Duniaku Duniamu Duniadia Duniakita

mt @ ampel (c) MT

mt @ ampel (c) MT

Minum saja air yang diberikan-Nya, tanpa meminta air yang kita inginkan. Kitalah yang selalu dahaga, sedang IA selalu memberi sesuai dengan keinginan-Nya, bukan keinginan kita…

Sikap seseorang dibentuk oleh definisinya terhadap dirinya sendiri. Hanyut dalam arus dan pusaran yang berpusat pada dirinya sendiri.

Tak akan ada teman yang berani mengulurkan tangan, jika yang hanyut amat menikmati gelombang yang menggulung jiwanya, jika yang bersedih masih dirasuki kebencian, jika yang menangis enggan membebaskan diri dari penjara dendam.

Kesejatian bukan seperti yang kita impikan. Kesejatian tak bernama. Kesejatian adalah kuasa-Nya. Kesejatian terasa ketika mata terpaut pada gerimis, pada hijaunya bumi, pada serabutan awan, pada kerlipan bintang, pada kepasrahan semesta raya, dan menjadi titik terkecil dalam harmoni kesemestaan.

Banyak orang lalu lalang dalam kehidupan.
Tak satupun terinspirasi oleh persliweran.
Inspirasi diserap, bukan tercurah.
menyerap dari yang terhampar.

Duniaku duniamu dunia dia dunia kita.
Jiwaku jiwamu jiwa dia jiwa kita.
Malamku malammu malam dia malam kita.
Cintaku cintamu cinta dia cinta kita.
Hariku harimu hari dia hari kita.

Catatan ini melengkapi hariku 14 Juni 2009.
*Berkurang satu per satu jatah hidupku…
*Maafkan atas segalaku…

MT @ Bantarkemang di akhir malam

Merasakan Tuhan

Kesadaran akan keberadaan Tuhan sangat menentukan perilaku seseorang. Orang yang menyadari, bahkan merasakan, kalau eksistensi Tuhan itu menembus ruang dan waktu, ia tak akan berani melakukan sesuatu yang merugikan dirinya. Apalagi merugikan orang lain.

Orang yang seperti itu selalu yakin, kapanpun, di manapun, Tuhan selalu menyertainya. Bahkan ketika ia baru berniat mengentit uang rakyat, ketika itu juga ia yakin tentang Tuhan, insya Allah, niatnya itu tak bakalan jadi ia lakukan. Kesadaran akan keberadaan Tuhan, adalah kekuatan hati yang dapat menyelamatkan seseorang dari perbuatan tak terpuji.

Dulu, ketika usahaku bangkrut dan terlilit hutang dengan Bank, aku sempat patah arang karena tak punya lubang untuk melunasi hutang. Kuajak temanku untuk merampok. Temanku ikut saja. Sampai di depan ATM di Mangga Dua Mall, kuincar seorang perempuan muda. Ketika aksi hendak kumulai, temanku bilang, “Mending lu istighfar, Te!“. Kontan saja aku mengajaknya pulang, kubatalkan rencana bego itu. Beberapa hari berselang, Tuhan punya cara terbaik hingga aku dapat melunasi hutang yang melilit kehidupanku.

Temanku yang lain pernah bertanya, “Kenapa orang yang setiap hari rajin berceramah, profesinya menasehati orang lain, tega melakukan fitnah terhadap tetangganya sendiri? Padahal setiap hari orang itu dekat dengan Tuhan!” Aku tak bisa menjawab tanya temanku ini. Aku hanya memikirkan, kedekatan seseorang dengan Tuhan tak cukup dilihat dari penampilan dan profesi. Di jalan, banyak kutemukan orang yang biasa saja, tapi tetap dekat dengan Tuhannya.

Seorang tukang gorengan di depan Mall di Cilegon, pernah kutanya tentang keadaan hidupnya. Apakah penghasilannya dari menjual gorengan, cukup untuk memenuhi kebutuhan seorang istri dan 4 orang anaknya. Orang tua itu bilang, kalau memikirkan keinginan, berapapun uang yang ia miliki tak akan cukup. karena itu, ia tak mau punya keinginan macam-macam. keinginannya disesuaikan dengan penghasilannya. Ia yakin rejeki Tuhan yang atur. Buktinya, ia pernah sanggup membeli sepeda dan TV untuk anak-anaknya. Rejeki tidak hanya datang lewat menjual gorengan.

Kusaksikan, penjual gorengan itu memiliki kesadaran akan keberadaan Tuhan. Ia amat yakin bahwa Tuhan tak akan menelantarkannya. Ia yakin kalau Tuhan dapat memberikan rejeki dengan cara yang tak terduga. Tapi bukan berarti ia mau menunggu rejeki dengan berdiam diri. Ia tetap berusaha mencari rupiah dengan berjualan. Itulah Tauhid orang biasa.

Kita tak bisa melihat kedekatan seorang hamba dari penampilannya yang lusuh, dari profesinya yang bukan ustadz. Dan memang, sebagai sesama ciptaan, kita tak perlu mendeteksi sejauh mana kadar tauhid orang lain.

Terima Kasih

Apa yang kita pikirkan tentang sesuatu belum tentu sama dengan yang dipikirkan orang lain. Jangan terkejut kalau banyak perbedaan paham tentang satu hal. Misalnya saja tentang terima kasih. Jangan pernah memaksakan pikiran agar orang lain berterima kasih atas apa yang telah kita berikan kepadanya. Memang kita sudah mengorbankan tenaga, waktu, biaya, pikiran, dan perasaan. Tetapi belum tentu apa yang kita berikan itu merupakan kebaikan bagi orang lain. Karena mungkin mereka punya interpretasi berbeda tentang apa yang telah kita lakukan. sesuatu yang kita anggap pengorbanan, bisa jadi dianggap hal biasa bagi orang lain, yang tak perlu diterimakasihkan.

Terima kasih juga bisa saja bermakna material. Padahal yang kita harapkan hanya sekedar pengertian bahwa kita telah melakukan sesuatu, dan kita tak butuh penghargaan secara materiil. Cukup dengan senyum dan pancaran mata penuh cinta, itu merupakan wujud dari perhatian antar sesama makhluk Tuhan.

Kecewa

Dikecewakan adalah keadaan dimana kita tak mendapatkan apa yang diharapkan. Namun kita bisa saja tak kecewa kalau memang selalu bersiap diri untuk tak banyak berharap terhadap kepekaan orang lain. Karena pengharapan yang mendalam itulah, yang membuat kita tersiksa dalam kekecewaan…