
Bermula dari ajakan karelanderson di twitter, akhirnya kopdar blogger blogdetik kesampaian. 10 April 2011 lalu 4 komunitas yang ngeblog di blogdetik ngumpul di Museum Sejarah Jakarta. Mereka adalah komunitas blogvaganza yang rombongan siang terik itu dipimpin oleh Eko, gerombolan dblogger yang dengan jumlah yang mendominasi, blogger Bogor yang tiketnya aku pegang, dan komunitas terbaru di dunia komunitas blogdetik, yaitu komunitas Ngawur yang digerakkan oleh Karel sendiri
Sebelum memasuki ruang utama pertunjukan Mystery of Batavia, semua peserta kopdar bebas menikmati apa yang ada di area wisata Kota Tua. Ada yang sibuk membeli pernak-pernik kota Jakarta, ada pula yang menikmati koleksi Museum Sejarah Jakarta (sebutan lain buat Museum Fatahillah), ada yang exciting nonton atraksi Kuda Lumping, ada yang menikmati jajanan, bahkan ada juga yang bolak-balik ke Toilet. Kalau aku, karena sudah terlalu sering nongkrong di beberapa titik Wisata Kota Tua, hanya menikmati jajanan Es Potong, sambil membayangkan suasana saat hukuman gantung sering dilakukan di pelataran museum ini.

Hukuman gantung pada masa kolonial untuk para kriminal di Batavia, eksekusinya biasanya dilaksanakan di Stadhuisplein (Lapangan Balai Kota) yang kini menjadi Taman Fatahillah di Kota Tua
Sejarah mencatat, eksekusi hukuman gantung terakhir yang dilaksanakan di Stadhuisplein ini adalah terhadap seorang perampok bernama Tjoe Boen Tjiang, pada tahun 1896. Justus van Maurik, yang berkunjung ke Batavia dan menyaksikan secara langsung eksekusi itu, menuliskan dalam jurnalnya Indrukken van een “Totok”, Indische Type en Schetsen bahwa pelaksanaan hukuman gantung atas Tjoe Boen Tjiang pada pukul 07:00 pagi itu dihadiri penuh sesak oleh masyarakat dari berbagai kalangan, mulai dari pribumi, Tionghoa, Arab, Eropa, orang Keling hingga Peranakan. Tjoe Boen Tjiang, pemuda Tionghoa bersosok tinggi dan ganteng yang dikenal juga dengan nama Impeh ini, terbukti telah merampok dan membunuh dua orang perempuan dengan kejam.
Anehnya, saat pelaksanaan eksekusi terhadap Tjoe Boen Tjiang ini, yang paling banyak datang menyaksikan justru adalah kaum wanita! Rupanya mereka bersimpati kepada para wanita korban kekejaman Tjoe Boen Tjiang. Yang jelas, hati wanita tempo doeloe ternyata lebih kuat karena tidak gentar menyaksikan hukuman mati yang mengerikan itu. [from scrapt mysteryofbatavia]
Mystery of Batavia adalah sebuah kolaborasi sekelompok penulis, animator, seniman komik, desainer game, dan aktor panggung dari Inggris dan Indonesia, untuk menceritakan kembali legenda kuno kota Batavia. Mereka menghasilkan apa yang disebut-sebut oleh para kritikus sebagai sebuah genre baru dalam metode storytelling-sebuah kisah thriller detektif multi-budaya, yang mencakup ragam animasi, cerita teater, serial komik, dan bagian permainan fisik seperti Amazing Race yang interaktif, menggabungkan sejarah dengan kreativitas dan teknologi digital, serta Interactive Animated Performance.

inspired by Harijadi Sumodidjojo's mural
- Rangkaian pertunjukan itu terinspirasi oleh sebuah mural (lukisan tembok) karya Harijadi Sumodidjojo, yang dibuat pada tahun 1974. Mural tersebut menceritakan situasi Batavia pada kurun 1880-1920. Mural yang tak selesai pada kamar rahasia di Kota Tua itu ditemukan oleh sekelompok seniman Inggris dan Indonesia pada 2010. Penemuan itulah yang memicu sebuah proyek penelitian selama setahun penuh hingga terciptalah Interactive Animated Performance Mystery of Batavia.

opening yg melibatkan pengunjung (foto: Joel TS)
Pertunjukan dimulai dengan sambutan teatrikal kepada para pengunjung yang dimainkan dengan apik oleh seniman kawakan dari Teater Koma. Terasa sekali bagaimana kita sebagai pengunjung dilibatkan dalam penampilan tersebut. Pengunjung diibaratkan sebagai rakyat Batavia. Bahkan, satu dari rombongan blogdetik, yaitu Yazil (yang berjilbab ungu) benar-benar dilibatkan sebagai rakyat yang menerima pedang. Pasti menjadi pengalaman menarik bagi Yazil yang bisa manggung bareng dengan Teater Koma. Setelah disambut dengan hangat, semua pengunjungpun dipersilahkan masuk untuk mengikuti pestanya Meneer VOC. Di dalam ruang etnografi itulah Mystery of Batavia dipertontonkan.

bergaya di depan mural misteri (foto: arie fabian)
Session kedua setelah pertunjukan usai, kami memasuki kamar rahasia dimana mural asli dapat kita lihat langsung. Lukisan dinding yang luasnya hampir 200m2 itulah yang menjadi latar utama pertunjukan Mystery of Batavia. Rombongan blogdetikpun berpencar mencari “sesuatu” pada mural yang luas itu. Akupun mencoba mencari lokasi-lokasi Batavia Lama pada mural itu. Karena jika kita jeli, kita dapat menemukan gambaran stasiun Jatinegara, Harmoni, Kota, Pelabuhan Sunda Kelapa, Tanjung Priok, Pecinan, Pintu Gerbang Amsterdam yang dirobohkan pada zaman kemerdekaan, dan banyak lagi suasana tua Batavia yang dilukis oleh Harijadi Sumodidjojo itu.

pose bareng dengan pemain teater mystery of batavia (foto: arie fabian)

para pemeran dari teater koma (foto: arie fabian)

beberapa saat sebelum nonton, santai dulu dalam suasana tempo doeloe (arie fabian)

di seberang museum sejarah jakarta (fatahillah) kami sempat menikmati ademnya Cafe Batavia. Suasana dalam Cafe Batavia persis dengan interior zaman Belanda dulu, dimana banyak ditempatkan kipas angin besar di langit-langitnya, dihiasi pula dengan kusen jendela yang besar-besar dan tempat duduk kayu jati dengan bantal motif kuno. Dindingnya dihiasi dengan foto-foto dari bintang film, politikus, tokoh-tokoh sejarah dan lain-lain. Sangat menarik untuk dilihat satu per satu, sekadar untuk mengenang masa lalu

dari cafe batavia, kami melanjutkan jalan menelusuri Kota Tua, melintasi Kali Besar, dan makan siang di resto Batavia Minang. hehe… lupakan tragedi batavia itu! :)