Murid SD Dijejali Video Asusila via Facebook

Bermula dari curhat orang tua murid sekelas anakku, tentang facebook anaknya yang dijejali video asusila, digaraplah dengan mendadak penyuluhan internet sehat untuk murid kelas 6 Sekolah Dasar. Dibilang mendadak, karena curhatnya baru kuterima Rabu pagi. Langsung kutemui wali kelas dan guru TIK di SD tersebut agar mengambil sikap bijaksana terhadap kasus tersebut. Hasilnya, Kamis pagi kami akan memberikan penyuluhan berinternet dengan sehat dan terjaga. (more…)

Internet Sehat Roadshow 2012

Sebelum melaporkan hasil pertemuan semalam, aku ucapkan dulu selamat merayakan Hari Blogger Nasional, yang jatuh pada hari ini, Kamis, 27 Oktober 2011. Semoga hari ini menjadi momentum yang baik untuk meningkatkan kualitas kita sebagai blogger Indonesia.

Semalam aku bersama teman-teman dari Blogger Bogor dan Relawan TIK ngobrol santai. Kami mematangkan rencana yang pernah didiskusikan beberapa bulan sebelumnya, yaitu mengadakan Sosialisasi dan Pelatihan Internet Sehat di Sekolah dan Kampus di Bogor.
Hadir dalam perbincangan semalam, @echaimutenan dan @wkf2010 dari Blogor, @erfanonalakiano blogger bogor yang baru saja terpilih sebagai pengurus baru komunitas blogger blogdetik (dblogger), @unggulcenter blogger bogor yang aktif sebagai @RelawanTIK, dan penggagas awal, mas @banyumurti ketua @relawanTIK Indonesia yang juga aktif sebagai relawan di @internetsehat.

Perbincangan semalam menyepakati rencana kegiatan roadshow Internet Sehat ke sekolah yang ada di Kota maupun Kabupaten Bogor. Kenapa kami memilih Internet Sehat sebagai topik roadshow?

Perkembangan teknologi internet yang begitu pesat semakin memudahkan kita dalam melakukan berbagai aktivitas. Di lingkungan sekolah, teknologi ini dapat mempermudah murid maupun guru untuk mencari referensi pembelajaran karena internet merupakan perpustakaan yang sangat besar. Internet juga menyediakan media berbagi dan alat komunikasi yang beragam. Selain surat elektronik (e-mail), instant mesengger dan sebagainya, saat ini media untuk bersosialisasi juga berkembang di internet seperti jejaring sosial (Facebook), blog, situs berbagi video (Youtube), micro-blogging (Twitter) dan masih banyak aplikasi-aplikasi lainnya.

Akan tetapi, selain banyaknya manfaat positif yang diberikan oleh internet, kita juga menyadari beberapa dampak negatif yang muncul, seperti: pencurian data, cyber-bullying, pornografi, penipuan dan sebagainya. Lalu bagaimana caranya agar kita dapat memaksimalkan manfaat positif dan meminimalkan dampak negatif dari internet?

internetsehatroadshow

Karena itu, @BloggerBogor  www.blogor.org) bekerja sama dengan @RelawanTIK Indonesia dan @internetsehat bermaksud mengadakan roadshow sosialisasi “INTERNET SEHAT” di lingkungan sekolah di Kota dan Kabupaten Bogor.

Sasaran kegiatan ini adalah murid, guru, maupun orang tua murid. Tujuannya tak muluk-muluk.

  • Untuk murid
    Mengoptimalkan manfaat internet untuk pembelajaran dan meminimalisasi dampak negatif yang dapat ditimbulkan.
  • Untuk Guru
    Menggunakan internet untuk fungsi pendidikan, termasuk proses belajar mengajar, serta dapat memahami dan mengawasi tingkah laku anak didiknya di dunia internet.
  • Untuk orang tua murid
    Memanfaatkan internet sebagai sarana komunikasi dengan anak dan bagaimana melakukan pengawasan terhadap tingkah laku anaknya di dunia maya

Sosialisasi untuk murid, guru serta orang tua murid ini dilaksanakan terpisah tergantung prioritas kebutuhan yang dirasakan oleh pihak sekolah.

Kegiatan ini kami rencanakan BEBAS BIAYA. Kami melakukannya sebagai salah satu misi komunitas dan organisasi dalam membantu meningkatkan pemanfaatan internet secara aman, nyaman dan bertanggung jawab di masyarakat. Pihak sekolah hanya perlu mempersiapkan ruangan, soundsystem dan peserta sosialisasi, serta konsumsi jika memang dirasa cukup pantas untuk disediakan.

