Uniknya Angkot di Serang

Setahun lebih aku tak jalan ke kota Serang, Banten. Ada kekhasan yg kulupakan, dan baru teringat kembali ketika mengalami kejadian yang cukup unik. Kubilang unik karena tak pernah kualami di daerah lain yang pernah kusinggahi.

foto: swarabanten.com


Ini soal angkot. Siang itu aku naik angkot yg ngetem di persimpangan Patung. Selain aku, sudah ada 2 orang penumpang yg terlihat jemu menunggu. Sementara supir angkotnya setia menunggu serombongan calon penumpang yang baru turun dari bis antar kota antar propinsi (AKAP). 5 orang dari mereka naik sambil menyebutkan lokasi tujuan yang sama, “RSUD!”.

Supir angkot pun siap memberangkatkan kendaraannya. Tapi sebelumnya ia meminta dua orang yg sudah lama menunggu, turun. “Gak jadi belok kiri mas. Kita mau lurus aja ke alun-alun!” Pintanya.

Aku memperhatikan kedua orang yang turun itu. Kasihan sekali mereka. Sudah menunggu sejak angkot kosong, akhirnya terpaksa harus mencari angkot lain yang searah dengan tujuan mereka. Kalau di daerah lain, bisa jadi penumpang yang digituin bakalan marah atau mungkin ngamuk. Tapi penumpang di kota ini sudah terbiasa dengan nasib seperti itu.

Baru kuingat kembali informasi dari temanku, orang asli di kota ini. Katanya, angkot di kota Serang seperti taksi. Trayeknya ditentukan oleh penumpang. Karena itu jangan berharap ada nomor dan tujuan trayek yang biasanya terpampang di jidat mobil, seperti angkot di kota lain. Bahkan banyaknya suara penumpang paling menentukan trayek. Seperti fakta yang kusaksikan tadi. Dua orang penumpang tadi harus turun karena kalah suara dengan lima penumpang yg searah. Meskipun kedua orang itu sudah naik duluan.

Tega gak tega, ya begitulah keunikan angkot di kota yang menjadi pusat pemerintahan propinsi Banten ini. Bagaimana keunikan angkot di kotamu?

Kopdar Mystery of Batavia

ajakan-kopdar-karel

Bermula dari ajakan karelanderson di twitter, akhirnya kopdar blogger blogdetik kesampaian. 10 April 2011 lalu 4 komunitas yang ngeblog di blogdetik ngumpul di Museum Sejarah Jakarta. Mereka adalah komunitas blogvaganza yang rombongan siang terik itu dipimpin oleh Eko, gerombolan dblogger yang dengan jumlah yang mendominasi, blogger Bogor yang tiketnya aku pegang, dan komunitas terbaru di dunia komunitas blogdetik, yaitu komunitas Ngawur yang digerakkan oleh Karel sendiri :)

Sebelum memasuki ruang utama pertunjukan Mystery of Batavia, semua peserta kopdar bebas menikmati apa yang ada di area wisata Kota Tua. Ada yang sibuk membeli pernak-pernik kota Jakarta, ada pula yang menikmati koleksi Museum Sejarah Jakarta (sebutan lain buat Museum Fatahillah), ada yang exciting nonton atraksi Kuda Lumping, ada yang menikmati jajanan, bahkan ada juga yang bolak-balik ke Toilet. Kalau aku, karena sudah terlalu sering nongkrong di beberapa titik Wisata Kota Tua, hanya menikmati jajanan Es Potong, sambil membayangkan suasana saat hukuman gantung sering dilakukan di pelataran museum ini.

Hukuman gantung pada masa kolonial untuk para kriminal di Batavia, eksekusinya biasanya dilaksanakan di Stadhuisplein (Lapangan Balai Kota) yang kini menjadi Taman Fatahillah di Kota Tua

Hukuman gantung pada masa kolonial untuk para kriminal di Batavia, eksekusinya biasanya dilaksanakan di Stadhuisplein (Lapangan Balai Kota) yang kini menjadi Taman Fatahillah di Kota Tua

Sejarah mencatat, eksekusi hukuman gantung terakhir yang dilaksanakan di Stadhuisplein ini adalah terhadap seorang perampok bernama Tjoe Boen Tjiang, pada tahun 1896. Justus van Maurik, yang berkunjung ke Batavia dan menyaksikan secara langsung eksekusi itu, menuliskan dalam jurnalnya Indrukken van een  “Totok”, Indische Type en Schetsen bahwa pelaksanaan hukuman gantung atas Tjoe Boen Tjiang pada pukul 07:00 pagi itu dihadiri penuh sesak oleh masyarakat dari berbagai kalangan, mulai dari pribumi, Tionghoa, Arab, Eropa, orang Keling hingga Peranakan. Tjoe Boen Tjiang, pemuda Tionghoa bersosok tinggi dan ganteng yang dikenal juga dengan nama Impeh ini, terbukti telah merampok dan membunuh dua orang perempuan dengan kejam.

