Published on September 30, 2011 by MT
Tadi pagi Pukul 07:51 WIB, aku sedang mengajak main si bungsu, Mikail. Sambil menunggu ia yang bermain di lapangan, kupilih-pilih playlist lagu di hapeku. Ada playlist TOEA. Kusetel saja dan lagu yang pertama terdengar adalah lagu Genjer-Genjer, yang dinyanyikan oleh Bing Slamet (Almarhum). Ada lagu lainnya dari Wieteke van Dort, berjudul Ajoen-Ajoen, Geef Mij Maar Nasi Goreng, Terang Boelan, dan lagu lainnya dari album klasik Mashabi. (more…)
Published on August 14, 2011 by MT
Para penggemar musik Jazz tentu sudah mengenal siapa Idang Rasjidi. Bahkan tidak sedikit yang merindukan tarian jari-jemarinya di atas piano. Banyak pula yang kangen untuk menikmati alunan suaranya khas. Nah, bagi anda yang sudah lama tidak melayang dalam buaian nada-nada karya cipta Idang Rasjidi, kini bisa menikmatinya kembali dalam Album Ramadhan. (more…)
Published on February 17, 2011 by MT
Aku senang menyanyikan lagu karya cipta John Lennon ini. Pesannya amat humanis. Seperti harapan banyak orang di dunia, khususnya di Indonesia. Inilah lagu yang seperti menjadi Hymne bagi perdamaian di dunia.
Aku menyukai lagi ini dan kunyanyikanlah…
(more…)
Published on October 2, 2010 by MT

MAU TAPI MALU
Penyanyi : Gita Gutawa feat Maia
Kau yang di sana, siapa dirinya
Buatku terpana
Kesan pertama sungguh mempesona
Ingin mengenalnya
Di kepalaku ada suka yang menggila
Sudikah kamu mengenalku, mendekati aku
Aku mau tapi malu
Ku suka matamu, hidungmu, wajahmu
Dan aku mau untuk jadi milikku
Aku mau tapi malu
Ku suka gayamu, tingkahmu, senyummu
Tapi ku malu tuk katakan padanya
Aku yang selalu punya sejuta cara, cara tuk merayu
Tapi yang terjadi aku seperti ini
Ku bingung sendiri
Di kepalaku ada suka yang menggila
Sudikah kamu mengenalku, mendekati aku
Aku suka. Aku mau. Tapi sungguh aku malu
Aku diam
Aku bingung
aku harus bagaimana
Oh Tuhanku tolong aku
Mengapa ku jadi bodoh
Ku tak tau kenapa
Ku tiba-tiba jadi malu
Ku tak tau tak tau ku tak tau tak tau uuuu

Artikel ini diikutsertakan dalam kontes Lagak dan Lagu di BlogCamp
Published on March 10, 2010 by MT
Senja di Kota Hujan adalah lagu yang pernah kunyanyikan bersama grup Fabian Folklore di Bogor. Lagu ini diciptakan oleh Coople Ramadhan. Dikulik pertama kali oleh CR dan MT, namun baru terasa suasana Bogornya setelah “diintervensi” oleh Alux el Fabi, yang bermimpi lagu ini menjadi lagu kebanggaan masyarakat Bogor.
Derai rintik hujan yang tercurah
Senja itu luruh di kota hujan
Basahi daun dan atap-atap rumah
Basahi diriku yang tak terlindung naungan
Kurengkuh suasana temaram
Di bawah lampu jalan yang tak menyala
Kuhirup udara yang basah lembab
Hingga napasku tersengal
Reffrain:
Senja di kota hujan
Tak terlukiskan suasana yang tercipta
Selalu bangkitkan
Kenangan penuhi ruang jiwaku
Kurengkuh suasana temaram
Di bawah lampu jalan yang tak menyala
Kuhirup udara yang basah lembab
Hingga napasku tersengal
Reffrain:
Senja di kota hujan
Tak terlukiskan suasana yang tercipta
Selalu bangkitkan
Kenangan penuhi ruang jiwaku
Senja di kota hujan
Kuingin mendekapmu setiap waktu
Jangan empaskan semua harapan
Meski malam kan segera tiba
Fabian Folklore :
Coople Ramadhan [lyric & gitar]
Alux d’bogor [lead guitar, lyric on Pelangi]
Prind [bass & rythm guitar]
Rudi [drums]
MT [vocal]
album titel : TERBANG
copyright : Fabian Folklore, 1998
License : Creative Commons, 2005
DOWNLOAD this Album @
http://www.archive.org/details/FabianFolklore
Tentang sejarah Fabian Folkore, bisa dilihat di sokin!
Published on January 16, 2010 by MT

