Kekayaan Membius

Kekayaan adalah hak setiap orang untuk mendapatkannya. Tidak ada larangan dalam agama manapun untuk menjadi kaya. Sedangkan kemiskinan itu bukanlah anugrah, melainkan resiko yang harus diterima seseorang atas pilihan hidupnya. Pernyataan itu kudapatkan dari beberapa seminar, di Jakarta maupun di kota lainnya.

Begitu banyak seminar diselenggarakan. Sering sekali e-mail berisi undangan seminar kuterima. Begitupun di facebook, sering kudapatkan pesan berisi undangan seminar, workshop, training, yang intinya adalah pengembangan diri dan enterpreneurship. Aku tak menampik datangnya undangan apapun. Bahkan spam yang berisi jualan impian, minta sumbangan, bahkan ajakan meraup uang secara instan via internetpun tak ku-blocking. Ini resiko berinteraksi di dunia maya. Menyumpahinyapun hanya buang-buang energi saja.

Sekali-sekali, kurasakan enak juga mengikuti seminar begituan. Ketika di dalam ruangan, saat sang trainer/motivator sedang presentasi, akupun merasakan energi yang meluap-luap. Merasa seperti ada yang terlupakan selama menjalani hidup dan baru “ngeh” ketika menyimak kata-kata bak mantra sang pembicara.

Tapi kebanyakan semangat itu hanya terasa tidak lebih dari 7 hari saja. Bahkan pada beberapa orang, hanya terasa saat masih berada dalam ruangan saja. Walau ada juga yang bertahan selama hidupnya. Orang seperti ini bolehlah mendapatkan acungan jempol, karena telah terjadi perubahan dalam gaya hidupnya. Dandanannya selalu rapih agar mengesankan orang yang sukses. Bicaranya selalu bersemangat agar mengesankan orang yang optimis. Namun (Bukan Bang Namun!) kadang aku tak melihat perubahan dalam hatinya. Tak ada perubahan pada jiwanya. What?

Dalam perjalanan pulang seminar dari Bandung. Aku termasuk orang yang beruntung dari 5 orang lainnya, yang diberi tumpangan oleh salah seorang trainer yang membawa Innova kebanggaanya, menuju Jakarta. Sepanjang jalan kami mengulas pesan-pesan dari sang trainer. Salah seorang mengulas, “Aku baru sadar, kalau selama ini cita-citaku untuk menjadi orang dermawan, terhalangi oleh ketidakberdayaanku membebaskan diri dari kemiskinanku.”  Yang lain mengulang, “Ya, jika kita tidak kaya, bagaimana mungkin bisa membantu orang lain?” Yang lain menyetujui, tapi tidak seperti koor setuju anggota legislatif yang terhormat di gedung kura-kura hijau sana.

Memasuki Jakarta, mobil berhenti karena menaati kode Lampu Merah, seorang pengamen tua mendendangkan lagu nestapa. Aku memperhatikannya karena duduk paling pinggir dekat jendela, di belakang si empunya innova. Kuberikan selembar rupiah padanya, lalu iapun beranjak ke mobil lainnya. Tapi spontanitasku menuai protes.

“Mas! Jika anda ke sini lagi tahun depan, pasti orang itu masih ngamen!” Kata seorang yang duduk di belakangku. “Apa yang anda lakukan, justru membuatnya semakin malas!” kata yang lainnya. “Mestinya Anda tak memberinya uang, tapi memberinya pengertian bahwa hidup itu harus survive, harus berjuang!” kata yang duduk di sebelah supir yang punya mobil. “Orang seperti itu, tak punya tanggungjawab terhadap anak-anaknya. Apa mungkin ia sanggup membiayai pendidikan dan kebutuhan hidup anaknya secara layak?” sambung yang punya mobil. Aku meresapi pernyataan mereka. Aku sadari, di mobil ini, hanya aku sendiri versus 5 penumpang plus 1 pemberi tumpangan. “Apa alasan Anda, memberikan uang kepada pengemis itu? Dia itu bukan ngamen, tapi ngemis!” yang paling terakhir rada membentakku.

