran Media Purbadewa yang telah dilemparkannya tadi.

Mang Papay membaca headline koran tersebut, “….Raja Cemanibuana …. memaki para lawan politiknya…… Politisi pukul-pukulan di Dewan Perwalian Raja, Partai Tokek berubah warna, Tokek lainnya bikin partai baru…., Anggota DPR minta fasilitas mewah, Anak kecil bunuh diri karena malu ngutang biaya sekolah…., Oh, jadi ini yang bikin kamu kekenyangan pagi ini?” mang Papay mulai paham penyebab mikirnya mang Odon.

“Ya, Begitulah adanya. Aku rasa sikap pemimpin negeri ini kurang tepat mengambil sikap terhadap para lawan politiknya ataupun para kaum protes itu. Menurutku, kalau tidak setuju dengan kritikan orang lain, balaslah dengan argumentasi yang logis dan normal-normal saja. Jangan sampai mendiskreditkan mereka” lanjut mang Odon.

“Itu kan menurut perasaan kamu. Seandainya kamu yang dikritik bagaimana?”

“Ya, tapi kan nggak perlu sampai menghina begitu, lah”

“Lho, bukankah para tukang protes itu pada dasarnya juga memaki sang raja?” bantah mang Papay. “Justru aku kurang setuju dengan sikap para politisi itu. Tidak pantas ngedumelin bangsa sendiri di tengah terpuruknya bangsa ini. Kalau ada yang dianggap kurang memuaskan, utarakan saja sesuai dengan jalur konstitusional. Begitu kan lebih normal, jadi rakyat tidak dibuat bingung untuk menentukan pilihan.”

“Wah, kamu ini sok priyayi, Pay! Wajar kalau mereka memprotes, karena itu kritik membangun. Lagi pula yang namanya tukang protes itu, kerjaannya yang memprotes. Yang namanya politisi itu, kerjaannya mempolitiki orang lain, bukan manut-manut…” sepertinya cengkrama mereka makin hangat.

“Kamu sendiri sok punakawan! Memangnya yang namanya ngurus kerajaan itu tidak semrawut. Eeh, mereka kok bukannya bicara baik-baik yang lebih edukatif, malah cari-cari kesalahan pemerintah, lalu dipojokkan, lalu merasa dirinya lebih baik.” Makin panas saja pagi ini.

“Assalamu’alaikum…, lho, ada apa nih, kok pake monyong-monyong segala?” Parikesit tiba dengan muka keheranan melihat kedua temannya yang sedang bersitegang hingga monyong.

“Eh, kamu, Par. Kebetulan nih ada topik hangat yang perlu didiskusikan.” Mang Papay mempersilahkan Parikesit duduk di sampingnya.

“Kopi hangat? Wah, kebetulan nih, mana? Sekalian saja dengan roti bakarnya, mang”

“Hush! Topik hangat, bukan kopi hangat!” mang Odon meralat. Tapi dia beranjak juga dari kedudukannya menuju dapur untuk membuatkan kopi hangat. Sementara itu mang Papay menceritakan kembali apa yang dibicarakannya bersama mang Odon. Karena kalau saya ulang dari awal namanya mubadzir, makan halaman.

“Gimana menurut kamu, Par?” mang Odon meletakkan kopi hangat di meja samping Parikesit.

“Begini, lebih baik kita cengkramakan topik yang lain saja, bagaimana?” sepertinya Parikesit kurang tertarik dengan topik yang dibicarakan kedua temannya.

“Lho, kok gitu. Ini topik yang sedang hangat di negeri ini. Semua media massa mempublikasikannya. Masak kamu nggak mau tau sih!” mang Odon kecewa.

“Bukannya aku tidak mau tau, mang. Masalah seperti ini biasa terjadi di setiap kerajaan. Jadi tidak perlu direspon dengan dramatis begitu. Ini adalah realitas normal sebuah bangsa yang sedang membangun demokrasi. Dari jaman homo erectus hingga hombreng  ereksi, selalu saja ada pihak berkuasa, pihak yang haus kekuasaan, dan pihak yang serakah dengan kekuasaan. Untuk mencapai apa yang mereka impikan, pastilah mereka mencari dukungan rakyat. Padahal yang namanya rakyat negeri kita ini, sebenarnya tidak pernah memikirkan politik. Rakyat kita tidak biasa dan tidak bisa main-mainan politik seperti mereka itu. Rakyat terlalu khusyu’ mencari makan dan bayar hutang.”

