Ketemu Raja di Citos

Siang tadi (20/01) aku ada urusan di Jakarta. Sampai di Fatmawati, aku bertemu seorang bapak tua yang bertanya, “Citos dimana ya, dik?” Aku jelaskan arah menuju Citos. Kusarankan naik ojeg saja biar cepat. Tapi pak tua itu maunya jalan kaki saja. Duh! Nggak tega banget lihat orang tua jalan sendirian. Apa lagi lalu-lintas siang ini begitu ramai. Kuputuskan untuk mengantarnya sampai ke Cilandak Town Square. (more…)

Garis Kuning, Impian Bocah Naif

Semalam aku baru ngeh kalau jumlah loket tol di KM 18 Jagorawi ada 18 loket. Ini memang tulisan sepele. Hanya temuan nggak sengaja itu yang utamanya ingin kusampaikan. Tetapi lebih dari itu, ada perasaan khusus padaku tentang jalan Tol Jagorawi. Sebuah jalan yang pernah kuimpikan untuk melintas di atasnya ketika masih kecil dulu. (more…)

Ngelayap ke Palembang

Dibandingkan dengan 4 reportaseku lainnya tentang SEA Games 2011 di Kompasiana dan blogdetik, tulisan ini lebih bersifat catatan perjalanan saja. Aku akan menceritakan bagaimana bisa sampai ke Jakabaring dan meliput perhelatan olah raga yang menjadi kebanggaan tersendiri buat Indonesia, khususnya Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan. Lebih spesifik lagi, Palembang. Boleh saja tulisan ini disebut sebagai catatan perjalanan. Bagi blogger keturunan betawi, lebih suka bilang ‘ngelayap’. (more…)

Di Balik SEAG2011 : Lawan Jadi Kawan

Kunjungan kami ke Jakabaring Sport City, Palembang, Sumatera Selatan bukan hanya meninjau bangunan, sarana dan prasarana, apalagi menyaksikan pertandingan. Ada juga obrolan ringan yang kami lakukan kepada siapapun yang menarik hati kami untuk mendekatinya. (more…)

SEAG Palembang, Promosi Pariwisata, dan Geliat Ekonomi Rakyat

Ini tulisan kedua dalam kunjunganku ke Southeast Asian Games (SEA Games) 2011 di Palembang. Jika kemarin aku melaporkan perbincangan bersama beberapa anak sekolah yang mendukung penuh penyelenggaraan SEAG di kota mereka, sekarang giliran yang tua-tua. Anak-anak belajar lagi ya! ;) (more…)

Pengakuan Pelajar SMP di Palembang

Salah satu daya tarik kedatanganku ke Gelanggang Olah Raga Jakabaring, Palembang, adalah berita tentang pelajar sekolah di Palembang yang mendukung negara lain. Kabar burungnya, mereka dibayar sekian puluh ribu (ada yang bilang Rp.20.000,-) dan diberikan hadiah berupa sepatu, topi, dan kaos yang bergambar bendera negara yang didukungnya. 15 November 2011, Berangkatlah aku ke Palembang.

(more…)

Bebek Bandar, Lezatnya Mantap

bebekbandarlogoAku dapat undangan makan siang dari temanku, Fikrie, yang menawarkan aneka masakan bebek. Akupun langsung meluncur ke lokasi yang ia beritahukan, Restoran Bebek Bandar di jalan Palmerah Raya (Rawa Belong). Wuih, Rawa Belong? Udah lama banget aku nggak jalan ke daerah situ. Rawa Belong mengingatkanku dengan cerita komik Sawung Kampret karya Dwi Koendoro, sebuah desa yang asri tempat kediaman Nek Isah dan Bang A’um, yang mencintai Sawung Kampret dan Naip bin Jali, pada zaman kolonial dulu. (more…)

Parkir Mobil di Kebun Raya Bogor

Kebun Raya Bogor adalah tempat wisata edukasi yang berada di Kota Bogor. Setiap akhir pekan, banyak sekali pengunjung dari berbagai kota yang plesiran ke tempat wisata yang digagas oleh Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles, yang mendiami Istana Bogor dan memiliki minat besar dalam botani. Raffles tertarik mengembangkan halaman Istana Bogor menjadi sebuah kebun yang cantik pada tahun 1800-an. (more…)

Uniknya Angkot di Serang

Setahun lebih aku tak jalan ke kota Serang, Banten. Ada kekhasan yg kulupakan, dan baru teringat kembali ketika mengalami kejadian yang cukup unik. Kubilang unik karena tak pernah kualami di daerah lain yang pernah kusinggahi.

foto: swarabanten.com


Ini soal angkot. Siang itu aku naik angkot yg ngetem di persimpangan Patung. Selain aku, sudah ada 2 orang penumpang yg terlihat jemu menunggu. Sementara supir angkotnya setia menunggu serombongan calon penumpang yang baru turun dari bis antar kota antar propinsi (AKAP). 5 orang dari mereka naik sambil menyebutkan lokasi tujuan yang sama, “RSUD!”.

