Published on November 2, 2008 by MT
Bendera-bendera berkibar karena embusan angin
Pendukung partai berpawai berangkaian walau cuaca dingin
Masing-masing membanggakan bendera dan slogan
Membanggakan tokohnya walau tak pernah berkenalan
Pemilu di Indonesia masih seperti dulu
Lagu lama yang selalu digubah ulang
Kepuasan pendukung hanya sebatas dari pawai ke pawai
Adalah budaya pemilu masyarakat yang belum beranjak dewasa
Apa visi dan misi yang dibawa oleh partaimu?
Jika pertanyaan itu kau tanyakan pada mereka,
Aku yakin mereka tak pernah bisa menjawabnya
Karena mereka tak pernah tahu dan tak diberi tahu
Atau memang mereka belum cukup umur untuk tahu
Serombongan lain datang paling buncit dari rangkaian pawai
Tapi ini bukan pendukung partai
Mereka adalah pendukung calon legislatif
Yang bermimpi mengubah nasib dengan duduk di DPRD
Berlari menuju kesempatan korupsi melalui jembatan DPD
Aku lihat foto-foto mereka terpampang di kendaraan
Foto yang menyiratkan wajah oportunis
Tapi biarlah,
Toh mereka sudah bayar dukun yang memberikan mantra golek
Toh mereka sudah keluar modal untuk menjadi caleg
Walaupun kepala mereka rata-rata gebleg
Massa pendukung masih terus berkeliaran
Tak peduli walau diguyur hujan
Yang penting sudah dijanjikan dapat uang makan
Karena biaya pawai sudah termaktub dalam anggaran
Berjuta-juta rupiah bahkan sampai milyaran
Demi mencapai kekuasan
Untuk menyelenggarakan pemerintahan
Sekalian meraup kembali modal yang telah dikeluarkan
Masa bodoh kalau rakyat tidak bisa makan
Tidak lagi pedulikan kaki lima dan pengangguran
Yang penting harta negara sudah di tangan
Sayang rakyat tak pernah mau ambil pelajaran
Dari pemilu ke pemilu tak pernah mengubah harkat kehidupan
Inilah budaya pemilu negeri dimana hukum bisa dipeti-eskan
Dari pemilu ke pemilu hanya menjadi figuran
Elok, 11 Maret 2004
Published on November 2, 2008 by MT
kalian yang berlomba jadi presiden
sempatkah jiwa membaca fakta?
janji yang kalian teriakkan
menguap ke belantara awan
kalian yang ingin memimpin bangsa ini
tetapi mohon kekuasaan dipercayakan padamu
kalian ingin memimpin atau berkuasa?
janji memberangus korupsi
tapi modal kampanye dari korupsi
janji menghukum koruptor
tapi kampanyemu dibiayai koruptor
janji menangkap raja tua yang lalim
tapi kalian adalah budak-budak setianya
janji perbaiki nasib bangsa
tapi kalian terlalu berat memikul beban sejarah
janji ciptakan keadilan
tapi rakyat selalu diliciki
janji bertanggung jawab
tapi melemparkan masalah kepada orang lain
kalian yang mendadak jadi baik karena ingin berkuasa
berkacalah sebelum kalian sumpah serapah
bersihkan dahimu sebelum memojokkan rivalmu
cuci tanganmu sebelum mencuci bajumu
basahi jiwamu sebelum basahi pipimu
sucikan dosamu sebelum tentukan dosaku!
Published on November 2, 2008 by MT
Jlegerr!!!
Pohon keramat itu tumbang disambar petir
Hangus, sangat hangus!
Ingat! Itu pohon keramat
Walau hangus, tetap belum mati!
Bahkan kini mampu bermetamorfosis
Menjadi pohon baru
Walau tidak sekeramat dulu
Sebab beberapa penunggu pohon itu
Sudah punya hunian baru
Bahkan langsung punya banyak pemuja
Karena masih banyak rakyat yang merindukan
Kekeramatan antek-antek mantan penguasa jagad negeri
Lantaran mereka tak percaya lagi
Pada kekuatan kebo ireng congor belang
Yang pernah menjadi jawara zaman reformasi
Karena kebo ireng makin tambun
Berdiri saja tak mampu, apalagi berlari
Jlegerrr!!!
Petir menggelegar mencekam malam
Musim hujan lima tahunan belum reda
Payung-payung lain bermunculan
Rakyat bingung memilih teduhan
Yang satu menawarkan semangat kebangsaan
Walau rakyat tak pernah memahami apa maksudnya
Yang lain melambungkan mimpi indah kesejahteraan
Walau rakyat sudah sering mimpi buruk tentang kehidupan
Ada juga yang menjual ayat-ayat Tuhan
Walau rakyat tak pernah tahu tentang aturan
Musim hujan lima tahunan
Rakyat selalu jadi rebutan
Demi mencapai kekuasaan
Jika harapan sudah di tangan
Nasib rakyat, peduli setan
Elok, 20 maret 2004
Published on November 2, 2008 by MT
Indonesia di ujung 2003
Para politisi sibuk mencari rejeki
Untuk membiayai keluarga besar partai politiknya
juga sekalian membiayai kerakusan diri dan keluarganya
mengobral janji tentang demokrasi
yang KPU saja tak punya definisi
Menjual moral dan agama
Sambil menikmati ayam kampung khas khas hotel bintang lima
Berkhotbah tentang kepedulian
sementara rakyat miskin menangis
akibat penggusuran, kelaparan, penyakit menular,
hingga seorang anak bunuh diri karena orang tuanya
tak mampu bayar uang sekolah
Indonesia jelang PEMILU 2004
Banyak outlet menjajakan nasib rakyat
Wartawan sibuk mencari berita
sambil berharap amplop lelah
Advokat sibuk bicara keadilan
menyewa airtime di radio dan TV
Ulama sibuk menghibur hati
Artis sibuk joged demi dapurnya
Wakil rakyat yang terhormat sibut mencari order dan proyek
untuk investasi masa depan
Sementara rakyat miskin tetap saja
meratapi nasib yang tak kunjung berubah
dari pemilu ke pemilu berikutnya
Pondok Kopi, 30 Desember 2003