“Walaupun bukan urusan kita, sebagai rakyat kita juga harus kritis. Karena aku tidak mau kalau rakyat selalu jadi korban kekuasaan!” mang Papay tidak puas.

“Kalau mamang tidak mau jadi korban, mamang harus pandai membaca situasi, lalu gunakan hak sebagai rakyat sesuai konstitusi. Kalau rakyat cerdas, maka akan merdeka dari segala pemanfaatan ataupun tekanan kekuasaan.”

“Setuju, tapi bukan berarti kita tak boleh mengkritisi sikap dan tingkah laku politik mereka, kan?!” mang Papay mulai mereda.

“Ya, sih. Tapi tidak perlu sampai monyong-monyong seperti tadi, he he he…” Parikesit tersenyum seperti anak kucing baru selesai nete.

Interaksi dengan Diri Sendiri

Walau sempat teredam beberapa minggu, ternyata kasus “Pencemaran Nama Baik Tuhan” kembali diungkap di media. Ini terjadi setelah complaint FUUI dilanjutkan ke kepolisian. Wajar saja kalau orang-orang Muslim itu protes karena mereka tak mau panggilan Tuhan yang biasa didengungkan, “Allahu Akbar” diplesetkan jadi “Anjing hu Akbar”. Siapa saja boleh tersinggung kalau nama Tuhannya dibegitukan.

Oknum (he he, baru kali ini dengar istilah oknum lagi) Mahasiswa UIN itu tidak menyanggah kalau dia memang mengatakan kata yang mengundang marah kaum muslimin itu. Bukan cuma itu, ketika acara orientasi mahasiswa baru itu, ia juga menyatakan kalau area itu adalah “area bebas Tuhan”. Ini bisa diartikan kalau area saat itu adalah area bebas nilai, bebas aturan, bebas hukuman, bebas pujian, bebas kasih sayang, bebas rahasia, bebas segala hal yang dapat menunjukkan citra Tuhan. Karena Tuhan memang memiliki citra nama yang kaya, sekaya rangkaian huruf dan kata-kata.

“Memang begitulah kelakuan anak-anak Aqidah dan Filsafat!” mang Odon komentar.

“Begitu bagaimana, Don?!” tanya mang Papay.

“Mereka, terbiasa berpikir bebas dan rasional. Tak ada batasan untuk memikirkan apapun, termasuk memahami Tuhan. Hal itu mereka lazimkan agar tumbuh kecerdasan di masa depan”

“kalau bicara kebebasan saja, mah gampang! Tak perlu kuliah, aku sudah merasa bebas berpikir. Justru yang jadi masalah adalah apakah orang-orang yang memiliki kebebasan berpikir itu mempunyai keteguhan beriman.” Sela mang Papay.

“tak mesti begitu! Yang namanya kebebasan berpikir itu juga berarti kebebasan beriman.”

“Kalau begitu ganti saja jurusan Aqidah & Filsafat itu jadi Jurusan Bebas Nilai!”

“Lho, kok kamu yang minta ganti nama, lha para dosen dan dekannya saja menganggap itu bukan masalah.” Bantah mang Odon.

“Maksudku, kalau memang realitasnya seperti itu, berarti selama ini kampus itu hanya menekankan kebebasan berpikir ala Filsafat, tapi tidak menekankan sisi aqidahnya. Itu yang membuat kebebasan mahasiswa menjadi liar, anarki!”

“ho ho, lalu kalau namanya diganti sesuai usulan kamu tadi, berarti kamu setuju kalau mereka bersikap bebas seperti kemarin?” mang Odon makin memepet mang Papay.

“Ya… gimana yach…!” Mang Papay belum memberikan jawaban pasti, sebab Parikesit muncul tiba-tiba di antara mereka

“Dari mana saja kamu, Par?” sapa mang Papay.

