Alternatif Selain Pansus

Dua orang lelaki berkantong pas-pasan, di pinggir jalan di tengah malam sehabis gerimis…

A : Aku bosan
B : Kenapa?
A : Teman-temanku tak mengerti aku
B : Kamu mengerti mereka?
A : Ng….
B : Hm…
A : Koq kamu jawab begitu?
B : Karena kamu tanya begitu
A : Ah kamu
B : Ih kamu
A : Aku harus ngapain?
B : Tidur!
A : Gak bisa…
B : Makan!
A : Gak lapar…
B : Main!
A : Main apa?
B : Apa aja yang kamu suka
A : Aku bosan…
B : Nyanyi saja!
A : Lagi males…
B : Kamu maunya apa?
A : Ng……
B : Setel TV ah…
A : Huh Pansus melulu, bosan!!!
B : Nah!
A : Apa?
B : Mending kita ke air mancur, nyeruput pansus!
A : Bansus, maksudmu?
B : He he he…. ya bansus!
A : Oke!

Bansus adalah minuman mix dari bandrex campur susu, bisa juga ditambah kelapa muda, seperti gambar ini. foto : http://meok.detik.com

Petani Buka Rekening

sang petani

sang petani

Kang Haji adalah seorang petani yang gaya hidupnya sederhana. Tak pernah macem-macem. Hidupnya kelihatan tenang dalam kebersahajaan. Tapi pagi ini dia datang tergopoh-gopoh…

“Tulung anter saya ke Bank!” pintanya kepada Ozzy

“Mau bikin rekening, kang Haji?” tebak Ozzy sambil bergegas menuju Phanter tua bangka milik Kang Haji.

“Mao ada transferan duit. Tapi saya belon punya buku tabungan di bank.” Jawab Kang Haji.

Mereka berdua melesat ke sebuah Bank yang tak jauh kantornya dari rumah Ozzy.

Kang Haji langsung diarahkan oleh petugas satpam menuju Customer Service. Setelah duduk, petugas CS yang cantik bertanya, “Ada yang bisa saya bantu, pak?” Sopan.

“Ya. Saya mau bikin rekening.” jawab Kang Haji.

“Maaf, rekening apa ya, pak?” tanya CS lagi. Tetap cantik dan sopan.

Ya rekening bank! masa rekening listrik!” Kang haji menjawab sambil melengos, menampakkan wajah bingung ke arah Ozzy.

Ozzy langsung sigap dan duduk di sebelah Kang Haji untuk meladeni CS cantik yang tersiksa menahan tawa. Sang CSpun menjelaskan jenis-jenis rekening yang disediakan Bank tempatnya bekerja…

Tumis Genjer, PKI, dan Proses Penciptaan Manusia

bakulSetelah menyelesaikan misi sebagai negosiator TI dengan Acer Indonesia, Aku, Ozzy, Ochem, dan Astrajingga makan malam di warung makan Bakul-Bakul, Bogor. Kami sepakat memesan minuman sesuai keinginan, nasi sebakul, dan ikan gurame bakar. Sempat terjadi perdebatan ketika sang pelayan menawarkan pilihan menu tambahan antara tumis kangkung dan tumis genjer.

Aku nggak doyan genjer. Jadi kupilih tumis kangkung. Tapi Ozzy lebih memilih tumis genjer. Terjadilah perdebatan…

“Kenapa sih nggak doyan genjer? kan enak!” katanya.

“Ya, rasanya nggak enak aja!” jawabku.

“alaaaah, paling lu jijik ya sama genjer. Inget PKI?” balasnya.

“Ya, gimana ya. sebenarnya emang gue gak suka! Apalagi jika lu kaitkan dengan PKI, wah jadi tambah gak mau deh. Gue jadi inget pembantaian yang diiringi lagu genjer-genjer itu… hiiy…!” Aku teringat dengan Film Gerakan 30S PKI buatan pemerintah yang pernah menjadi tontonan wajib setiap tanggal 30 September saat Orde Baru berkuasa di negeri ini.

“Tuh kan, lu gak suka karena ada PKI-nya!” Ozzy menuduh.

“Gimanapun PKI itu telah membuat sejarah di endonesya. Tapi nggak berarti gue anti sama anak-cucu aktifis PKI dong. Kan itu masa lalu.”

“Masalah lu ya masalah lu, bukan masalah gua!”

“Ya udah, gue tetep pesen tumis kangkung! Kan lu tau, kangkung itu merupakan awal penciptaan manusia…” kataku sambil nyengir.

“Ah masa sih? Sejarah dari mana lu?” Ozzy tak percaya.

