TV Paska Nyontreng

Aku duduk menonton berita-berita di TV. Menyimak kabar endonesya setelah Hari Nyontreng Nasional 9 April 2009. Masih saja dugaanku tentang fenomena pasca pesta demokrasi menjadi berita buruk, yang mencoreng muka bangsa.

  1. Partai yang tidak mendapatkan suara sebanyak yang diharapkan, masih saja protes dan menggalang massa. Sikap infantil seperti ini malah menambah repot banyak orang, terutama KPU.
  2. Serangan Fajar masih saja terjadi, walau ada juga rakyat yang cerdas (menerima uang tapi tak menyontreng si pemberi uang). Ini masih membuktikan, betapa caleg/partai di endonesya masih bodoh dan membodohkan.
  3. Sekelompok tukang ojeg membakar kotak televisi karena TV yang diberikan oleh seorang caleg, diambil kembali karena hanya dapat 3 suara. Inilah kualitas moral salah satu caleg kita, yang memberi untuk mendapatkan lebih dari yang diberikan.
  4. Seorang (dan beberapa) caleg mulai mendatangi “orang2 pintar” karena stress akibat tak mendapatkan suara yang bisa membuat mereka hidup dari fasilitas sebagai anggota legislatif. Ini realitas, betapa kekuatan harapan tak sebanding dengan kekuatan mental spiritual.
  5. Masih banyak warga yang tidak mendapatkan surat undangan untuk menyontreng. Padahal Pemilu 5 tahun yang lalu mereka ikutan. Ini bukti, masih adanya manipulasi dalam sejarah Pemilu negeri ini.
  6. Para petinggi partai makin menjajaki koalisi agar bisa mendapatkan kursi. Argumentasi “demi pemerintahan yang baik” mereka kemukakan. Sampai kapan negeri ini dibagi-bagi oleh kepentingan politisi.
  7. Protes, curang, tipu-tipu, stress, gila, dukun, uang, adalah potret demokrasi bangsa yang tak pernah benar-benar belajar untuk menjadi lebih dewasa.

calegKuganti saluran TV, menikmati highlight Liga Champion. Diulas pertandingan antara Liverpool vs Chelsea. Liverpool kalah telak. Tapi para pemainnya tetap memeluk dan berjabat erat dengan rivalnya, mengucapkan selamat atas kemenangan yang diraihnya. Sang manajer yang mendapatkan kemenangan, tak tinggi hati, ia tetap memuji kualitas permainan lawan yang cukup merepotkan skuadnya. Kalah dan menang, adalah resiko dari usaha. Hati mereka lebih luas dari lapangan tempat mereka berjibaku mencari kemenangan.

Para caleg dan orang-orang partai di negeri yang luas ini, ternyata hati dan otaknya sangat sempit. Bahkan lebih sempit dari lipatan dompet kulit bulukan!

Tim Sukses yang Mengganggu Tidurku

Setelah Dzuhuran, aku membaringkan badan. Sejak semalam, belum tidur karena ada pekerjaan yang harus diselesaikan sesuai jadwal. Hape aku matikan, agar tak mengganggu hutang tidurku. Aku butuh tidur maksimal 2 jam saja, agar kembali fresh.

Saat baru mau pulas, terdengar salam di depan pintu. Anakku yang sebelumnya sudah kupesan, sudah bilang kepada tamu itu kalau “Ayah baru tidur. Tak mau diganggu.” Tapi anakku gagal menjalankan tugasnya. Ia diminta membangunkan ayahnya karena ada tamu penting. Sayup-sayup kudengar permintaannya itu.

Karena tak mau menumbuhkan rasa bersalah pada anakku, akupun terpaksa bangun dan menyuruhnya main game saja di dalam. Kutemui “tamu penting” itu.

