Pengakuan Seorang Koruptor

Bila tidak salah untuk menyatakan apa adanya tentang peristiwa yang terjadi, baiklah aku akan menyatakannya untukmu. Tapi tolong pengakuanku ini jangan dipublikasikan. Sebab aku tak mau orang-orang tahu tentang kesepakatan-kesepakatan yang telah aku buat dengan para sahabatku hingga aku tetap bebas melakukan apa yang dituduhkan orang sebagai kejahatan itu. (more…)

Orang Gila Bercengkrama

Sebuah puisi tentang perbincangan dua orang yang dianggap gila. Mereka berbincang tentang kehidupan di sekitarnya, tentang negerinya, tentang perpecahan para pemimpin dan tokoh publik, bahkan tentang konflik SARA.

Puisi ini kutulis saat masih ngontrak di jalan POMAD, Kalibata, pada 1996. (more…)

Terdesak Bicara NII

Aku tulis demikian, karena memang sejak awal rame-rame tentang kasus NII KW9 Az-Zaytun, aku tak mau bicara kepada media. Sikap ini terbentuk karena kupikir sudah cukuplah para ahli, penegak hukum, aparat keamanan, pemerintah, bahkan sampai mantan aktifis NII KW9 Az-Zaytun memberikan testimoninya di televisi dan koran.

Tetapi rupanya memang sulit juga mempertahankan diri untuk tidak mengemukakan pandanganku. Desakan media, terutama yang sudah datang menemuiku di Bogor, tak bisa kutolak dengan menyuruh mereka pulang. Akhirnya dengan berbagai pendekatan, merekapun berhasil membuatku bicara. Apa yang kukatakan? Lha, orang sudah banyak yang bicara koq beberapa pekan ini.

Dalam dialog dengan beberapa tokoh agama, intelkam, ormas, dan juga mantan aktifis NII KW9 di kantor Redaksi Radar Bogor kemarin sore, aku kemukakan pendapatku.

bendera-nii-460x250

Melihat NII pasca 1962 adalah seperti melihat sebuah guci pecah. Suatu ketika direkatkan kembali meskipun tetap rentan perpecahan internal. Potret NII adalah potret tentang disintegrasi dan rekonsolidasi. Selalu terjadi seperti ini. Di awali dengan perpecahan menjadi dua kubu, fillah vs sabilillah. Kubu pertama bersikap untuk tetap berdakwah dalam bidang pendidikan dan moralitas. Sedangkan kubu sabilillah tetap pada sikap mempertahankan kondisi perang dan bergerilya membangun kekuatan muda.Kedua kubu tersebut saling klaim kepemimpinan pengganti almarhum Sekarmaji Marijan Kartosuwiryo.

Selanjutnya terjadi beberapa kali rekonsolidasi. Tahun 1963-1967 rekonsolidasi digagas oleh Haji Ismail Pranoto (Hispran) hingga berkembang menjadi faksi yang populer disebut Jama’ah Islamiyah. Pada 1968-1969 Juga dilakukan rekonsolidasi oleh Aceng Kurnia yang membentuk PRTI (Persiapan Resimen Tentara Islam). Pertemuan rahasia ini dihadiri oleh tokoh utama seperti Adah Djaelani, Ateng, Tahmid, dan lainnya yang tak tersebutkan. tapi pertemuan tersebut tak berlanjut dengan kaderisasi. Justru setelah itu muncullah pertentangan antara generasi muda versus generasi tua Daarul Islam.

Rekonsolidasi dimulai kembali pada 24 April 1971 di rumah Danu M. Hasan di Bandung. Pertemuan ini disponsori oleh BAKIN (Intelijen) yang diotaki oleh Ali Moertopo. Tentang hal ini, sudah menjadi obrolan biasa di kalangan aktifis DI/NII, jadi bukan rahasia lagi. Seperti biasa, setelah rekonsolidasi selalu dilanjutkan dengan perbedaan sikap dan pecah kembali. Sehingga pada 1973 ada pertemuan rahasia antara Aceng Kurnia dengan Daud Beurueh, yang mengangkat Tengku DB sebagai imam.

