Catatan untuk Konsultan Online UKM

Banyak pihak yang ingin membantu perkembangan UKM (Usaha Kecil Menengah) di Indonesia. Biasanya adalah dengan memberikan edukasi tentang perambahan gerak usaha mereka ke dunia online. Bahasa gampangnya, meng-online-kan UKM. Tetapi edukasi saja, tidak cukup untuk membantu UKM. Perlu aksi penting lainnya. Apakah itu? (more…)

Penjara Jabatan

Seorang temanku mengeluhkan sikap temannya yang kian tak menyenangkan. Dulu temannya itu akrab sekali dengannya. Kalau ada apa-apa pasti ngobrol dengan diselingi canda. Kalau minta tolong, tak menyiratkan ekspresi memaksa. Tapi semua itu berubah setelah temannya mendapatkan jabatan baru dalam sebuah partai yang digelutinya. (more…)

Pikirkan Resiko Sebelum Complaint

Di sebuah restoran saat aku sarapan pagi. Seorang perempuan marah-marah kepada koki muda lantaran omelet pesanannya belum juga selesai dibuatkan. Ia memesan omelet kepada koki restoran yang sedang menceplok telur ayam untuk pelanggan lain yang lebih dulu memesan. Restoran ini memang menyediakan sebuah stand khusus di pojok ruangan, bagi pelanggan yang ingin sarapan dengan ragam menu telur. (more…)

Meluaskan Hati

Jam 6.40 pagi temanku mengirimkan SMS. Ia mengeluhkan hidupnya setelah aku dan beberapa teman-teman terbaiknya pergi meninggalkannya di sebuah kota.

“Sejak kalian pergi, suasana di sini tidak asyik lagi. Orang-orang baik telah pergi. Aku jadi enggan bekerja lagi di sini!” ungkapnya.

“Masa sih, gak ada orang baik? Setiap zaman di setiap tempat pasti ada orang baik.” semangatku untuknya.

“Pernyataanmu tak berlaku di sini. Sekarang hanya tersisa orang-orang yang hanya memikirkan karirnya sendiri. Tak punya kepedulian terhadap sesama. Bahkan cenderung terjadi persaingan kurang baik secara diam-diam. Yang satu menjatuhkan yang lain, dari belakang. Benar-benar nggak nyaman!” Urainya menambah kepiluan nasibnya.

“Berarti, kamu harus mengambil kesempatan ini untuk mengubah keadaan menjadi lebih baik!”

“Wah susah! Bisa-bisa aku malah ketularan bego! Sekarang ini semakin sulit. Dulu, jika di antara kita ada masalah, pasti kamu atau teman-teman kita lainnya mengajak berkumpul dan memusyawarahkan masalah maupun pergunjingan. Hasilnya, selalu terjadi saling pemahaman, saling memaafkan, dan tekad bersama untuk memperbaiki sikap dan keadaan. Sekarang, tidak ada lagi teman-temanku yg peduli seperti kalian!” Sesalnya.

“Dulu, ketika kita sama-sama baru datang ke kota itu, ke wilayah kerja itu. kita tak saling kenal. Lalu kita mau berkenalan dan menjalin keakraban. Akhirnya kita bisa menjalin persahabatan bahkan hingga kita terpisah oleh jarak. Nah, kupikir, kamu hanya tinggal mengulang apa yang pernah kita mulai dulu, dengan orang-orang yg baru! Itu menantang bukan?!” Motivasiku.

“Yakin aku bisa memulai sendiri?” Ia meragu.

“Kenyamanan itu harus diciptakan, bukan dinantikan!” Paksaku.

“Mungkinkah aku bisa? Suasana di sini udah makin menyesakkan! Sempit! Gerah!”

“Kalau begitu, buat hatimu lebih luas dari ruang kerjamu, bahkan dari kota itu!”