Aku nyatakan, “Saya tak punya alasan untuk memberi secengan padanya. Lagi pula, selama ini saya pikir tak perlu sebuah alasan untuk memberi. Realitasnya adalah, ia meminta, saya memberi. Itu saja! Ngapain repot-repot cari alasan.”

“Tapi Anda sadar, dengan uang yang anda berikan, orang itu akan terus miskin, malas, benalu!” sambut salah satu penumpang yang duduk paling depan di sebelah supir yang punya mobil.

“Buat saya, uang seribu tadi, tidak akan membuatnya miskin. Itu uang halal, bukan hasil korupsi atau hasil nilep pajak. Lagipula, dalam pandangan saya, pak tua itu bukan pemalas. Kalau ia malas, pasti ia sedang asyik tidur di kolong jembatan saat panas terik di tengah hari ini. Orang-orang seperti pak tua pengamen itu, bukan benalu. Mereka hidup dalam kemiskinan.”

“Mereka miskin karena malas, tak mau berubah!” sambung yang duduk di belakangku.

“Saya yakin, miskin itu bukan pilihan mereka. Tidak ada orang yang mau hidup dalam kemiskinan terus menerus, tujuh turunan, tujuh tanjakan, tujuh tikungan. Semua orang pasti ingin kaya. Tapi, maaf bapak-bapak sekalian…. kenyataanya, tak ada orang yang benar-benar mau memahami kemiskinan mereka. Apalagi merasakan kemiskinan mereka. Maaf, pak…. Saya tak berniat memiskinkan mereka karena seribuan yang saya berikan. Lagipula, sepanjang jalan tadi bapak-bapak pernah mengatakan, ingin menjadi orang kaya agar bisa membantu orang lain. Pak,… untuk berbuat baik, saya pikir tak perlu menunggu kaya. Faktanya, belum kaya saja, Anda begitu bangga memandang rendah profesi orang lain. Boro-boro peduli…. Maaf, pak. Kalau seribuan yang saya berikan ke pak tua tadi, akan membuatnya malas, bagaimana dengan Bapak trainer… maaf loh pak… Saya hanya memberikan seribu perak. Tapi bapak telah memberikan tumpangan dari Bandung ke Jakarta, gratis. Apakah itu tidak termasuk memalaskan kami dan memiskinkan kami yang menumpang?”

Begitulah. Kekayaan, walau sebatas impian, dapat membius orang mabuk dalam khayal. Kekayaan yang tak membius pemiliknya adalah  20% harta, 80% jiwa.

Banyak Anak Vs Ethos Kerja

<!– @page { size: 21cm 29.7cm; margin: 2cm } P { margin-bottom: 0.21cm } –>

Kali ini aku masih menulis tentang dunia emak-emak (perempuan). Bukannya sentimen terhadap makhluk indah ciptaan Tuhan, tapi sekedar mengangkat sebuah sisi kehidupan mereka, dalam dunia kerja.

Banyak orang bilang, “banyak anak, banyak rezeki”. Seperti yang diyakini oleh beberapa orang pekerja perempuan di sebuah divisi dari perusahaan kecil. Mereka bekerja, namun merekapun tetap produktif, hampir 1-2 tahun sekali melahirkan anak baru. Dari 4 perempuan yang bekerja di divisi tersebut, 1orang cuti bersalin, 1 orang lagi baru saja selesai cuti bersalin, 1 orang hamil 6 bulan, 1 orang lagi masih gadis. Pekerjaan yang mestinya bisa ditangani oleh keempat perempuan itu, akhirnya harus ditangani oleh si gadis. Yang hamil 6 bulan memang bekerja juga, tapi karena selalu membawa anaknya yang masih berumur di bawah 2 tahun, faktanya ia malah sibuk dengan urusan anaknya yang hiperaktif, dan melalaikan pekerjaannya. Yang baru kelar cuti bersalin, juga tetap datang ke kantor, tapi lebih sering ngelonin bayinya di ruang istirahat. Terbayang bagaimana sibuknya si gadis melayani tamu, mengerjakan urusan administrasi, dan tetek bengek urusan kantor yang mestinya diselesaikan oleh teman-temannya.