Anehnya, saat pelaksanaan eksekusi terhadap Tjoe Boen Tjiang ini, yang paling banyak datang menyaksikan justru adalah kaum wanita! Rupanya mereka bersimpati kepada para wanita korban kekejaman Tjoe Boen Tjiang. Yang jelas, hati wanita tempo doeloe ternyata lebih kuat karena tidak gentar menyaksikan hukuman mati yang mengerikan itu. [from scrapt mysteryofbatavia]

Mystery of Batavia adalah sebuah kolaborasi sekelompok penulis, animator, seniman komik, desainer game, dan aktor panggung dari Inggris dan Indonesia, untuk menceritakan kembali legenda kuno kota Batavia. Mereka menghasilkan apa yang disebut-sebut oleh para kritikus sebagai sebuah genre baru dalam metode storytelling-sebuah kisah thriller detektif multi-budaya, yang mencakup ragam animasi, cerita teater, serial komik, dan bagian permainan fisik seperti Amazing Race yang interaktif, menggabungkan sejarah dengan kreativitas dan teknologi digital, serta Interactive Animated Performance.

mural asli karya Harijadi Sumodidjojo

inspired by Harijadi Sumodidjojo's mural

Rangkaian pertunjukan itu terinspirasi oleh sebuah mural (lukisan tembok) karya Harijadi Sumodidjojo, yang dibuat pada tahun 1974. Mural tersebut menceritakan situasi Batavia pada kurun 1880-1920. Mural yang tak selesai pada kamar rahasia di Kota Tua itu ditemukan oleh sekelompok seniman Inggris dan Indonesia pada 2010. Penemuan itulah yang memicu sebuah proyek penelitian selama setahun penuh hingga terciptalah Interactive Animated Performance Mystery of Batavia.

opening yg melibatkan pengunjung (foto: Joel TS)

opening yg melibatkan pengunjung (foto: Joel TS)

Pertunjukan dimulai dengan sambutan teatrikal kepada para pengunjung yang dimainkan dengan apik oleh seniman kawakan dari Teater Koma. Terasa sekali bagaimana kita sebagai pengunjung dilibatkan dalam penampilan tersebut. Pengunjung diibaratkan sebagai rakyat Batavia. Bahkan, satu dari rombongan blogdetik, yaitu Yazil (yang berjilbab ungu) benar-benar dilibatkan sebagai rakyat yang menerima pedang. Pasti menjadi pengalaman menarik bagi Yazil yang bisa manggung bareng dengan Teater Koma. Setelah disambut dengan hangat, semua pengunjungpun dipersilahkan masuk untuk mengikuti pestanya Meneer VOC. Di dalam ruang etnografi itulah Mystery of Batavia dipertontonkan.

bergaya di depan mural misteri (foto: arie fabian)

bergaya di depan mural misteri (foto: arie fabian)

Session kedua setelah pertunjukan usai, kami memasuki kamar rahasia dimana mural asli dapat kita lihat langsung. Lukisan dinding yang luasnya hampir 200m2 itulah yang menjadi latar utama pertunjukan Mystery of Batavia. Rombongan blogdetikpun berpencar mencari “sesuatu” pada mural yang luas itu. Akupun mencoba mencari lokasi-lokasi Batavia Lama pada mural itu. Karena jika kita jeli, kita dapat menemukan gambaran stasiun Jatinegara, Harmoni, Kota, Pelabuhan Sunda Kelapa, Tanjung Priok, Pecinan, Pintu Gerbang Amsterdam yang dirobohkan pada zaman kemerdekaan, dan banyak lagi suasana tua Batavia yang dilukis oleh Harijadi Sumodidjojo itu.

