Kampanye

Mang Papay bangun kesiangan. Semalam ia baru tidur menjelang fajar. Beberapa hari ini ia sibuk mondar-mandir sebagai tim kampanye salah satu kandidat pemimpin di negeri Purbadewa ini. Sepertinya baru sekali ini ia ikut-ikutan kegiatan politik. Biasanya dia selalu ngumpet kalau ada kegiatan massal seperti itu. Entah kenapa, MT juga tidak tau alasannya.

Lain lagi dengan mang Odon. Pada perlombaan lima tahunan ini ia hanya menyibukkan diri mancing di laut.

“Dapat ikannya, Don?” tanya mang Papay. Kakinya ditekuk di atas kursi. Tangan kanannya siap menggapai secangkir accident coffee (kopi tubruk) yang masih panas.

“Dapat, tapi kecil-kecil…”

“Kok hanya dapat yang kecil?”

“Kamu ini kaya nggak tau aja. Yang besar-besar itu kan jatahnya orang besar. Pantangan kalau orang kecil macam kita ini nyerobot jatah yang besar” mang Odon menjawab tanpa beban.

“Lho, aturan dari mana itu? Bukannya kekayaan alam itu bebas dimanfaatkan buat siapa saja?” entah, mang Papay bertanya jujur atau sekedar memancing mang Odon yang baru pulang mancing.

“Sebenarnya sih begitu. Tapi pada kenyataannya, secara teknologi saja, alat pancing saya jelas tak bisa menghasilkan ikan yang besar. Berbeda dengan bangsawan negeri yang kapalnya bermesin ganda, pancingnya otomatis.” Mang Odon merebahkan badannya di bangku panjang. “Bagaimana kampanye kamu? Sukses dong? Apa acara yang paling rame dalam kampanye itu?

“Oh, acara kampanye itu lancar jaya sesuai rencana. Kalau acara yang paling ramai, ya.. pidato…”

“Lho, kok pidato dibilang ramai?”

“Ya, jelas dong, karena waktu para kandidat menyampaikan janji-janji politik, semua hadirin berdecak, bertepuk tangan, teriak-teriak, memprotes, tarik urat, dan ya.. pada akhirnya selesai acaranya…”

“Apa sih yang menjadi benang merah dari orasi politik kandidat kamu?”

“Masalah perbaikan negeri, kalau dipimpin oleh pemimpin yang bersih dan berani, maka negeri kita ini bisa menjadi negeri yang bebas KKN, bebas konflik SARA, bebas narkoba, dan bebas dari intimidasi negeri luar.”

“Kamu percaya, kalau mereka bisa memperbaiki nasib bangsa ini, Pay?” kini mang Odon sudah menyulut sebatang rokoknya. Pertanda ia serius bercengkrama dengan mang Papay.

“Jelas saya percaya dong! Karena calon pilihanku itu orangnya populer dan pintar. Aku yakin dia bisa menyelesaikan masalah negeri ini.”

“Kamu yakin kalau mereka jadi pemimpin, mereka tetap jujur, bersih, berani berbuat lurus, dan tidak memanfaatkan fasilitas negara buat keluarga dan kroninya?” mulut mang Odon mengepulkan asap rokok berbentuk lingkaran.

“Ya, sebenarnya sih, ada juga keraguan dalam hatiku tentang hal itu. Tapi itukan soal nanti. Yang penting aku kepingin negeri ini punya pemimpin baru. Raja Cemanibuana kita harus diganti dengan Cemanibuana yang baru. Biar ada harapan baru.” Mang Papay tidak menjawab dengan lancar seperti semula.

“Kalau sama-sama Cemanibuana, sama aja ga ada perubahan!”

“Ada dong, paling tidak, cara menipunya lebih baik, tidak lagi menyolok seperti yang lalu-lalu!”

“Kalau bukan Cemanibuana yang lain bagaimana?”