Pada 1978 Adah Djaelani membentuk KW9 dan mengangkat dirinya sebagai imam. hal ini ditentang oleh kalangan DI yang lain karena dengan demikian Adah dianggap melakukan kudeta terhadap Tengku Daud Beureueh. Penentangan ini lebih kuat karena mereka yakin bahwa Adah dekat hubungannya dengan BAKIN. Baru pada 1990 Adah Djaelani melimpahkan kepemimpinan kepada Abu Toto alias Panji Gumilang yang hafal sekali dengan Pancasila, kalau lagi ditanya media :D

Untuk diperhatikan oleh media, bahwa kemunculan Abu Toto Salam alias Panji Gumilang sejak awal tidak diterima oleh kalangan DI. Label NII pun sebenarnya dibranding oleh Abu Toto itu, bukan oleh tokoh-tokoh lainnya yang lebih fundamentalis dan lebih santun ketimbang dia. Gerakan NII KW9 yang digembongi oleh Abu Toto ini sebenarnya tak benar-benar punya misi mendirikan negara Islam. Jadi wajar kalau pemerintah tak pernah khawatir dengan eksistensi mereka. Gerakan ini adalah  murni komplotan kriminal berjaket NII. Misi utamanya hanya fundraising. Mereka hanya meresahkan kalangan rakyat jelata saja, tidak untuk kalangan borjuis, apalagi penguasa. Jadi wajar jika pemerintah ataupun wakil rakyat kita tak merasa penting untuk membereskannya.

Tapi cukuplah tentang masa lalu. Masih banyak cerita tentang disintegrasi dan rekonsolidasi yang tak perlu aku umbar di sini.

Namun perlu DICAMKAN oleh media, bahwa potret disintegrasi dan rekonsolidasi ini selalu melibatkan pihak INTELIJEN. Inilah yang membuat topik tentang DI atau NII tak akan pernah selesai. Mengingat strategi “Pancing dan Jaring” yang biasa dilakukan intelijen, cara ini efektif untuk menangkapi tokoh-tokoh DI/NII.

Siapa yang bisa membongkar intelijen? Karena itu, jangan salahkan polisi, tokoh agama, MUI, tokoh ormas, ataupun LSM yang dianggap tak bekerja dengan baik dalam mengantisipasi maraknya perkembangan NII KW9 dan atau gerakan fundamentalis lainnya.

Banyak orang berharap tokoh utama NII KW9 Az-Zaytun, ditangkap dan diproses secara hukum. Nah inilah yang sulit dilakukan. Dalam proses hukum positif, amat sulit sekali membawa tokoh utama itu ke pengadilan. Pasti kepolisian dan orang-orang hukum tetap berpendapat “Tak cukup bukti”. Meskipun ada testimoni para korban, tetap saja tak bisa dilanjutkan ke ranah hukum karena tak ada bukti fisik. Memang faktanya terjadi kasus penipuan, penculikan, hipnotis, cuci otak, cuci gudang, dan semacamnya yang menjadi domain kriminal. Tetapi itu adalah kasus-kasus yang terjadi di atas meja. Sedangkan masalah NII KW9 ini sebenarnya terjadi di kolong meja (Intelijen).

Kalau memang begitu, siapa sesungguhnya yang bermain dan mengambil keuntungan dalam topik NII KW9 ini? Apakah ini merupakan kelanjutan dari tradisi intelijen zaman orde baru dengan strategi “Pancing dan Jaring” untuk menangkap tokoh-tokoh yang lama tak muncul? Ataukah ini branding untuk menggolkan RUU Intelijen/Subversif? Ataukah ini hanya menjadi lakon penutup isu lain yang tak ingin terpantau oleh publik? Ataukah ini terkait dengan kepentingan politik? Ya sudah. Lebih baik kita kerjakan urusan kita saja. Yang masih penasaran, silakan jongkok dan mengintip ke kolong meja :)

Bagaimana Manajemen Resiko Bank Syariah?