pose bareng dengan pemain teater mystery of batavia (foto: arie fabian)

pose bareng dengan pemain teater mystery of batavia (foto: arie fabian)

para pemeran dari teater koma (foto: arie fabian)

para pemeran dari teater koma (foto: arie fabian)

beberapa saat sebelum nonton, santai dulu dalam suasana tempo doeloe (arie fabian)

beberapa saat sebelum nonton, santai dulu dalam suasana tempo doeloe (arie fabian)

di seberang museum sejarah jakarta (fatahillah) kami sempat menikmati ademnya Cafe Batavia. Suasana dalam Cafe Batavia persis dengan interior zaman Belanda dulu, dimana banyak ditempatkan kipas angin besar di langit-langitnya, dihiasi pula dengan kusen jendela yang besar-besar dan tempat duduk kayu jati dengan bantal motif kuno. Dindingnya dihiasi dengan foto-foto dari bintang film, politikus, tokoh-tokoh sejarah dan lain-lain. Sangat menarik untuk dilihat satu per satu, sekadar untuk mengenang masa lalu

di seberang museum sejarah jakarta (fatahillah) kami sempat menikmati ademnya Cafe Batavia. Suasana dalam Cafe Batavia persis dengan interior zaman Belanda dulu, dimana banyak ditempatkan kipas angin besar di langit-langitnya, dihiasi pula dengan kusen jendela yang besar-besar dan tempat duduk kayu jati dengan bantal motif kuno. Dindingnya dihiasi dengan foto-foto dari bintang film, politikus, tokoh-tokoh sejarah dan lain-lain. Sangat menarik untuk dilihat satu per satu, sekadar untuk mengenang masa lalu

dari cafe batavia, kami melanjutkan jalan menelusuri Kota Tua, melintasi Kali Besar, dan makan siang di resto Batavia Minang. hehe... lupakan tragedi batavia itu! :)

dari cafe batavia, kami melanjutkan jalan menelusuri Kota Tua, melintasi Kali Besar, dan makan siang di resto Batavia Minang. hehe… lupakan tragedi batavia itu! :)

Menimbang Sate Kiloan

Siang tadi aku bersama klien makan siang di sebuah warung Sate Kiloan di Kampung Kadumangu, Kecamatan Babakan Madang, Bogor. Plang pada warung itu sudah lekat di pikiran kami : Sate Kiloan H. Iding yang letaknya tepat di pinggir jalan raya Babakan Madang. Hanya sekitar 200 meter setelah keluar pintu tol Sirkuit Sentul (Jagorawi).

setelah diseset, dibakar, lalu sate disajikan

setelah diseset, dibakar, lalu sate disajikan

Pilihan makan siang ini, di tengah hari gerimis dan angin cukup kencang terasa amat tepat untuk menghangatkan badan. Kami memang lebih memilih menikmati sate kiloan ketimbang sate tusukan konvensional. Selain rasanya lebih segar, penjual sate kiloan biasanya menyiapkan kambing yang masih muda, sehingga citarasa dagingnya empuk dan manis. Belum pernah kami dapati sate kiloan yang dagingnya alot. (more…)

Solidaritas Biker

rante

Pulang siaran Saung Nyerat di radio Sipatahunan kemarin, aku punya pengalaman bermotor yang menarik. Jelang Maghrib, motorku melaju di Jalan Raya Pajajaran. Karena mau melewati Balai Kota Bogor, akupun belok ke kanan melintasi RRI Bogor. Motorku terus meluncur lancar di jalan yang menurun itu hingga melintasi Lapangan Sempur. Namun pas di jalan yang agak menanjak, motorkupun malah makin pelan sendiri dan akhirnya berhenti. (more…)

Catatan Utara-Selatan

Akhirnya semangat menuliskan catatan ekspedisi melintasi jalur Utara, menyebrang ke Bali, dan menelusuri jalur Selatan Pulau Jawa kembali muncul pada diri temanku, Iqbal. Sudah lama aku memintanya mulai menulis. Tetapi karena ia harus dikejar deadline untuk menerbitkan buku pertamanya, akhirnya agak terhambat. Belum lagi pekerjaan rutinnya sebagai mudirul ma’had daarul uluum, yang menjadi bagian utama hidupnya.

Perjalanan ini ditulis di blog Pengelana Semesta. Teman-teman bisa mengikuti pengalaman perjalanan kami pada postingan yang berjudul Perjalanan Menembus Waktu seri 1 sampai 22, dan itupun belum selesai hingga kami pulang ke Bogor. (more…)

Peta Kuliner Seorang Blogger

Orang yang senang jalan-jalan, umumnya sering mencari tempat makan yang menyenangkan. Apalagi jika travelling menjadi bagian dari pekerjaan, boleh jadi punya agenda khusus tentang lokasi restoran pada jalur travelling yang dilaluinya. Akupun juga begitu. Sebagai blogger yang sering “kelayapan”, peta kuliner menjadi penting untuk kumiliki. (more…)

Download E-Book Terbaru MT

Akhirnya selesai juga proses penerbitan e-book “Jejak Walisongo | Menyerap Sejarah Dalam Legenda”.

