Cogito Ergo Sum 3D

Ini sebuah cerita santai tentang tiga orang karyawan bernama Diding, Dudung, dan Dadang. Bolehlah disebut 3D. Nggak perlu serius-serius amat membaca tulisan lamaku ini. Sekedar bacaan ringan untuk mengisi kepenatan saat Anda terjebak macet atau jenuh di tengah pekerjaan. Cerita ini terinspirasi oleh pernyataan Rene Descartes: “Cogito ergo sum“. (more…)

Takut Jarum Suntik

Siapakah di antara teman-teman yang waktu SD dulu pernah kabur dari sekolah lantaran ada dokter yang datang untuk imunisasi? Ceritain dong! Seru tuh.

Itu status yang pernah kubuat di facebook, kemarin. Status yang dipicu oleh informasi dari anakku saat pulang sekolah, “Besok ada dokter datang ke sekolah, Yah. Semua murid harus disuntik.” (more…)

Uganda Pernah Jadi Juara Piala Dunia

Ini benar-benar sebuah postingan iseng bin ngawur. Karena bukan cuma Karel yang bisa ngawur hehehe… Lucu juga waktu iseng-iseng cari postingan lamaku, waktu tahun 2006. Bagi yang gak suka bercanda, disarankan untuk tidak membaca postingan yang satu ini. Tapi bagi yang suka bercanda, silakan deh :)

(more…)

Casing Karet

image dari pencarian google

image dari pencarian google

Si Ochem mau ke Plaza Jambu Dua, Bogor. Ia mau membeli beberapa perangkat komputer untuk laboratorium komputer di Pesantren. Ozzy tiba-tiba menelpon.

“Chem, titip casing ya, satu!” katanya singkat dan ngirit pulsa.

“Oke” balas Ochem lebih singkat.

Setelah selesai belanja perangkat yang dicarinya, Ochem pun sekalian memesan casing. Iapun memilih beberapa merk casing di toko komputer tersebut. Saking banyaknya pilihan, akhirnya Ochem sms Ozzy.

“Casingnya warna apa?”

“Hitam! Casing karet ya!” balas Ozzy (more…)

Pangkat Terakhir

sang kopral paling kanan

sang kopral paling kanan

Ini catatan perjalananku di Bali bersama teman-teman dalam sebuah ekspedisi. Di lampu merah, karena mau belok kanan maka mobil kami mengambil sisi kanan jalur. Tetapi ternyata itu salah. Kami tak tahu kalau jalan itu dipakai 2 jalur. Akhirnya pak Polisi menyempritkan peluitnya. Berhentilah kami di sisi jalan. Ia mengajak temanku, Iqbal yang menyetir, untuk ke pos polisi di ujung tikungan.

“Mang Hanafi! Kan Mamang mantan Polisi, coba dong bantuin Iqbal tuh!” pintaku kepada Mang Hanafi, orang tua yang mendadak memaksa ikut perjalanan kami. Lebih jelas kenapa dia akhirnya ikutan, bisa dibaca di postingan sebelumnya.

“Ya, Mamang turun deh…” Akhirnya ia membuka pintu mobil dan berjalan menuju Pos Polisi.

Petugas Polisi sedang menjelaskan kesalahan temanku, yang salah jalur. Mang Hanafi langsung saja mendekati mereka berdua, lalu menyalami Polisi.

“Maaf, memang kesalahannya apa?” tanya Mang Hanafi, sopan.

“Salah jalur, pak! Itu bahaya. Untung saja dari arah lain tak ada kendaraan yang masuk. Kalau ada, bisa macet atau bahkan bisa saja tabrakan. Itu kan bahaya, bisa menelan korban!” Jawab petugas Polisi.

“Oh, begitu. Di sini Kapolseknya siapa?” Tanya Mang Hanafi.

Petugas Polisi menyebutkan nama atasannya. “Memang kenapa, Pak?” Tanyanya.

“Oh, dia itu teman seangkatan saya. Dulu satu asrama, waktu sama-sama pendidikan…” Selanjutnya obrolan berkutat soal pengalaman mang Hanafi ketika masih satu asrama dengan temannya yang kini menjadi Kapolsek. “Salam ya, sama dia!”

“Oh begitu, pak!” Petugas Polisi itu memperhatikan Mang Hanafi.

“Lha, Mamang ini kan sudah pangsiun, hebat ternyata teman mamang sudah jadi Kapolsek di sini…” Mang Hanafi merendah. Ia memang sudah pensiun. Bukan “pangsiun” seperti yang ia katakan. “Terus bagaimana ini urusannya?” tanya Mang Hanafi lagi.

“Salah, tetap salah pak. Tapi karena ini kesalahan kecil, ya tetap ada hukumannya…” Tegas petugas Polisi.

“Apa hukumannya?” Tanya Mang Hanafi. Sementara itu aku dan Iqbal menunggu nasib saja.

“Hukumannya : Jangan ulangi lagi, ya!” Tegas petugas Polisi sambil tersenyum.

“Oh, begitu. Terima kasih ya!” Mang Hanafi menepuk-tepuk pundak juniornya itu. “Ayo kita berangkat lagi!” Ajak Mang Hanafi kepada kami.

Sebelum berangkat, petugas itu menyampaikan salam perpisahan, “Selamat jalan, ya. Hati-hati! Oh ya, maaf pak! Pangkat terakhir bapak apa ya? Nanti kalau saya ketemu Kapolsek, akan saya sampaikan salam Bapak!” Tanya petugas Polisi itu.