Ia menjabat tanganku, tersenyum. Aku menerima jabat tangannya sambil mengucek-ucek mata dengan lengan kiriku. Belum juga kutanya, ia sudah meracau…

“Ini, pak. Kami dari pesantren al-z@#!@##!!! [sensor] mohon doa dan dukungan bapak. Kami telah menitipkan kader terbaik kami untuk turut membangun negeri kita ini dengan menjadi caleg dari partai yang sejalan dengan kami. Ini pak, mohon diterima, brosur pesantren dan kartu nama caleg kami dari partai #$(@#!!!:P:(((( [sensor lagi].”

Belum lagi aku bicara, dia nyerocos lagi…

“Insya Allah, pak. Partai kami akan memperhatikan aspirasi bapak dan aspirasi seluruh rakyat kita pak! Oia nama bapak siapa?”

Karena kesal, aku menyebut nama “Bang Namun!”. Ia lantas mencari nama itu dari daftar nama warga yang mungkin ia copy dari RT atau RW ku. Atau entah dari mana. Tak kupikirkan.

“Wah, namanya tidak ada, pak! Apa nama panjangnya, pak?”

Tadinya aku mau bilang nama panjangnya Bang Namun : Namun Begitulah Kira-Kira Kenyataannya…. Tapi aku bilang “Saya baru pindah, mas! Baru sebulan tinggal di sini!”

“Oh begitu, jadi belum ada daftarnya ya. Sudah daftar ke RT belum, pak?”

“Sudah, mana mungkin sebulan belum daftar!”

“Maksud saya, sudah daftar jadi pemilih pada pemilu tahun ini, pak?”

“Wah nggak tuh. Saya nggak ikutan pemilu di sini.”

“Wah sayang sekali, kenapa tidak ikut, pak. Penting loh, untuk ikut partisipasi membangun negara kita, pak!”

“Hm… ” aku mulai tak kuat melihatnya…. nguantuuuuk… “Mas. Maaf ya mas. saya nggak ikut pemilu karena nggak doyan! saya doyannya kredok sama gado-gado! Jadi, tolong mas ke rumah yang lain saja. Saya baru mau tidur, terganggu nih mas!” jawabku apa adanya.

“Oke deh mas. Saya titip ini saja ya, pak. semoga bisa didukung. terima kasih, pak. Mohon doa dan dukungannya, ya!” iapun ngacir…

Tanpa kulihat untuk kedua kalinya, dua lembar brosur dan dua lembar kartu nama caleg itu langsung kuremas dan kulemparkan ke tong sampah non-organik di depan rumahku… Bobo lagi aja deh…

Dongeng PILKADUT

Tuan Badri terkejut melihat pengumuman Pilkadut, Pemilihan Kepala Badut. Ia sungguh tak menyangka kalau perolehan suaranya berada di bawah pesaing utamanya, Mas Ma’il.

Wajar saja Tuan Badri melongo seperti kebo bego, karena ia telah mengeluarkan uang milyaran rupiah untuk memenangkan lomba menjadi badut politik di negeri Purbadewa ini. Memang sih, Tuan Badri tak pernah kehabisan modal. Kekayaannya tak akan habis dimakan oleh 77 turunan dan 77 tanjakan. Apalagi kaum pedagang semasa Tuan Badri menjadi Walikota, paling senang ngumpet di ketiak Tuan Badri yang lebih harum dari Deodorant. Kaum pedagang tentu saja mendukung secara moril dan materil demi kemenangan Tuan Badri.

Tapi pada hari penghitungan suara, semuanya ternganga.

“ko bisa sih, kita kalah?” kata Kisruh, salah satu tim sukses Tuan Badri.

“Iya, padahal aku sudah sebarkan recehan buat para pemilih” kata anggota tim sukses lainnya.

“Lha, aku sendiri sudah menghidupkan orang-orang mati!” kata salah seorang berkumis lebat yang duduk di pojok ruangan.

“Menghidupkan orang mati? apa maksudnya, pak?” salah seorang tim sukses yang paling bego bertanya.