“Baiklah, terima kasih. Akan kucoba!” SMS penutup darinya.

mt

Pihak Ketiga

rokok1

Top management menyarankan kepada midle management untuk menyelenggarakan upgrading session, baik dalam bentuk pelatihan ataupun seminar. Tapi semua kegiatan yang diselenggarakan oleh manajemen, tak kunjung menstimulasi perubahan. Padahal manajemen menyepakati, seluruh karyawan yang ada, perlu perlu dikembangkan potensi keterampilan maupun pribadi. Namun, beberapa kali pihak manajemen melakukan kegiatan internal, tak jua ada hasil. (more…)

6 Kegagalan Dasar

Maunya upline, kamu terus aktif. Dia mana mau tau kalau kamu bokek!” Kata temanku yang trauma dengan MLM, kepada temannya yang sedang curhat. Ia curhat arena gelisah dengan sikap upline-nya yang terkesan memaksa agar ia terus aktif dalam usaha MLM yang sudah hampir setahun ia geluti tetapi tak kunjung berkembang.

Obrolan di atas memicuku untuk menulis. Sebenarnya aku pernah menulis tentang upline attitude in MLM. Tulisan tersebut memang jika dibaca secara fast-reading, mengesankan sikap negatif upline terhadap downline. Tetapi sebenarnya spirit tulisan tersebut positif. Tulisanku itu memberi pesan kepada para upline di dunia MLM, khususnya di Indonesia, agar memperhatikan 6 hal yang bisa membuat jaringannya hancur atau malah sebaliknya, sukses.

Kali ini aku ingin kembali menulis tentang upline. Kenapa upline? Seperti yang pada tulisanku sebelumnya, sebenarnya yang memegang kendali jaringan usaha adalah upline. Sebanyak apapun downline pada sebuah jaringan, daya hidup dan produktifitasnya amat ditentukan oleh bagaimana sikap upline sebagai leader.

Memang setiap perusahaan MLM menjelaskan kepada anggotanya bahwa usaha yang dijalankan mereka adalah usaha pribadi. Seorang pegiat MLM ibarat mengelola perusahaan sendiri. Tetapi itu sebenarnya hanyalah kata-kata motivasi agar setiap pegiat MLM punya kesadaran untuk serius dalam membesarkan bisnisnya. Tetap saja secara natural, setiap pegiat MLM akan memperhatikan bagaimana peran upline-nya. Meskipun berulang kali kita tegaskan, “Jangan lihat uplinemu, tapi lihatlah dirimu sendiri!” tetap saja seorang downline akan menakar kepedulian upline terhadap dirinya.

Apakah ini cermin dari budaya paternalistik di Indonesia? Upline adalah pemimpin dan disadari atau tidak, para “follower” akan selalu memperhatikan sikap pemimpinnya. Downline selalu berharap agar dibantu oleh upline.

image from newbusinessleadsnow.net

NB : Teman-teman blogger mungkin heran dan atau mengernyitkan dahi, kenapa aku menulis tentang MLM. Memang bagi beberapa orang MLM itu menyebalkan, memalukan, hina, dan tidak sedikit yang antipati. Tetapi perlu kutulis di sini, bagaimanapun MLM adalah sebuah fakta tentang dunia marketing. Bisa dibilang MLM adalah model marketing inkonvensional. Cara kerjanya agak berbeda dengan bisnis konvensional. Aku tak memandang buruk MLM. Bagiku, setiap orang bebas memilih usahanya sendiri. Mau jadi pekerja, pengusaha konvensional, maupun pengusaha MLM. Memang tidak sedikit pegiat MLM yang gagal dan frustasi. Meskipun aku tak menggiati MLM lagi, tetapi aku tetap melihat, selalu ada pegiat MLM yang berhasil. Jadi aku berusaha untuk tetap berpikir positif dan menghargai pilihan mereka yang menjadi pegiat MLM. Tetapi sebenarnya apa yang kutulis ini, berlaku untuk semua orang, jadi tidak hanya untuk para pegiat MLM saja.