Yang ditanya mesem-mesem menjawab, “Oh, pangkat terakhir saya KOPRAL!”

Petugas itu terkesima. Kamipun mempercepat langkah menuju kendaraan yang siap meluncur ke Tanah Lot, Bali. Di dalam kendaraan, kami ngakak karena ulang sang kopral mentok ini.

Barang Bukti, bukan Tanda Bukti!

http://src034.files.wordpress.com/2009/11/polisi.jpg

http://src034.files.wordpress.com/2009/11/polisi.jpg

Alux el Fabi, salah seorang temanku, personil Fabian Folklore pernah punya masalah dengan polisi. Karena suatu kesalahan, ia kena tilang di jalan, saat mengendarai Kijang Tua yang diandalkannya.

“mana SIM-nya?!” pinta pak Polisi
“Waduh, ketinggalan, pak.” Jawab Alux tersenyum.
“STNK?!” pinta pak Polisi lagi.
“Wah, ketinggalan juga, pak.” Jawab Alux lagi. Pak Polisipun geleng-geleng kepala.
“Tanda Bukti, KTP mana?” Akhirnya pak Polisi meminta tanda identitas standar rakyat Indonesia.

(more…)

Dikira Kesurupan

sakaw_by_renansaOrang tua itu tergesa-gesa menemui kyai. Wajahnya yang secara default selalu panik, makin tambah parah kesannya.

“Tolong, kyai. tolong! Anak saya kerusupan!” pintanya meskipun belum duduk di depan kyai.

“Anakmu yang mana?” tanya kyai yang sedang browsing dengan laptop kreditan di atas tikar pandan.

(more…)

Pelupa Berat

helmEntah apakah harus kasihan atau justru menjadi hiburan bagiku. Ini soal temanku yang pelupa. Beberapa kali jalan bareng ataupun ngobrol bareng, ada saja kelupaan yang membuat saya terpingkal-pingkal.

Ketika ngobrol berdua di rumahnya. Dia masak air untuk 2 cangkir kopi. Saking asyiknya ngobrol, airnya gosong alias kering…. akhirnya masak lagi… tapi dasar parah, lupa lagi bahkan sampai 3x berturut-turut…

Malamnya, temanku itu mau bayar tagihan telpon via ATM. Di depan box ATM, tiba-tiba ia ngacir kembali ke rumah, membawa kebut motornya. Ternyata, kartu ATM-nya nggak dibawa. Setelah kembali lagi di depan ATM, ia langsung masuk dengan kartu ATM di tangan. Tak berapa lama, seorang satpam masuk juga dan menegurnya, “Pak, tolong helmnya dibuka!”

(more…)

Suramadu bukan Jembatan

Aku sedang ingin menulis yang ringan dan sepele saja. Kali ini adalah catatan perjalanan ke Bangkalan, melintasi Jembatan Suramadu (Surabaya-Madura).

suramadu-01Sebelum sampai di mulut jembatan, Kang Haji yang menjadi ketua rombongan mengisyaratkan, agar kami hanya menyebut “suramadu” saja, tanpa “jembatan”. Soalnya, Nenek-nenek yang kami bawa dalam rombongan, sejak dari Malang, tak berani menyebrang jembatan. Mungkin yang ada dalam bayangannya adalah jembatan dari kayu atau jembatan gantung.

Setelah membayar di loket, mobil melaju melintasi Suramadu. Sang Nenek, nyeletuk, “Kita lewat tol ya?” Yang lain tak mengiyakan, malah mengalihkan perhatian dengan menikmati pemandangan laut dan pulau Madura di ujung sana.

Singkat cerita, dengan selamat kami mengantarpulang sang Nenek kepada Suaminya di Cakung, Jakarta Timur. Suaminya menyambut dengan riang, “Wah sampe juga lu pada ke Madura. Nyebrang jembatan Suramadu dong?”

“Jembatan? Udah kagak ada, bang!” Jawab istrinya, sang Nenek.

“Lha? Kagak ada?” Sang suami garuk-garuk kepala

“Lha iya, jembatannye udah kagak ada! Udah diganti sama jalan aspal, tol! Bagus banget dah!”

Tak tahan menyaksikan obrolan kocak, kamipun ngakak berjamaah. Kang Haji menyatakan, “kalo tadi siang gue bilang jembatan, nenek-nenek mane mao ikut nyebrang, bisa gagal rencana kite ke Madura….”

Hahaha…. cerdas juga kang Haji…

Alternatif Selain Pansus

Dua orang lelaki berkantong pas-pasan, di pinggir jalan di tengah malam sehabis gerimis…

A : Aku bosan
B : Kenapa?
A : Teman-temanku tak mengerti aku
B : Kamu mengerti mereka?
A : Ng….
B : Hm…
A : Koq kamu jawab begitu?
B : Karena kamu tanya begitu
A : Ah kamu
B : Ih kamu
A : Aku harus ngapain?
B : Tidur!
A : Gak bisa…
B : Makan!
A : Gak lapar…
B : Main!
A : Main apa?
B : Apa aja yang kamu suka
A : Aku bosan…
B : Nyanyi saja!
A : Lagi males…
B : Kamu maunya apa?
A : Ng……
B : Setel TV ah…
A : Huh Pansus melulu, bosan!!!
B : Nah!
A : Apa?
B : Mending kita ke air mancur, nyeruput pansus!
A : Bansus, maksudmu?
B : He he he…. ya bansus!
A : Oke!

Bansus adalah minuman mix dari bandrex campur susu, bisa juga ditambah kelapa muda, seperti gambar ini. foto : http://meok.detik.com