“Aku sudah memesan kartu pemilih atas nama orang-orang yang sudah mati dan orang-orang di luar daerah kita. Tapi kartu fiktif itu sepertinya tak mempengaruhi perhitungan”.

“Huaaaa……….!!!” Orang-orang dalam ruangan itu terkejut mendengar suara tangisan yang meledak-ledak. Tuan Badri ngambek. Ia duduk di lantai, kakinya menendang-nendang angin…

Tuan Badri berdiri tersenyum, kira-kira 102 detik kemudian, dia tertawa “Hua ha ha ha..” (3X)

“Mis gula jawa, abis nangis ketawa!!” salah seorang anggota tim sukses yang paling bego bernyanyi.

“Aku minta semua tenang!” Tuan Badri mengangkat tangan kanannya. Ia beranjak dari lantai dan berdiri di atas meja. Di tengah-tengah peserta rapat.

“Hayo tenang!!” bisik beberapa orang kepada yang lainnya.

“Aku kini sudah paham kalau kita DICURANGI!” Tuan Badri melotot kepada semua orang setianya.

“Sekali lagi, DICURANGI!!!!” Tanda serunya kebanyakan!

“Maaf tuan, sepertinya tak mungkin kita dicurangi, sebab kita ini kan raja curang!”

“Maaf tuan, sepertinya mereka tak mungkin curang, mereka itu kan belum pengalaman main curang!”

“Maaf tuan, sepertinya hanya kita saja yang curang, tapi karena kecurangan kita kurang solid, jadi kita kalah!”

“Maaf tuan, saya mau kentut sebentar… mohon tutup hidungnya, sebab semalam saya makan bangkai..”

Suasana hening, seperti tengah malam di kuburan. Semuanya pening, mengharapkan peningkatan perolehan suara.

Tuan Badri mengangguk-anggukan kepalanya. “Benar juga kata kalian…” kepalanya masih goyang. Kacamatanya dipegang agar tak terpental.

Oke-oke kalau begitu kita harus bertindak cepat, agar kursi saya tak direbut orang-orangnya si Ma’il brengsek itu!”

“Apa yang harus kami lakukan tuan, kami suap menunggu titah!” semua koor bersama. kedua tangan mengepal di depan dada. “Ba….gi….mu Ba….dri, jiwa raga…. ka….mi…….”

Beberapa hari berikutnya Badri menemui Tuan Besan. Badri sangat menaruh harapan agar Tuan Besan bisa mengubah keputusan Panitia PILKADUT. Tuan Besan adalah Raja di Raja di kota tempat Badri memerintah. Kalau di Endonesya, Tuan Badri setingkat dengan Walikota [tapi kini terancam jadi mantan walikota], sedangkan Tuan Besan adalah setingkat Gubernur.

Tuan Besan tentu turut berduka mendengar rintihan orang tua yang menjadi mertua anaknya itu. Tuan Besan memiliki empati yang tinggi. Iapun bersedia membantu membalikkan keadaan. Dipanggilnya para hakim yang kurang makan. Berkumpulah mereka di salah satu ruangan bawah sadar… [salah: bawah tanah!]

“Bagaimana, tuan-tuan hakim? Apakah kalian bisa membantu menegakan kebenaran?”
“Kami selalu siap menjunjung tinggi keadilan dan kebenaran, tuan Besan, terutama kebenaran orang-orang baik seperti tuan Besan.” kata para hakim serempak. salah seorang di antara mereka ikut-ikutan koor tapi matanya masih menatap ke handpone, memeriksa apakah transfer ke rekeningnya sudah masuk.
“Kalau begitu, berbuatlah yang lazim! Aku ingin orang ini tetap menjelma sebagai walikota!” Tuan Besan mengusap-usap kepala Tuan Badri yang duduk di sebelahnya.