Sebagai permulaan, kami berencana akan menyelenggarakan kegiatan ini di 5 Sekolah berbeda karakter di Bogor. Selanjutnya, dalam tahun 2012, kami menargetkan semua sekolah bisa mendapatkan kesempatan menjadi tuan rumah kegiatan ini. 5 Sekolah yang akan memelopori kegiatan permulaan ini rencananya di Pesantren Daarul Uluum (tingkat MTs/MA), Sekolah Alam Bogor (SD/SMP), SMPN 1, SDIT At-Taufiq, dan Bogor EduCare, sebuah kampus yang 100% menggratiskan biaya pendidikan untuk mahasiswanya.

Bagi sekolah-sekolah yang berminat untuk menggelar Internet Sehat Roadshow 2012, juga bagi perusahaan yang tertarik untuk mensponsori kegiatan positif ini, dapat menghubungi MT ( mataharitimoer at gmail.com/ @mataharitimoer) dan atau @bloggerbogor.

Salah Persepsi tentang Tata Usaha Sekolah

Waktu aku menjadi Kepala Tata Usaha di sebuah sekolah, di bilangan Bekasi Timur, datanglah seorang pemuda menyampaikan surat lamaran pekerjaan. Ia terlihat begitu kurang percaya diri dengan ijazahnya yang masih di bawah sarjana. Sebenarnya ia ingin menjadi guru, tetapi karena kurang percaya diri dengan ijazahnya, ia memberikan alternatif untuk menjadi stafku. (more…)

TK ORANG TUA, BUKAN ANAK-ANAK

Akhir pekan ini biasanya aku menuliskan hal-hal yang sepele dan sedikit dibumbui humor. Tapi ketika dashboard sudah siap diketik, koq yang tertulis justru hal lain. Ya, karena aku terbiasa menulis kala online dan spontan. Maka lanjutkan saja, menulis apapun yang melintas di kepala. Bisa jadi tulisan ini nantinya tidak akan sistematis, karena memang ditulis sesuai randomize order in my mind.

Kali ini aku ingin curhat, menumpahkan segala hal yang kualami belakangan hari ini…

(more…)

Kuliah Gratis Untuk Orang Takberpunya

Pendidikan adalah bekal yang amat penting bagi generasi kita. Namun tidak sedikit generasi muda kita yang tak bisa melanjutkan pendidikan pada jenjang tinggi karena alasan kemiskinan. Mudah sekali jika kita ingin mencari fakta tentang gagalnya anak-anak dari keluarga miskin yang bisa mengenyam pendidikan.

Bahkan sampai ditulis sebuah buku yang berjudul “Orang Miskin Dilarang Sekolah”. Sebuah judul yang sangat ironik. Namun memang pada beberapa kasus, seperti itulah kenyataannya. Pendidikan menjadi barang yang mahal, yang sulit sekali dinikmati oleh sebagian rakyat miskin di negeri yang kaya raya ini. (more…)

Matematika Empatik

Anakku kelas 3 SD pulang sekolah dg raut wajah sedih. Setelah ngobrol, rupanya ia kesal dg gurunya yg menyalahkan 1 tugasnya.

Soalnya : Kuemu dipotong empat. Dibagi buat teman 2 bagian. Brp bagianmu?

Anakku jawab 2/4. Tapi disalahkan krn yg benar 1/2, tanpa dijelaskan konsepnya. Memang 22-nya bisa benar, ttp mestinya sang guru menjelaskan logikanya. Ini SD loh.

Agaknya guru matematika bukan sekedar pandai berhitung, tapi jg mesti berempati thd semangat belajar murid, spy tidak “emoh” dg matematika

Kopi Bali Kintamani

Pagi ini aku dan Iqbal menikmati kopi oleh-oleh dari Julie, yang plesiran ke Bali. Terima kasih ya, Julie!

3 Jenis Kopi Bali dari Julie

3 Jenis Kopi Bali dari Julie

Ada 3 jenis kopi yang ia hadiahkan untuk aku, iqbal, dan ozzy. Ia tahu banget kalau kami adalah para penikmat kopi. Kopi Aroma dari Bandung pernah kami nikmati dan review di blog ini. Begitupun dengan Kopi Luwak. Kopi-kopi itu selalu kami bandingkan dengan kopi default kami, asli Bogor : Kopi Cap Liong Bulan. (more…)

Kendaraan Ideal Menurut Blogger

Seperti apakah mobil keluarga ideal terbaik di Indonesia? Grand Paragon mengulasnya dengan detail. Memang kalau kita memilih mobil keluarga, sudah tentu tak akan memilih yang lumayan cukup untuk menampung anak dan istri. Apalagi bagi anda yang rutin jalan-jalan setiap akhir pekan, keberadaan mobil keluarga menjadi bagian yang tak terpisahkan dari keluarga.

mobil keluarga ideal terbaik di Indonesia

mobil keluarga ideal terbaik di Indonesia

Tapi itu kan menurut Fandhie, yang punya Grand Paragon. Bagaimana menurut anda. Seperti apakah mobil keluarga yang ideal? Punya pendapat lain? Silakan berkomentar sebagai perbandingan mobil ideal yang sesungguhnya diminati oleh para blogger/netizen.