“Itu tergantung, apakah kalangan tentara, seperti Jendral Purbasangka mau mencalonkan diri…”

“Wah, sama saja dong! Jendral Purbasangka itu paling doyan bikin isu politik, asal tangkep, dan bikin rekayasa demo. Apakah tak ada calon yang lain?”

“Ada, tapi sepertinya semuanya sama-sama dari kalangan politisi bau apek!” “Kalau begitu, belum tentu apa yang dikampanyekan itu benar-benar bisa direalisasikan dong?” mang Odon bertanya terus nih.

“Eh, ngomong-ngomong, Parikesit kemana ya?” Mang Papay mengubah topik pembahasan. Mungkin ia bingung menjawab segala pertanyaan mang Odon, temannya yang skeptis pada kepemimpinan negeri Purbadewa.

“Kemarin Parikesit bilang lagi sibuk, karena dapat proyek kampanye juga. Lumayan lah buat tambah-tambah penghasilan….” Mang Odon menjawab saja pengalihan topik dari mang Papay. Ia tidak protes, karena sebenarnya ia muak mendiskusikan tentang kepemimpinan dan pemerintahan yang tak pernah membayar janji-janji kampanye kepada rakyatnya.

Bosan

“Apa yang diberitakan?”

“Banyak masalah di penghujung tahun ini.” Mang Papay menjawab pertanyaan mang Odon tanpa menoleh sederajatpun. Matanya kelihatan serius membaca halaman pertama koran pagi.

“Ah masalah di koran dari dulu itu-itu saja, tidak ada yang baru. Aku bosan baca koran sekarang. Tidak seperti koran zaman dulu, beritanya selalu baru dan selalu hangat.”

“Berita di koran itu tergantung perkembangan situasi, mang. Dan situasi itu berkembang tergantung dinamika masyarakat. Kalau masyarakatnya dinamis, maka koranpun akan menyampaikan berita yang tidak membosankan, tapi kalau masyarakatnya pasif, tidak kreatif, berita apa yang mau disebar?” Parikesit membela diri. Padahal yang dikritik bukan dirinya, tapi koran. Mungkin karena kadang ia suka menulis di Koran tersebut, jadi rasa mewakilinya besar.

“Jangan tergantung situasi dong. Situasi itu seperti sungai yang mengalir. Selalu ada bebatuan, ada jurang, ada anak sungai. Jadi sudah ada kemestian kondisinya akan begini atau begitu.” Mang Odon tak puas mendengar alasan Parikesit.

“Maksud saya, koran itu menyampaikan apa yang terjadi di masyarakat, mang. Karena kalau bukan itu yang disampaikan, mau menyampaikan apa? Apa mesti penerbit koran itu ngarang-ngarang cerita hanya agar kelihatan “berbeda” dari koran lainnya, hanya agar terkesan menyampaikan berita baru terus? Kalau begitu jadinya, sama saja koran itu dengan kumpulan cerita fiksi dong.”

“Sebenarnya masalahnya bukan pada korannya. Menurut saya koran sudah berbuat sebagaimana fungsinya, yaitu menyampaikan berita apa adanya, kalaupun ada tambahan, adalah analisis terhadap berita tersebut.” Mang Papay jadi ikutan nimbrung. Koran yang telah selesai dilahap digeletakkan di atas meja.

“Tapi aku bosan baca koran sekarang!” mang Odon menegaskan.

“Kalau begitu jangan baca koran, baca komik saja!” Parikesit gerundelan.

“Bosan itu wajar terjadi pada setiap orang. Aku sendiri suka bosan kalau mendengar kamu ngoceh terus. Tapi karena aku pikir itu memang sudah tabiat kamu, mau diapakan? Cuma masalahnya, bagaimana kita dapat santai dan istirahat sejenak dari kebosanan itu. Ada saatnya kita akan merindukan hal-hal yang sekarang membuat kita bosan. Dan ada saatnya kita bosan dengan hal-hal yang kita sukai pada saat ini.” Bijak sekali tampaknya mang Papay pagi ini. Mungkin sarapannya lengkap.