1291792276210546570

Tulisan ini dipicu oleh sebuah status facebook teman saya. Ia adalah nasabah sebuah Bank Syariah di Indonesia. Saya yang sedang baru mulai tertarik dengan Bank Syariah, jadi berpikir tentang kasus-kasus yang dialami oleh beberapa teman saya yang sudah lebih dahulu menjadi nasabah. (more…)

DPR Hanya Merebut Kursi, Bukan Hati.

dpr-molor

Sudah banyak kejadian yang mengungkap ketidakpedulian Wakil Rakyat yang terhormat. Yang paling hangat adalah dugaan Anggota DPR yang baru “nyuekin” Tenaga Kerja Wanita asal Indonesia di Dubai. Belum lagi saat rentetan musibah dialami rakyat Indonesia di Wasior, Merapi, dan Mentawai. Sempat-sempatnya ada anggota Dewan yang terhormat membuat pernyataan yang menyinggung perasaan manusia yang normal. Saat itu ketua DPR Marzuki Alie menyatakan, apabila masyarakat Mentawai takut ombak, seharusnya pindah di daratan saja. Apapun justifikasi yang dinyatakan setelah banyak yang menyayangkan pernyataannya, jelas bahwa anggota DPR kurang memiliki sense of crisis. Belum lagi jika kita mengangat kasus korupsi, proyek-proyek money oriented, praktik politik uang, penitipan isi daftar hadir, molor saat meeting, dana aspirasi, rumah aspirasi, gedung baru, dan becking-beckingan… Terlalu banyak noda yang menyelimuti kisah para Anggota Dewan yang mestinya terhormat itu.

Melihat dari kasus yang ada, timbul pertanyaan, kenapa anggota DPR kita makin sering melakukan sikap maupun tindakan yang justru merusak kehormatannya sendiri?

Banyak tinjauan yang menjawab masalah tersebut. Kita mulai saja dari sisi moralitas. Mungkin saja kebanyakan anggota DPR yang sering melakukan kasus yang mencemarkan nama baik lembaganya itu terjadi karena memang tidak memiliki integritas pribadi yang kukuh. Boleh jadi sebelum menjadi anggota Dewan, mereka adalah orang-orang yang baik. Namun karena pribadinya mudah goyah, maka gampang sekali tercebur dalam situasi negatif yang menjadi atmosfir dominan di lingkungan DPR.

Tinjauan di atas memang tidak berlaku bagi anggota Dewan yang memang “dari sononya” sudah tak baik. Yang saya maksud adalah mereka yang untuk mendapatkan kursi di DPR dengan cara yang tak pantas dianggap baik. Misalnya ketika kampanye menerapkan “money politic”, memanfaatkan relasi dengan elit partai politiknya, berkonsultasi dengan dukun yang mereka labelkan sebagai konsultan spiritual, dan lain-lain. Belum lagi janji-janji muluk yang mereka nyatakan saat kampanye, yang mengelabui rakyat.

Jika kembali kepada niat, benar juga hadits Nabi Muhammad SAW, yang menyatakan “segala kegiatan/aktifitas (amal) itu amat ditentukan oleh niat…” Boleh jadi kebanyakan anggota Dewan maupun pejabat negara, hanya berniat merebut kursi, tetapi tidak merebut hati rakyatnya. Wajar jika mereka hanya mendapatkan kursi dan segala fasilitas yang melingkupinya, tetapi mereka tak akan pernah bisa mendapatkan hati rakyat. Selalu saja ada momentum yang membongkar kebobrokan moral mereka, sehingga rakyat semakin mengenyahkan mereka dari hatinya.

Politik Bopak

http://wajix.student.umm.ac.id/files/2010/02/copy-of-anak-jalanan-2.jpg

http://wajix.student.umm.ac.id/files/2010/02/copy-of-anak-jalanan-2.jpg

Aku bertemu di kolong jembatan layang, di antara lalulalang bis terminal Kampung Melayu.

“Sejak kapan kamu ngamen?” tanyaku sambil mengunyah singkong goreng dari bungkus kertas yang sudah berminyak di tangan kiriku.