Bukannya aku tak setuju dengan mitos “banyak anak, banyak rezeki”. Tapi coba deh mitos ini dihadapkan dengan kinerja dan ethos kerja. Perempuan yang banyak anak, mestinya tidak bekerja, mending mendidik anak-anaknya saja di rumah. Atau jika tetap ingin bekerja, pekerjakanlah pembantu rumah tangga atau babby sitter di rumah agar anak-anaknya tidak mengganggu pekerjaannya. Pilihan kedua ini memang menuntut budget yang lebih. Repotnya, jika budget tersebut tak ada. Hanya ada dua pilihan : tetap bekerja dengan meninggalkan anak-anak di rumah, atau tinggalkan pekerjaan karena harus mengurus anak-anak di rumah.

Jika perempuan tetap bersikap seperti uraian kasus di atas, tetap bekerja namun sibuk dengan urusan pribadinya, mestinya harus menyadari bahwa kinerjanya akan merosot. Ethos kerjanyapun luruh karena sudah terlalu lelah dengan anak-anaknya. Kondisi demikian pasti mengundang sikap tegas pihak manajemen, yang bisa saja menerbitkan Surat Peringatan atau bahkan PHK. Kecuali jika perempuan itu dipimpin oleh manajemen yang tak bernyali untuk bertindak terkait dengan kinerja karyawannya, merdekalah para pekerja perempuan banyak anak itu…. dan terdzalimilah si gadis selama masa hidupnya. Na’udzubillah, semoga saja anda tidak merasakan kondisi yang demikian mengenaskan.

BK, 27 Januari 2009

Menjalin Hati, Bukan Ngadu Kepala!

Mengunjungi kampung temanku. Kamipun mampir di sebuah masjid yang sepi. Saat shalat di masjid kampung itu, hanya ada 2 orang : aku dan temanku. Selesai shalat, kuungkapkan kegelisahan pikiranku padanya…

MT : kulihat banyak orang di perapatan, di setiap pelataran rumah, waktu kita memasuki kampung ini.

XX : Banyaklah, di sini sudah padat penduduknya.

MT : Kenapa mereka nggak ada yang shalat di masjid ya? Padahal sepertinya masjid luas ini sudah cukup tua usianya.

XX : Ini memang masjid tua. Dulu sih ramai. Tapi sekarang banyak yang malas ke masjid ini. Mungkin mereka masih tetap shalat, tapi di rumah.

MT : Koq bisa begitu? Padahal kan ini masjid mereka?!

XX : Ceritanya panjang…

MT : Berapa meter? Ceritain dong!

XX : Setelah masjid ini dikelola oleh ustadz-ustadz anti bid’ah, lama-lama masyarakat jadi enggan ke sini.

MT : Lho, ustadz anti bid’ah? Gimana maksudnya?

XX : Kelompok ustadz yang sering mangkal di sini selalu berceramah tentang bid’ah yang memasyarakat di sini. Mereka menganggap tradisi masyarakat sudah di luar ketentuan agama.

MT : Seperti apa sih tradisi yang dianggap bid’ah itu?

XX : Ya macam-macam. Ada tahlilan, baca qunut ketika shubuh, yasinan tiap malem Jum’at, selametan kalo ada yang dapat rejeki, tahlilan 7 hari sampai 40 hari bagi keluarga yang ditinggal mati anggota keluarganya… macam-macam lah.

MT : Hm… ya aku mengerti. Biasanya mereka dianggap bid’ah, dan biasanya pelakunya divonis sesat. Sebagaimana bunyi hadits “kullu bid’atin dholalah, wa kullu dholalatin fin nar!” gitu ya?!