“Memang, aku sendiri kadang bosan dengan pekerjaanku sebagai penulis” sambung Parikesit “yang membuat aku bosan adalah tidak adanya situasi baru yang bisa dijadikan bahan tulisan. Bahkan bukan sekedar bosan. Aku jadi bingung sendiri, apa yang mesti ditulis untuk masyarakat?”

“Nah, jadi kebosananku itu bisa diterima, kan?” mang Odon lega karena merasa Parikesit kalah dalam perdebatan dengannya pagi ini. “Kemarin aku sedang jalan-jalan di taman. Di sana sedang ada kerumunan orang-orang. Aku pikir ada apa, eh tenyata cuma pertunjukkan topeng monyet saja!”

“Memangnya kenapa dengan pertunjukan atraksi topeng monyet, Don?” mang Papay bingung beneran.

“Kamu tahu tidak, dari zaman kakeknya kakek kakekku dulu sampai sekarang, atraksi topeng monyet tidak pernah berubah, selalu begitu-begitu saja. Seperti si monyet pergi kepasar, bersolek, naik anjing, pakai payung, dan lain-lainnya yang membosankan. Musik iringannya pun begitu terus, tidak berubah!”

“Tapi buktinya masyarakat banyak yang menonton?!”

“Nah itulah masalahnya, koq masyarakat tidak ada yang bosan menonton atraksi kuno itu. Malah berkerumun seperti melihat Michael Jackson atau Inul.” Lebih jelas sebenarnya masalah mang Odon. “nah, aku merasa berita-berita di koran itu seperti itu. Agen koran berkeliling ke pelosok penduduk agar mau membaca isi korannya. Padahal isinya tidak ada yang baru, membosankan.”

“Jangan samakan koran dengan topeng monyet dong mang!” Parikesit protes.

“Apanya yang beda? Kalau memang koran itu berisi berita yang membosankan, berita yang diulang-ulang, hanya redaksinya saja yang diubah, apanya yang beda dengan topeng monyet?!” mang Odon balik protes.

“Jelas beda dong. Berita di koran itu didapat dengan susah payah. Sedangkan topeng monyet tidak dituntut untuk mengadakan pembaruan dalam pertunjukkannya. Penerbit koran mikir sedang topeng monyet, apalagi monyetnya, apa bisa mikir?” wah, Parikesit mulai emosi jiwa nih.

“Sudahlah tak usah debat kusir. Apa yang kamu perdebatkan juga membosankan telingaku untuk mendengarnya. Kan sudah aku bilang tadi, kebosanan itu wajar terjadi pada setiap orang. Jadi tidak perlu diperdebatkan.” Mang Papay menengahi.

“Iya deh, ayo kita damai mang” Parikesit mengulurkan jari manisnya kepada mang Odon, tanda bahwa ia sudah bosan debat kusir. Mang Odon menyambut dengan jari manis pula. Lalu keduanya saling tersenyum, seperti sedia kala.

“Begitu dong, mendiskusikan sesuatu itu tidak perlu sampai menegangkan urat syarat. Nanti lelah sendiri kan?” mang Papay menyambut kesepakatan damai antara mang Odon dan Parikesit.

“Memang sih, banyak hal dalam hidup ini yang jika kita tidak pandai-pandai mencari suasana baru akan terasa membosankan.” Mang Odon menyambar sambutan mang Papay.

“Tapi kalau boleh aku bicara……”

“Boleh, boleh, silakan lanjutkan..” mang Odon menyambut Parikesit yang baru mulai ngoceh lagi.

“Ya, aku lanjutkan setelah gangguan teknis barusan. Begini, dari apa yang mang Odon katakan di awal cengkrama kita pagi ini. Aku jadi dapat ide bagus nih untuk berita di koranku.”