Kembali ke soal upline, aku teringat dengan sebuah buku yang pernah kubaca sekitar setahun yang lalu. Kalau aku tak lupa, buku itu berjudul SEVEN COWARDS karya Edysen Shin. Buku tersebut membahas tentang 7 kepengecutan kita dalam menjalani hidup. Tetapi aku hanya ingin mengulas sedikit saja bab tentang kegagalan. Sebenarnya ada 7 poin, tetapi karena aku hanya ingat 6 poin saja, maka inilah 6 kegagalan dasar dalam membangun jaringan.

Para pegiat MLM yang sudah menjadi upline, bolehlah memperhatikan keenam poin berikut, agar bisa menghindari usahanya dari kegagalan.

  1. Kegagalan Ruhani
    Kegagalan ini berhubungan dengan “daleman” kita sendiri. Moralitas dan sifat yang tidak terpuji terhadap orang-orang di lingkungan usaha kita, akan menciptakan kegagalan yang sempurna. Nilai moral dan spiritual mesti dipertimbangkan untuk menjadi kunci keberhasilan. Hal paling sepele dalam menyadari hal ini adalah, apakah kita menilai keberhasilan usaha kita sejauh ini merupakan hasil kerja keras kita sendiri, atau ada peran Tuhan?
  2. Kegagalan Intelektual
    Kemalasan untuk mempelajari hal baru dan meningkatkan wawasan dan cara kerja adalah ciri dari kegagalan ini. Begitupun dengan keengganan untuk belajar dari pengalaman dan kecenderungan menyalahkan orang lain dalam setiap gagalnya rencana. Kegagalan intelektual akan melemahkan daya saing kita. Bergaul dengan orang yang bijak dan berpengalaman bisa berguna untuk melepaskan diri dari kegagalan intelektual.
  3. Kegagalan Jasmani
    Inilah kegagalan yang sepertinya sepele namun bisa berakibat fatal terhadap usaha kita. Kegagalan untuk menjaga kesehatan jasmani tentu bisa mengacaukan rencana kerja yang telah dibuat. Memilih gaya hidup sehat dan seimbang merupakan cara yang tepat untuk menghindarkan usaha kita dari kegagalan jasmani.
  4. Kegagalan Relasi
    Bagaimana mungkin kita akan membangun jaringan jika kita sendiri tidak berusaha memperbaiki hubungan dengan orang-orang yang terlibat. Sebuah nasehat Lama dari Tibet : “syarat utama untuk mengendalikan orang lain adalah dengan mengendalikan dirimu dulu!”. Jika kita mau disikapi dengan baik, maka mulailah bersikap baik terhadap mereka yang kita harapkan baik. Relasionship itu penting banget. Kita harus memperbaiki hubungan dengan orang-orang yang berwenang di lingkungan kita, di perusahaan, maupun di posisi strategis dalam menjalankan usaha.
  5. Kegagalan Keluarga
    Rasanya percuma jika kita begitu pandai menjalin relasi dengan banyak orang, namun gagal dalam hubungan keluarga. Keluarga adalah obor bagi setiap orang yang ingin merengkuh keberhasilan. Jika kegagalan dalam membina keluarga bisa berimbas pada kegagalan usaha kita, maka keberhasilan dalam membangun keluarga akan membesarkan keberhasilan usaha kita.
  6. Kegagalan Mengelola Keuangan
    Apakah kita sering membeli sesuatu yang sebenarnya tidak benar-benar kita butuhkan? Tidak sedikit orang yang menghamburkan uang untuk sesuatu yang ia inginkan, tetapi sebenarnya tidak ia butuhkan. Inilah salah satu kegagalan dalam mengelola keuangan. Mengubah sikap dan belajar dari orang yang pandai mengelola keuangan mesti kita lakukan jikalau tak ingin kegagalan mendera usaha kita.

Keenam kegagalan di atas bisa kita hindari jika kita selalu mau belajar memperbaiki diri. Orang-orang yang berkarakter positif tak segan untuk mengubah ketidakpantasan dirinya menjadi lebih pantas. Upline yang berkarakter adalah orang-orang yang senantiasa growing up.