Malam sebelum para hakim bersidang, suasana langit hitam kelam. Petir menggelegar namun tak juga kunjung hujan. Para pendekar dari penjuru dunia berhamburan siap menjaga keadaan. Toko Kelontong di pasar dapat borongan. Mereka menjual habis stock sapu, untuk kendaraan para tukang sihir yang mendapatkan orderan, membantu para hakim dari belakang. Menjelang dini hari mereka merapalkan mantra pengubah nasib, “Exvrezzio Zonder Sin. Pretelen-pretelin nomo-nomo joyobego!…. kun Badri mangkoebhoemi poerbadhewa!… Cret!!”

Esok hari… Tuan Badri jingkrak-jingkrakan. Dia senang Pengadilan Tinggi berhasil mengubah keadaan. Ia baca headline Media Purbadewa : “Majelis Hakim mengubah keputusan Pilkadut, Tuan Badri sah jadi Pemenang”

Tapi tuan Badri mematung sekejap. Matanya melirik ke atas. Ada sesuatu yang dipikirkannya. Lalu ia kembali menelpon antek-anteknya. “Wahai para pengikut setiaku! Kamu sudah tahu hasil keputusan pengadilan, kan? Nah, kini aku tak tenang… aku kuatir keputusan itu bisa dilawan. Karena itu aku minta agar 7 hari dari sekarang, keputusan Pilkadut yang baru segera DIRESMIKAN!”

Sejak detik itu, hati Tuan Badri tak tenang. Ia selalu khawatir menunggu saat-saat pelantikan. Ia takut kalau keputusan Pengadilan Tinggi tak diterima orang-orang kebanyakan. Setiap detik ia tak tenang, setiap detik ia bimbang, setiap detik ia ketakutan, setiap detik ia tegang…. sementara itu… kubu mas Ma’il tersenyum tenang…

10 Alasan, Tak Pilih Siapa-Siapa

ini sebuah tanggapan untuk artikel tentang 10 Alasan Untuk Tidak Pilih SBY di Milis Sarikata.Com

  1. Ketuhanan Yang Maha Esa, ga ada contoh
  2. Rakyat Indonesia gampang dibohongi, contohnya para penggila Megawati yang bikin artikel tentang 10 alasan ga milih SBY
  3. Rakyat Indonesia paling suka dengan selebritis, contohnya suka banget dengan popularitas SBY, F4, AFI, Idol, dll
  4. Rakyat Indonesia mudah diadudomba, contohnya devide et impera, divide et pemilu, divide et reformasi, dll.
  5. Rakyat Indonesia mudah ditaklukkan, contohnya walau setiap periode kepemimpinan sering ditipu, tetap saja gampang dirayu kembali saat kampanye pemilu.
  6. Rakyat Indonesia mudah lupa diri, contohnya para anggota legislatif yang lupa diri setelah tahu kalau jadi “anggota” itu uenuaak bangeeet, sampai tega menindas rakyat sendiri.
  7. Rakyat Indonesia mudah kompromi, contohnya para koruptor masih saja bebas beroperasi di setiap infrastruktur pemerintahan.
  8. Rakyat Indonesia tidak bisa menjaga negerinya sendiri, contohnya kawasan hutan lindung makin menyempit, sungai dan laut makin terpolusi, organisasi konservasi tidak dapat modal besar.
  9. Rakyat Indonesia malas belajar, contohnya tidak bisa mengambil hikmah dari sejarah yang telah membuat negeri ini menjadi negeri para koruptor dan negeri para penguasa
  10. Rakyat Indonesia mudah dibodohi, contohnya anggaran pendidikan rendah, sekolah mahal, beasiswa sebagian besar hanya untuk yang kaya dan punya koneksi saja.