“Ya! Kangkung itukan akronim dari bekangkang dan bekungkung… nah pada aktifitas itulah, akhirnya terjadi pembuahan dan pertambahan penduduk dunia… hehehe…” jelasku.

“Ah gila luh!”

“Maaf mas… jadi pesan menu yang mana nih?” sang pelayan mengingatkan kami, setelah dari tadi tengak-tengok antara aku dan Ozzy.

“Tau lu pada. Orang udah pada laper masih ngoceh aja!” Ochem kesal.

“Ya udah, kalo gitu pesan dua! Tumis kangkung dan tumis genjer! Deal?!” Astrajingga menengahi.

“Oke, deal!” Ozzy sepakat dan kamipun menunggu hampir setengah jam untuk menyantap semua makanan yang kami pesan. hm… tambah laper…

Pesan Moral : Makanannya enak. Suasananya enak. Harga pas…. hehehe…. *koq jadi review kuliner… :p

Ketika TV Mengabarkan *

Suatu malam dalam sebuah obrolan bersama beberapa tamu dari negeri seberang. Seperti biasa, selalu saja ada topik tentang negeri mereka yang lebih bersih, disiplin, dan hightech. Tidak seperti negeriku yang dianggap kotor, tidak disiplin, korup, birokratis, asongan, gembel, wc umum baunya membius, dan lain-lain.

old tv

Obrolan di ruang tamu itu terhenti sesaat, karena sebuah breaking news di salah satu TV berita. Para tamuku menyaksikan dengan seksama berita tentang negerinya yang dilanda banjir selutut. Beberapa di antara mereka terlihat mesem-mesem. Ada juga yang mangap.

Aku tersenyum melihat para tamu menjadi salah tingkah gara-gara berita di TV tentang kampung halaman mereka. Weeeeeks!

Kamus :

mesem-mesem : tersenyum karena malu

mangap : mulut terbuka

* inspired by PS

Ada yang bisa kami bantu?

hpgede

Customer Service : selamat siang… ada yang bisa kami bantu?
Pelanggan : siang mbak! mau laporan keanehan simcard saya…
CS : boleh tahu nomornya pak?
PL : boleh, ini.. 0813xxxxxxxx
CS : masalahnya apa pak, bisa dijelaskan agar kami bisa membantu?
PL : Sejak saya beli 3 bulan lalu nomor saya ini aneh, mbak. Setiap pulsanya di bawah satu ribu, pasti tak bisa dihubungi oleh teman-teman saya. Padahal masa aktifnya masih 5 bulan lagi lho mbak? piye mbak?
CS : Mohon tunggu sebentar ya pak…..
PL : (menunggu beberapa detik………………………..)
CS : Halo pak. Terima kasih Bapak masih menunggu kami. Begini pak, masalah seperti itu bukan hanya terjadi pada nomor Bapak saja. Banyak nomor lain yang mengalami masalah yang sama…. Kami sedang melakukan perbaikan agar masalah Bapak bisa teratasi….
PL : ng…. gitu?
CS : Oke bapak, masih ada masalah lain yang bisa kami bantu?
PL : Lalu kapan keanehan ini tak saya alami lagi?
CS : Tunggu saja beberapa hari ke depan, pak. kami sedang melakukan perbaikan. Ada masalah lain yang bisa kami bantu pak?
PL : Ya sudah kalau begitu…. *ngedumel : huh, nggak bisa kasih solusi! (tuts… hape dimatikan)

Kini sudah sebulan sejak menelpon customer service provider seluler terbesar, tapi masalah yang dialami sang pelanggan masih belum ada perubahan.


L’Ingenu (Si Lugu)

Ken Alux berdoa di Porong

Ken Alux berdoa di Porong

tadinya mau nulis tentang sang kopral, tapi sejak 2 minggu lalu, coople request, mending tentang pembagian jatah istri. Karena itu, aku tulis tentang pembagian jatah istri. Tapi kenapa judulnya Si Lugu? Judul kisah konyol ini terinspirasi oleh novel karya Voltaire berjudul L’Ingenu yang diendonesyakan menjadi Si Lugu. Anda yang belum baca, silakan download saja.

Alux memang lugu. Ia selalu mengesankan sebagai orang yang tak penting. Walaupun faktanya, tanpa kehadirannya, ekspedisi kami tak mungkin jadi berangkat. Karena sejak awal ia adalah bagian dari perencana ekspedisi. Bahkan ketika merencanakan, yang ia incar hanya 2 hal yang menurut teman-teman lainnya gak penting banget : Lihat Lumpur Porong dan Menyebrang Ferry ke Bali saat matahari baru membuka pagi. Maklum beberapa kali ia menyebrang selalu tengah malam, jadi tak pernah merasakan indahnya lautan.