6 Kesalahan Upline MLM

social_media_marketingBiasanya materi motivasi di kalangan bisnis Multi Level Marketing (MLM) selalu menjadikan downline sebagai obyek topik. Downline harus begini, harus begitu. Meskipun saat memberikan motivasi, kata “downline” diganti dengan kata “Anda”. Tulisan ini akan menyoroti tentang sikap upline yang dapat mempengaruhi perkembangan jaringan.

  • Upline otoriter dan merasa lebih pintar
    Dalam berinteraksi dengan downline, upline selalu ingin pernyataannya didengarkan. Tak memberikan kesempatan pada downline untuk  menyampaikan pemikirannya. “Kalau mau sukses, patuhlah pada upline!” begitu biasanya upline bicara. Upline seperti ini merasa hanya dialah yang bisa memberikan motivasi, sedangkan downline adalah kambing gembala yang harus mengikuti apa kata upline. Upline seperti ini harus mau belajar menghargai orang-orang yang ada di bawahnya. Belajar dari betapa stressnya orang-orang kaya yang ditinggalkan pembantunya saat mudik.
  • Upline tidak mau berinvestasi
    Konsep keberhasilan sebuah jaringan adalah investasi pada jaringan itu sendiri. Upline mesti berani menginvestasikan uangnya untuk membantu jaringan yang memang perlu dikembangkan untuk peningkatan kariernya sendiri. Jangan hanya memberikan motivasi dalam bentuk kata-kata semangat, luar biasa, dahsyat, dan sejenisnya. Fakta membuktikan, upline yang berani meminjamkan uang pada jaringannya sebagai modal perputaran produk, justru akan mengalami keuntungan karier dan finansial. Upline seperti ini harus belajar dari model investasi konvensional.
  • Upline meminta downline fokus nekad
    Upline meminta downline mempehakakan diri dari pekerjaannya (misalnya dari pegawai/buruh/karyawan), agar bisa fokus pada MLM, tetapi tanpa jaminan. Ketika downline menuruti permintaan upline, tak ada tanggung jawab dan jaminan yang diberikan oleh upline terhadap downline yang patuh itu. Keputusan yang diambil downline amat berani. Mestinya keberanian tersebut tak hanya dihibur dengan sebatas kata-kata motivasi, tetapi dengan dukungan nyata dari sang upline, misalnya dukungan modal dan tenaga untuk mengembangkan jaringannya. Ini terkait dengan poin sebelumnya tentang investasi. Upline yang seperti ini sama saja mengajak downline memilih jalan nekad, bahkan akan menjerumuskan downlinenya dalam kesengsaraan. Upline yang seperti ini akan dibenci oleh downline, ketika pada akhirnya tak juga mendapatkan perubahan atas keputusan nekad berdasarkan “racun” sang upline.
  • Upline hanya pandai berkata-kata tanpa konsistensi
    Upline sering mengucapkan kata-kata yang ia sendiri tak pernah melakukannya. Misalnya, “Jika anda mau sukses, lakukan presentasi sehari 50x!” Padahal ia sendiri kerjanya hanya bercuap-cuap di depan downlinenya, tanpa melakukan presentasi di luar. Upline seperti ini hanya akan menunggu waktu beberapa hari untuk menikmati kehancuran jaringan yang telah susah payah dibangunnya. Upline seperti ini mestinya belajar dari kisah-kisah orang munafik.
  • Upline lebay
    Upline bersikap berlebihan terhadap downline yang berlainan jenis. Sikap tentunya akan menciptakan ketidaknyamanan dalam interaksi jaringan. Downline yang memiliki integritas pribadi, tak akan menolerir upline yang selalu berusaha memikatnya untuk kepentingan asmara, apalagi berselingkuh. Upline yang gemar tepe-tepe (Tebar Pesona) seperti ini mesti belajar dari ABG yang frustasi karena sadar ketulusannya telah dinodai sang pacar.
  • Upline kekeringan spiritualitas
    Dalam satu kasus, seorang downline memberikan sedekah kepada pengemis. Tetapi upline malah menyalahkan sikap tersebut dengan alasan, apa yang dilakukan downline akan membuat pengemis itu semakin malas. Tentang hal ini secara detail pernah saya tulis dalam artikel berjudul Kekayaan Membius. Keringnya spiritualitas upline akan mengeringkan hubungan emosional dengan downline. Jangan salahkan downline jika suatu ketika ia meninggalkan upline karena merasa spiritualitasnya diintervensi, bahkan parahnya jika downline merasa spiritualitasnya diracuni dengan hedonisme kapitalistik.