Buku elektronik ini berisi tentang catatan perjalanan MT and Friends selama 7 hari, sejak 25-31 Mei 2009. Sebuah catatan dari persinggahan pada titik-titik spiritual para walisongo.

cover-walisongo3

Kenapa diberi sub judul menyerap sejarah dalam legenda? Rupanya Tim Ekspedisi Walisongo, berusaha mencari hal-hal yang bersifat historis dan manusiawi, dari banyak tuturan maupun literatur tentang walisongo yang kental dengan aroma mistik. Apakah pencarian tersebut berhasil? Baca saja tuturan MT dalam buku yang digratiskan ini.

Kenapa gratis? Katanya biaya ekspedisi itu mencapai 15 Juta Rupiah? Jawabannya simpel : Emang Niatnya Gratis, lah! :D

Yang mau download, silakan klik pada sidebar di blog ini. Atau melalui link ini.


Haus? Di Bogor Ada Air Minum Gratis

Sepulang dari Jakarta, aku janjian dengan kang Chandra Iman yg punya I Love Bogor. Jalanlah kami dari Stasiun Bogor menuju depan Istana Bogor, menuju tempat mangkalku di Pesantren Daarul Uluum.

Berjalan kaki sambil cerita sana-sini membuat kami haus. Kang Chandra mengajak untuk melewati kompleks kantor Walikota Bogor. Ada satu hal yang belum kukutahui, dan baru kutahu ketika kang Chandra menceritakannya, yaitu tentang air minum gratis.

bila lihat bangunan sederhana seperti ini, hampirilah. minumlah sekedar melenyapkan dahaga.

bila lihat bangunan sederhana seperti ini, hampirilah. minumlah sekedar melenyapkan dahaga

PDAM Tirta Pakuan, Bogor menyediakan air minum gratis bagi siapapun. Tinggal datang saja ke pos Air Minum Gratis Tirta Pakuan, tekan tombol, lalu nikmati air dari PAM yang bisa langsung diminum. Buat dimasukkan ke travel-bottle juga boleh.

Meskipun pos ini tidak berada pada tempat yang strategis dan mudah dijangkau oleh masyarakat, namun sebagai sebuah pelayanan, baguslah. Apalagi mengingat sikap masyarakat kita yang belum bisa dijamin untuk merawat barang-barang milik publik. Mungkin melihat kasus terabaikannya fasilitas telepon umum, yang tak terjaga dengan baik oleh masyarakat.

Semoga fasilitas air minum gratis seperti ini juga dapat disediakan oleh pemerintah daerah lainnya. Terutama di kota-kota besar yang lalulalang masyarakatnya cukup padat. Tapi terutama lagi adalah, fasilitas air minum di daerah-daerah yang memang sering kekeringan. Semoga!

Baduy Dalam, Kami Datang!

mt-400

Pagi ini cerah sekali. Matahari memancarkan universe energy-nya bagi kehidupan. Akupun merasakan energi matahari yang menambah semangat perjalanan ini. Pak Asep memandu kami hanya sampai bertemu dengan Jaro Dainah, Kepala Desa di Baduy Luar. Siapapun yang ingin masuk ke Baduy Dalam, harus melalui Jaro Dainah, meminta ijin dan menulis buku tamu.

Di gerbang Baduy, kami memperhatikan peta jalur menuju Baduy Dalam, Cibeo yang menjadi target kami. Karena Ayah Mursyid, Wakil Wakil Jaro Tangtu, menetap di sana. Kami belum berencana untuk ke Cikeusik dan Cikertawarna, dua kampung yang juga bagian dari Baduy Dalam. (more…)

Pendakian 7 Malam

malam-gunung

Malam Pertama : Kosongkan!

ini adalah malam pertamaku menelusuri ketinggian puncak gunung. Terbetik keinginan untuk terus melangkah. Terasa kelelahan meskipun belum berjejak jauh. Pikiranku mengembara, fokus sudah mulai terasa seperti yang kujalani

“buang air dalam gelasmu!” pinta sang guru. Gelas yang penuh tak akan bisa menerima kebajikan baru.

(more…)