Mengorientasikan Pergunjingan

konflik-solution

Seorang guru menyatakan pengalamannya ketika mengajar di sebuah sekolah, 5 tahun lamanya. Di sekolah tersebut, ia mempunyai masalah dengan beberapa rekan kerjanya, seperti kedisiplinan waktu, ketidaktertiban dalam menyusun satuan pelajaran, disorientasi mengajar, dan masalah-masalah kecil lainnya seperti menganjurkan agar rekan-rekan Gurunya tidak merokok. Namun daya kritisnya mendapatkan tanggapan yang kurang baik. Rekan-rekannya tidak bisa menerima sarannya, bahkan beberapa di antaranya menganggapnya “cari muka”. Padahal tak pernah ada yang kehilangan muka dan sang guru itupun selalu ingat dimana menaruh mukanya saat istirahat, jadi tak pernah lupa kala memerlukannya untuk bekerja.

Menurut sang guru, pengalaman kurang enak tersebut terjadi karena rekan-rekannya bukanlah orang-orang yang mengikuti tarbiyah –suatu pembinaan internal yang selama ini menjadi denyut nadi salah satu gerakan Islam yang pada saatnya bermetamorfosis menjadi sebuah partai politik yang sangat fenomenal dan banyak mendulang simpatisan.

Waktu berjalan dan sang guru itu pindah ke sebuah lembaga pendidikan lain, yang dikelola oleh kader-kader Partai. Ia membayangkan kalau pengalaman –atau lebih pas mungkin dibilang masalah– yang pernah dialaminya di sekolah sebelumnya tidak akan terjadi pada sekolah barunya tersebut. Harapannya itu muncul karena beranggapan bahwa hampir semua guru yang ada di sekolah itu adalah mereka yang mendapatkan pembinaan atau tarbiyah rutin (liqa).

Harapan berbanding lurus dengan kekecewaan. Apa yang dibayangkan sebelumnya oleh sang guru itu sama sekali di luar perkiraannya. Ternyata, permasalahan yang pernah dia alami di sekolah lama, yang guru-gurunya tidak ditarbiyah, tetap saja muncul dan bahkan seperti menjadi tradisi dalam setiap sekolah: tidak disiplin waktu, tidak tertib seragam, tidak kreatif mengajar, tidak konsisten dalam membuat satuan pelajaran, hingga masalah-masalah lain yang menjurus pada pergunjingan. Yang terakhir ini biasanya menjadi ruang bebas guru untuk mengeluarkan ketidakpuasan atas kebijakan manajemen maupun uneg-unegnya yang sepele.

Kita melencengkan pembahasan ini ke pergunjingan dulu, deh. Sejak zaman “kuda makan kedondong” pergunjingan memang tercipta untuk meluapkan kekecewaan seseorang dalam interaksi sosialnya. Ruang pergunjingan terjadi begitu saja, tanpa ada sponsor, tanpa ada moderator, dan yang harus dipastikan, tanpa ada horror.

Pergunjingan tidak diciptakan untuk mencari solusi. Tidak untuk menjadi forum diskusi yang representatif dan akomodatif. Sebab ruang gunjing itu tidak resmi dan tidak ada dalam struktur dan schedule organisasi. Belum pernah ada organisasi resmi di planet bumi yang menjadikan ruang gunjing sebagai bagian dari jadwal kegiatan rutinnya. Tapi kenapa ruang gunjing selalu tercipta dan menjadi rutinitas? Mungkin jawabannya karena ruang gunjing itu tak pernah memberikan solusi atas permasalahan yang dicengkramakan –tujuan yang dilupakan oleh anggota majelis pergunjingan. Karena memang ruang gunjing tidak tercipta untuk solusi, hanya sekedar menyampaikan kepenatan moral dan kegelisahan intelektual. Kesibukan peserta ruang gunjing harus dibayar dengan kekecewaan yang makin menggenang dan akumulatif. Seperti sebuah saluran air yang berdiri sendiri, tidak bermuara pada DAM yang sebenarnya. Pada saatnya limbah yang rutin mengalir jelas tak tertampung dan terjadilah genangan limbah yang membuat pemandangan tak lagi indah, bahkan mengancam kesehatan lingkungan sekitar. Bayangkan jika dalam sebuah lingkungan ada banyak saluran yang tidak bermuara pada DAM yang semestinya…!