Sebelum menjawab pertanyaanku, ia menyedot minuman teh kemasan botol tapi bukan “teh botol”. “ude lama, om”. Entah berapa lama dia mengamen di bis kota dan terminal. Ketika kutanya sejak tahun berapa ia mengamen, ia menjawab “tau deh mulaen kapan?!”.

Aku tanya lagi, “Sejak kelas berapa kamu mengamen, dan sekarang kelas berapa?”

Bocah ingusan yang bernama Bopak itu berkisah, kalau dia tak lagi sekolah sejak kelas 2 SD. Pensiun dini itu terjadi karena ibunya tak mampu lagi membiayai sekolah. Ibunya hanyalah PSK yang sekarang sudah beralih profesi menjadi tukang cuci pakaian tetangga. Bopak (Aku tidak percaya kalau namanya seperti itu, dia bilang itu panggilan Ibunya sendiri). Tak pernah kenal dengan bapaknya. Dia dilahirkan sudah dalam kondisi setengah yatim. Menurut Ibunya, Bapaknya masih hidup, tapi dia sendiri tak tahu pasti, siapa Bapak si Bopak itu karena konon, yang “menidurinya” banyak.

“Tadi kamu bilang, ngamen buat bayar sekolah?!” protesku kepada Bopak. Waktu dia ngamen di Bis Patas yang aku tumpangi, dia sempat ber-preambule kalau dia mengamen untuk membayar biaya sekolah.

“Ah itukan cuma politik aja, Om. Kalo ga gitu mane dapet duit, kaga ada yang kesian sama saya!” itu jawaban Bopak.

“Politik gimana maksud kamu?” Aku geli mendengar alasan Bopak dengan istilah politik. Bopak bilang yang dimaksud politik adalah cara untuk menipu orang agar mau memberikan uang kepadanya. Sambil menggaruk-garuk kepalanya yang rada botak, Bopak tersenyum dan menyatakan kalo orang-orang gede di negara endonesya ini jago politik.

Aku konfirmasi, “Maksud kamu jago menipu?”. Bopak menyeka sekali lagi ingusnya dengan lengan kiri. Ingus itu masih meler lagi dari lubang hidungnya.

Aku bilang, “Buang saja ingusnya, jangan diseka pake lengan. mending kamu semprotkan ke pojok sana.” Bopak tersenyum. Dia tak mau membuang ingusnya sampai habis. Menurutnya, ingus itu bagian dari politiknya agar orang-orang merasa kasihan padanya. Dengan begitu dia akan mendapatkan recehan. He he he… dasar, politik Bopak!

Terminal Kampung Melayu

Menimbang Kewibawaan

patungPara pendemo diamankan pihak keamanan karena dianggap mengancam wibawa pemerintah. Seperti apa sih wibawa pemerintah? Yang aku tahu, demo maupun protes yang digelar oleh rakyat merupakan ekspresi dari rasa ketidakadilan. Ketika rakyat merasa pemerintahnya tak adil, dimanakah wibawa pemerintah? Apakah mereka yang protes itu patut disalahkan karena pemerintah jadi tak berwibawa atau siapakah sebenarnya yang membuat pemerintah jadi tak berwibawa?

Yang kutahu, kewibawaan itu merupakan citra diri. Kita tak bisa memaksa orang lain agar menganggap kita berwibawa. Kewibawaan itu muncul sendiri jika kita memang berlaku baik, adil, dan menyenangkan banyak orang. Tapi tidak semua orang akan menilai kita berwibawa. Bisa jadi hanya orang-orang terdekat dengan kita yang menganggap berwibawa, namun tidak buat mereka yang tak begitu kenal. Lantas, mestikah kita mencibir mereka yang tak kenal dengan kita?

wibawa n : 1. pembawaan yg mengandung kepemimpinan sehingga dapat mempengaruhi dan menguasai orang lain;
2. kekuasaan; berwibawa v mempunyai wibawa (sehingga
disegani dan dipatuhi): orang yg ~ layak dijadikan pemimpin;
kewibawaan n 1 hal yg menyangkut wibawa; 2 kekuasaan yg diakui dan ditaati

Kalau menuruti kamus, ya kewibawaan merupakan pembawaan. Jadi tak bisa dibuat-buat atau direkayasa. Kewibawaan selaras dengan kekuasaan dan kebijaksanaan. Jika keduanya laras itu compatible, maka otomatis, tak usah dibuat-buat juga kewibawaan akan terlihat secara otomatis.