Militer

Huuuaaaahh….!
Ngantuk banget malam ini
Tapi mata ini enggan terpejam Mendengar radio, masih bicara soal capres yang pantas
Menonton TV, masih juga soal itu
Membaca korang, cuma mengganti suara dengan tulisan
Isinya tetap sama : “Tentang purnawirawan yang mau jadi presiden”

Kenapa ada yang tidak setuju?!
Mungkin mereka trauma dengan masa lalu
Saat militer menjadi mesin cangging Order Baru
Untuk mengubur idealisme pembaharu

Mungkin juga mereka takut ditembak
Kalau satu saat mereka terjebak
Dalam rekayasa politik tanpa otak

Tapi, teman
Apakah orang-orang sipil yang kalian andalkan
Punya nurani dan kejujuran
Buktinya beberapa pimpinan sipil tak jelas bertujuan
Merekapun tega makan teman
Hanya bisa melambungkan impian

Tapi, teman
Trauma kalian pada militer
Adalah kebenaran yang tak bisa dipungkiri
Tapi jangan kalian dikotomikan antara sipil dan militer
Sipil dan Militer itu hanyalah kata
Tetap saja negeri ini akan hancur
Jika Militer atau Sipil yang memimpin itu berjiwa setan
Seperti setan-setan yang pernah merasuki
Jiwa para pemimpin dan birokrat negeri ini

Mata Gusdur

Sekarang Gus Dur lagi minta diadakan judicial review atas salah satu syarat kesehatan calon presiden Indonesia yaitu matanya dapat melihat tidak kurang dari 50%.

Teman-teman menganggap keputusan itu adalah “pesanan penguasa hari ini” untuk membenturkan majunya Gus Dur ke perlombaan menjadi presiden Indonesia. Tapi itu hanya tanggapan subyektif saja. Kebetulan temanku itu memang memfavoritkan Gus Dur. Bahkan, saking sukanya dia sama Gus Dur, dia merasa hari ini presiden Indonesia masih Gus Dur. Gilanya lagi ia menganggap Gus Dur itu sebagai WALI KESEPULUH setelah wali songo. Padahal yang aku tahu wali songo itu juga tidak hanya sembilan orang jumlahnya. Dasar rakyat!

Menurutku, sebenarnya peraturan tersebut kurang tepat juga sih. Buatku, mata secara fisiologis kurang menentukan cakap atau tidaknya seseorang menjadi presiden.

Anda saja yang dimaksud mata oleh KPU itu adalah MATAHATI atau mata bathin, saya baru setuju 100%. Sebab di negeri ini banyak sekali pejabat, birokrat, politisi, borjuis, militer, konglomerat, partisan, bahkan rakyat sendiri yang memiliki PENYAKIT MATAHATI.

Jika onggokan daging (orang-orang) yang mengendalikan negeri ini tidak sakit matahati, kayaknya ga mungkin deh negeri ini amburadhul seperti yang selama ini kita sadari.

Gimana KPU, ganti aja interpretasi mata fisik itu menjadi matahati?!

Tapi jangan sampai yang dimaksud mata itu adalah matahari ya, apalagi mataharitimoer, bisa tambah kacau negeri ini

Kusut

Dalam sebuah pertemuan warga
Saat itu sedang berlangsung sosialisasi pemilu
Dimulai dengan pengantar ketua KPPU
Yang mencurahkan perasaan pilu
Karena tak mendapatkan apa yang seharusnya diterima dari KPU

Kartu suara yang sudah dibagikan
Banyak kesalahan ketik pada nama dan alamat
Semua calon pemilih bingung dan berpendapat
Mengetikkan data rakyat saja tak bisa tepat
Apalagi menghitung suara yang akan didapat

Wah, anggota panitia sibuk membuat bilik suara
Dengan modal patungan beberapa orang warga
Karena logistik yang diterima hanya selembar aluminium saja
Belum lagi untuk membuat papan informasi
Harus merogoh kocek sendiri
Katanya KPU mau memberi anggaran
Ternyata hanyalah bualan yang harus ditelan

Sekelompok warga mendatangi pertemuan
Wajah mereka marah padam
Karena tak mendapatkan kartu suara
Yang mestinya mereka terima
Seperti warga lain yang juga mendaftakan nama
Macam-macam kicauan mereka
Ada yang merasa didiskriminasi
Lainnya merasa haknya dikentit