Salah seorang guru, teman sang guru yang di awal tulisan ini menyatakan pengalamannya, menyarankan agar saluran-saluran yang tak resmi itu diarahkan pada muara yang tepat, dengan cara menggali terusan menuju muara. Namun sang guru menyatakan, dari pada membuat galian terusan yang mengeluarkan banyak tenaga dan biaya, mengapa tidak lebih baik saluran itu ditutup dan manfaatkan saja saluran yang memang sudah disediakan di setiap bidang dan lini organisasi. Teman sang guru menyatakan kalau saluran resmi itu tidak mampu mengeksplorasi dan mengekspresikan masalah yang dirasakan teman-teman. Saluran resmi selama ini berjalan tidak efektif, waktu yang singkat terkonsentrasi untuk membahas pekerjaan rutin sehingga tak ada ruang untuk eksplorasi dan ekspresi.

Sebuah pertemuan, baik itu rapat maupun liqa, memiliki tujuan sendiri-sendiri. Rapat dibuat sebagai briefing dalam mengevaluasi progress, meninjau strategi dalam pencapaian tujuan yang telah direncanakan, dan forecasting terhadap berbagai kemungkinan dalam dinamika yang semakin berkembang, namun tetap dalam kerangka pencapaian tujuan –on mission!. Jadi, harapan menjadikan rapat sebagai media eksplorasi dan ekspresi adalah harapan yang tidak proporsional.

Berbeda dengan liqa, yang tercipta sebagai sebuah ruang tarbiyah, sebuah pola pembinaan kepribadian dan karakter. Dalam tarbiyah inilah setiap orang sebenarnya diharapkan dapat mengeksplorasikan potensi dan mengekspresikan emosi. Dalam tarbiyah, segala rasa, baik itu rasa sedih, rasa bahagia, rasa duka, rasa hormat, rasa jeruk, rasa strawberry, rasa melon, dan segala rasa yang terasa, dapat diungkapkan agar teman-teman yang lainnya dapat mencicipi rasa yang kita rasakan. Dalam tarbiyah, seorang murabbi, dapat bersikap representatif dan akomodatif terhadap binaannya. Dan tentunya apa yang terjadi dalam lingkaran kecilnya, sang murabbi dapat berkoordinasi atau berkomunikasi dengan pimpinan rapat.

Kalau memang dua ruang tersebut tidak juga tepat untuk wahana eksplorasi dan ekspresi, ada dua hal yang harus dipikirkan. Pertama adalah, orang-orang yang biasa membuat ruang gunjing itu mungkin memang tak bisa berekspresi pada saat yang tepat. Ini masalah pribadi. Jadi ikut atau tidaknya dia dalam tarbiyah, bukanlah ukuran untuk menilai dedikasi, komitmen, dan loyalitas. Ini masalah kepribadian. Namun tak perlulah anda berpikir untuk mendatangkan mentor dari John Robert Power, sebab sebenarnya tarbiyah yang menyenangkan dapat menyelesaikan masalah seperti ini.

Kedua, resmikan saja ruang gunjing yang ada menjadi sebuah pertemuan resmi yang memang dikhususkan untuk mengeskplorasi potensi dan mengekspresikan masalah. Sebuah pertemuan rutin yang tidak resmi, bisa ngedeprok di akar pohon (bukan akar perpecahan!), bisa di pinggir jurang (yang pasti bukan jurang kemiskinan, apalagi jurang kehancuran!), bisa melingkar di api unggun (bukan api dalam sekam!), dan sebagainya. Biasanya orang-orang yang aktif dalam ruang gunjing lebih kreatif dalam menggagas. Jadi serahkan kepada mereka bagaimana caranya agar mereka enjoy! Bagaimana mereka mengorientasikan pergunjingan menjadi ruang yang support terhadap urgensi pendidikan.

Cihideung, 14 Oktober 2004

Siang Ditentukan Malam

Sebenarnya ini postingan lama. Hasil ngobrol dengan temanku. Kini kurepublish karena kemarin mengalami momentum yang nyaris sama :)

Apa yang terjadi pada rutinitasmu setiap hari? Itu ada hubungannya dengan apa yang kamu lakukan setiap malam. Ini obrolan (chatting) dengan teman. Tak kusebut namanya, kuatir tak berkenan.

(more…)