SBY adalah presiden yang berwibawa. Itu menurut orang-orang terdekat mereka dan yang mengidolakannya. Begitupula dengan Gus Dur, Megawati, Habibie, Soeharto, dan Sukarno. Para pemimpin itu sangat berwibawa dan disegani di mata para pendukungnya saja. Bagi orang yang berpandangan beda, jelas kita tak bisa memaksakan agar mengakui kewibawaan presiden.

Bung Hatta adalah figur yang berwibawa, tapi tidak bagi mereka yang tak suka dengan prespektifnya. Rendra, Iwan Fals, Gunawan Muhammad, Xanana Gusmao, Kartosuwirjo, Khomeini, Bang Jampang, Bang Pitung, dan sosok lainnya adalah orang yang berwibawa bagi pencintanya, tapi tidak bagi yang resah karenanya.

Begitu pula dengan kabinet yang dibentuk oleh beberapa presiden kita. Tidak semua orang menganggapnya berwibawa. Apalagi dengan anggota parlemen dan partai politik yang pandai bicara tak tak pandai merasa. Yang terakhir ini saya rasa paling tidak berwibawa dalam sejarah endonesya.

Setiap kemunculan protes dari segelintir atau sekelompok rakyat, mestinya jangan dihadapkan pada urusan kewibawaan. Protes harus dihadapkan pada masalah utama yang membuat protes itu muncul. Protes korban Lumpur di Sidoarjo (Lapindo) tak matching jika dihadapkan dengan urusan kewibawaan. Begitu pula dengan protes terhadap KPU atau KPUD, ngaco sekali jika dipaksakan menjadi pasal kewibawaan. Protes yang bawa-bawa kerbau, ayam, cicak, buaya, dan binatang lainnya, jangan dihadapkan dengan urusan kewibawaan, tapi tempatkanlah sesuai dengan kritik yang dibawa oleh para demonstran. Aksi terorisme dan separatisme juga begitu, tak tepat kalau mereka dijerat dengan hukum tentang kewibawaan pemerintah dan atau kepala negara. Demo Pedagang Kaki Lima juga begitu, jangan main pentung karena mereka dianggap merongrong kewibawaan pemerintah daerah, tapi apa yang membuat mereka berdemo, itu yang harus ditantang. Mestinya kita menangkap pesan utama yang mereka (para pendemo) sampaikan, bukan bagaimana cara mereka demontrasi. Jangan lihat siapa atau bagaimana para pendemo, tapi lihatlah apa yang mereka suarakan!

Orang yang merasa dan memaksa dirinya berwibawa adalah orang yang tak berwibawa. Kewibawaan tak dibuat-buat, apalagi disebut-sebut. Kewibawaan itu menjelma sendiri. Tidak direkayasa. Justru kewibawaan yang dibuat-buat, direkayasa, hanya akan bikin orang muntah melihatnya.

Memang nilai kewibawaan itu relatif. Kata tukang ojeg di depan komplek rumah saya, pak Harto itu lebih berwibawa ketimbang presiden pasca reformasi. Saya tanya, kenapa dia menilai Soeharto berwibawa. Tukang ojeg yang sudah tua itu beralasan, waktu zaman pak Harto, barang-barang murah, cari duit gampang, kerja gampang. Kalau zaman sekarang, apa-apa serba mahal, serba susah.

Lain lagi menurut bang namun. Waktu zaman Soeharto, yang korupsi cuma sedikit, korupsi bisa diatur sehingga tak begitu terasa di kalangan rakyat kecil. Nah, saat ini yang korupsi banyak, korupsi merajalela di segala sektor kehidupan. Kata bang Namun lagi, waktu zaman ncing Harto, anggota parlemen yang korupsi lebih sedikit ketimbang sekarang. Jadi rakyat nggak kebagian apa-apa. “Jaman karang, semuenye mahal. Rumesakit mahal, sekole nyang rada bener, mahal! Tuh lu liat, anak gue, sekolenye dijalanan, alias ngamen!” Kalo sudah nyerocos, bang Namun susah didiamkan. 