“Lho, jawab dulu pertanyaanku, apakah kamu setuju!” mang Odon mendesak

“Dari stasiun kereta, beli koran murah.” Sahut Parikesit kepada mang Papay.

“Pay, jadi bagaimana keputusanmu?” tagih mang Odon.

“Keputusan apa, aku rasa diskusi kita sudah selesai. Aku malas melanjutkannya.” Jawab mang Papay.

“Memang sedang bicarakan apa?” Parikesit belum tahu. Kedua sahabatnya itu saling bercerita dari awal hingga akhir seperti rekonstruksi.

“Gimana menurut kamu, Par?” tanya mang Odon lebih ngotot dari pada mang Papay.

“Menurutku, kebebasan berpikir itu mesti diimbangi dengan kecerdasan bersikap.” Sahut Parikesit.

“Memang orang yang bebas berpikir itu belum tentu cerdas?” tanya mang Odon.

“Mungkin lebih tepat cerdas dalam menempatkan diri, kapan harus berteriak, kapan harus diam. Aku memahami sikap mahasiswa itu sebagai kegelisahannya sendiri, yang dipengaruhi oleh pengalaman dia berhubungan dengan Tuhan. Entah Tuhan yang mana, aku tak pernah kenal. Sebab setiap orang boleh punya Tuhan yang berbeda-beda, tapi tak perlu mengajak orang lain untuk mengikuti Tuhan yang ada dipikirannya sendiri.”

“Jadi, kamu setuju dengan kebebasan di kampus itu?” tanya mang Odon

“Masalahnya bukan setuju atau tidak karena itu tetap tak mempengaruhi kasus yang ada. Kamu atau aku setuju atau tidak, itu tak berpengaruh pada mereka. Sebab itu urusan pribadi.”

“Nah, begitu maksudku, mengapa aku tak mau menjawab pertanyaanmu itu, Don!” mang Papay baru mendapatkan alasan untuk menjelaskan diamnya.

“Aku memahami kalau setiap orang itu mempunyai pengalaman unik terhadap Tuhannya. Dan biarlah itu menjadi rahasia vertikal. Sebab kita tidak cuma berhubungan dengan Tuhan. Kita juga punya interaksi dengan manusia, alam raya, dan yang lebih penting dari ketiga interaksi itu adalah bagaimana kita berinteraksi dengan diri sendiri.”

“Kok berinteraksi dengan diri sendiri?”

“Itu adalah saat kita merenung, menganalisis segala hal dengan kebebasan yang sesungguhnya.”

“Lha, saat itulah kita bebas berteriak, karena tak akan membuat bingung orang lain yang jelas-jelas mempunyai pengalaman spiritual berbeda dengan kita.” Tambah mang Papay.

“Saat berinteraksi sendiri itulah kita bebas bercuap-cuap terhadap Tuhan. Mau bicara apa saja silakan, sebab tak akan ada yang mendengar dan tersinggung.”

“Seperti bicara dalam botol, dong?!” jelas mang Odon.

“Hush! Aku bukan Jin!”

Kampanye

Mang Papay bangun kesiangan. Semalam ia baru tidur menjelang fajar. Beberapa hari ini ia sibuk mondar-mandir sebagai tim kampanye salah satu kandidat pemimpin di negeri Purbadewa ini. Sepertinya baru sekali ini ia ikut-ikutan kegiatan politik. Biasanya dia selalu ngumpet kalau ada kegiatan massal seperti itu. Entah kenapa, MT juga tidak tau alasannya.

Lain lagi dengan mang Odon. Pada perlombaan lima tahunan ini ia hanya menyibukkan diri mancing di laut.

“Dapat ikannya, Don?” tanya mang Papay. Kakinya ditekuk di atas kursi. Tangan kanannya siap menggapai secangkir accident coffee (kopi tubruk) yang masih panas.

“Dapat, tapi kecil-kecil…”

“Kok hanya dapat yang kecil?”