Seorang ibu tua hanya bisa menyumpah serapah
Mungkin ia sendiri tak mendengar amarahnya
Ketua panitia pucat namun menerima
Segala resiko yang diambil demi negara
Sebagai ujung tombak kesuksesan pemungutan suara

Kusut!!
Ketua panitia berteriak hingga serak
Kusut!!
Wajahnya geram menahan ledakan yang terpendam
Kusut!!
Masyarakat kerja bakti hingga larut
Karena persiapan pemilu sangat semrawut
Kusut!!
Panitia pemilu berjibaku dengan waktu
Sementara partai-partai pesta pora pawai pemilu

Elok, 28 Maret 2004

1 Hari yang Menentukan

Esok adalah hari yang bersejarah
Untuk menentukan lima tahun nasib bangsa
Apa yang kamu pilih
Adalah resiko yang tak bisa pulih

Kamu yang mendapatkan hak memilih
Pikirkan tentang kejujuran
Biar bangsa ini tak terperosok semakin dalam
Dalam jurang kehancuran

Jika boleh aku bertanya
Apa yang sebenarnya kita lakukan?
Mengapa suara kita sangat menentukan?
Mengapa begitu sulit memutuskan pilihan?

Tak ada tanya yang terjawab
Sebab sebenarnya kita ragu
Tentang kejujuran calon penguasa baru
Sebab sebenarnya kita tak tahu
Apa yang menjadi tujuan partai-partai itu

Tiga putaran kampanye dilakukan
Hanya sekedar kebut-kebutan
Atau menyaksikan dendang hiburan
Atau menghapal bahasa iklan
Tiga putaran kampanye dilakukan
Tanpa ada sedikitpun pencerahan
Agar rakyat memahami arah dan tujuan
Mungkin mereka bisa ketakutan
Kalau rakyat mengerti kebusukan yang mereka impikan

Teman-temanku rakyat Indonesia
Cobalah belajar dari catatan masa
Pernahkah penguasa mencintai rakyatnya?
Pajak selalu membuat sesak
Utang negara makin menggila
Konglomerat selalu bikin rakyat melarat
Petani makin tak punya nasi
Kaki lima tak selalu tak diterima
Kaum pinggiran selalu kena gusuran
Biaya pendidikan selalu bikin kejutan
Tarif listrik makin mencekik
Tarif telepon tak pernah monoton
Tarif BBM bersambung seperti film
Perjudian selalu dijadikan impian
Bandar narkoba tak pernah jera
Teroris bukan saja para turis
Ongkos kendaraan melaju secepat setan
Orang kaya makin rakus harta
Orang miskin makin terpilin

Teman-temanku rakyat Indonesia
Pilihan anda menentukan nasib kita
Saat kalian menentukan pilihan
Pada hari yang sangat menentukan

Elok, 28 Maret 2004

Bikin Lubang yang Pas

Usai sudah masa kampanye. Kini semua calon pemimpin [atau calon penguasa] tak boleh lagi menjajakan diri. Apa saja kenangan yang terasa dari kampanye mereka?

Umumnya rakyat hanya ingat kala bernyanyi bersama dengan tokoh idolanya. Bangga sekali bisa bernyanyi bareng dengan calon presiden. Mungkin suatu saat, bila calonnya menjadi presiden, mereka bisa bercerita kepada anak-anaknya atau tetangganya yang lain, bahwa dulu pernah nyanyi bareng presiden. Wah, bangga sekali sepertinya.

Selebihnya tak ada kenangan lagi. Sebab selama kampanye umumnya rakyat kecil tak mengerti dengan visi dan misi yang diutarakan calon presidennya. Bahkan istilah visi dan misi saja mereka tak pernah tahu hingga kini. Bahkan Prak Dung Cret, tetangganya mang Odon menganggap visi itu adalah peci yang selalu dipakai oleh presiden laki-laki kita. Karena itu pada foto resmi presiden yang dipajang di kantor-kantor, presiden jantan selalu memakai visi. Begitu menurut Prak Dung Cret. Itu juga berarti, masih menurut Prak Dung Cret kalau presiden kita perempuan, berarti tak perlu memakai visi.