Words are flying out like
endless rain into a paper cup
They slither while they pass
They slip away across the universe
Pools of sorrow waves of joy
are drifting thorough my open mind
Possessing and caressing me
Jai guru deva om
Nothing’s gonna change my world
Nothing’s gonna change my world
Nothing’s gonna change my world
Nothing’s gonna change my world
Images of broken light which
dance before me like a million eyes
That call me on and on across the universe
Thoughts meander like a
restless wind inside a letter box
they tumble blindly as
they make their way across the universe
Jai guru deva om
Nothing’s gonna change my world
Nothing’s gonna change my world
Nothing’s gonna change my world
Nothing’s gonna change my world
Sounds of laughter shades of life
are ringing through my open ears
exciting and inviting me
Limitless undying love which
shines around me like a million suns
It calls me on and on across the universe
Jai guru deva om
Nothing’s gonna change my world
Nothing’s gonna change my world
Nothing’s gonna change my world
Nothing’s gonna change my world
Jai guru deva
Jai guru deva
“Across the Universe” is a song by The Beatles written by John Lennon, and credited to Lennon/McCartney. The song first appeared on the various artists charity compilation album No One’s Gonna Change Our World in December 1969, and later, in modified form, on their final album to be released, Let It Be. *
Published on September 11, 2009 by MT
Di bawah pendar purnama di tengah malam Ramadhan, aku teringat sebuah lagu lama. Dulu aku sering menyetelnya di kamar kosku. Kasetnya (Sirkus Barock) kubeli di toko kaset di lorong bawah tanah, ketika Terminal Blok M baru saja diresmikan. Lagu ini menyeretku pada sebuah perenungan tentang pergulatan hidup yang dijalani oleh setiap anak manusia.
Kanvas Putih (Sawung Jabo)
Kanvas putih di hadapanku
Mataku menembusmu
Kanvas putih di hadapanku
Kudapatkan tubuhku
Bagaikan lukisan hidup
Yang berbingkai dan bertepi
Coretan warna memenuhi ruangmu
Ruang adalah pelepasan hasrat semata
Bagai tong sampah
Kanvas putih kau pasrahkan dirimu
Untuk dicoret dengan bermacam warna
Tapi itulah nasibmu
Reffrain:
Kanvas putih bagai kehidupan
Bedanya kau bertepi
Sedangkan kehidupan ini
Tak berujung tak bertepi
Namun kau selalu hadir di hadapan mereka
Mereka yang membutuhkan dirimu
Untuk meluapkan perasaannya
Seringkali kau dibuang dan ditertawakan
Karena kau tak menghasilkan yang berarti
Tapi itulah nasibmu!
Back to Reff
Published on June 21, 2009 by MT
Mencoba berdiri tegak
di atas tanah yang retak
mencoba berjalan lurus
di atas tanah yang licin
terlalu lama hilang arah
terlalu lama tak berdaya
terlalu lama terpenjara
melihat diri di kaca
mataku kosong dan hampa
wajahku terasa asing
hidupku terasa kering
aku dilingkari api
sia sia menghindari
aku terbakar,
aku teriak dianggap gila
aku mengaku dianggap dusta
oh, aku letih,
sudah terlalu letih
aku pergi
matahari telah pergi
di saat aku sedang menyanyi
hari hari telah pergi
membawaku ke yang abadi
selamat jalan …
kubakar diriku untukmu
kuserahkan diriku untukmu
kuberikan semua yang kumiliki
terbakar aku terbakar
selamat jalan …
dengar lagunya : sawung_jabo-matahari-telah-pergi
Published on June 9, 2009 by MT

alux meresapi progres (c) MT
Kerjaan tambahan. Side Job!
Kemarin siang Alux El Fabi, sang gitaris Fabian Folklore datang ke rumahku. Ia minta dibuatkan “demo” aransemennya. Tanpa bicara harga, aku langsung terima dan menyiapkan komputer buat sound editing, Software Audition 3, Free Sound Recorder, Mic, Headset, dan I/O Wire untuk menyambungkan keyboard dengan PC.
Yang kami opreg adalah lagu lama yang pernah diciptakan Alux dan Coople Ramadhan, berjudul Morning Dew. Lagu ini dibuat khusus pada 1997 sebagai Hymne untuk sebuah pesantren yang telah menyatukan kami. Alux dan PS ingin lagu itu digubah lagi dengan lebih apik dan dimunculkan pada website pesantren.
Dari pukul 11.00 wib hingga 21.00 baru selesai 5 dari 7 track yang ada. Tinggal take vocal dan alunan gitar, yang belum terekam. Lumayanlah. Yang ingin tahu liriknya, baca saja!
When the first morning dew
Drops slowly
We stand together
To begain our actifity
With morning prayer
We live and study
In this boarding school
Searching for knowledge and wisdom
Looking for the truth
Reff:
Sometimes we miss to get home
Sometimes we wish to meet our family
And all of everything that makes us boring
But in each and everyday
we always try to wash all of that
Try to find the blessed way
Oh my boarding school
You always be in my mind
I want to express
My special thanks to you
For all that you have given to me
* lumayan, buat beli beras :p
Published on April 17, 2009 by MT
Malam sabtu yang lalu, kebetulan ngumpul dengan Alux dan CR. Jadilah kami bernostalgia menyanyikan lagu-lagu yang pernah kami kulik bareng ketika masih muda. Beberapa lagu yang kembali dinyanyikan adalah, Senja di Kota Hujan, Terbang, Lagi Marah, Ibu, dan lainnya yang sempat direkam sbg album demo Fabian Folklore, di studio 9 bantar kemang, tahun 1998 dulu.
Ini lirik lagu IBU yang dibuat Alux el Fabi. Lagu ini sengaja kuposting karena kami adalah orang-orang yang mencintai ibu kami. Ibu bagaikan matahari kala gelap. bagaikan bulan kala malam tanpa cahaya. bagaikan gerimis kala panas menerpa. ibu, adalah makhluk Tuhan yang paling dihormati…
di atas derik lapuknya dipan papan
di antara bising kereta lewat
di antara redup tarian pelita dinding
di antara sayup erang menyayat
aku kan temui alam baru
asingnya samudra hidup
Saat sebuah tangan halus menarikku
saat rasa sakit, kau kepalkan tanganmu
saat kau menjerit untuk sebuah harapan
dapat memberikan dunia senyuman
saat itu satu jiwa telah rela, tuk pergi
oh ibu kau wanitaku
setetes air matamu jatuh
mengiringi jerit tangisku
dan tanganmu tak sanggup lagi
tuk membelai apa yang selama ini kau jaga
rekaman video (live) bisa dilihat di facebook MT.
