“Maunya upline, kamu terus aktif. Dia mana mau tau kalau kamu bokek!” Kata temanku yang trauma dengan MLM, kepada temannya yang sedang curhat. Ia curhat arena gelisah dengan sikap upline-nya yang terkesan memaksa agar ia terus aktif dalam usaha MLM yang sudah hampir setahun ia geluti tetapi tak kunjung berkembang.
Obrolan di atas memicuku untuk menulis. Sebenarnya aku pernah menulis tentang upline attitude in MLM. Tulisan tersebut memang jika dibaca secara fast-reading, mengesankan sikap negatif upline terhadap downline. Tetapi sebenarnya spirit tulisan tersebut positif. Tulisanku itu memberi pesan kepada para upline di dunia MLM, khususnya di Indonesia, agar memperhatikan 6 hal yang bisa membuat jaringannya hancur atau malah sebaliknya, sukses.
Kali ini aku ingin kembali menulis tentang upline. Kenapa upline? Seperti yang pada tulisanku sebelumnya, sebenarnya yang memegang kendali jaringan usaha adalah upline. Sebanyak apapun downline pada sebuah jaringan, daya hidup dan produktifitasnya amat ditentukan oleh bagaimana sikap upline sebagai leader.
Memang setiap perusahaan MLM menjelaskan kepada anggotanya bahwa usaha yang dijalankan mereka adalah usaha pribadi. Seorang pegiat MLM ibarat mengelola perusahaan sendiri. Tetapi itu sebenarnya hanyalah kata-kata motivasi agar setiap pegiat MLM punya kesadaran untuk serius dalam membesarkan bisnisnya. Tetap saja secara natural, setiap pegiat MLM akan memperhatikan bagaimana peran upline-nya. Meskipun berulang kali kita tegaskan, “Jangan lihat uplinemu, tapi lihatlah dirimu sendiri!” tetap saja seorang downline akan menakar kepedulian upline terhadap dirinya.
Apakah ini cermin dari budaya paternalistik di Indonesia? Upline adalah pemimpin dan disadari atau tidak, para “follower” akan selalu memperhatikan sikap pemimpinnya. Downline selalu berharap agar dibantu oleh upline.
NB : Teman-teman blogger mungkin heran dan atau mengernyitkan dahi, kenapa aku menulis tentang MLM. Memang bagi beberapa orang MLM itu menyebalkan, memalukan, hina, dan tidak sedikit yang antipati. Tetapi perlu kutulis di sini, bagaimanapun MLM adalah sebuah fakta tentang dunia marketing. Bisa dibilang MLM adalah model marketing inkonvensional. Cara kerjanya agak berbeda dengan bisnis konvensional. Aku tak memandang buruk MLM. Bagiku, setiap orang bebas memilih usahanya sendiri. Mau jadi pekerja, pengusaha konvensional, maupun pengusaha MLM. Memang tidak sedikit pegiat MLM yang gagal dan frustasi. Meskipun aku tak menggiati MLM lagi, tetapi aku tetap melihat, selalu ada pegiat MLM yang berhasil. Jadi aku berusaha untuk tetap berpikir positif dan menghargai pilihan mereka yang menjadi pegiat MLM. Tetapi sebenarnya apa yang kutulis ini, berlaku untuk semua orang, jadi tidak hanya untuk para pegiat MLM saja.
Kembali ke soal upline, aku teringat dengan sebuah buku yang pernah kubaca sekitar setahun yang lalu. Kalau aku tak lupa, buku itu berjudul SEVEN COWARDS karya Edysen Shin. Buku tersebut membahas tentang 7 kepengecutan kita dalam menjalani hidup. Tetapi aku hanya ingin mengulas sedikit saja bab tentang kegagalan. Sebenarnya ada 7 poin, tetapi karena aku hanya ingat 6 poin saja, maka inilah 6 kegagalan dasar dalam membangun jaringan.
Para pegiat MLM yang sudah menjadi upline, bolehlah memperhatikan keenam poin berikut, agar bisa menghindari usahanya dari kegagalan.
- Kegagalan Ruhani
Kegagalan ini berhubungan dengan “daleman” kita sendiri. Moralitas dan sifat yang tidak terpuji terhadap orang-orang di lingkungan usaha kita, akan menciptakan kegagalan yang sempurna. Nilai moral dan spiritual mesti dipertimbangkan untuk menjadi kunci keberhasilan. Hal paling sepele dalam menyadari hal ini adalah, apakah kita menilai keberhasilan usaha kita sejauh ini merupakan hasil kerja keras kita sendiri, atau ada peran Tuhan?
- Kegagalan Intelektual
Kemalasan untuk mempelajari hal baru dan meningkatkan wawasan dan cara kerja adalah ciri dari kegagalan ini. Begitupun dengan keengganan untuk belajar dari pengalaman dan kecenderungan menyalahkan orang lain dalam setiap gagalnya rencana. Kegagalan intelektual akan melemahkan daya saing kita. Bergaul dengan orang yang bijak dan berpengalaman bisa berguna untuk melepaskan diri dari kegagalan intelektual.
- Kegagalan Jasmani
Inilah kegagalan yang sepertinya sepele namun bisa berakibat fatal terhadap usaha kita. Kegagalan untuk menjaga kesehatan jasmani tentu bisa mengacaukan rencana kerja yang telah dibuat. Memilih gaya hidup sehat dan seimbang merupakan cara yang tepat untuk menghindarkan usaha kita dari kegagalan jasmani.
- Kegagalan Relasi
Bagaimana mungkin kita akan membangun jaringan jika kita sendiri tidak berusaha memperbaiki hubungan dengan orang-orang yang terlibat. Sebuah nasehat Lama dari Tibet : “syarat utama untuk mengendalikan orang lain adalah dengan mengendalikan dirimu dulu!”. Jika kita mau disikapi dengan baik, maka mulailah bersikap baik terhadap mereka yang kita harapkan baik. Relasionship itu penting banget. Kita harus memperbaiki hubungan dengan orang-orang yang berwenang di lingkungan kita, di perusahaan, maupun di posisi strategis dalam menjalankan usaha.
- Kegagalan Keluarga
Rasanya percuma jika kita begitu pandai menjalin relasi dengan banyak orang, namun gagal dalam hubungan keluarga. Keluarga adalah obor bagi setiap orang yang ingin merengkuh keberhasilan. Jika kegagalan dalam membina keluarga bisa berimbas pada kegagalan usaha kita, maka keberhasilan dalam membangun keluarga akan membesarkan keberhasilan usaha kita.
- Kegagalan Mengelola Keuangan
Apakah kita sering membeli sesuatu yang sebenarnya tidak benar-benar kita butuhkan? Tidak sedikit orang yang menghamburkan uang untuk sesuatu yang ia inginkan, tetapi sebenarnya tidak ia butuhkan. Inilah salah satu kegagalan dalam mengelola keuangan. Mengubah sikap dan belajar dari orang yang pandai mengelola keuangan mesti kita lakukan jikalau tak ingin kegagalan mendera usaha kita.
Keenam kegagalan di atas bisa kita hindari jika kita selalu mau belajar memperbaiki diri. Orang-orang yang berkarakter positif tak segan untuk mengubah ketidakpantasan dirinya menjadi lebih pantas. Upline yang berkarakter adalah orang-orang yang senantiasa growing up.