Keputusan

Sudah lama temanku meminta menulis tentang manajemen. Dulu aku pernah menulis hal-hal yang berkaitan dengan urusan manajerial. Serialnya punya nama “Manajemen Tanpa Beban“. Kenapa tanpa beban? karena me-manage adalah pekerjaan untuk mengurangi - bahkan - meniadakan beban dari suatu kumpulan orang-orang. Serial Manajemen Tanpa Beban sudah lama tercampur dengan e-book saya yang bertitel Marginal Side. Cari saja di sana, download saja dari sini.

Kini saya mengangkat satu pekerjaan yang mau tidak mau harus dilakukan oleh semua manajer, yaitu Decision Making, Ngambil Keputusan, Memutuskan, mutusin, kalau kata bang Namun. Kelihatannya gampang. Tinggal memutuskan saja, apa susahnya. Tapi pada kenyataannya, tidak sedikit orang yang berada pada posisi sebagai decision maker, malah takut memutuskan. Ini namanya 99 + 1 (cepee deh!)  :)

Untuk mengambil sebuah keputusan memang diperlukan keberanian. Pernah satu ketika, seorang pejabat baru di Perusahaan Gonta-Ganti Merk/brand Terus, berhadapan dengan beberapa pegawai yang mendapatkan penilaian minus dari bagian HRD. Mestinya, sang Manajer HRD tinggal menyampaikan saja keputusan perusahaan tentang demosi yang seharusnya diterima oleh para pegawai tersebut. Tapi sang manajer tak berani. Ia lantas meminta agar para pegawai itu bertemu langsung dengan Presiden Direktur, yang saat itu sedang memimpin rapat strategis dengan investor asing. Mendapat kabar seperti itu, sang Presdir langsung berkomentar, “Lha pegimane? pan elu nyang mestinye mutusin. Masa musti ke gue-gue lagi. Trus lu ngapain ngejogrog di kantor aje?

Sang manajer HRD tak enak memutuskan, karena salah satu dari pegawai yang akan mendapatkan demosi adalah orang yang sering ia mintakan tolong kalau ia butuh beli makanan tambahan buat lembur. Itu sering terjadi, sehingga perasaan tak enak jadi lebih mendominasinya ketimbang kejantanannya. Itulah salah satu contoh, betapa mengambil keputusan itu gampang-gampang susah.

Bagi orang yang sadar bahwa posisinya harus mengambil keputusan, ia tak akan ragu untuk memutuskan. Sebab keraguan sedikit saja akan merusak kredibilitasnya sebagai pengambil keputusan. Banyak hal di dunia ini yang tak akan berjalan normal tanpa sebuah keputusan. Frank Lampard tidak akan pernah mencetak goal walau kiper lawan sudah mati langkah, jika ia tak memutuskan untuk mencetak goal. Kenapa Contohnya Frank Lampard? Karena dia pemain favorit saya. Bayangkan jika seluruh rakyat Endonesya tak mengambil keputusan saat pemilu? Bayangkan jika Polisi tak mengambil keputusan menghadapi maling jemuran yang kabur dengan motornya via jalan tol? Bayangkan jika anda tak pernah mengambil keputusan untuk menikahi perempuan pujaan? Jadi, segala hal yang terjadi dalam kehidupan ini memang harus diputuskan.

pict : http://media.photobucket.com/image/keputusan/akhmadguntar/decision-making.jpg

Seorang teman saya, Coople pernah bilang, “Hidup adalah sebuah pilihan.” Ya tentunya setiap pilihan perlu sebuah keputusan. Jadi bagi anda yang masih malu, masih nggak pede, masih atuuut (takut), mulailah berani untuk mengambil keputusan. Ini baru tentang memutuskan saja. Belum hal-hal apa saja yang menjadi pertimbangan untuk mengambil sebuah keputusan. Insya Allah akan saya bahas nanti, kalau ada umur.