XX : Ya begitu deh. Tapi buat saya sih, sebenarnya itu bukan prioritas. Mungkin niat mereka baik, meluruskan ritual di masyarakat. Tapi caranya yang frontal, justru membuat masyarakat jadi enggan ke masjid. Contohnya ya seperti ini… hanya kita berdua yang shalat Maghrib di sini.

MT : Ustadz-ustadz itu shalat di sini juga?

XX : Sekarang sih sudah jarang banget, karena mereka sudah bikin masjid sendiri.

MT: Sudah punya masjid sendiri, lalu masjid yang pertama ini nggak diurus lagi?

XX : Aku pernah tanya sama temanku yang aktif dengan kegiatan mereka, katanya masyarakat di masjid tua ini sudah sulit untuk diajak berubah. Jadi lebih baik mereka tinggalkan saja. Indikatornya, waktu pemilu kemarin tak ada satupun jamaah masjid di sini yang memilih partai mereka.

MT : Hm… jadi indikator berhasil atau tidaknya dakwah itu adalah, apakah jamaah/masyarakat memilih partai, bukannya memilih Tuhan dengan rajin beribadah ke masjid?

XX : Ya gitu dech… tapi biarkan saja! Nggak usah dipikirin. Namanya juga dakwah politik.

MT : Apa bedanya antara, dakwah politik dengan politik dakwah?

XX :  Dakwah Politik berarti berdakwah dengan tujuan akhirnya adalah politik, kekuasaan. sedangkan Politik Dakwah, mungkin semacam strategi dakwah, atau mungkin berpolitik dengan tujuan utama dakwah. Mengajak orang kembali kepada Tuhan… Gitu kali ye…?

MT :Hehehe… nggak tau lah… aku sih cuma berkesimpulan, kalau kita menjalin hati masyarakat, insya Allah masyarakat mau menyatu. Tapi jika kita ngadu kepala, adu konsep, debat, adu keyakinan,ya… hasilnya seperti ini…

Aku dan temanku meninggalkan masjid itu, melanjutkan perjalanan ke rumahnya. Tapi pikiranku masih tertinggal di masjid itu. Menyayangkan cara “dakwah” yang justru menimbulkan sikap apriori dari masyarakat setempat.

Selama kebenaran di-claim menjadi milik seseorang atau sekelompok orang, ya beginilah jadinya: bukannya makin tercipta kebersamaan, malah sebaliknya, menuai permusuhan yang tersembunyi di hati.

Catatan : tulisan ini hanyalah opini budaya, bukan kampanye negatif thd sebuah partai. jadi mohon tidak ditanggapi dalam perspektif perbedaan partai. karena “maaf” sampai detik ini, MT masih non-partisan.

The Man Next Door

Beberapa kali aku perhatikan saat ustadz Munap melancong ke tempatku. Ia selalu bicara tentang apa yang dia ingin orang-orang menganggapnya lebih pintar dari siapapun. Bahkan dari apapun.  Apa yang ia lihat selalu ia komentari dengan kata-kata tinggi. Bibirnya selalu mencibir sebelum bicara.  Kepala dimiringkan sedikit, mata melihat dengan tatapan prasangka.

Ketika bicara, ia selalu lupa untuk menahan kedua tangannya untuk mengutak-atik mejaku. membuka laciku, menggeledah apa yang aku miliki. Entah, apakah jika tangannya aku ikat, dia bisa bicara? Temanku bilang, orang seperti itu disebut gratilan. Aku tak tahu arti sesungguhnya dari kata gratilan. Tapi aku mengangguk saja sebab yang aku pikirkan bukan kata mewakili perilaku.

Pagi ini dia memulai “sahibul hikayat”nya. Suatu hari ia bertemu dengan Bill Gates. Ia pernah menasehati Mr. Gates itu agar tidak lagi meminta lisensi yang mahal dari para pembeli software Microsoft. Tapi Bill Gates tak menjawab apa-apa. “Bagaimana rupa Bill Gates?” tanyaku padanya. Ustadz Munap mencibirkan bibirnya, lalu berkata, “aku tak sempat bertemu muka. Aku hanya pesan saja lewat e-mailnya”. hik! Aku cekukan.