“Kamu ini kaya nggak tau aja. Yang besar-besar itu kan jatahnya orang besar. Pantangan kalau orang kecil macam kita ini nyerobot jatah yang besar” mang Odon menjawab tanpa beban.

“Lho, aturan dari mana itu? Bukannya kekayaan alam itu bebas dimanfaatkan buat siapa saja?” entah, mang Papay bertanya jujur atau sekedar memancing mang Odon yang baru pulang mancing.

“Sebenarnya sih begitu. Tapi pada kenyataannya, secara teknologi saja, alat pancing saya jelas tak bisa menghasilkan ikan yang besar. Berbeda dengan bangsawan negeri yang kapalnya bermesin ganda, pancingnya otomatis.” Mang Odon merebahkan badannya di bangku panjang. “Bagaimana kampanye kamu? Sukses dong? Apa acara yang paling rame dalam kampanye itu?

“Oh, acara kampanye itu lancar jaya sesuai rencana. Kalau acara yang paling ramai, ya.. pidato…”

“Lho, kok pidato dibilang ramai?”

“Ya, jelas dong, karena waktu para kandidat menyampaikan janji-janji politik, semua hadirin berdecak, bertepuk tangan, teriak-teriak, memprotes, tarik urat, dan ya.. pada akhirnya selesai acaranya…”

“Apa sih yang menjadi benang merah dari orasi politik kandidat kamu?”

“Masalah perbaikan negeri, kalau dipimpin oleh pemimpin yang bersih dan berani, maka negeri kita ini bisa menjadi negeri yang bebas KKN, bebas konflik SARA, bebas narkoba, dan bebas dari intimidasi negeri luar.”

“Kamu percaya, kalau mereka bisa memperbaiki nasib bangsa ini, Pay?” kini mang Odon sudah menyulut sebatang rokoknya. Pertanda ia serius bercengkrama dengan mang Papay.

“Jelas saya percaya dong! Karena calon pilihanku itu orangnya populer dan pintar. Aku yakin dia bisa menyelesaikan masalah negeri ini.”

“Kamu yakin kalau mereka jadi pemimpin, mereka tetap jujur, bersih, berani berbuat lurus, dan tidak memanfaatkan fasilitas negara buat keluarga dan kroninya?” mulut mang Odon mengepulkan asap rokok berbentuk lingkaran.

“Ya, sebenarnya sih, ada juga keraguan dalam hatiku tentang hal itu. Tapi itukan soal nanti. Yang penting aku kepingin negeri ini punya pemimpin baru. Raja Cemanibuana kita harus diganti dengan Cemanibuana yang baru. Biar ada harapan baru.” Mang Papay tidak menjawab dengan lancar seperti semula.

“Kalau sama-sama Cemanibuana, sama aja ga ada perubahan!”

“Ada dong, paling tidak, cara menipunya lebih baik, tidak lagi menyolok seperti yang lalu-lalu!”

“Kalau bukan Cemanibuana yang lain bagaimana?”

“Itu tergantung, apakah kalangan tentara, seperti Jendral Purbasangka mau mencalonkan diri…”

“Wah, sama saja dong! Jendral Purbasangka itu paling doyan bikin isu politik, asal tangkep, dan bikin rekayasa demo. Apakah tak ada calon yang lain?”

“Ada, tapi sepertinya semuanya sama-sama dari kalangan politisi bau apek!” “Kalau begitu, belum tentu apa yang dikampanyekan itu benar-benar bisa direalisasikan dong?” mang Odon bertanya terus nih.

“Eh, ngomong-ngomong, Parikesit kemana ya?” Mang Papay mengubah topik pembahasan. Mungkin ia bingung menjawab segala pertanyaan mang Odon, temannya yang skeptis pada kepemimpinan negeri Purbadewa.

“Kemarin Parikesit bilang lagi sibuk, karena dapat proyek kampanye juga. Lumayan lah buat tambah-tambah penghasilan….” Mang Odon menjawab saja pengalihan topik dari mang Papay. Ia tidak protes, karena sebenarnya ia muak mendiskusikan tentang kepemimpinan dan pemerintahan yang tak pernah membayar janji-janji kampanye kepada rakyatnya.