Dalam kampanye, umumnya masyarakat hanya melihat sosok penampilan presiden secara fisik saja. Kalau calon presidennya baik dan cakep menurut mata mereka, maka itulah pilihan mereka. Hampir tak ada yang peduli terhadap program kerja yang ditawarkan peserta kampanye. Entah karena mereka tidak bisa menyerap obrolan yang berat-berat, atau karena mereka memang tak peduli dengan apa yang dibicarakan sang calon, toh nanti kalau sudah berkuasa juga pasti lupa diri. Wah, ini adalah pendapat rakyat yang apes (apatis, pesimis, dan skeptis) dalam memandang masa depan negeri pepunden ini.

5 Juli 2004, kebanyakan rakyat kita akan menentukan pilihannya. Mereka akan melubangi kertas suara pemilihan presiden. Walaupun mungkin sebagian akan ada yang antri sambil ngantuk karena diniharinya begadang menyaksikan siaran langsung final Piala Eropa antara tuan rumah Portugal melawan Dewa Yang Mengejutkan : Yunani. Bukan konspirasi politik, kalau bakal ada juga para pemilih pemula yang gila bola lebih menyorekan waktu mencoblosnya, karena ketiduran hingga siang hari. Bertautannya jadwal Piala Eropa dengan Pemilihan Presiden itu sekali lagi bukan konspirasi politik, jadi kalau ada tetangga yang tak nyoblos karena asyik ketiduran, jangan dicurigai sebagai golput. Sebab mereka bukan golput, mereka adalah golgil, golongan gila bola.

Tapi buat anda yang sudah terdaftar sebagai pemilih namun tetap gila bola, lebih baik panjangin saja begadangnya sampai proses pelubangan surat suara anda lakukan. Tapi jangan sampai salah melubangi pilihan karena kantuk, sebab pilihan yang salah tak bisa diulang. Tak masalah anda mau menindik capres pada bagian hidung, kuping, atau mulut, atau bahkan matanya. Yang penting sesuai dengan ketentuan sahnya surat suara. Nah kalau begitu, selamat bikin lubang!

Ikut-ikutan, Sikut-sikutan

Dari pangkalan ojek kampung kecil
Sekelompok Tukang ojek melingkar ciptakan obrolan
Satu di antaranya berkomentar
Kalau tidak ada uang bensin, tak mau ikut mutar-mutar
Yang lain cukup puas dengan kaos partai di tangan
Obrolan selesai dengan kesepakatan : ada uang jalan
Ikut partai yang satu hari ini
Ikut partai lainnya esok hari

Dari pangkalan metro mini yang tak pernah masuk terminal
Pembagian jatah sudah tak lagi jadi soal
Sebab sudah ada yang mengatur dengan lancar
Merekapun siap ikut arak-arakan
Ikut partai yang satu hari ini
Ikut partai lainnya esok hari

Anak-anak muda di ujung gang
Berebutan kaos dan bendera partai
Knalpot dilepas agar deru motor melantang
Ikat kepala sablonan gantikan helm
Tiang bendera siap dikibaskan
Ikut partai yang satu hari ini
Ikut partai lainnya esok hari

Ini realitas yang tak dapat disembunyikan
Rakyat kecil selalu jadi figuran
Dibutuhkan menjelang pemilihan
Dikorbankan kala politisi dapat kedudukan
Ikut-ikutan sampai sikut-sikutan
Hanya sekedar dapat uang jajan

Tak perlu lagi komitmen dan sumpah setia
Sebab Indonesia tak memerlukan tunas bangsa
Tak perlu pencerdasan
Tak perlu pencerahan
Sebab Indonesia tak mau beranjak dari tidurnya

Elok, 14 Maret 2004