“Tentang apa itu, Par?” mang Papay selalu tertarik kalau Parikesit mengawali ucapannya dengan kata ide. Mang Papay pernah punya pengalaman yang cukup panjang bersama Parikesit. Dalam setiap kesempatan yang darurat parikesit selalu mendapatkan ide-ide seperti Mat Gaper, tokoh serial TV. Cuma bedanya, ide-ide parikesit tidak pernah ada yang beres. Nah, mang Papay suka sekali mengenang sendiri pengalaman-pengalaman bodohnya bersama Parikesit.

“Tentang topeng monyet. Aku pikir kisah tentang tukang topeng monyet ini bisa diangkat sebagai feature dalam koranku.”

“Dari sisi mana kamu akan menyorotinya?” tanya mang Papay lagi. Ia ingin tahu sampai di mana ide anak muda ini berakhir.

 

“Seperti yang mang Odon bilang tadi, dari dulu atraksi topeng monyet tidak pernah ada perubahan. Selalu itu-itu saja. Tapi kenapa sang tukang tidak bosan-bosannya berkeliling dusun untuk menggelar atraksi monyetnya dan berharap ada orang yang tertarik dengan atraksi tersebut, lalu melemparkan recehan ke kaleng tempat penampungan uang.” “Lalu?”

“Apakah si tukang topeng monyet itu tak menyadari kalau masyarakat itu sudah tahu apa yang akan disaksikannya?”

“selanjutnya?”

“Inilah yang harus diteliti, apa yang membuat tukang topeng monyet itu bertahan dengan pertunjukkannya, di tengah zaman yang semakin maju ini.”

“Aku pikir dia menyadari kalau atraksinya itu tidak ada yang baru… tapi bagaimana lagi, memang dari dulu atraksi topeng monyet memang begitu… sudah tradisi!” mang papay menguji ide Parikesit.

“Tergantung tukangnya. Mungkin ada yang sadar dan mungkin ada yang tidak. Karena itu aku perlu survey ke semua tukang topeng monyet yang ada di negeri kita ini.”

“Wah, pekerjaan besar dong. Pasti juga butuh biaya besar. Apa kamu yakin bakal dapat anggaran dari pimpinan koranmu?”

“Itu masalah gampang. Yang penting sekarang adalah berita yang lain dari biasanya. Walaupun sederhana tapi menarik.”

“Terus apa lagi yang kamu cari dari tukang topeng monyet itu?”

“Itu tadi, apa yang membuat dia bertahan dengan atraksi tradisionalnya itu di tengah era modern ini, lalu apakah ada rencana untuk menampilkan suatu atraksi baru buat monyetnya. Apakah tukang topeng monyet itu tidak takut ditinggalkan oleh penontonnya yang sudah bosan dengan atraksi-atraksinya, dan yang paling penting, apa kiat-kiat dia untuk membuat monyetnya itu jinak dan menuruti segala perintahnya. Karena kalau monyetnya tidak jinak, ia tidak bisa makan, kan?”

“Bisa jadi, Kalau begitu kamu coba saja ide kamu tersebut. Siapa tahu kamu bakal dapat penghargaan jurnalistik dari kerajaan. Tapi bagaimana pendapat Odon? Kamu mesti tanya dia juga dong, kan ide itu kamu dapat dari dia.”

“Oh iya, bagaimana menurut mamang tentang ide saya tersebut mang?” Parikesit bertanya kepada mang Odon.

Sambil beranjak ke radio tape, mang Odon menjawab singkat, “Bossaaan! Bukan Cuma topeng monyetnya ya mesti kamu survey, tapi juga kenapa masyarakat senang menyaksikan kebosanan!!” tak lama terdengarlah sebuah lagu ciptaan Cok Rampal……..”Lagunya bukan lagu yang baru/nyanyiannya masih yang dulu…….”

Peka

“Sudah berapa lama dia sakit?”, suara mang Odon menambah keheningan malam. Café sudah tutup. Tinggal mang Papay dan mang Odon berdua. Keduanya menciptakan keheningan, bicara sekenanya. Setiap mahluk memang pantas punya masalah. Mang Papay, misalnya, ada saja masalah-masalah yang mendatanginya setelah ia membuka café, yang ujung-ujungnya selalu ke uang. Tapi, itu memang resikonya sebagai pengusaha. Ada masalah lain yang lebih mempengaruhi suasana malam ini di café.