Supir angkot pun siap memberangkatkan kendaraannya. Tapi sebelumnya ia meminta dua orang yg sudah lama menunggu, turun. “Gak jadi belok kiri mas. Kita mau lurus aja ke alun-alun!” Pintanya.

Aku memperhatikan kedua orang yang turun itu. Kasihan sekali mereka. Sudah menunggu sejak angkot kosong, akhirnya terpaksa harus mencari angkot lain yang searah dengan tujuan mereka. Kalau di daerah lain, bisa jadi penumpang yang digituin bakalan marah atau mungkin ngamuk. Tapi penumpang di kota ini sudah terbiasa dengan nasib seperti itu.

Baru kuingat kembali informasi dari temanku, orang asli di kota ini. Katanya, angkot di kota Serang seperti taksi. Trayeknya ditentukan oleh penumpang. Karena itu jangan berharap ada nomor dan tujuan trayek yang biasanya terpampang di jidat mobil, seperti angkot di kota lain. Bahkan banyaknya suara penumpang paling menentukan trayek. Seperti fakta yang kusaksikan tadi. Dua orang penumpang tadi harus turun karena kalah suara dengan lima penumpang yg searah. Meskipun kedua orang itu sudah naik duluan.

Tega gak tega, ya begitulah keunikan angkot di kota yang menjadi pusat pemerintahan propinsi Banten ini. Bagaimana keunikan angkot di kotamu?

Kopdar Mystery of Batavia

ajakan-kopdar-karel

Bermula dari ajakan karelanderson di twitter, akhirnya kopdar blogger blogdetik kesampaian. 10 April 2011 lalu 4 komunitas yang ngeblog di blogdetik ngumpul di Museum Sejarah Jakarta. Mereka adalah komunitas blogvaganza yang rombongan siang terik itu dipimpin oleh Eko, gerombolan dblogger yang dengan jumlah yang mendominasi, blogger Bogor yang tiketnya aku pegang, dan komunitas terbaru di dunia komunitas blogdetik, yaitu komunitas Ngawur yang digerakkan oleh Karel sendiri :)

Sebelum memasuki ruang utama pertunjukan Mystery of Batavia, semua peserta kopdar bebas menikmati apa yang ada di area wisata Kota Tua. Ada yang sibuk membeli pernak-pernik kota Jakarta, ada pula yang menikmati koleksi Museum Sejarah Jakarta (sebutan lain buat Museum Fatahillah), ada yang exciting nonton atraksi Kuda Lumping, ada yang menikmati jajanan, bahkan ada juga yang bolak-balik ke Toilet. Kalau aku, karena sudah terlalu sering nongkrong di beberapa titik Wisata Kota Tua, hanya menikmati jajanan Es Potong, sambil membayangkan suasana saat hukuman gantung sering dilakukan di pelataran museum ini.

Hukuman gantung pada masa kolonial untuk para kriminal di Batavia, eksekusinya biasanya dilaksanakan di Stadhuisplein (Lapangan Balai Kota) yang kini menjadi Taman Fatahillah di Kota Tua

Hukuman gantung pada masa kolonial untuk para kriminal di Batavia, eksekusinya biasanya dilaksanakan di Stadhuisplein (Lapangan Balai Kota) yang kini menjadi Taman Fatahillah di Kota Tua

Sejarah mencatat, eksekusi hukuman gantung terakhir yang dilaksanakan di Stadhuisplein ini adalah terhadap seorang perampok bernama Tjoe Boen Tjiang, pada tahun 1896. Justus van Maurik, yang berkunjung ke Batavia dan menyaksikan secara langsung eksekusi itu, menuliskan dalam jurnalnya Indrukken van eenĀ  “Totok”, Indische Type en Schetsen bahwa pelaksanaan hukuman gantung atas Tjoe Boen Tjiang pada pukul 07:00 pagi itu dihadiri penuh sesak oleh masyarakat dari berbagai kalangan, mulai dari pribumi, Tionghoa, Arab, Eropa, orang Keling hingga Peranakan. Tjoe Boen Tjiang, pemuda Tionghoa bersosok tinggi dan ganteng yang dikenal juga dengan nama Impeh ini, terbukti telah merampok dan membunuh dua orang perempuan dengan kejam.

