Aku Ingin Tidur Nyenyak, Semalam Saja

Tanahku Aceh tanah bencana
Sedari dulu hingga kini
Tiada henti bencana menerpa
Aku ingin bisa tidur nyenyak semalam saja

Sebelum puluhan ribu saudaraku mati bersama
Ratusan ribu sudah lebih dulu berkalang tanah
Karena badai politik antara tentara
Separatis GAM versus Pemerintah
Aku ingin bisa tidur nyenyak semalam saja

Malam hari tidurku terganggu letusan senjata
Pagi hari kantukku dikejutkan mayat bersimbah darah
Mau ke hutan, aku takut tentara
Mau ke kota, aku takut tentara
Tak bisakah aku tidur nyenyak semalam saja

Saat harapan sudah di depan mata
Badai lain mendadak menerpa
Bagai tangan-tangan maut
Menarik nyawa menuju samudera
Lidah ombak melahap jiwa
Tak bisakah aku tidur nyenyak semalam saja

Tanahku Aceh, tanah bencana
Tak dapatkah hati kita menyatu
Membangun negeri dari bencana
Menjaga tanah ini dari nestapa
Menjaga anak-anak dari duka
Menjaga wanita dari siksa

Tanahku Aceh, tanah nestapa
Kapankah aku bisa tidur nyenyak semalam saja

pict : http://4.bp.blogspot.com

Cihideung Forest, Februari 2005

Ratapan Anak Kusta

Rambe temanku, mati ditampar tsunami
Dawud abangku, mati ditembak tentara
Aminah adikku, mati diperkosa entah siapa
Mamak dan Bapak, hingga kini tak tentu nasibmu
Tumpukan mayat tak lagi bisa tuk kenali mukamu
Hamidah sepupuku, diculik pedagang dari Jakarta
Kinong sahabatku, jadi anak asuh di sana
Mamak dan Bapak, aku hidup sama siapa

Tak ada yang menoleh padaku
Kusta ini makin menjalar di kakiku
Duka ini makin menyesakkan napasku
Mamak, aku merindu senyummu
Bapak, aku butuh gendonganmu

Tuhan, aku ingin tsunami sekali lagi
Biar aku bisa mati tanpa dikenali
Sebab hiduppun tak dapat kunikmati
Mereka enyah, waktu melihat kaki

20 Januari 2005

Ketika DIA Berkehendak

Apa yang bisa kita ucapkan
Ketika Dia berkehendak menciptakan alam yang indah
Apa yang bisa kita lakukan
Ketika Dia berkehendak memporak-porandakannya
Apa yang bisa kita renungkan
Di tengah sisa-sisa kehidupan kota nestapa

Menangis? Air mataku sudah lama kering
Karena kotaku tak pernah bebas dari sengketa
Berteriak? Suaraku sudah lama tak terdengar
Karena desingan peluru lebih keras mendebam
Bernyanyi? Laguku masih juga lagu tua
Karena kota ini tak lepas dari nestapa
Mendengar? Telingaku selalu mendengar
Suara anak-anak melolong kehilangan
Suara wanita terisak bergelut dengan ombak
Suara tua renta berdoa menyerahkan nyawa
Bahkan,
Suara mereka yang mengutuk Tuhan
Bahkan,
Suara mereka yang menganggap bencana ini sebagai kutukan

Inilah bangsaku, tak semua orang peduli

(Sebenarnya puisi ini belum selesai, tapi hatiku sudah semakin melebam)

Cihideung Forest, Maret 2005

Berburu Harta di Tanah Duka

Aku kira apa yang kau lakukan
Terhadap mayat-mayat yang berserakkan
Kupikir kau membantu para relawan
Yang berjibaku memuliakan korban

Kau lahir di tanah rencong ini
Dibesarkan di Serambi Mekah ini
Tega-teganya kau mencuri
Dari mayat saudaramu sendiri
Jari manisnya kau potek demi mencuri cincinnya
Kalung emas kau tarik dari leher yang telah busuk
Bahkan dompet-dompet kau tilep dari kantong tak bernyawa
Tidakkah kau tega melakukan itu semua?

Memang kau selamat dari cengkraman tsunami
Tapi jiwamu hanyut terbawa mati
Padahal kau dilahirkan di tanah rencong ini
Padahal kau dibesarkan di sudut kota nan indah ini

Cihideung Forest, 31 Februari 2005