“Kamu dapat kabar dari mana?”, bukannya mang Odon tak percaya dengan bertanya seperti itu.

“Dari temannya, yang tadi mampir ke sini.” mang Papay menyenderkan badannya ke tembok. Ia duduk di atas meja.

“Lalu,….”

Ya, mereka kelihatan sedih. Satu-satunya sahabat mereka, Parikesit, jatuh sakit. Tipes! Dia kelelahan. Parikesit sempat dibilang workoholic oleh teman-temannya di kantor. Kalau sudah hanyut dalam sebuah pekerjaan, ia tak ingat apa-apa lagi selain apa yang ia kerjakan. Paling banter, yang sempat ia ingat hanya orang-orang terdekatnya, seperti mang Papay, mang Odon, dan teman betinanya. Buat yang terakhir ini paling sering mengganggu konsentrasinya. Menurut kabar yang diterima mang Papay, sudah beberapa hari ini Parikesit di rawat di balai kesehatan masyarakat.

“Pantas, sudah lewat satu bulan purnama dia belum muncul ke sini.” mang Odon manggut-manggut. “Dia susah diberi nasehat untuk jaga diri…”

“Bukannya susah, tapi keadaan yang membuat dia selalu tidak bisa menjalankan pesan-pesan kesehatan. Dia itu hidup sebatang kara. Tidak ada yang memperhatikan hidupnya selain kita. Sedangkan kita sendiri hidup pas-pasan.” Agak bijak juga mang Papay.

“Ibarat mesin, jika antara energi yang keluar dan yang masuk, tidak seimbang, maka tinggal menunggu waktu saja mesin itu akan jebol.”

“Tapi manusia itu lebih dari mesin. Yang dibutuhkan bukan cuma suplai bahan bakar dan perawatan. Manusia bukan cuma membutuhkan hal-hal yang bersifat material. Kebutuhan psikis juga penting, seperti pengakuan akan aktualisasi dirinya. Itu penting sekali.”

“Tapi dalam kasus Parikesit, bukan itu yang ia butuhkan. Ia butuh perbaikan gizi dan perawatan!”

“Ah, bukan cuma itu. Bukan cuma gizi dan perawatan. Sebenarnya Parikesit itu butuh seorang perawat, he he he..””masih sempat saja mang Papay bercanda di saat teman baiknya sedang sekarat di Ruang Gawat Sekali.

“Ya, benar juga katamu, Pay. Sebenarnya dia memang sudah harus punya perawat.” Mang Odon tersenyum kecut. Asem sekali rasanya kalau anda bisa melihat raut wajah mang Odon saat tersenyum. Pernah melihat kucing yang tertangkap basah waktu mencuri ikan majikannya? Nah, kira-kira seperti itulah raut wajah mang Odon kalau sedang tersenyum.

“Kembali ke masalah keseimbangan antara input dan output,…” wah ko’ mereka malah asyik diskusi. Bukannya siap-siap membesuk temannya… “Saya pernah ikut sarasehan di balai desa. Saat itu sang narasumber sangat gugup sekali kelihatannya. Sepertinya ia tak siap membahas masalah yang diberikan oleh panitia kepadanya. Saya pikir itu terjadi karena nara sumber itu merasa pengetahuan yang dimilikinya selama ini sudah cukup kaya, sehingga ia tak pernah berupaya untuk memperkaya pengetahuannya. Padahal zaman selalu bergerak, selalu terjadi perkembangan atau perubahan. Kalau seorang narasumber, apakah dia itu seorang penulis, dalang, guru, atau aktivis mimbar, atau apa kek, tidak mengikuti perkembangan zaman, maka jebollah ia pada saatnya.”

“hm.. masuk akal juga.” Mang Odon manggut-manggut saja.