Minggu kemarin ia minta tolong dicarikan teknisi. Komputer di rumahnya rusak. Kebetulan aku punya teman seorang teknisi computer berpengalaman. Menurut teknisi, penyakit komputer ustadz sangat parah, perlu waktu lama untuk memperbaikinya, paling tidak, seharian. Ustadz memintaku untuk membelikan salah satu sparepart yang disarankan teknisi. Saat memintaku berangkat, ustadz bilang, “cepat ya, jangan lama-lama! Biar kontrak kerjanya selesai. Bukan maksudnya mengusir teknisi itu, sih. Tapi, dia itu kan bukan orang sini!”

Lho, aku heran dengan ucapan ustadz Munap. Dia ingin komputernya beres, tapi menyiratkan kalau ia tak suka teknisi itu lama-lama ada di kampungnya. Seperti kebanyakan orang-orang kampung sini, ustadz Munap kurang suka kalau kedatangan orang luar. Mereka menganggap orang luar itu tak sama akidahnya, standard akhlaknya, dan entah apanya lagi. Yang jelas bukan karena orang luar lebih professional dan berwawasan. Sebagai tokoh masyarakat, Ustadz Munap sendiri tak belajar untuk bisa bersinergi dengan orang lain. Boro-boro masyarakatnya, dia sendiri saja parku. Tetapi yang paling aku prihatinkan dari tetanggaku ini adalah, saat dia banyak kata, dia tak pernah tahu kalau dia tak tahu. Saat dia berdusta, dia tak pernah tahu kalau aku tahu.

Lelaki di Bunderan HI

Di Bundaran Hotel Indonesia ada seorang laki-laki berpakaian compang-camping duduk di tepi kolam. Bajunya berwarna putih dekil (apakah dekil termasuk dalam kategori warna?). Celana cutbrainya robek-robek mulai dari dengkul ke bawah. Rambut laki-laki itu panjang dan awut-awutan. Ada debu, pasir, daun-daun kering yang nyangsang di rambutnya itu. Ada gelang di tangan kanannya. Gelang hitam terbuat dari aspal. Kata orang itu namanya gelang bahar. Pada lehernya tergantung sebuah kalung dengan liontin potongan karton bekas bungkus mie instan yang terdapat tulisan dari spidol hitam. Tulisan itu terbaca, “Orang Gila!!!”. Entah siapa yang mengalungkan karton itu di lehernya. Aku yakin bukan kemauan dia mengalungkan benda yang membuatnya diperhatikan orang itu. Mungkin ada orang yang iseng mengenakan kalung itu padanya. Mungkin dengan tulisan di kalung itu, orang yang mengalungkannya ingin memberitahu pada dunia kalau laki-laki itu gila. Mungkin ia berniat agar orang-orang yang melintasi Bundaran HI hati-hati terhadap laki-laki itu. Apakah laki-laki yang dilabeli orang gila itu harus ditakuti?

Aku masih mendengarkan radio pocket dengan earphone di telingaku. Kebetulan stasiun radio yang aku dengarkan itu juga mengabarkan tentang keberadaan laki-laki di tepi kolam Bundaran HI itu. Informasi itu diberikan oleh salah seorang pengendara mobil yang juga pendengar setia stasiun radio tersebut. Memang stasiun radio sekarang sangat terbuka terhadap informasi yang bersumber dari pendengarnya sendiri. Seperti siang ini, ada informasi dari pendengar yang memberitahukan kepada khalayak radio kalau ada orang gila di tepi kolam Bundaran HI. Pembawa informasi itu mengingatkan agar para pendengar waspada karena bisa saja terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Tambahnya, tidak ada Petugas yang mengamankan laki-laki itu. Ini bisa berbahaya!, kata pembawa informasi tersebut.