Logchat : Berani Berubah

  • 1- beberapa kali kami mengadakan pelatihan untuk semua orang dalam organisasi kami. Tapi tetap saja tak ada perubahan. Dimana salahnya ya?
  • 2- tergantung, mau dimana, di atas atau di bawah? :p
  • 1- Seriosa!!!
  • 2- yang bikin pelatihan siapa? yang ngelatih siapa?
  • 1- manajemenlah, kita bayar trainer profesional.
  • 2- memang mereka yang jadi peserta, butuh pelatihan itu?
  • 1- menurut kami, sangat butuh!
  • 2- menurut mereka gimana?
  • 1- kita kan melihat kinerja. selama ini mandeg, gak ada perubahan. dibiayain pelatihan gak berubah juga
  • 2- Mereka diajarin cara ikut pelatihan belum?
  • 1- gimana tuh?
  • 2- Jadilah peserta, jangan jadi komentator. Apa yang diomongin presenter itu buat peserta, bukan buat ditransfer lagi ke orang lain. Kebanyakan orang, saat ikut pelatihan berpikir gini, “wah bagus nih buat gue omongin di depan anak buah gue!
  • 1- mestinya mereka ngerti lah
  • 2- Itulah, lu cuma beranggapan mereka ngerti, tapi lu sendiri gak pernah tanya apa mereka ngerti atau nggak
  • 1- Setiap sebelum dan setelah training, kan kita selalu briefing.
  • 2- Lu berani gak memecat mereka yang lu anggap mentog, gak bisa diupgrade lagi?
  • 1- Kasihan lah, mereka punya keluarga. Gue selalu ngasih kesempatan sama setiap orang buat berubah.
  • 2- Oo…
  • 1- ?
  • 2- Selamat menikmati siklus masalah lu aja deh! gue mau makan siang dulu ya. Bye! :p
  • 1- Tega lo!
  • 2- Lu sendiri gak bener-bener mau mengubah mereka. Lu cuma mau mereka berubah, tapi nggak berani mengubah.
  • 1- Kan udah ada pelatihan?!
  • 2- bye! Gue mesti makan dulu! :p

Jalani Prosesnya

“]membuat gerabah di Serang [MT]

Jika kita melakukan pekerjaan tanpa rasa senang apalagi cinta, maka kita akan mudah merasa bosan dan lelah. Kita akan merasa waktu berputar begitu lama menuju akhir pekerjaan. Berbeda jika kita melakukan pekerjaan dengan rasa cinta. Kita akan menikmati pekerjaan itu hingga tak terasa, tiba-tiba waktu menjadi begitu cepat berputar.

Setiap pekerjaan memiliki resiko. Resiko itu terjadi dalam proses pelaksanaan pekerjaan. Banyak orang yang bekerja tapi tak menyukai prosesnya. Jika kita seperti itu, maka kita akan selalu merasa tersiksa dalam menjalani prosesnya. Apalagi jika ada masalah dalam proses tersebut, biasanya kita akan merasa sempit. Pikiran kitapun menjadi negatif terhadap lingkungan kerja.

Mestinya kita mau mencoba bersabar dalam menjalani prosesnya. Dan selalu berusaha menanamkan pikiran positif terhadap lingkungan kerja kita. Jika kita berhasil berbuat demikian, masalah apapun yang terjadi dapat kita terima dengan lapang dada. Ini memang masalah pikiran dan hati. Jika kita berprasangka buruk, maka alam yang luas akan menjadi begitu sempit. Tapi Jika kita berprasangka baik, maka keadaan diri kitapun akan menjadi baik. Dan masalah sebesar gunungpun akan menjadi seringan kapas.