“Jadi, setiap orang yang hidupnya berhubungan dengan masyarakat tidak boleh absen untuk membaca perkembangan zaman. Apalagi di zaman sekarang ini, di mana teknologi informasi semakin maju, jangan sampai dilewatkan.”, sebatang rokok yang terjepit dua jari mang Papay nyaris habis.

“Benar sih, tapi itu sih tergantung juga dengan kemampuan finansial dong. Seorang volunteer macam Parikesit, misalnya, ia butuh sekali segala macam informasi berkembang. Ia butuh bahan-bahan pustaka. Kalau dia tak kuat secara finansial, mana mungkin bisa memenuhi kebutuhannya itu.”

“Eh, mang, …” tiba-tiba intonasi suara mang Papay merendah “aku pernah tidak sengaja membaca catatan hariannya Parikesit….”

“Bagaimana tuh isinya? Tentang teman betinanya ya?” mang Odon paling antusias kalau mendengar gosip.

“Ya… bukannya sedang ngomongin orang sih,….” duduk mang Papay kembali tegap. Mang Odon sedikit maju untuk mendengar kelanjutan ocehan temannya itu. “Parikesit pernah nulis, begini ‘… I have to make some writings every month, but I don’t have enough money for buy the books, .. How can I do it better. The money that I have just for eating… (siapa tahan)’ begitu tulisannya. Wah, kasihan sekali dia itu.” Posisi duduk mang Papay kembali seperti semula.

“Lalu apa lagi tulisan lainnya?” mang Odon semakin mendekati kedudukan mang Papay.

“Tidak ada lagi. Cuma itu saja. Lha, sebenarnya aku sih tidak mau membuka catatan pribadi orang, tapi saat itu aku tidak sengaja membacanya. Habis dia sendiri yang lupa menutup bukunya di atas meja. Sedangkan pagi itu aku harus membersihkan perabotan dari debu.” Ada saja alasan mang Papay.

“Sebenarnya tidak boleh membaca catatan pribadi orang lain. Itu sangat pribadi sekali. Mestinya kamu tutup saja buku itu sebelum membaca.” Mang Odon menasehati temannya.

“Itu kan tak disengaja!”

“Lain kali jangan begitu, ya!”

“Iya deh. Tapi dengan begitu kan, aku jadi tahu apa yang menjadi masalah bagi dia. Habis, selama ini dia tidak pernah mengemukakan masalahnya dengan kita. Saya melihat sepertinya dia asyik-asyik saja dengan dunianya, tidak ada masalah. Ternyata…”

“Kan setiap mahluk punya masalah masing-masing… itu kata MT yang bikin dunia dongeng kita ini.”

“Benar. Tapi baru saat itulah saya tahu kalau Parikesit juga termasuk manusia bermasalah. Habis selama ini aku melihat dia sebagai orang yang selalu tidak kehabisan akal untuk memecahkan masalah-masalah kita…. ternyata dia juga punya masalah pribadi yang tidak bisa ia selesaikan sendiri.”

 

“Maka dari itu, jangan terlalu cepat menilai orang. Itu bukan perbuatan terpuji. Yang jelas, setiap orang itu pasti punya masalah. Tapi ada orang yang bisa menyimpan masalah di lemarinya sendiri dan ada yang tidak kuat untuk tidak dikonsultasikan dengan orang lain.” “Ada juga yang sengaja mencari perhatian orang lain dengan melakukan kesibukan-kesibukan yang tidak biasa ia lakukan..”

“Ya, seperti itulah manusia. Beragam sekali” mang Odon selalu manggut-manggut, itu kebiasaannya.

“Kalau sudah begitu, mestinya setiap orang harus memiliki kepekaan terhadap suasana yang melingkarinya. Dengan begitu, akan ada tenggang rasa antar sesamanya.”