Aku matikan radio pocketku, menggulung kabel earphone dan menyimpannya di tas pinggangku. Aku menunggu lampu merah menyala agar bisa menyebrang menemui laki-laki yang disebut orang gila itu. Di tepi kolam Bundaran HI aku dekati dia yang sekarang sedang terpaku menatap Patung Selamat Datang. Aku sapa laki-laki itu dengan seutas senyum. Pandangannya beralih kepadaku dengan tatapan mata yang sepertinya menembus jasadku. Aku tanya padanya sedang apa di sini. Iapun tertawa sendiri, aku tidak tertawa karena tak diajak tertawa. Aku hanya tersenyum saja. Ia kembali memperhatikan Patung Selamat Datang di atas sana. Lalu kembali tertawa. Tangannya melambai-lambai seperti orang meremehkan orang lain. Sambil terkekeh ia bilang padaku kalau laki-bini di atas sana goblog. Ia bilang lagi kalau dari tadi ia memanggil laki-bini itu, dan ia bersembunyi di bawah mereka, dan laki-bini itu menganggap dia ada di tempat lain dan melambai-lambaikan tangannya ke arah lain. Tawanya semakin terbahak-bahak. Ia bilang kalau dia bisa mengelabui laki-bini itu yang tidak bisa melihat dirinya. Ia juga bilang kalau dia punya ilmu tembus pandang. Katanya dengan ilmu itu orang-orang tidak bisa melihat dia, maka iapun bebas melakukan apa saja semaunya. Lalu ia memaksaku menjawab pertanyaannya, “Kamu nggak ngeliat aku, kan!?” berulang-ulang ia mohon jawaban. Aku mengangguk-angguk saja. Ia balas aku dengan makian, “Bodoh! Kalau kamu nggak liat aku, mukamu jangan dihadapkan ke aku, dasar bodoh! Mestinya kamu melihat ke arah selain aku!”. Aku merasa terkecoh dengan sikapnya beberapa menit ini. Patung itu dia anggap bodoh karena tak melihatnya sedangkan aku dianggap bodoh karena memandangnya. Ia menembangkan sebuah nyanyian dengan bahasa daerah yang tak perlu aku sebutkan di sini, sebab khawatir menimbulkan SARA. Kembali matanya bolak-balik menatap patung dan mataku, “Kamu anaknya laki-bini itu?” tangannya menunjuk patung di atas sana. Aku jawab bukan. Tapi dia yakin kalau aku anak patung di atas sana. Ia beralasan kalu mukaku mirip dengan laki-laki di atas itu. Lalu ia berdiri tegak ke arah aku yang jongkok. Tangan kanannya ditempelkan ke dahi kanan, memberi hormat kepadaku. Ia bilang aku anak presiden. Sampai di sini aku tak kuat menahan tawa. Akupun tertawa cukup lama karena dia menganggapku anak presiden dan dia menganggap laki-bini di atas sana itu adalah presiden dan ibu negara.

Lelaki berpakaian compang-camping dengan bau tak sedap yang kurasakan setelah dekat dengannya menyampaikan orasi di depan hidungku. Ia menyatakan kalau aku lebih baik dari bapak-ibuku. Ia menghormatiku karena aku mau mendekati rakyat yang setia pada negara ini. Ia senang aku mau mendekatinya, menemaninya, mengetahui ilmu tembus pandangnya, dan mendengarkan isi hatinya. Ia juga bilang kalau bapak-ibuku, presiden dan ibu negara di atas sana itu, tak pernah tahu kalau rakyatnya memanggil walau dari bawah mereka, walau berdekatan dengan mereka. Tetapi walaupun sebenarnya ia tersinggung dengan sikap laki-bini di atas sana itu, ia menyatakan tetap menganggapnya sebagai pemimpin negeri ini, ia tetap akan membantu laki-bini itu memimpin negeri yang besar ini sampai titik darah penghabisan tanpa meminta imbalan sepeserpun. Karena baginya hidup adalah pengabdian pada Tuhan dan pada pemimpin. Ia menasehatiku kalau bapak-ibuku di atas sana itu adalah orang-orang pilihan Tuhan yang harus dicintai walau tidak pernah mendekati rakyatnya. Sebab kalau tidak dicintai, Tuhan akan mengazab rakyat negeri ini.