Itu penilaian rakyat kecil, “oknum” tukang ojeg dan tukang cukur. Penilaian mereka lebih didasari oleh urusan sehari-hari yang mereka rasakan : beban hidup! Meskipun kewibawaan tak bisa dilihat dari beratnya beban hidup.

Kalau kata mang Papay, kewibawaan pemimpin bisa dilihat dari caranya merespons kritik. Jika sang pemimpin itu mengeluh di hadapan jutaan rakyatnya, jika sang pemimpin tak tahu kalau banyak kaki tangannya yang terjerumus dalam kemewahan, jika sang pemimpin tak mampu menenangkan emosinya sendiri, tak bisa disebut sebagai pemimpin yang berwibawa.

“Saat staf saya mengambil kebijakan tersebut, saya sedang berada di luar negeri…. bla…bla…bla… namun saya tak menilai kebijakan tersebut salah…”

Jika ada pernyataan seperti di atas dari seorang pemimpin, apakah berwibawa? Mungkin ia ingin dianggap bersikap bijaksana. Tapi karena sikap tersebut memang bukan muncul dari bawaan sang pemimpin, ya kesannya malah cuci tangan dan tetap seolah-olah tak menyalahkan stafnya.

Masihkah pemerintah merasa berwibawa ketika rakyat kita banyak yang menggelandang? Masihkah pemerintah memaksa berwibawa ketika rakyat kita banyak yang tak sanggup bayar rumah sakit, banyak yang tak mampu sekolah, banyak yang tak sanggup beli beras, banyak yang tak kebagian zakat, banyak yang tak sanggup membeli kitab suci, banyak yang nyolong ayam, nyolong jemuran, nilep uang kegiatan, lantaran kelaparan?

STOP Penyiksaan di Tibet!

freetibetPenyiksaan adalah realitas sehari-hari di Tibet. Penyiksaan digunakan oleh penguasa Cina sebagai senjata untuk melawan pembangkangan, menciptakan iklim ketakutan. Donasi Anda dapat membantu kami mengakhiri penyiksaan di Tibet.

Menyoroti meluasnya penyiksaan di Tibet, aktor Inggris telah memberikan suara mereka untuk Tibet karena mereka (korban penyiksaan di Tibet) tidak dapat berbicara untuk diri mereka sendiri.

Di bawah ini Anda dapat menonton video ‘The Wire’ Dominic West, tentang  kesaksian Lhamo Kyab, salah satu dari banyak orang Tibet yang telah menderita karena penyiksaan yang mengerikan.

Silakan lihat di sini

Mari kita bantu upaya freetibet.org maupun tibetjustice, dalam menyetop penyiksaan di Tibet.

Dengan bantuan Anda, Free Tibet dapat menyebarkan penyiksaan di Tibet, memberikan perlindungan kepada mereka yang menghadapi risiko dengan menghalangi penyiksaan.

Dengan dukungan Anda, kami berhasil berkampanye untuk membantu mengamankan pembebasan dua biarawan, Jigme Gyatso dan Golog Jigme, yang ditahan di penjara-penjara Cina. Setelah pembebasan mereka, mereka melaporkan bahwa penyiksaan mereka berakhir ketika berkampanye mereka mulai.

Terima kasih atas dukungan penting ini.

Klik di sini untuk memberikan sumbangan dan membantu kami menuntut penyiksaan di Tibet.

Bangga Walau Benga

Pagi itu aku di dalam sebuah angkot menuju terminal. Dua orang penumpang di depanku asyik berbicara. Yang satu membanggakan kehebatan handphone kakaknya yang memiliki fasilitas terkini. Temannya, menjelaskan tentang fungsi blackberry, fasilitas yang membedakannya dengan handset lain, dan tentang provider yang menyediakan paket paling murah. Ia menjelaskan tentang BB milik saudara sepupunya, sambil menggenggam handphone monokrom yang bentuknya seperti ulekan mini, di tangan kirinya.