“Tapi banyak juga lho, orang yang tidak peka akan suasana hati orang lain….. bukannya ngomongin orang, sih…. aku pernah punya pengalaman, saat itu aku sedang kalut dengan masalah-masalah pribadiku. Tapi tiba-tiba saja salah seorang teman datang kepadaku untuk mengungkapkan permasalahannya. Padahal saat itu aku sangat kalut sekali. Tapi dia tidak peka akan apa yang aku rasakan… yah, akhirnya, terpaksalah aku melayaninya tidak sepenuh hati.” Tutur mang Odon.

“Mestinya jangan begitu, Don. Bagaimanapun kita harus bisa kelihatan tegar di depan teman-teman. Tidak masalah kalau mereka tidak tahu apa yang sedang berkecamuk di kepala kita. Tapi kalau mereka butuh bantuan, minta advis, bantu saja..”

“Mungkin kamu bisa begitu. Buat saya sulit sekali untuk berpura-pura sehat, sabar, dan tegar.”

“Belajar saja. Toh kalau kamu bisa begitu, teman-teman kamu juga bisa nantinya.”

“Jangan terlalu berharap kalau aku bisa seperti kamu, Pay.”

“Bukannya memaksa. Aku cuma menyarankan, nanti, suatu saat kamu juga akan dipaksa keadaan untuk bisa bersikap seperti itu.”

“Bicara soal nanti, nanti sajalah… jangan sekarang!”

Mereka asyik ngelantur. Padahal semestinya mereka bersiap-siap untuk membesuk Parikesit yang sedang terbujur lemas di Ruang Gawat Sekali, Balai Kesehatan Masyarakat. Akhirnya…

“Lho, Sudah hampir shubuh! Ayo kita besuk Parikesit!” mang Papay panik ketika ingatannya tentang Parikesit kembali muncul. Ia langsung bertolak dari kedudukannya di atas meja ke luar.

“Kamu sih.. kalau sudah diskusi, ngelantur kemana-mana, sampai lupa waktu…” mang Odon terbutu-buru menyusul mang Papay. Mereka menunggu kendaraan yang lewat di halte depan café. Ada yang lupa…. mang Papay tidak bawa dompet….. bayangkan sendiri kisah selanjutnya.

Budaya Baca Tulis

Jam sebelas malam café mang Papay baru saja tutup. Sejak dia membuka café di lokasi yang sangat strategis itu, banyak sekali tamu yang mampir. Kebanyakan adalah para pengusaha, profesional muda, dan tidak sedikit wanita karier yang selalu mampir. Kebanyakan alasannya hampir sama : Menunggu kemacetan reda.

Memang, pembangunan di Kerajaan Purbadewa cukup pesat. Hal ini menuntut peningkatan sarana dan prasarana kehidupan. Contoh yang bisa dilihat setiap hari adalah masalah kemacetan. Ini menunjukkan semakin “panen”nya bisnis kendaraan roda empat. Makin bersainglah para pengusaha otomotif. Bukan cuma itu, konsumen pun juga ikut bersaing: Siapa yang mobilnya paling mewah dan tentunya, siapa yang mobilnya paling mahal. Tak pernah terbayangkan kalau akhirnya mereka dipaksa berpikir untuk mengatasi kemacetan lalu lintas. Mereka yang lahir dari kalangan mapan menganggap pembangunan jalan kurang mendapat perhatian dari Kerajaan. Apalagi mereka yang sering ke luar negeri, seperti ke New York, Mekkah, atau Singapore, mengangankan dibangunnya jembatan layang atau jalan tol yang benar-benar bebas hambatan. Padahal negeri Purbadewa belum semaju kota tersebut. Untuk membangun jembatan di dusun saja, masyarakat mesti merelakan pohon kelapanya ditebang, walaupun pohon kelapa itu merupakan satu-satunya sumber penghidupan untuk menenangkan kepala. Beda lagi dengan kalangan pinggiran, “terlalu banyak kendaraan pribadi yang masuk ke negeri kita!”, katanya. Jelas saja kalau jalan yang sudah cukup luas itu tak pernah memadai. (more…)