Aku tanya padanya, siapa yang mengalungkan karton ini di lehernya. Ia kembali berjongkok di depanku dan menyanggah kalau kalungnya bukan kalung biasa. Kalung itu adalah pemberian dari gurunya atas ujian akhir yang berhasil dia jalani. Gurunya memberinya penghargaan itu karena ia sudah bisa menerapkan ilmu hilang. Kini ia berencana akan menemui para anggota kabinet negeri ini. Ia bilang kalau orang yang telah lulus ilmu hilang, mempunyai tugas mulia dari gurunya untuk menasehati para pemimpin nusantara ini, untuk membisikkan nasehat kepada mereka semua yang bisa mereka rasakah melalui firasat, mimpi, atau bisikan hati. Setelah ini ia berencana akan mengunjungi anggota kabinet, anggota legislatif, penegak hukum, untuk membisikan nasehat agar mereka menjalankan tugas dengan ikhlas, tak mencicipi fasilitas negara untuk kepentingan lidahnya.

Aku berdiri dan menjabat tangannya sambil menyampaikan kata selamat jalan, selamat bertugas. Ia terharu sekali karena merasa telah mendapatkan keistimewaan bisa bertemu denganku, anak presiden yang peduli akan keberadaannya. Sebagai ucapan rasa haru, rasa bangga, dan rasa terima kasih, ia ingin sekali memberikan kenang-kenangan untukku, tapi ia tak punya harta kecuali kalung penghargaan itu. Aku bilang padanya agar tak perlu memberiku kenang-kenangan. Tapi ia tetap memaksaku dan mengalungkan tanda penghargaan itu di leherku sambil berucap, semoga dengan kenang-kenangan ini aku tetap mengingatnya sebagai rakyat yang setia. Lalu ia beranjak pergi dari tepi kolam Bundaran HI menelusuri jalan Jendral Sudirman untuk menyelesaikan misinya.

Perempuan

Ini tulisan tentang perempuan yang tidak mau dianggap lebih rendah dari laki-laki tapi juga tidak mau mirip dengan laki-laki. Dulu sempat diperjuangkan oleh kaum perempuan yang namanya emansipasi. Tapi entah kenapa, sekarang istilah emansipasi tidak lagi populer ketimbang feminisme. Kalau kata mang Papay, mungkin emansipasi telah menyebabkan sosok perempuan seperti lelaki. Nah, biar perempuan tetap perempuan namun mempunyai kesempatan yang sama dengan lelaki, maka digantilah istilah emansipasi itu menjadi feminisme. Mungkin mang Papay salah. 

Feminisme menurut kamus tak lengkap, adalah gerakan perempuan yang memperjuangkan kesederajatan terhadap kaum laki-laki. Apakah karir perempuan mesti terhambat dan selalu di bawah laki-laki hanya karena masalah kejenisan? Jawabnya tergantung sejauhmana perempuan itu memegang norma-norma yang diyakininya.

Jadi perempuan itu sendiri yang harus menilai dan menempatkan dirinya sendiri dalam segala bidang. Laki-laki yang normal sebenarnya tak pernah membatasi perempuan. Terserah mau di atas atau di bawah, yang penting bisa terjadi kerja sama yang saling menyenangkan.

Kita lihat saja di negeri ini, banyak perempuan spesial. Mereka mempunyai prestasi yang mengagumkan (bukan menggumelarkan). Contohnya Susi Susanti, Anggie Wijaya, Megawati, Menteri-menteri perempuan, politisi perempuan, pengedar narkoba perempuan, mucikari perempuan, dan lain-lain. Tapi dari semua perempuan di Indonesia, menurut mang Odon, yang paling dia saluti adalah perempuan yang selalu diharapkan tuahnya oleh banyak laki-laki. Perempuan yang bisa membuat laki-laki percaya diri. Perempuan itu adalah Mak Erot.