Aku tersenyum melihat mereka. Bukan tentang handset yang mereka review, tapi soal membanggakan sesuatu yang tak dimilikinya.

Pernah juga tetanggaku bercerita tentang seorang artis cantik yang kini menjadi anggota legislatif. Dengan bangganya ia menceritakan bahwa artis itu satu sekolah dengan saudara sepupunya, walau tidak sekelas. Lalu ia menceritakan segala hal tentang artis tersebut, yang sudah kuketahui dari media massa. Ceritanya baru selesai setelah aku menyampaikan pujian, “Hebat, berarti anda kenal banget sama artis itu ya?”

Temanku yang baru khatam buku Hacking karya S’to, sedang getol-getolnya mempraktikkan ilmu barunya. Ia mencoba melakukan hack pada sebuah komputer milik temanku. Esok harinya, dengan bangga ia menceritakan pengalaman barunya itu di depan teman-teman lainnya. Malam harinya, temanku memberikan nasehat padanya, dengan mematikan semua fungsi networking dan internet pada komputernya dari jarak jauh, agar tak mencari kelinci percobaan lagi.

Begitulah manusia. Kadang membanggakan sesuatu yang tak dimilikinya. Kadang membanggakan sesuatu yang masih menjadi impiannya. Kadang membanggakan suatu hal yang menurut orang lain sangat-sangat biasa. Kebanggaan ini muncul karena ingin dianggap berbeda dan lebih baik dari yang lain. Tak lebih.

Kekayaan Membius

Kekayaan adalah hak setiap orang untuk mendapatkannya. Tidak ada larangan dalam agama manapun untuk menjadi kaya. Sedangkan kemiskinan itu bukanlah anugrah, melainkan resiko yang harus diterima seseorang atas pilihan hidupnya. Pernyataan itu kudapatkan dari beberapa seminar, di Jakarta maupun di kota lainnya.

Begitu banyak seminar diselenggarakan. Sering sekali e-mail berisi undangan seminar kuterima. Begitupun di facebook, sering kudapatkan pesan berisi undangan seminar, workshop, training, yang intinya adalah pengembangan diri dan enterpreneurship. Aku tak menampik datangnya undangan apapun. Bahkan spam yang berisi jualan impian, minta sumbangan, bahkan ajakan meraup uang secara instan via internetpun tak ku-blocking. Ini resiko berinteraksi di dunia maya. Menyumpahinyapun hanya buang-buang energi saja.

Sekali-sekali, kurasakan enak juga mengikuti seminar begituan. Ketika di dalam ruangan, saat sang trainer/motivator sedang presentasi, akupun merasakan energi yang meluap-luap. Merasa seperti ada yang terlupakan selama menjalani hidup dan baru “ngeh” ketika menyimak kata-kata bak mantra sang pembicara.

Tapi kebanyakan semangat itu hanya terasa tidak lebih dari 7 hari saja. Bahkan pada beberapa orang, hanya terasa saat masih berada dalam ruangan saja. Walau ada juga yang bertahan selama hidupnya. Orang seperti ini bolehlah mendapatkan acungan jempol, karena telah terjadi perubahan dalam gaya hidupnya. Dandanannya selalu rapih agar mengesankan orang yang sukses. Bicaranya selalu bersemangat agar mengesankan orang yang optimis. Namun (Bukan Bang Namun!) kadang aku tak melihat perubahan dalam hatinya. Tak ada perubahan pada jiwanya. What?

Dalam perjalanan pulang seminar dari Bandung. Aku termasuk orang yang beruntung dari 5 orang lainnya, yang diberi tumpangan oleh salah seorang trainer yang membawa Innova kebanggaanya, menuju Jakarta. Sepanjang jalan kami mengulas pesan-pesan dari sang trainer. Salah seorang mengulas, “Aku baru sadar, kalau selama ini cita-citaku untuk menjadi orang dermawan, terhalangi oleh ketidakberdayaanku membebaskan diri dari kemiskinanku.”  Yang lain mengulang, “Ya, jika kita tidak kaya, bagaimana mungkin bisa membantu orang lain?” Yang lain menyetujui, tapi tidak seperti koor setuju anggota legislatif yang terhormat di gedung kura-kura hijau sana.