Sebelum berangkat ekspedisi, PS dan aku sudah merencanakan untuk membekalkan uang bagi istri masing-masing anggota tim. Kami akan meninggalkan para istri selama satu pekan. Rp.500.000,- per istri kami pikir cukup. PS menugaskanku memberikan uang jatah istri tersebut ke semua istri peserta ekspedisi. Setelah membagi-bagikan kepada yang berhak, tinggal 1 orang istri saja yang belum mendapatkan jatah, yaitu istri Alux.

PS berpesan padaku, “Te, berapapun yang Alux minta, kasih!“  Aku memahami pesan PS. Bersama Ozzy aku menjemput Alux di rumahnya. Uang di tas pinggangku masih ada 3 juta. Berapapun yang ia minta, pasti kuberikan. Alux sudah berdiri di depan pintu. Aku membuka resleting tas pinggangku, mencabut lembaran limapuluh ribuan. Baru selembar aku mencabut dari gepokan uang,  Alux langsung bersikap, “Eit! Masa gocap! Yang bener dong! Kan kita bakalan pergi 7 hari. Nah, kalau sehari gocap, berarti jatah istri gue, 7x gocap! Jadi Rp.350.000,- dong!” ia protes sambil tersenyum, merayuku!

Aku konfirmasi padanya, “Benar segitu?” Yang ditanya mengangguk-anggukan kepala dengan riang. Kuberikan padanya sejumlah yang dia inginkan. Alux merasa menang. Bagiku, ini amat sesuai dengan pesan PS, untuk memberikan berapapun yang Alux minta.

Sepanjang jalan menuju mobil, Ozzy tak kuat menahan tawa. Aku paham, ia pasti menertawakan Alux yang amat lugu. Sebab akupun demikian. Aku melaporkan kepada PS, semua istri peserta ekspedisi sudah mendapatkan jatah masing-masing. Rata-rata Rp. 500.000 kecuali Alux. PS Tidak terkejut malah tertawa ngakak, “Huh dasar! Mau dikasih gope malah minta segitu!” komentarnya. Mestinya ia dapat setengah juta, tapi karena ngotot dengan perhitungan sendiri, maka ia hanya dapat 350 ribu saja. Hm… lugu!

Sang Nenek jang Tjerdik

Di sela-sela waktu menuntaskan tulisan tentang Ekspedisi Walisongo, aku dan PS sepakat untuk mengungkap hal-hal konyol yang kami alami selama dalam ekspedisi 25-31 Mei 2009 lalu. Kisah-kisah konyol ini bukanlah fiktif, tapi benar-benar kami alami bersama. Aku memulainya dengan kisah ustadz Alux el Fabi, salah seorang anggota Tim Ekspedisi Walisongo.

Di pasar Beringharjo Jogjakarta, kami menjadi laki-laki pencari cinderamata buat keluarga. Sebagai sesama lelaki yang jarang belanja di pasar, tentu kami bicara soal tawar-menawar. Aku nyatakan ketidakberanianku saat melakukan penawaran dari harga yang diberikan penjual. Karena itu aku lebih suka berbelanja di tempat yang sudah pasti banderolnya. Beberapa teman juga ada yang merasakan hal sama sepertiku, dan ada juga yang menyatakan dirinya sang penawar ulung. Berapapun harga yang ditawarkan oleh penjual, baginya WAJIB DITAWAR! Jika ia kalah menawar, ia tak akan membeli walaupun suka terhadap barang yang diincarnya. Jika menang, wah bahagia sekali!

Seluruh anggota tim terpencar. Masing-masing mencari belanjaan sesuai dengan pesanan keluarganya. Ada yang membeli pakaian stelan buat istri, anak, dan tetangga (halah! tetangga?!). Ada juga yang membeli bakyak, blankon, dan cinderamata khas Jogja. Selebihnya membeli makanan dan buah-buahan. Pada waktu yang ditentukan sebelumnya, kami semua berkumpul kembali di parkiran. Melanjutkan perjalanan.

alux-tertipu

Di dalam mobil, Alux membanggakan kemampuannya menawar BREM. Yang belum tahu brem silakan klik link ini. Ia bilang sebelumnya sang nenek penjual memberikan harga Rp.5000,- per bungkus. Karena masih dalam taraf belajar menawar, Alux memberanikan diri menawar brem tersebut. “Rp. 20.000,- untuk 10 bungkus, nek!“  Setelah duel tawar-menawar, Sang nenek penjual brem akhirnya menyerah terhadap penawaran Alux. Ia memberikan 10 box Brem dengan harga Rp. 20.000,-. Kalau dirata-rata, berarti harga per kotak hanya Rp. 2.000 (dua ribu perak!). Hebat! Alux merasa ia berhasil menawar.