Anehnya, saat pelaksanaan eksekusi terhadap Tjoe Boen Tjiang ini, yang paling banyak datang menyaksikan justru adalah kaum wanita! Rupanya mereka bersimpati kepada para wanita korban kekejaman Tjoe Boen Tjiang. Yang jelas, hati wanita tempo doeloe ternyata lebih kuat karena tidak gentar menyaksikan hukuman mati yang mengerikan itu. [from scrapt mysteryofbatavia]

Mystery of Batavia adalah sebuah kolaborasi sekelompok penulis, animator, seniman komik, desainer game, dan aktor panggung dari Inggris dan Indonesia, untuk menceritakan kembali legenda kuno kota Batavia. Mereka menghasilkan apa yang disebut-sebut oleh para kritikus sebagai sebuah genre baru dalam metode storytelling-sebuah kisah thriller detektif multi-budaya, yang mencakup ragam animasi, cerita teater, serial komik, dan bagian permainan fisik seperti Amazing Race yang interaktif, menggabungkan sejarah dengan kreativitas dan teknologi digital, serta Interactive Animated Performance.

mural asli karya Harijadi Sumodidjojo

inspired by Harijadi Sumodidjojo's mural

Rangkaian pertunjukan itu terinspirasi oleh sebuah mural (lukisan tembok) karya Harijadi Sumodidjojo, yang dibuat pada tahun 1974. Mural tersebut menceritakan situasi Batavia pada kurun 1880-1920. Mural yang tak selesai pada kamar rahasia di Kota Tua itu ditemukan oleh sekelompok seniman Inggris dan Indonesia pada 2010. Penemuan itulah yang memicu sebuah proyek penelitian selama setahun penuh hingga terciptalah Interactive Animated Performance Mystery of Batavia.

opening yg melibatkan pengunjung (foto: Joel TS)

opening yg melibatkan pengunjung (foto: Joel TS)

Pertunjukan dimulai dengan sambutan teatrikal kepada para pengunjung yang dimainkan dengan apik oleh seniman kawakan dari Teater Koma. Terasa sekali bagaimana kita sebagai pengunjung dilibatkan dalam penampilan tersebut. Pengunjung diibaratkan sebagai rakyat Batavia. Bahkan, satu dari rombongan blogdetik, yaitu Yazil (yang berjilbab ungu) benar-benar dilibatkan sebagai rakyat yang menerima pedang. Pasti menjadi pengalaman menarik bagi Yazil yang bisa manggung bareng dengan Teater Koma. Setelah disambut dengan hangat, semua pengunjungpun dipersilahkan masuk untuk mengikuti pestanya Meneer VOC. Di dalam ruang etnografi itulah Mystery of Batavia dipertontonkan.

bergaya di depan mural misteri (foto: arie fabian)

bergaya di depan mural misteri (foto: arie fabian)

Session kedua setelah pertunjukan usai, kami memasuki kamar rahasia dimana mural asli dapat kita lihat langsung. Lukisan dinding yang luasnya hampir 200m2 itulah yang menjadi latar utama pertunjukan Mystery of Batavia. Rombongan blogdetikpun berpencar mencari “sesuatu” pada mural yang luas itu. Akupun mencoba mencari lokasi-lokasi Batavia Lama pada mural itu. Karena jika kita jeli, kita dapat menemukan gambaran stasiun Jatinegara, Harmoni, Kota, Pelabuhan Sunda Kelapa, Tanjung Priok, Pecinan, Pintu Gerbang Amsterdam yang dirobohkan pada zaman kemerdekaan, dan banyak lagi suasana tua Batavia yang dilukis oleh Harijadi Sumodidjojo itu.

pose bareng dengan pemain teater mystery of batavia (foto: arie fabian)

pose bareng dengan pemain teater mystery of batavia (foto: arie fabian)

para pemeran dari teater koma (foto: arie fabian)

para pemeran dari teater koma (foto: arie fabian)

beberapa saat sebelum nonton, santai dulu dalam suasana tempo doeloe (arie fabian)

beberapa saat sebelum nonton, santai dulu dalam suasana tempo doeloe (arie fabian)

di seberang museum sejarah jakarta (fatahillah) kami sempat menikmati ademnya Cafe Batavia. Suasana dalam Cafe Batavia persis dengan interior zaman Belanda dulu, dimana banyak ditempatkan kipas angin besar di langit-langitnya, dihiasi pula dengan kusen jendela yang besar-besar dan tempat duduk kayu jati dengan bantal motif kuno. Dindingnya dihiasi dengan foto-foto dari bintang film, politikus, tokoh-tokoh sejarah dan lain-lain. Sangat menarik untuk dilihat satu per satu, sekadar untuk mengenang masa lalu

di seberang museum sejarah jakarta (fatahillah) kami sempat menikmati ademnya Cafe Batavia. Suasana dalam Cafe Batavia persis dengan interior zaman Belanda dulu, dimana banyak ditempatkan kipas angin besar di langit-langitnya, dihiasi pula dengan kusen jendela yang besar-besar dan tempat duduk kayu jati dengan bantal motif kuno. Dindingnya dihiasi dengan foto-foto dari bintang film, politikus, tokoh-tokoh sejarah dan lain-lain. Sangat menarik untuk dilihat satu per satu, sekadar untuk mengenang masa lalu

dari cafe batavia, kami melanjutkan jalan menelusuri Kota Tua, melintasi Kali Besar, dan makan siang di resto Batavia Minang. hehe... lupakan tragedi batavia itu! :)

dari cafe batavia, kami melanjutkan jalan menelusuri Kota Tua, melintasi Kali Besar, dan makan siang di resto Batavia Minang. hehe… lupakan tragedi batavia itu! :)