Memasuki Jakarta, mobil berhenti karena menaati kode Lampu Merah, seorang pengamen tua mendendangkan lagu nestapa. Aku memperhatikannya karena duduk paling pinggir dekat jendela, di belakang si empunya innova. Kuberikan selembar rupiah padanya, lalu iapun beranjak ke mobil lainnya. Tapi spontanitasku menuai protes.

“Mas! Jika anda ke sini lagi tahun depan, pasti orang itu masih ngamen!” Kata seorang yang duduk di belakangku. “Apa yang anda lakukan, justru membuatnya semakin malas!” kata yang lainnya. “Mestinya Anda tak memberinya uang, tapi memberinya pengertian bahwa hidup itu harus survive, harus berjuang!” kata yang duduk di sebelah supir yang punya mobil. “Orang seperti itu, tak punya tanggungjawab terhadap anak-anaknya. Apa mungkin ia sanggup membiayai pendidikan dan kebutuhan hidup anaknya secara layak?” sambung yang punya mobil. Aku meresapi pernyataan mereka. Aku sadari, di mobil ini, hanya aku sendiri versus 5 penumpang plus 1 pemberi tumpangan. “Apa alasan Anda, memberikan uang kepada pengemis itu? Dia itu bukan ngamen, tapi ngemis!” yang paling terakhir rada membentakku.

Aku nyatakan, “Saya tak punya alasan untuk memberi secengan padanya. Lagi pula, selama ini saya pikir tak perlu sebuah alasan untuk memberi. Realitasnya adalah, ia meminta, saya memberi. Itu saja! Ngapain repot-repot cari alasan.”

“Tapi Anda sadar, dengan uang yang anda berikan, orang itu akan terus miskin, malas, benalu!” sambut salah satu penumpang yang duduk paling depan di sebelah supir yang punya mobil.

“Buat saya, uang seribu tadi, tidak akan membuatnya miskin. Itu uang halal, bukan hasil korupsi atau hasil nilep pajak. Lagipula, dalam pandangan saya, pak tua itu bukan pemalas. Kalau ia malas, pasti ia sedang asyik tidur di kolong jembatan saat panas terik di tengah hari ini. Orang-orang seperti pak tua pengamen itu, bukan benalu. Mereka hidup dalam kemiskinan.”

“Mereka miskin karena malas, tak mau berubah!” sambung yang duduk di belakangku.

“Saya yakin, miskin itu bukan pilihan mereka. Tidak ada orang yang mau hidup dalam kemiskinan terus menerus, tujuh turunan, tujuh tanjakan, tujuh tikungan. Semua orang pasti ingin kaya. Tapi, maaf bapak-bapak sekalian…. kenyataanya, tak ada orang yang benar-benar mau memahami kemiskinan mereka. Apalagi merasakan kemiskinan mereka. Maaf, pak…. Saya tak berniat memiskinkan mereka karena seribuan yang saya berikan. Lagipula, sepanjang jalan tadi bapak-bapak pernah mengatakan, ingin menjadi orang kaya agar bisa membantu orang lain. Pak,… untuk berbuat baik, saya pikir tak perlu menunggu kaya. Faktanya, belum kaya saja, Anda begitu bangga memandang rendah profesi orang lain. Boro-boro peduli…. Maaf, pak. Kalau seribuan yang saya berikan ke pak tua tadi, akan membuatnya malas, bagaimana dengan Bapak trainer… maaf loh pak… Saya hanya memberikan seribu perak. Tapi bapak telah memberikan tumpangan dari Bandung ke Jakarta, gratis. Apakah itu tidak termasuk memalaskan kami dan memiskinkan kami yang menumpang?”

Begitulah. Kekayaan, walau sebatas impian, dapat membius orang mabuk dalam khayal. Kekayaan yang tak membius pemiliknya adalah  20% harta, 80% jiwa.