Aku meminta 1 box untuk kuperiksa. Entah kenapa, aku merasakan ada yang tidak beres dengan pengalaman Alux. Ia memberikan 1 box brem. Kuperiksa dengan kutekan setiap bagian box tersebut.  Kukocok-kocok pula… Hm… Aku yakin sang nenek tidak kalah menghadapi tawaran Alux. Aku minta Alux membuka kotak brem yang sudah kuperiksa itu. Gerhana dan PS juga menantikan dengan penuh penasaran.

Perlahan Alux membuka box Brem berwarna kuning. Breet! Alux ternganga. Terkejut melihat isi bremnya hanya 4 potongan sisa. Jadi 1 box brem itu tidak penuh terisi sebagaimana mestinya. Ia masih tak percaya. Dibukanya lagi bungkus brem lainnya… kami semua tertawa, semuanya berisi 4-5 potongan sisa brem yang juga sudah kadaluarsa! PS menenangkan, “Wajarlah, lagian mestinya harga 1 box brem itu, normalnya memang 5 atau 7 ribu perak! Itu brem yang normal… hahaha…

Spontan, rasa bangga Alux karena telah berhasil menawar luruh. Ia kini berganti ekspresi, kecewa. Kemenangannya hanyalah tipuan. Duapuluh ribu rupiah hilang, berganti dengan 10 box brem kadaluarsa yang tak bisa dimakan lagi… Alux Vs Nenek-nenek : Pemenangnya adalah sang nenek yang tjerdik hahaha *ketawa mode mbah surip

SMS Gratis, Tak Habis-habis

Barusan temanku yang sama-sama beli Hape Smart Haier D1200P sms. Ia kebingungan, jatah SMS gratisnya bulan ini, baru terpakai 4 SMS, dari 2000 SMS yang digratiskan Smart-Telecom. Gara-gara itu, akhirnya terjadilah SMS-an Gokil ini.

AL : Masih banyak pulsa nih, gue bingung!

MT : Mending Lu dakwah bil SMS aja! kan terbuang tuh!

AL : Dakwah ke siapa?

MT : Ke seluruh rakyat endonesya!

AL : Gimana kalo forum tanya-jawab? Lu nanya, ntar gue nanya juga…

MT : Gimana caranya biar akses internet lebih cepat?

AL : Pecut aja!

MT : Salah, yang benar, lewat jalan tol tengah malam

AL : Kenapa lewat tol harus bayar?

MT : Karena yang punya tol nggak punya pulsa

AL : Su’udhon lu! Sumbernya dari mana? Gak Rasional!

MT : Memang tarif tol rasional?

AL : Ah, gue nggak mau ngebahas Kebangkitan Rasional!

MT : Kenapa tampang caleg di jalanan itu nggak enak dilihat ya? Nggak rasional?

AL : Kalo gue, ngeliatnya malah tampang Kuple!

MT : Oo mungkin karena itu dia bikin lagu tentang caleg gebleg

AL : Bukan! Bisa jadi Kuple takut kesaing sama caleg2 ntu!

MT : Gila lu!

AL : Cara masuk ke bloglu gimana sih? Gue mau chatting…

MT : Blog-Chatting? Nggak nyambung!

AL : Gue pengen buka bloglu!

MT : Lu buka facebook aja! eh, e-mail-lu apa?

AL : Cara bikin imel gimana?

MT : ???

Begitulah obrolan dengan SMS dengan temanku yang “rada-rada” gimana, gitu. Kalau nggak dilayani, kasihan… dia nggak bisa menghabiskan jatah SMS gratisnya. Kalo dilayani… ya begitu dech, jadi gila! :))

Review-an Konyol!

Ada yang bilang, “Jangan ngomong kalo nggak tahu!”. Kalau dalam dunia blog, mungkin bisa diganti menjadi, “Jangan nulis, kalo nggak tahu!”.

Ini adalah pengalamanku ketika blogwalking. Ketemu dengan sebuah blog yang ngomongin film Merem Melek. Dalam postingannya dia nulis, “Kun jatuh cinta dengan seorang gadis berjilbab dari keluarga baik-baik….” Padahal, (Ayo siapa yang sudah nonton itu film?!) Tak ada perempuan berjilbab dalam film tersebut. Ini termasuk konyol, kan?!

skrinsut terolah

skrinsut terolah